HOT GUY

HOT GUY
[9]



“Tanganmu sakit, aku yakin itu,” gerutu Rosie yang tengah berjalan di belakang Melissa.


“Aku tidak apa-apa,” sahut Melissa.


“Jeon Jonas akan memenggal kepala gurumu itu jika tau hal ini.”


“Paman tidak mungkin melakukannya. Lagi pula ini sepenuhnya salahku dan teman-temanku.”


Rosie memutar bola matanya jengah, semua bisa Jeon Jonas lakukan tanpa berpikir dua kali, pria itu sudah banyak mengambil nyawa musuh-musuhnya hanya dengan sekali tembakan dan tak pernah sekalipun Jeon Jonas merasa menyesal. Baginya membantai tubuh para musuh adalah kesenangan.


“Jadi kau pulang dengan Jeon Jonas atau dengan Jack?”


“Aku tidak langsung pulang, aku harus kerja kelompok dengan teman-temanku.”


“Sudah beritahu Jeon Jonas?”


“Aku sudah mengirimkan pesan.”


“Ah baiklah, padahal aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.” Rosie memasang wajah murung.


“Ke mana?”


“Kau pasti belum pernah ke sana, bagaimana kalau besok? Kau ada jadwal?”


“Aku rasa aku bisa..”


“Tapi jangan beritahu Jeon Jonas, ini hanya antara kita berdua, kau mengerti?”


“I get it,” sahut Lisa sembari menganggukkan kepala.


“Jadi di mana teman yang kau maksud?”


“Maggie sedang di toilet, dia menyuruhku menunggu di halte, sebentar lagi dia akan kembali. Jika ingin pulang, pulang saja. Aku tidak terlalu suka diikuti.”


“Well sweetie aku pergi.” Rosie melambaikan tangan lantas naik ke atas motornya.


“Kau naik motor?” tanya Melissa sedikit berteriak.


“Tentu saja, aku lebih menyukai motor dibanding mobil.” Rosie tersenyum tipis lalu memakai helm di kepalanya.


“See you.”


Melissa tersenyum kagum, Rosie luar biasa keren dengan motor miliknya. Melissa suka gaya Rosie yang seperti ini. Apalagi saat wanita itu menancap gas dan melewati gerbang sekolah, Rosie mengagumkan.


“Melissa!” seru Maggie yang baru saja keluar dari dalam sekolah.


“Maaf membuatmu lama menunggu, kita berangkat sekarang?” Melissa mengangguk setuju.


Maggie berjalan menuju mobil kuning yang selalu ia pakai ke sekolah, gadis itu membukakan pintu untuk Melissa lalu bergegas memutari mobil untuk duduk di bangku pengemudi.


“Mobilmu bagus,” ucap Melissa mencoba untuk membuka pembicaraan saat mobil sudah melaju ke depan.


“Pemberian ibuku,” sahut Maggie sembari menyetir. “Mobil yang biasa kau naiki juga bagus, bahkan harganya lima kali lipat dari harga mobil ini,” sambung Maggie.


“Aku bahkan tidak tau mengenai itu.”


“Aku juga tidak terlalu peduli, tapi itu luar biasa, bagaimana rasanya duduk di mobil itu? apa tempat duduknya selembut Squishy?”


“Menurutku tidak jauh beda dengan mobil ini.”


“Well, Kau sedang mengejek mobilku,” ujar Maggie seraya terkekeh singkat.


“Aku serius.” Maggie tersenyum singkat lalu mengangkat bahu serta kedua tangannya.


Tidak lama kemudian mereka akhirnya sampai di depan rumah Bobby, rumah bertingkat dua yang tidak cukup jauh jaraknya dengan rumah lainnya. Terlihat motor Lucas dan mobil Ava sudah terparkir di sana.


“Ayo..” Maggie membuka seatbelt lalu keluar dari mobil begitupun Lisa yang sudah berdiri di luar dan memandangi lingkungan sekitar rumah Bobby.


Melissa dan Maggie kemudian membuka pintu rumah Bobby dan menyapa orang yang ada di dalam sana, Lucas dan Ava nampak tengah menonton sembari mengunyah pop corn, sedangkan Bobby asyik sendiri dengan ponselnya.


“Guys, kami di sini,” ucap Maggie segera melambaikan tangannya di depan TV.


“Pengacau datang,” gerutu Ava namun tetap berusaha tersenyum pada Melissa dan Maggie.


“Anggap rumah sendiri Melissa, duduk saja di mana kau mau,” ujar Lucas. Melissa tersenyum hangat lalu duduk di samping Maggie.


Di tempat lain Jack melaporkan jika ia tidak menemukan Melissa di sekolah, bahkan setelah hampir dua jam mencari dan menunggu Melissa juga tak kunjung muncul, bodohnya Jack bahkan tidak pernah menyimpan nomor gadis itu, memang hari yang cukup sial untuk Jack.


