HOT GUY

HOT GUY
[6]



Melissa melangkah mundur setelah memberi dorongan pada tubuh keras di depannya. Kakinya mencari tumpuan namun gagal, hanya dengan tatapan yang sama-sama beradu, kini Melissa kembali melemah. Jeon Jonas lekat menyorot tajam manik matanya.


Jeon Jonas akui, ia menjadi semakin egois jika menyangkut Melissa, dan pertama kalinya ia sepanik ini saat mengetahui gadisnya dekat dengan pria lain. Bahkan Stephanie yang selama ini selalu menjadi wanita terlamanya dalam berhubungan tak mampu memantik rasa itu. Jeon Jonas mencari kelebihan Melissa dibanding wanita lainnya. Melissa hanya gadis lemah, lugu, kaku dan tak berpengalaman, harusnya Jeon Jonas sudah lama melupakannya, namun logikanya sudah lama kalah, ia bahkan secara tidak langsung mengurung gadis itu dalam kepemilikannya.


Lima detik keheningan berada di sana, Jeon Jonas memang pria bejat namun di hadapan gadis lugu itu ia bersusah payah menekan ego, merapatkan emosi agar tak bertindak gegabah. Hatinya juga memaksa agar raganya tak tergesa-gesa. Pada detik selanjutnya, ia memundurkan kaki, memutar tubuh lalu pergi.


Ekspresi Melissa sangat mundah untuk dibaca, semudah membaca lembaran buku yang terbuka. Dari tatapannya Melissa menyampaikan bahwa ia butuh Jeon Jonas untuk pergi, dan Jeon Jonas telah menyanggupi.


🌷🌷


Pagi ini Melissa terbangun setelah mengendus bau manis di dalam kamarnya. hari ini cukup hangat, menenangkan dan nyaman, Melissa merentangkan tangan lalu mendapati nampan berisi susu putih dan roti bakar lengkap dengan selai. Semalam, seperginya Jeon Jonas, Melissa memutuskan menulis, mengoret paragraph demi paragraph pada kertasnya. Mulai dari kedatangannya ke rumah baru lalu sikap Jeon Jonas terhadapnya.


Tanpa benar-benar berpikir panjang, Melissa memutuskan membuat cerita mengenai dirinya dan Jeon Jonas. Bahkan tanpa ia sadari,selama menekan pena ia selalu mengulum senyum.


Jeon Jonas pria yang manis, meski ada kalanya pria itu menunjukkan tajam matanya. Jeon Jonas tak pernah melukai, Jeon Jonas menyayangi. Dan hal yang benar-benar tidak Melissa ketahui, Jeon Jonas tidak seperti itu pada wanita lain.


Melissa membuang nafas lalu memasuki kamar mandi. Tak lama kemudian ketukan di pintu kamar terdengar, Melissa keluar setelah selesai mencuci muka dan menggosok gigi. Ia mendapati Enna berdiri menunduk, meski tidak cukup terlihat, namun Melissa dapat merasakan wanita itu tersenyum hangat seperti sebelumnya.


“Maaf Nona, saya pikir Nona sudah menghabiskan sarapannya.” Enna mendongak sejenak lalu kembali menunduk.


“Aku baru saja akan mencobanya, terimakasih sudah mengantar sarapanku,” sahut Melissa.


“Saya tadi langsung masuk dan meletakkan makanan tanpa sepengetahuan Nona, maafkan saya.”


“Enna, aku tidak terbiasa menghadapi situasi seformal ini, kau lebih tua dariku jadi bisakah kau memanggil namaku saja?”


Enna tersenyum lembut.


“Maaf saya tidak bisa.” Melissa menghela nafas lalu duduk di tepi ranjang, ia menarik nampan lalu membawanya ke pangkuan. Ia melirik Enna lalu mengajaknya duduk bersama.


“Saya di sini saja, tidak apa Nona..”


“Melissa, Enna,” tutur Melissa.


