
Waktu bergulir begitu cepatnya. Sudah satu bulan sejak Raka meninggalkan Ayara dan mengatakan ingin bercerai. Tapi hingga kini Ayara belum juga menerima surat gugatan perceraian tersebut. Ayara sudah bisa lebih menerima perpisahan ini sangat berbanding terbalik dengan Raka yang semakin terpuruk. Keinginannya untuk bercerai pun belum dia sampaikan kepada Ibunya. Ibu bahkan pernah menelepon Ayara menanyakan kabar dan kapan bisa pulang ke kampung. Ayara bingung harus mengatakan apa karena ternyata Ibu belum Raka beritahukan tentang perpisahan ini. Terpaksa Ayara berbohong dan mengatakan masih ada kesibukan di kota.
Ayara ingin menghubungi Raka dan menyelesaikan ini semua dengan secepatnya tapi jujur dia belum siap bertemu dengan Raka. Ayara takut akan menjadi bodoh bila bertemu Raka. Ayara ingin memantapkan hatinya dulu agar tidak terlihat lemah saat bertemu dengan Raka.
Saat ini Ayara dan Chiko sedang mengunjungi salah satu villa binaan mereka yang letaknya lumayan jauh. Kurang lebih memerlukan waktu 3 jam untuk menuju lokasi. Mereka tidak hanya berdua tapi mengajak satu lagi teman. Namanya Astrid. Sudah menikah dan memiliki anak. Rata-rata memang semua sudah berkeluarga kecuali Chiko.
“Bagaimana proses perceraian mu?” tanya Chiko pada Ayara. Mereka sedang berhenti di sebuah mini market karena Astrid sedang ingin ke toilet. Kesempatan ini merema gunakan untuk leluasa bercerita. Belum ada yang tau tentang apa yang terjadi pada Ayara selain Cindy dan Chiko.
“Sampai sekarang Raka belum memberikan aku surat gugatan itu” jawab Ayara sejujurnya. Toh Chiko sudah mengetahui semuanya.
“Kenapa tidak kamu saja yang urus? lebih cepat lebih baik. Daripada menggantung tidak jelas seperti ini” saran Chiko.
“Tapi dia yang lebih dulu mengajak berpisah.” jawab Ayara. Padahal sejujurnya Ayara belum siap berpisah.
“Raka pasti sengaja menggantung hubungan kalian agar kamu yang menggugat cerai. Aku dengar lebih gampang prosesnya bila digugat daripada penggugat bagi seorang PNS. Mungkin dia tidak mau dipecat dari jabatannya” ucap Chiko berusaha membuat Ayara lebih cepat mengurus perceraiannya.
“Ada Aku yang akan bantu kamu. Urusan pengacara dan yang lainnya biar aku yang membantu. Kamu tenang saja. Bagaimana?” ucap Chiko pula.
“Thanks Ko. Akan Aku pikirkan lebih dulu” ucap Ayara berusaha menghargai saran Chiko. Obrolan mereka harus terhenti karena Astrid sudah kembali dari toilet. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan menuju villa. Dalam hati Ayara memikirkan kata-kata yang Chiko ucapkan tadi.
Apa benar Raka sengaja mengulur-ulur waktu hingga aku yang lebih dulu mengajukan perceraian kami?
Kenapa Raka? Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu benar-benar mempermainkan perasaanku?Aku sangat kecewa sama kamu Raka.
Sepanjang perjalanan Ayara hanya tenggelam dalam pikirannya. Dia masih belum bisa menebak jalan pikiran Raka karena sekali lagi ini bukanlah seperti Raka yang dia kenal.
"Ra..Kamu kenapa?" tanya Astrid karena Ayara telihat melamun dari tadi.
"Gak apa-apa mbak" jawab Ayara sambil tersenyum.
"Suamimu juga udah lama gak upload konten. Padahal aku nungguin lho konten-kontennya. Udah sebulan ini gak ada upload sama sekali. kolom komentar di Instagram sudah full menanyakan kapan Raka akan ngonten lagi".