Jeon Jonas berdecak pelan, ia meneguk air mineral lalu menuangkannya ke kepala. Ia menajamkan penglihatannya, Hans masih terkulai lemas di lantai dengan peluh yang membasahi pakaiannya. Kemudian Jeon Jonas berdiri dari tempat duduk, ia lantas beranjak menuju kamar mandi hanya untuk membersihkan badan dan akan segera mencari Melissa setelah itu.


Setelah Jeon Jonas memasuki kamar mandi, Hans perlahan bangkit meski kepalanya berdenyut sakit. Kedua anak buah Jeon Jonas yang tadinya hanya melihat segera naik ke ring lalu membantu Hans turun.


“Bodoh, harusnya kau tidak cari mati,” kata pria yang memegangi lengan kiri Hans. Hans meludah lalu terkekeh sinis.


“Berikan aku rokok,” instruksinya.


Pria yang berada di sebelah kanan segera memberi tinjuan kecil di perut Hans karena tidak mengindahkan ucapan temannya. Hans terbatuk kemudian mengusap perutnya.


Sepuluh menit kemudian Jeon Jonas keluar dari kamar mandi dengan pakaian baru, ia mengedarkan penglihatannya ke seluruh penjuru ruangan, tidak ada siapapun di sana tidak terkecuali Hans yang tadinya terkulai lemas di atas ring.


Jeon Jonas memantik rokok untuk diri sendiri, ia kemudian menelepon Melissa yang sedari tadi memenuhi benaknya.


“Hai Pinky,” sapanya saat panggilannya dijawab oleh Melissa.


“Ya Paman..”


“Kau tidak pulang ke rumah?” tanya Jeon Jonas dengan nada lembut.


“Aku sudah akan pulang Paman, tadi aku kerja kelompok dengan temanku.”


“Jadi sekarang apa yang lakukan di sana?”


“Tidak ada kegiatan, hanya duduk dan bicara dengan Paman.”


“Aku akan menjemputmu ke sana, bisa kau kirimkan alamat rumah temanmu?”


“Tentu Paman.”


“Baiklah, aku tutup.” Melissa menjawab dengan deheman lalu menaruh kembali ponselnya di dalam saku seragam.


“Kurasa tadi aku meletakkannya di meja.”


“Tidak ada, Bobby sudah mencarinya juga di meja, setelah bagian tiga dicetak kau taruh di mana?”


Melissa mencari di dalam ransel dengan raut wajah bingung, namun tidak menemukan kertas itu di sana.


“Maggie, kertasnya ada padaku,” ucap Lucas dari dalam rumah.


“Oh ya Tuhan Lucas,” gerutu Maggie. Lucas beranjak dan duduk di samping Melissa lalu memberikan kertas itu pada Maggie.


“Kau selalu saja panik, lagi pula kita bisa mencetaknya lagi,” ujar Lucas. Maggie mendengkus kasar.


“Persetan denganmu Lucas.” Maggie kemudian masuk ke dalam rumah untuk mengumpulkan tugas yang sudah mereka kerjakan.


“Mau kentang?” tawar Lucas menyodorkan kentang goreng yang berada di dalam sebuah toples.


“Tidak, terimakasih,” tolak Melissa secara halus.


“Aku tebak, kau pasti sedang diet.”


“Tidak juga, hanya tidak berselera saja.”


“Ini enak, coba saja dulu.” Melissa menghela napas pelan, dengan terpaksa ia kemudian membawa tangannya masuk ke dalam toples lalu menarik beberapa potongan kentang goreng dari sana.


“Bagaimana? Enak?” Lucas bertanya dengan menampakkan gigi-giginya.


“Tidak buruk,” jawab Melissa sembari mengunyah kentang yang sudah terkumpul di dalam mulutnya.


“Melissa..” Melissa menoleh ketika mendengar suara Jeon Jonas.


“Who’s that?” Lucas bertanya.


“Kau siapa?” tanya Jeon Jonas lalu menarik Melissa ke dekatnya.


“Aku tebak pasti ayah Melissa. Perkenalkan nama saya Lucas, saya sekelas dengan Melissa.” Lucas memperkenalkan dirinya sembari membungkukkan badan dan tersenyum ramah. Namun saat mendongak, sudah tidak ada lagi manusia di depannya. Melissa dan Jeon Jonas sudah masuk ke dalam mobil.


“Paman aku belum pamit pada Maggie, Ava dan Bobby,” ucap Melissa saat Jeon Jonas mendorong pintu dan menutupnya.


“Itu tidak perlu Pinky, sangat tidak perlu,” sahut Jeon Jonas lalu menyalakan mobil.


“Mereka akan menganggapku tidak sopan.”


