
Di pagi hari yang cerah, Melissa terbangun dengan lenguhan rendah dari mulutnya. Ia beringsut, mengubah posisinya menjadi bersandar di kepala ranjang. Ia tentu mengingat kejadian semalam, kejadian di mana dirinya ketakutan setengah mati karena hujan dan petir. Hanya itu. Mengenai piama tidur berwarna pink yang ia kenakan sekarang tidak, seingatnya ia mengenakan piama tidur berwarna putih.
Lalu jawaban akhirnya ia dapatkan. Ia memang mengenakan piama tidur berwarna putih semalam, dan piama itu kini sudah berada di tumpukan kain kotornya.
“Nona..” Suara di balik pintu mengintrupsinya. Melissa menyahut lalu merapikan tempat tidurnya.
“Itu pekerjaan saya Nona,” ucap Enna saat melihat Melissa cekatan menarik ujung selimut untuk disatukan dengan ujung yang lain.
“Aku hanya terbiasa.” Enna mendekat lalu ikut membantu Melissa merapikan tempat tidurnya.
“Apa kau yang mengganti pakaianku Enna?” Enna menoleh dengan kerutan di dahinya.
“Maksud Nona?”
“Maaf Nona, Tuan Jeon menyuruh Nona untuk segera turun ke bawah,” interupsi pelayan lainnya dari ambang pintu.
“Ya Tuhan, kedatangan saya ke sini sebenarnya untuk mengatakan itu, Tuan Jeon sudah menunggu di ruang makan,” sambung Enna dengan menepuk jidatnya.
“Ya, baiklah. Aku akan segera turun.” Enna tersenyum tipis lalu pergi.
Setelah kepergian Enna dan pelayan yang lain, Melissa segera membersihkan dirinya, mengingat hari ini ia harus sekolah. Selama hampir seminggu ia tidak mengikuti pelajaran, dirinya tertinggal begitu jauh. Jika punya teman, mungkin Melissa bisa menghubungi mereka untuk membantunya mengetahui bagian apa saja yang tidak ia ikuti.
Setelah membersihkan diri dan berpakaian, Melissa bergegas menemui Jeon Jonas yang sudah menunggu di ruang makan. Melissa bisa melihat banyak makanan sudah tersedia di atas meja. Anehnya piring Jeon Jonas nampak bersih dan mengkilat. Pria itu belum menyantap apapun. Jeon Jonas yang duduk membelakanginya tengah berbicara dengan seseorang lewat telepon. Dari suara tegas dan dalam itu, Melissa menyimpulkan bahwa Jeon Jonas tengah berbicara dengan orang penting.
Melissa mendekat lantas menarik kursi untuk dirinya. Ia tersenyum tipis ketika Jeon Jonas menatapnya dengan senyuman juga. Jeon Jonas berdehem lalu menjejalkan ponselnya ke dalam saku.
“Kau sudah membaik?” tanya Jeon Jonas seraya menyuapkan waffle madu ke dalam mulutnya.
“Apa terjadi sesuatu padaku?” Jeon Jonas mengangguk pelan.
“Semalam kau demam Pinky, tidak ingat?”
Melissa terdiam memutar otaknya mengingat kejadian semalam. Akhirnya ia menggelang.
“Apa aku merepotkan Paman?” Jeon Jonas tersenyum tipis.
“Tidak sama sekali..” Melissa tiba-tiba saja mengingat sesuatu.
“Pakaianku?apa Paman yang-”
“Pelayan yang menggantinya,” sela Jeon Jonas seolah tahu ke mana arah pertanyaan gadis di depannya.
Jeon Jonas meletakkan garpunya lalu membersihkan mulut.
“Kenapa dengan pakaianmu?” tanyanya menatap seragam yang dikenakan Melissa.
“Aku akan sekolah..” Jeon Jonas menaikkan alisnya.
“Ya. Tentu saja, tapi tidak untuk hari ini Pinky, kau akan pindah dari sana. Sekolah itu tidak bagus sama sekali. Aku sudah mengurus kepindahanmu. Kau akan bersekolah di Faith Lutheran.”
“Kenapa aku tidak diberitahu mengenai ini?” Jeon Jonas meneguk air dalam gelasnya, lalu menatap Melissa dengan lurus.
“Aku tahu apa yang aku lakukan, dan semua itu demi masa depanmu..”
Melissa menghela nafas. Selama bersekolah di Elderd, ia tidak pernah merasakan sesuatu yang menyenangkan. Tidak ada pengganggu, tidak ada teman, tidak ada apapun yang bisa membuatnya bergairah dalam belajar. Dan mungkin pilihan dari Jeon Jonas bisa mengubah kehampaan itu.
“Kau akan kembali sekolah minggu depan, mengerti Pinky?” Melissa mengangguk.
“Sekarang, habiskan sarapanmu.” Melissa melihat hidangan itu satu persatu. Jeon Jonas hanya menyantap sepiring waffle madu, sedangkan yang lain dibiarkan begitu saja.
“Aku tidak yakin bisa menghabiskan semuanya..” Jeon Jonas terkekeh.