“Jika memanggil nama mungkin kita akan terlihat seperti teman.” Melissa tersenyum manis.


“Itu lebih baik,” jawabnya.


“Suka berteman dengan wanita tua?”


“Sebelum tinggal di sini, aku selalu dengan Bibi Hazel. Kupikir dia seumuran denganmu.”


“Pasti menyenangkan berteman dengannya,” ucap Enna sembari tertawa singkat. Melissa tersenyum lebar lalu menganggukkan kepala.


“Apa Paman sudah sarapan juga?” tambahnya.


“Saya tidak tahu Nona.” Melissa mengernyitkan dahi.


“Tuan memasak sendiri.”


“Maksudmu?”


“Tuan pernah keracunan makanan, kejadiannya saat beliau masih remaja, dan semenjak itu beliau tidak mau menyentuh makanan yang dimasak orang lain.”


Melissa kembali mengingat kejadian lampau di mana Jeon Jonas hanya melahap waffle madu saat berbagai jenis makanan terhidang rapi di meja makan. Kini Melissa tahu jawabannya.


“Jadi selama aku tidak ada, kalian tidak memasak?” tanya Melissa penasaran.


“Kami bekerja di sini setelah Nona tinggal di rumah ini, sebelumnya saya bekerja di rumah utama di Florida sedangkan pelayan lainnya adalah pelayan baru.”


Bisa Melissa bayangkan betapa mandirinya Jeon Jonas selama ini.


“Ya Tuhan, saya lupa lagi.. Tuan Jeon menyuruh anda ke taman belakang.” Melissa meneguk habis susu dalam gelas lalu meletakkannya di atas meja.


“Apa Paman terlihat marah pagi ini?” Jika mengingat kejadian semalam, rasanya Melissa masih takut jika bertatapan dengan Jeon Jonas.


“Tidak, saya pikir tidak..” Melissa membuang nafas pelan.


“Ayo saya antarkan ke sana.” Melissa mengangguk lalu mengikuti Enna beranjak menuju taman belakang.


“Nona pandai bermain golf?” Melissa menoleh kemudian menggeleng.


“Aku bahkan tidak pernah memegang tongkatnya,” jawabnya jujur. Enna terkekeh panjang.


“Di sini ada lapangan golf?” Enna mengangguk sempurna.


“Ya, tentu saja, kita sedang menuju ke sana,” sahutnya.


“Itu Tuan,” tunjuk Enna pada Jeon Jonas yang tengah mengayunkan tongkat di tangannya. Melissa menatap lekat, Jeon Jonas terlihat bersinar di bawah matahari pagi, apalagi baju yang dikenakan pria itu adalah warna putih, ditambah topi olahraga yang membungkus kepalanya. Jeon Jonas sempurna.


“Silahkan Nona.” Enna menjulurkan tangan, menyuruh Melissa agar menemui Jeon Jonas secepatnya.


“Bos, dia sudah datang,” ucap Ben. Jeon Jonas menjawab dengan gumaman lalu melanjutkan medorong bola putih di tanah.


Ben tersenyum tipis melihat Melissa berjalan ke arah mereka. Melissa tersenyum kembali lalu berdiri di dekat Ben.


“Berdiri di dekatku Pinky..” Melissa membasahi tenggorokan, satu kalimat saja keluar dari mulut Jeon Jonas membuatnya susah berkutik.


“Kemari.” Melissa menahan pekikan tatkala Jeon Jonas menarik pinggangnya untuk mendekat, tubuhnya didekap dari belakang. Rasanya..Hangat. Melissa kembali kepada kesadaran saat tongkat itu berpindah ke tangannya.


“Fokus ke depan, perhatikan jarak bola dan lubangnya.” Melissa mengerjap pelan, mencoba mengikuti instruksi Jeon Jonas namun sulit, nafas pria itu terlalu menggelitik lehernya. Lalu saat tongkat itu terayun pelan, Melissa sadar bahwa ia melakukan kesalahan, bola menggelinding ke samping.