“Kau bisa pamit lewat ponsel, kirimkan pesan dan semuanya selesai.”


Melissa mengerucutkan bibirnya lalu menarik ponsel untuk mengirimkan pesan pada teman-temannya. Setelah itu ia menoleh dan melihat wajah Jeon Jonas yang fokus menyetir.


“Wajah paman terluka."


“Kau baru menyadarinya sekarang?” Luka di wajah Jeon Jonas ia dapatkan dari anak buah Bernard, luka itu bisa dibilang sudah cukup lama namun Melissa tidak menyadarinya saat mereka bertemu pagi tadi. Ya tentu saja. Melissa bahkan lebih memilih Hans dibanding dirinya, betapa sedihnya.


“Kenapa Paman bisa terluka?”


“Ada yang memukuliku dan ini sakit sekali.” Jeon Jonas memasang wajah sedih dan rapuh. Melihat itu Melissa merasa iba dan ikut memasang wajahnya dengan ekspresi sedih.


“Seharusnya mereka tidak memukuli Paman, Paman tidak melakukan kejahatan kan?” Jeon Jonas menggeleng polos.


“Seharusnya mereka ditangkap polisi, kenapa Paman tidak melaporkan mereka?”


“Aku pikir tidak ada salahnya memaafkan, jadi aku membiarkan mereka pergi begitu saja.” Melissa menarik nafas resah lalu menyentuh pelan luka di wajah Jeon Jonas.


“Aww..” Jeon Jonas pura-pura meringis, dan ia suka melihat wajah iba Melissa padanya.


‘Dia menggemaskan!!’


Jeon Jonas rasanya ingin segera menggigiti pipi gadis itu sekarang.


“Aku akan mengobati luka Paman.”


Sesampainya di dalam rumah, Jeon Jonas duduk diam di atas tempat tidur Melissa, gadis itu dengan telaten membersihkan luka Jeon Jonas dengan kapas lalu menempelkan plester luka.


“Sudah selesai, apa masih sakit?” tanya Melissa sembari menatap Jeon Jonas dengan lekat.


“Sakit juga di bagian sini.” Jeon Jonas menunjuk dada kirinya.


“Kau ingin melihatnya?” sambung Jeon Jonas.


“Apa ada luka juga di situ?”


“Tidak, hanya saja detaknya berdetak lebih cepat.”


Melissa berpikir dengan lugu, jika tidak ada luka ia tidak punya cara untuk menyembuhkan, apa lagi ia tidak punya pengalaman mengobati bagian dalam. Karena gemas Jeon Jonas akhirnya menarik gadis itu dan berbaring bersama dalam satu pelukan.


“Mungkin kalau seperti ini akan sembuh dengan cepat,” ucap Jeon Jonas.


Melissa mengerjap.


“Tapi detaknya masih terlalu cepat.” Melissa menyentuh dadanya dan dada Jeon Jonas untuk membandingkan kecepatan detak jantung.


“Kau tau sebabnya?” Melissa menggeleng.


“Aku juga tidak tau, tapi katanya detaknya akan kembali normal jika kita memeluk seseorang.”


Melissa bergeming dengan pasrah menunggu waktu berputar dan Jeon Jonas tetap memeluknya. Ia mengamati semua yang bertempat di kepala Jeon Jonas, mulai dari mata, hidung, mulut, alis dan telinga, semuanya diciptakan dengan sempurna.


“Pinky..” Jeon Jonas memanggil dengan suara lirih. Saat itu juga wajahnya terasa panas karena ternyata Jeon Jonas melihat bagaimana ia mengamati semuanya.


Jeon Jonas mendekatkan wajah, memberi kecupan singkat di kedua pipi Melissa, ujung hidung lalu selanjutnya ketika Jeon Jonas akan mulai menyatukan bibir, Melissa memundurkan kepala.


Namun Melissa salah jika mengira Jeon Jonas akan mengalah dan melepaskannya sebab saat itu juga Jeon Jonas menarik kepalanya untuk tidak berjarak. Jeon Jonas mengerang lalu menyatukan bibir mereka dengan cara yang sensual. Jeon Jonas nyaris akan mengunyah bibir itu bak bubble gum namun ketukan pintu yang sangat mengganggu mengintrupsi mereka. Jeon Jonas segera bangkit lalu membuka pintu untuk Enna.


“Apa Enna?!” Enna melangkah mundur lalu membungkukkan badan berkali-kali.


“Maafkan saya Tuan, maafkan saya,”sesalnya. Ia kini mengerti telah datang diwaktu yang salah.


“Aku bertanya ada apa!!”


“Sa-saya hanya ingin menemui Nona Melissa. Saya akan kembali, maafkan saya.” Enna membungkukkan badannya lalu turun kembali ke lantai bawah.