"Iya masih sibuk mbak" jawab Ayara beralasan. Tidak mungkin dia mengatakan kalau dirinya dan Raka sudah tidak tinggal bersama lagi. Ayara terlihat biasa-biasa saja saat menjawab pertanyaan Astrid padahal sekarang dalam hatinya Ayara bertanya-tanya.
Apa dia masih sakit? Bu guru bilang waktu ini Raka sakit, Mbak Cindy juga bilang ketemu Raka dirumah sakit. Apa sampai sekarang masih sakit?.
Tapi sudah sebulan berlalu. Tidak perlu mencemaskan dia Aya, Raka sudah mempunyai wanita idaman lain. Sudah ada wanita itu yang akan menjaga Raka. Kamu tidak perlu khawatir.
Ayara terus meyakinkan dirinya kalau Raka baik-baik saja. Walau Raka mengatakan kalau dia sudah memiliki wanita idaman lain dan ingin berpisah dengan dirinya tapi tetap saja Ayara tidak bisa membenci Raka. Ada salah satu bagian hatinya yang sudah mengukir nama Raka disana dan tidak bisa menerima kalau Raka sejahat itu padanya.
"Sayang sekali, padahal aku nungguin banget. Nanti info ya kalau Raka sudah mau upload lagi" ucap Astrid menyayangkan.
"Sepupu Aku ngefans banget sama Raka. Katanya mau nonton konten Pak Guru ganteng hehehe" ucap Astrid pula sambil terkikik.
Memang kebanyakan penggemar Raka di dunia maya adalah gadis-gadis muda. Terutama SMP, SMA dan kuliahan. Selain karena kontennya sangat bermanfaat, wajah tampannya menjadi poin plus tambahannya.
Huft.
Sudah cukup Ayara...Kenapa kamu masih saja memikirkan tentang Raka? Apakah satu bulan ini belum cukup untuk melupakan dia?.
Saat asyik melamun, Astrid yang duduk disebelahnya tiba-tiba memekik senang.
"Ra..baru diomongin suamimu udah upload video" ucap Astrid terlihat senang. Astrid lalu menonton video itu dengan sangat bersemangat.
"Kok kurus sekali suamimu sekarang?" tanya Astrid keheranan.
Dia memperlihatkan video itu pada Ayara. Mau tidak mau Ayara pun menonton video itu. Memang Raka terlihat lebih kurus. Pipinya tirus dan terlihat letih.
"Sakit ya?" tanya Astrid pula.
Chiko yang dari tadi diam saja dibelakang kemudi kemudian menjawab.
"Itu biasanya efek kamera saja. Kan biasa begitu. Di camera dan asli beda" ucap Chiko.
"Masak sih?" ucap Astrid tidak percaya. Dia kemudian memastikan lagi pada Ayara.
"Bener gak sakit Ra?".
Ayara pun menganggukkan kepala sambil tersenyum.
"Iya mbak, mungkin pencahayaannya aja" jawab Ayara menekan rasa sedihnya. Entah kenapa dia sedih melihat penampilan Raka yang seperti ini.
"Syukurlah kalau gitu" ucap Astrid berusaha mempercayai ucapan Ayara. Dia pun kembali menonton Video Raka. Memang Raka terlihat tidak baik-baik saja disana. Sekali lihat juga sudah tau kalau Raka tidak sehat.
"Ternyata bukan aku aja yang berpikiran begitu. Ini lihat sudah 100 komen yang masuk. Rata-rata menanyakan apakah Raka sakit" ucap Astrid sambil memperlihatkan lagi video yang Raka buat.
"Raka gak apa-apa kok mbak" jawab Ayara sambil tersenyum manis.
Chiko sengaja memutar musik agak kencang agar kedua wanita di kursi penumpang itu berhenti membicarakan tentang Raka.
"Ihh... Kecilin kenapa Ko! " protes Astrid karena dia jadi tidak bisa mendengar apa yang Raka ucapkan.
Chiko tidak peduli, dia sekarang malah mempercepat laju mobilnya.
"Chiko Resek!" ucap Astrid kesal.
Bersambung....