Jeon Jonas tidak bersuara, kini tangan pria itu menggengam erat pergelangan tangan Melissa, lalu mengayunkan tongkat dua kali.


“Perhatikan.” Melissa mengangguk. Saat Ben menaruh bola kembali, Jeon Jonas segera mengayunkan tongkat bersama genggamannya di tangan Melissa. Bola menggelinding pelan, lalu masuk sempurna ke dalam lubang.


“Kita berhasil Paman,” ucap Melissa penuh gembira. Jeon Jonas tersenyum tipis lalu memberi kecupan di pipi Melissa. Dan saat wajah gadis itu merona, Jeon Jonas kembali menggoda dengan memberi kecupan di pipi lainnya.


“Ingin mencobanya sendiri?” Melissa mengangguk. Jeon Jonas memberi usapan lembut di puncak kepalanya lalu memberikan tongkat.


“Kau hanya perlu fokus,” ucap Jeon Jonas.


“Aku mengerti.” Melissa mulai meniru cara Jeon Jonas mengayunkan tongkat lalu mendorong pelan bola putih yang berada di bawah. Ia mengerang saat bola itu tidak masuk ke dalam lubang.


“Tidak apa Pinky, coba lagi.” Melissa mencoba kembali dan sialnya bola itu tetap tidak masuk ke dalam lubang.


“Paman, aku tidak bisa.” Jeon Jonas mendekat, lalu mengambil alih tongkat, ia menyuruh Melissa agar memperhatikan caranya memasukkan bola ke dalam lubang, dan saat bola itu masuk dengan sempurna ia kembali memberi tongkat itu kepada Melissa.


“Aku tau kau bisa.” Jeon Jonas memberi semangat. Melissa mengigit bibir, rasanya memalukan jika ia mengulang kesalahannya kembali. Apalagi Jeon Jonas sudah memberinya semangat. Melissa melihat bola dan lubang secara bergantian, ia mulai memposisikan tongkat dengan baik lalu detik selanjutnya ia mendorong bola lurus ke depan.


“That’s my girl..” Jeon Jonas tersenyum saat bola itu masuk sempurna ke dalam lubang.


Melissa sendiri kesenangan saat dirinya berhasil. Matanya berbinar lalu menatap Jeon Jonas dengan menampakkan gigi putihnya. Jeon Jonas memberi kecupan di dahi sebagai ucapan selamat lalu mengusap pipi gadis itu dengan sayang.


“Ingin belajar lagi?” tanya Jeon Jonas lalu memindahkan topi dari kepalanya ke kepala Melissa. Melissa mengangguk cepat.


“Baiklah, belajar dengan Ben, aku harus menjawab telepon penting..”


“Iya Paman.” Jeon Jonas tersenyum tipis lalu menempelkan ponselnya ke telinga.


Melissa sangat antusias bermain golf meski terkadang bola kembali tidak masuk ke dalam lubang, ia melirik Ben sekilas, pria itu nampak begitu tinggi dan tegap, Melissa tidak cukup berani untuk meminta tolong, namun saat ia mulai bosan dengan kekalahan, ia akhinya menatap Ben dengan tatapan memohon.


“Paman, boleh minta bantuanmu?” Ben tetap dengan wajah datarnya. Melissa menundukkan kepala.


“Tolong ajari aku,” tambahnya. Ben menjawab dengan deheman. Pria ini cukup berbeda dengan Hans, Ben sangat pendiam, lebih tepatnya berbicara jika ada sesuatu yang penting.


Melissa tersenyum girang, lalu memposisikan dirinya seperti saat dengan Jeon Jonas, namun Ben mundur dengan cepat, apalagi saat Melissa memegang tangannya.


