
Hari Minggu pagi, Deni kembali datang ke rumah Ayara. Kerjaan yang menumpuk membuatnya baru bisa menemui Ayara sekarang.
Setelah kejadian beberapa hari lalu, kini Ayara sudah benar-benar mengikhlaskan Raka. Untuk apa menangisi seseorang yang ternyata benar-benar sudah berselingkuh darinya. Kejadian itu membuat Ayara lebih tegar dan mantap untuk berpisah. Dirinya lebih berharga hanya untuk menangisis seseorang yang tidak pantas untuk dicintai. Itulah menurut Ayara.
Saat Deni memasuki rumah Ayara, saat itu Ayara sedang bermain piano. Pintu rumahnya pun tidak ditutup hingga Deni bisa langsung masuk tanpa mengetok pintu lebih dulu.
Kini lagu yang Ayara nyayikan bukan lagi lagu galau, tapi lagu tentang Ayah dan Bunda. Ayara merindukan kedua orang tuanya. Pengacara sudah menginformasikan kalau dokumen perceraian sudah selesai, surat gugatan akan segera dikirimkan pada Raka senin besok.
Setelah Raka mendatangi surat tersebut maka tinggal menunggu surat panggilan dari pengadilan negeri untuk melaksanakan proses persidangan.
"Aya.." panggil Deni karena sudah cukup lama Deni berdiri di tempatnya tapi Ayara tidak juga menyadari kedatangannya.
Mendengar namanya dipanggil Ayara pun melihat ke sumber suara.
Ayara tersenyum melihat kedatangan Deni. Dia menghentikan permainan pianonya dan menghampiri Deni.
"Sudah lama?" tanya Ayara saat berjalan mendekati Deni.
"Hampir sepuluh menit" jawab Deni.
Ayara terkekeh, dia kemudian mengajak Deni untuk duduk di ruang tamu.
Setelahnya seperti biasa dia melimpir ke dapur untuk membuatkan minuman.
Deni bisa melihat kalau Ayara sudah tidak sesedih saat dia pertama kali bertemu. Hanya ada dua kemungkinan, yang pertama Ayara yakin kalau Raka tidak mungkin berselingkuh sedangkan yang kedua Ayara sudah sangat ikhlas menerima perpisahan mereka. Dan Deni sangat berharap kalau alasan Ayara adalah yang pertama.
"Diminum dulu Den" ucap Ayara sambil meletakkan secangkir kopi dan beberapa potong roti bakar di depan Deni.
"Pantas saja Raka kurus sekarang, tidak ada yang bikinin kopi dan snack untuk dia sekarang" ucap Deni sambil tertawa kecil.
Ayara tersenyum tipis.
"Maksud kamu?" tanya Deni tidak mengerti. Bukan tidak mengerti tapi lebih tepatnya tidak percaya. Deni sangat yakin kalau Raka tidak memiliki wanita idaman lain.
"Sepulang kamu dari rumahku beberapa hari lalu, Aku dan temanku pergi ke Mall, saat itu juga aku melihat Raka sedang berkencan dengan kekasih barunya. Mereka bahkan berpelukan" ucap Ayara penuh dengan ketegaran. Dia sudah ikhlas menerima semua ini.
"Kamu jangan bercanda Ay" ucap Deni masih tidak percaya.
"Aku serius Deni. Untuk apa aku berbohong? Gak ada untungnya buat aku" ucap Ayara meyakinkan.
Deni menggelengkan kepalanya. Menurutnya sangat tidak masuk akal.
"Ayo kita bertemu dengan Raka, kita harus pastikan kebenarannya Ay" bujuk Deni kemudian.
Ayara menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak mau Den. Aku masih punya harga diri. Aku tidak bisa lagi mempertahankan rumah tangga kami. Raka sudah memiliki wanita lain, jadi untuk apa aku menuntut kejelasan lagi. Semuanya sudah jelas Den. Aku tidak butuh lagi penjelasan darinya" ucap Ayara tegas. Dia sudah tidak mau berharap lagi tentang hubungannya dengan Raka.
Ayara sudah sangat ikhlas bila pernikahan yang sudah dia jalan selama tiga tahun ini harus berakhir.
"Tidak bisa begitu Ay. Kita harus dengarkan dulu penjelasan Raka" Deni masih membujuk.
Ayara bersikukuh tidak mau bertemu lagi dengan Raka. Cukup nanti saat proses perceraian berlangsung.
Deni ingin memaksa Ayara untuk menemui Raka saat itu juga, tapi tiba-tiba ponselnya berbunyi dan mengharuskan dia untuk pulang ke rumah. Ayahnya jatuh sakit.
Deni yang awalnya ingin sekali membantu Raka kini hanya bisa pasrah.
Raka maafkan Aku, waktunya belum tepat untuk aku mempertemukan mu dengan Ayara sekarang.
Bersambung...