If You Leave My World

If You Leave My World
Kacau



Terdengar suara tangisan bayi dari kamar Alam. Sepertinya sang putri mengetahui kalau hubungan kedua orang tuanya sedang tidak baik-baik saja.


"Al...buka pintunya nak. Biarkan Ibu yang mengajak Amina. Kasihan Amina nak" ucap Ibu sambil terus mengetuk pintu kamar anaknya.


"Lam... Buka lam..." Rak turut membujuk adiknya.


Di dalam sana Alam terlihat sangat kacau. Dia masih belum menyangka kalau istrinya tega berbuat seperti ini.


Novi sama sekali tidak bisa melihat ketulusan cintanya.


Tapi kewarasan Alam mulai bangkit saat mendengar putra dan putrinya menangis. Dia tidak ingin anaknya terkena dampak dari apa yang terjadi pada rumah tangganya.


Akhirnya Alam membuka pintu kamarnya. Ibu langsung masuk dan menenangkan Amina. Begitu pula Raka langsung mengambil Azka. Bocah yang berusia dua tahun itu menangis sesenggukan.


Ayara mengambil alih Azka dari gendongan Raka.


"Sayang...lebih baik kamu tenangkan Alam dulu. Dia butuh kamu" ucap Ayara sambil menenangkan Azka. Raka mengangguk. Dia kemudian kembali masuk ke dalam kamar Alam.


Kini kedua pria dewasa itu memilih duduk berdua di teras rumah mereka. Hati yang panas harus didinginkan dengan udara sejuk dari luar.


"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Raka sambil menepuk pundak adiknya.


Alam memandang langit yang bertaburan bintang itu. Malam ini langit begitu cerah tidak seperti suasana hati alam yang mendung.


"Aku harus bagaimana kak? Aku sendiri pun tidak tau harus berbuat apa" ucap Alam sambil meraup wajahnya frustasi.


"Kalau memang masih bisa kalian bicarakan baik-baik tidak akan ada yang tidak mungkin. Disini hanya kurang komunikasi saja. Kamu yang tidak mengerti keinginan dia sedangkan dia yang lebih suka memendam perasaannya. Bicaralah dari hati ke hati. Pikirkan juga kedua buah hati kalian" ucap Raka sambil kembali menepuk nepuk pundak sang adik.


"Jujur aku tidak ingin berpisah Kak. Aku mencintai dia. Tapi mendengar sendiri dia membandingkan aku dengan kakak membuat hatiku sakit" aku Alam sejujurnya.


"Kak.. Aku ingin Kakak jujur padaku. Apa saja yang Novi katakan dan lakukan pada Kakak. Agar aku bisa mengambil keputusan. Aku mohon kakak jujur" pinta Alam.


Raka dipenuhi kebimbangan, dia bagaikan memakan buah simalakama. Tapi bisa dia tidak menceritakan semuanya, Raka takut ini akan menjadi bumerang. Maka dengan sangat terpaksa Raka menceritakan semuanya. Mulai dari Novi yang memeluk Raka dari belakang beberapa bulan lalu dengan alasan salah mengira dan kejadian yang tadi. Semuanya Raka ceritakan.


Mendengar cerita Kakaknya tambah sesaklah hati Alam.


"Sepertinya tidak mungkin lagi kami melanjutkan pernikahan kami kak. Itu sangat sulit" ucap Alam yang sudah sangat kecewa.


"Pikirkan anak-anakmu" pinta Raka.


"Malah mereka tidak akan bahagia kalau kami tidak pernah akur nantinya. Lebih baik Aku dan Ibu saja yang membesarkan anak-anakku. Maafkan ucapan istriku yang selalu mengatakan hal buruk pada Kak Aya." ucap Alam merasa bersalah.


Raka menepuk nepuk pundak sang adik.


"Aku tau rasanya berpisah dengan istriku dan itu sangat tidak mudah. Aku tidak ingin kamu menyesal seperti aku" ucap Raka.


"Maksud kakak?" tanya Alam tidak mengerti.


Raka kemudian menceritakan semua yang terjadi pada dirinya. Mulai dari dia sakit dan berbohong pada Ayara. Semua kisahnya yang seperti sinetron itu tentu membuat Alam tercengang.


"Aku sangat tau bagaimana rasanya berpisah dengan istriku. Berat dan tidak mudah. Aku tidak ingin kamu merasakan hal yang sama. Pikirkan baik-baik" ucap Raka menasehati.


Alam pun menganggukkan kepala.


"Terima kasih kak. Akan aku pikirkan lagi matang-matang" putus Alam kemudian.


Bersambung...