“Jangan menyentuhku!” Melissa seketika melangkah mundur. Suara Ben begitu menyeramkan di telinganya. Melissa mengigit bibir lalu menatap Ben tetap tatapan menyesal.


Ben berdecak pelan, ia menatap Jeon Jonas dari sudut matanya, Jeon Jonas selalu memperhatikan mereka meski pria itu terlihat sibuk menjawab telepon dari orang lain.


Terlalu dekat dengan Melissa akan membuatnya kehilangan kepala. Ben harus menjaga jarak.


“Ma-maaf, apa aku menyakitimu.” Ben mulai kalang kabut saat mata gadis itu memerah, dipastikan Jeon Jonas akan menghabisinya jika Melissa mengadu.


“Aku akan belajar sendiri Paman,” ucap Melissa dengan kepala tertunduk.


Sial. Dan Jeon Jonas telah berjalan kemari.


Ben memaki dalam hati. Ia menatap Melissa yang berusaha sendiri.


“Tidak berjalan dengan baik, Pinky?” Melissa mengangguk lalu menatap Jeon Jonas dengan matanya yang masih memerah.


“Kenapa matamu merah seperti itu?” tanya Jeon Jonas mulai membawa jemarinya mengusap sudut mata Melissa.


Ben sendiri merasa degup jantungnya terlalu cepat, ia menerka-nerka jawaban yang akan diberikan Melissa pada Jeon Jonas.


“Paman Ben..” Jeon Jonas memutar kepalanya menatap Ben.


“Kenapa dengan Ben?” tanya Jeon Jonas.


“Paman Ben akan mengajariku lagi lain kali..”


“Aku menanyakan matamu Pinky.”


“Tadi ada serangga yang masuk.”


“Coba kulihat, apa serangganya masih ada di dalam?” Jeon Jonas membawa jarinya membuka mata Melissa lalu meniupnya pelan-pelan.


“Paman..” Melissa mendorong pelan badan Jeon Jonas, lalu mengusap matanya yang berair.


“Ayo masuk ke dalam, ada yang ingin kutanyakan padamu.” Melissa mengangguk.


“Ben simpan semuanya.”


“Baik Bos.”


Ben mendesah lega. Kali ini ia selamat.


🌷🌷


“Kemarin, Hans menemukanmu di sebuah café, apa yang kau lakukan di sana?” Jeon Jonas sudah tahu jawabannya, dan fakta bahwa cafe itu milik Brian anak buah Bernard juga sudah ia ketahui.


“Aku bekerja di sana.” Jeon Jonas menghela nafas.


“Kau memilikiku Pinky, kekayaanku cukup untuk membutuhi segala keinginanmu..”


“Bibi Hazel mengajariku untuk mandiri, aku sudah terbiasa mencari uang sendiri, dan aku menyukainya. Aku tidak ingin membebani orang lain.”


“Dan kau pikir kau telah membebaniku?”


“Itu adalah kenyataannya, semua yang kau berikan kepadaku adalah bentuk di mana aku membebanimu.”


“Pinky, saat orang tuamu menitipkanmu padaku, aku sudah berjanji untuk menyanggupi segala keinginanmu, dan itu sama sekali tidak membebaniku, jadi berhentilah berpikir kau membebaniku, aku bahkan merasa belum memberikan apapun padamu.”


Mereka saling menatap. Jeon Jonas kini tahu jika di balik kepolosan gadis itu terdapat kedewasaan yang telah ditanam sejak lama.


“Kumohon. Izinkan aku tetap melakukan pekerjaanku, aku diajarkan untuk tidak meminta jika aku masih punya tenaga untuk melakukan semuanya. Aku diajarkan untuk menggunakan diri sendiri bukan memohon pada orang lain, setidaknya hingga aku benar-benar tidak bisa melakukannya sendiri, aku akan meminta bantunmu.”


Dan Jeon Jonas pertama kalinya tidak dapat membantah lawan bicaranya.


