If You Leave My World

If You Leave My World
Deni



Deni melihat kepergian Raka yang terkesan terburu-buru itu. Dia memang tidak mendengar apa yang kedua orang itu bicarakan. Tapi dengan melihat gerak tubuh mereka berdua saja Deni sudah bisa menebak kalau keduanya sedang tidak baik-baik saja.


Dengan langkah seribu Deni mengejar Raka. Deni menyapu ke sekeliling taman untuk mencari dimana Raka berada.


Ketika melihat keberadaan Raka yang sedang bersembunyi di sudut gelap dan sepi taman itu, Deni langsung mendekat. Terlihat Raka sedang duduk dan meraup wajahnya kasar. Raka terlihat kacau dan menangis tanpa suara.


"Ada apa mereka sebenarnya?" ucap Deni dalam hati.


Deni menepuk-nepuk pundak Raka dan memberikan pelukan pada sahabat baiknya itu.


"Kenapa? Kamu bisa berbagi sama aku" ucap Deni sambil menepuk nepuk pundak Raka untuk memberi kekuatan.


Deni sangat yakin antara Raka dan Ayara sedang mengalami masalah yang berat.


"Aku akan bercerai" jawab Raka dengan terisak.


"Hah?" tanya Deni dengan begitu terkejut.


"Kamu bercanda?" ucapnya pula.


Raka menggeleng. Deni melepas pelukannya kemudian memegang kedua pundak Raka.


"Kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Deni menuntut penjelasan.


"Panjang ceritanya" jawab Raka. Dia terlihat menghela nafas berkali kali.


"Aku pergi dulu" ucap Raka tanpa berniat menjelaskan. Dia pergi begitu saja padahal Deni sudah mencegatnya beberapa kali. Raka sangat kalut saat ini dan tidak ingin diganggu siapapun.


Deni menatap tidak percaya pada sosok Raka yang seperti orang lain saat ini.


"Apa karena anak?" tebak Deni pula. Tidak ingin menebak-nebak, Deni bermaksud mencari keberadaan Ayara. Tapi sayang wanita itu sudah tidak ada lagi di taman tersebut.


...


Ayara menangis dengan tersedu-sedu di dalam mobilnya. Ayara tidak bisa menjalankan mobilnya saat ini karena hatinya begitu kacau.


Sudah satu jam dia berada di dalam mobilnya tapi rasa sakit dan sesak masih juga dia rasakan. Tadi saat berbicara dengan Raka , Ayara bersusah payah menekan perasaannya tapi kini pecah sudah semua air katanya.


*Kenapa kamu harus bilang kalau asal aku bahagia itu sudah cukup? Bagaimana Aku bisa bahagia kalau kamu menduakan aku? Dimana hati nuranimu Raka? Aku sungguh tidak mengerti. Kamu mengatakan seolah-olah kamu juga yang tersakiti.


Tunggu... Apa jangan-jangan pacarmu sudah hamil dan terpaksa harus bertanggung jawab?.


Apa sebenarnya kamu masih mencintaiku tapi dia tidak ingin kalau kita masih bersama?.


Ayara... Berhenti mengharapkan Raka... Sadarlah Ayara. Apapun alasannya Raka sebentar lagi bukanlah milikmu*.


Setelah cukup tenang, Ayara kemudian melajukan mobilnya kembali ke Villa. Tapi sepertinya dia tidak bisa melanjutkan pekerjaannya. Hatinya sungguh kacau. Dengan berdalih sakit, Ayara kemudian izin pulang lebih dulu.


Astrid dan Damar pun membantu meyakinkan boss mereka kalau Ayara memang sedang tidak baik-baik saja. Walau mereka tidak tau apa yang terjadi pada Ayara, tapi mereka sangat meyakini kalau Ayara sedang mengalami masalah yang cukup berat.


Dengan menumpang mobil taxi online, malam itu juga Ayara kembali ke kota. Dia tidak ingin acara manajemen training menjadi rusak karenanya.


Sama seperti Ayara, Raka pun kembali ke kota, ke rumah mereka dulu. Dia mengambil cuti beberapa hari karena perasaannya begitu kalut. Raka ingin mengenang masa-masa indahnya dulu saat masih bersama Ayara.


Bersambung...