Melissa pamit untuk kembali ke kamar, sedangkan Jeon Jonas hanya duduk terdiam di ruangannya.


🌷🌷


“Kau tidak bekerja hari ini? Kenapa cafe Wriston ditutup?” tanya Peter. Saat ini Melissa tengah menjawab telepon dari sahabat lamanya itu.


“Ditutup sementara, Brian ada urusan penting, kami diliburkan selama seminggu..”


“Urusan apa? Kenapa harus ditutup? Kalian bisa bekerja seperti biasa bukan?”


“Aku tidak tau Peter, tapi begitulah kenyataannya. Tapi kau tau dari mana cafenya ditutup?”


“Aku tadi ke sana untuk menemuimu, bagaimana dengan tempat kerjamu yang lain?”


“Aku sudah mengundurkan diri, aku memutuskan untuk bekerja di satu tempat saja.”


“Ya aku mengerti, kau pasti kewalahan..”


“Oh ya, bagaimana kalau kita bertemu? Kau free kan?” sambung Peter.


“Tentu, bagaimana denganmu?”


“Ya, aku free, ini akhir pekan girl.”


“Baiklah, di mana kita bertemu?”


“Aku akan mengirimkan lokasinya, see you girl.”


Melissa memutuskan membersihkan diri, setelah itu ia segera memoles wajahnya dengan bedak tipis, memilih pakaian, lalu menarik tas untuk pergi. Ia selalu sesemangat ini jika bertemu Peter, dengan pria itu Melissa dapat bercerita banyak, karena selain Peter, Melissa tidak punya siapapun untuk dijadikan tempat curhat.


Melissa melangkah mendekati pintu ruangan Jeon Jonas, tangannya mengetuk pintu sebanyak dua kali, namun tidak ada sahutan. Melissa kemudian memutar knop pintu, dan yang pertama kali ditemukannya adalah keheningan. Jeon Jonas tidak ada di sana.


Melissa menarik ponsel, menekan nomor Jeon Jonas untuk dipanggil. Dan seperti kemarin, pria itu tidak menjawab. Melissa menjejalkan ponsel ke dalam tas lalu memutuskan pergi tanpa izin dari Jeon Jonas.


“Nona ingin pergi?” tanya Jack saat melihat Melissa keluar dari rumah.


“Aku ingin menemui temanku.”


“Mari saya antar.”


“Terimakasih Jack.”


Setelah sampai di lokasi, Melissa segera menemui Peter yang telah duduk menunggu di dalam cafe.


“Hei Peter..” Peter tersenyum lebar lalu mengayunkan tangannya.


“Kau sudah memesan?” tanya Melissa setelah duduk di depan Peter.


“Aku mau yogurt..”


“Baiklah, excuse me.. I ordered yogurt.” Peter memesan.


“Kami menyediakan banyak varian, Anda ingin memesan yang mana?”


“Kau ingin yogurt yang bagaimana?” tanya Peter.


“Yang paling enak,” jawab Melissa.


“Baik, pesanan anda akan segera sampai. Terimakasih.”


“Aku pindah sekolah,” ujar Melissa.


“Huh?”


“Aku tidak bersekolah di Elderd lagi, aku pindah dari sana..” Kerutan masih setia bertengger di dahi Peter.


“Aku belum memberitahumu, tapi aku juga pindah dari rumahku, aku sudah tidak tinggal di sana.” Peter mengernyit dengan matanya yang terbuka lebar.


“Kau pindah ke mana?”


“Aku pindah ke rumah pamanku..”


“Kau punya paman?” Melissa mengangguk.


“Bukan paman kandung, orang tuaku pernah merawatnya dulu. Dia orang yang baik, dan kupikir dia juga orang kaya. Aku baru tau kalau ada orang sekaya dirinya. Kau tau, jarak gerbang utama ke rumahnya saja membutuhkan waktu yang lama, rumah itu sangat mewah, memiliki kolam renang, bahkan lapangan golf,” celoteh Melissa.


“Kau serius?” tanya Peter dengan tatapan tidak percaya.


“Aku serius Peter, aku hanya menceritakan ini padamu, jangan beritahu orang lain, dia juga punya banyak anak buah,” bisik Melissa.


“Dan kupikir kau terlalu banyak membaca novel.” Melissa berdecak pelan.


“Aku serius Peter,” gerutu Melissa.


“Well..well.” Peter tersenyum tipis.


🌷🌷


Jeon Jonas baru sampai di rumah setelah waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Ketukan sepatunya terdengar jelas saat menaiki tangga. Ia mengetuk pintu kamar Melissa, lalu membukanya meski tidak mendapat sahutan. Di sana ia mendapati Melissa tengah menulis dengan earphone menempel di telinganya.


“Pinky..” Melissa mengerjap lantas melepas earphone.


“Kau sedang sibuk?” tanya Jeon Jonas.


“Tidak sama sekali.”


Jeon Jonas duduk di depan Melissa sembari bersedekap lalu memperhatikan kegiatan gadis itu membereskan tulisannya.


“Sudah siap untuk bersekolah besok?”


“Ya, sangat siap.”


“Pinky, boleh aku memelukmu?” Melissa menoleh sejenak, ia tidak menjawab, ia hanya bergeming. Mendapat bungkaman, Jeon Jonas kemudian menarik lengan gadis itu agar masuk ke dalam dekapannya.


“Apa yang membuatmu berbeda? Aku punya banyak wanita, tapi hanya kau yang berhasil membuatku menggila, apa yang kau lakukan padaku? Aku bukan aku jika di dekatmu,” gumam Jeon Jonas. Melissa tidak dapat mendengar dengan jelas, pria itu berujar dengan menekan mulut ke pundaknya.


“Paman baik-baik saja?” Jeon Jonas mengeleng.


“Aku tidak akan pernah baik-baik saja jika berada di dekatmu.” Jeon Jonas masih bergumam.


“Paman.” Melissa mulai merasa sesak. Jeon Jonas terlalu erat memeluknya.


Duk Duk


“Nona, saya membawa makan malam, boleh saya masuk?” Itu suara Enna.


“Paman ada Enna,” ujar Melissa, dan akhirnya pelukan menyesakkan itu terlepas.


“Masuk Enna.” Enna yang berdiri di depan pintu bergidik, suara Tuannya berasal dari dalam, ia menengok-nengok. Ini betul pintu kamar Melissa. Enna menghembuskan nafas panjang, lalu membuka pintu.


“Jadi kau belum makan sejak tadi?” tanya Jeon Jonas menampilkan wajah datarnya.


“Aku terlalu fokus dengan tulisanku, aku akan segera makan,” sahut Melissa gugup.


Jeon Jonas menghela nafas.


“Kau harus sudah mengantar makanannya sebelum pukul delapan Enna, apa penyakit lupamu kembali lagi?” tegur Jeon Jonas.


“Maafkan saya Tuan.”


Jeon Jonas berdecak kasar lalu keluar dari kamar Melissa.


🌷🌷


Pagi ini Melissa sudah siap dengan seragam barunya, seragam siswi Faith Lutheran. Seragam yang sudah dibeli sejak minggu yang lalu dan sangat cantik digunakan gadis itu. Melissa berlari menuruni tangga, ia orang yang sangat disiplin jika berhubungan dengan sekolah. Tidak sekalipun ia terlambat, pantang baginya melakukan kesalahan di sekolah.


Jeon Jonas yang sejak tadi sudah di ruang makan, menoleh menatap Melissa yang berlarian menuju tempatnya berada. Jeon Jonas memperhatikan penampilan gadis itu dari atas ke bawah, dan sesaat perhatiannya tertuju pada rok Melissa yang terayun ke sana-kemari.


“Selamat pagi Paman,” sapa Melissa lalu duduk di dekat Jeon Jonas.


“Selamat pagi Pinky."


Jeon Jonas menyodorkan roti yang ia panggang sendiri, lalu mendorong kotak selai.


“Coba ini..” Melissa menarik roti itu lalu mengoleskan selai stroberi.


“Ini sempurna.” Jeon Jonas tersenyum senang.


“Lain kali aku akan membuat banyak,” ucap Jeon Jonas menatap dua potong roti yang tersisa.


“Aku akan mengantarmu ke sekolah..” Melissa mengangguk dengan wajah menggembung, Jeon Jonas gemas lalu membawa jarinya menarik pipi Melissa sembari tersenyum.


“Aku sudah selesai,” kata Melissa setelah meneguk habis susu putih dalam gelasnya.


“Ayo berangkat..”


Jeon Jonas membawa Melissa masuk ke dalam mobilnya, lalu melajukannya menuju sekolah baru gadis itu.


“Pulang sekolah nanti pulang dengan Jack, tidak apa kan?” Jeon Jonas membuka suara.


“Tidak apa-apa Paman, aku mengerti Paman sibuk.”


“Good girl..”


Setelah sampai di Faith Lutheran, Melissa dan Jeon Jonas keluar bersama. Jeon Jonas memutuskan mengantar Melissa masuk ke dalam, Faith Lutheran sangat luas, Jeon Jonas tidak mau Melissa tersesat di hari pertamanya. Setelah di ruangan guru, Melissa segera disambut baik oleh guru-guru di sana.


“Mohon bantuannya, dia murid pindahan,” ucap Jeon Jonas.


“Ya kami tahu. Semua murid di sini kami jaga dengan baik.”


“Mana wali kelasnya?”


“Sedang di toilet, kami akan menjaganya, Anda tenang saja.”


“Pinky, belajar dengan baik, jika terjadi sesuatu segera beritahu aku hmm?” Melissa mengangguk pelan.


“Baiklah aku pergi.” Jeon Jonas memberi kecupan singkat di dahi Melissa lalu pergi keluar dari ruangan guru.


Waktu demi waktu berganti. Melissa pikir masa suramnya di sekolah akan menghilang, banyak orang menyapanya hari ini, namun lagi-lagi kembali kepada Melissa yang terlalu canggung. Sehingga mereka satu persatu kembali ke kegiatan masing-masing dan Melissa kembali menyendiri.


Saat bel pulang berbunyi Melissa memutuskan segera keluar dari ruangan kelas, tidak seperti biasanya, menunggu sekolah sepi dan ia termenung sendiri.Melissa menyebrangi jalan besar lalu berkunjung ke toko makanan kecil tidak jauh dari sekolahnya.


“Melissa!”


“Peter!” Melissa terkejut ada Peter di sana.


“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.


“Ini toko milik bibiku, kau sekolah di Faith Lutheran?” tebak Peter mengamati seragam Melissa.


“Ya. Tapi kenapa kau bisa ada di sini? Kau tidak bekerja?”


“Hari ini aku pulang lebih cepat..” Melissa mengangguk mengerti.


“Kau tidak dijemput paman kayamu?” goda Peter.


“Tidak, dia bekerja. Lagipula aku memang tidak suka diantar jemput..”


“Oh ya? Jadi bagaimana caramu pulang?”


“Naik taksi mungkin..”


“Aku penasaran tempat tinggal barumu, boleh aku berkunjung?”


“Tentu, tapi aku akan tanyakan pamanku dulu..”


“Aku punya dua sepeda di sini, bagaimana kalau kita bersepeda ke sana?”


“Huh?” Melissa mengerutkan dahi.


“Jarak dari sini ke tempat tinggalmu jauh?”


“Ehm, jauh, tapi tidak terlalu..”


“Bersepeda bukan ide yang buruk,” ucap Melissa tersenyum miring.


“Kau bahkan bisa menyimpannya untukmu jika kau mau,” usul Peter.


“Kau serius Peter?” Peter mengangguk.


“Aku tidak memakai yang ini, lagipula aku punya motor,” tunjuk Peter pada satu sepeda yang tergeletak pasrah di tanah.


“Ya, aku akan menyimpannya. Ini akan sangat membantu.”


Melissa dan Peter mengayuh sepeda menuju kediaman Jeon Jonas, di tengah jalan Jack yang sejak tadi mencari akhirnya menemukan Melissa tengah asik tertawa bersama. Ia mengikuti mereka berdua dari belakang lalu memberitahukannya pada Jeon Jonas.


“Ya Tuhan kau ternyata tidak bercanda saat mengatakan jarak gerbang utama menuju rumah itu memakan waktu yang lama,” ucap Peter.


“Sekarang akhirnya kau percaya,” sahut Melissa.


“Tapi serius, ini menyenangkan Peter.” Peter tertawa singkat.


“Apa tidak apa-apa aku masuk ke sini?”


“Aku akan memberitahukan pamanku nanti..”


“Ya, baiklah.”


“Nona. Berhenti!” Melissa berhenti mengayuh sepedanya saat suara Jack mengintrupsi.


“Maaf, tapi Tuan akan marah jika Nona membawa orang lain ke sini, Nona bisa membawa teman Nona saat sudah mendapat izin dari Tuan,” ucap Jack.


“Ya, aku akan pulang. Aku cukup senang bisa masuk sampai sini,” celetuk Peter.


“Peter kau tidak apa-apa?” Peter mengedipkan mata.


“Aku akan berkunjung lain kali, see you girl..” Peter mengayuh sepedanya keluar dari wilayah Jeon Jonas.


“Maaf Jack tapi Peter bukan orang yang jahat, dia sahabatku.” Jack tersenyum tipis.


“Saya mengerti Nona. Nona ingin tetap bersepeda atau saya antar ke depan?” tawar Jack.


“Bersepeda.”


“Baiklah, Nona duluan.”


🌷🌷


Jeon Jonas geram saat mendengar kabar dari Jack. Melissa bahkan lebih memilih bersepeda dengan Peter daripada naik mobil bersama Jack. Jelas sekali kalau Melissa dan Peter mempunyai hubungan khusus. Jadi sesampainya Jeon Jonas di rumah, dan saat mendapati sebuah sepeda di sana, ia segera menendang sepeda itu dengan kasar. Sepeda dari Peter? Tidak layak berada di kediaman Jeon Jonas.


“Rusak saja sepeda ini,” instruksi Jeon Jonas. Tidak mendapat sahutan ia menatap tajam Jack yang hanya berdiam diri di hadapannya.


“Kau mendengarku Jack?”


“Sa-saya mendengarkan Tuan,” sahut Jack terbata-bata.


“Maka lakukan yang kuperintahkan!”


Jeon Jonas melempar sepeda ke tengah halaman, lalu menyuruh Jack untuk melindasnya dengan mobil.


Melissa yang berada di dalam kamar dapat mendengar suara gaduh di depan, ia beranjak menuruni tangga, dan ketika mendapati sepeda pemberian Peter telah hancur ia berteriak shock.


“Jack tidak sengaja menabraknya,” ucap Jeon Jonas.


Jack keluar dari mobil saat mendapati Melissa mendekati sepedanya.


“Ini sepeda Peter..” ujar Melissa. Air matanya mulai menggenang, lalu ia usap dengan kasar.


“Oh ya Tuhan Jack..” Jeon Jonas berpura-pura marah pada apa yang telah dilakukan Jack lalu merengkuh tubuh Melissa dengan sayang.


“Tenang Pinky, kita akan menghukum Jack setelah ini..”


Melissa terisak dalam pelukan Jeon Jonas, sedang Jeon Jonas tersenyum senang tanpa sepengetahuan Melissa.