“Ya, tidak harus. Setidaknya perutmu harus terisi. Aku tidak ingin orang membicarakanku jika sampai terjadi sesuatu dengan perutmu..”
Melissa mengulum senyum kemudian memasukkan sesendok yogurt dengan potongan stroberi itu ke dalam mulutnya. Jeon Jonas memperhatikan, tidak sedikitpun pergerakan gadis itu ia abaikan dari tatapan tajamnya. Mulai dari cara Melissa memasukkan sendok ke dalam mulutnya, mengunyah stroberi itu dengan gigi putihnya, lalu terakhir dengan jilatan kecil di atas bibirnya saat yogurt itu tak sengaja menempel di sana.
Melissa mendongak, mendapati mata Jeon Jonas menyorotnya dengan lurus. Ia bergerak kikuk, lalu meraih air putih untuk diminum.
“Pinky, apa kau selalu seperti ini saat menikmati yogurt?” Kening Melissa berkerut.
“Maksud Paman?”
Maksud Jeon Jonas adalah, bagaimana bisa gadis itu terlihat begitu panas hanya karena menikmati semangkuk yogurt?
“Pernah menikmati yogurt dengan orang lain? Teman priamu mungkin?” tanya Jeon Jonas.
“Tidak.” Melissa menggeleng.
“Ya, itu bagus. Kau hanya bisa melakukan itu saat bersamaku.” Melissa tidak paham maksud dari Jeon Jonas namun ia mengangguk, sebab pria di depannya tampak mengeras dari caranya menekan rahang.
“Selesaikan sarapanmu, aku akan pergi ke suatu tempat.”
“Iya Paman..”
Jeon Jonas bangkit, sebelum benar-benar beranjak ia menyempat diri untuk memberi kecupan singkat di kedua pipi gadisnya. Jeon Jonas bersumpah merasakan gadis itu menegang di tempatnya.
Ini telalu cepat Jeon Jonas! Dia hanya gadis polos!
🌷🌷
Melissa duduk di sofa sembari membalas pesan dari Brian, pemilik cafe tempat kerjanya. Melissa nyaris dipecat jika saja ia tidak mengatakan kalau ia akan bekerja besok. Namun tiba-tiba saja Brian mengirim pesan kalau Melissa tidak perlu risau sebab pekerja lain bisa menggantikannya saat ia tidak ada.
“Beristirahatlah, kau bisa datang minggu depan, atau minggu depannya lagi.” Itulah isi pesan yang dikirimkan Brian.
“Apa itu artinya aku tidak perlu bekerja lagi?” Melissa membalasnya dengan wajah muram sekaligus panik.
“Baik. Aku mengerti,” balasnya lalu meletakkan ponselnya di meja.
Melissa beranjak menuju balkon kamar, ia dapat menyaksikan kemewahan kediaman Jeon Jonas. Melissa paham siapa dirinya di rumah itu. Jeon Jonas mengaku sebagai pamannya, tapi bukan kandung. Jadi Melissa harus menyiapkan diri kalau-kalau Jeon Jonas tiba-tiba membuangnya.
Melissa membuang nafas. Dirinya memutuskan untuk meninjau kabar dari naskah yang sudah ia kirimkan pada editor penerbit.
Ia membawa jarinya membuka email dari Peter yang menjadi editor naskahnya.
“Tulisanmu bagus, aku bahkan tidak menemukan satupun kesalahan dalam naskahmu. Tapi kami perlu merundingkan kembali keputusan untuk diterbitkan atau tidak. Jadi kami perlu waktu untuk memberimu hasil.”
“Baiklah, aku akan menunggu..”
“Kau ada acara besok, aku ingin mengajakmu keluar. Besok aku free..”
“Dan sayangnya besok aku harus bekerja Peter..”
“Oh ya Tuhan, kenapa kita tidak pernah free di waktu yang sama?” Melissa yakin Peter menggerutu di sana.
“Kalau begitu aku akan berkunjung ke tempat kerjamu..”
“Ya. Baiklah Peter.”
🌷🌷
Melissa baru saja akan mandi saat Enna masuk dan memanggilnya. Enna mengatakan kalau Jeon Jonas berada di kolam dan mengajak Melissa untuk berenang bersama.
“Kau yakin?” tanya Melissa menunjuk dirinya sendiri.
“Ya, Nona. Tuan Jeon bahkan sudah berenang dengan Ben..”
“Paman mengajak temannya?” Enna mengangguk pelan.
“Apa mereka banyak? Maksudku apa di sana ramai sekarang?” Enna tersenyum tipis, lalu menggeleng.
“Tidak Nona, hanya Tuan Jeon dan Ben.”
“Ah baiklah..”
“Saya akan mengantar Nona ke sana..” Melissa mengangguk lalu mengikuti Enna berjalan dari belakang. Sesampainya di depan kolam renang, Melissa melihat Jeon Jonas tengah berenang bersama Ben. Kedua pria itu tampak seksi dan menggiurkan. Keduanya bertelanjang dada tentu saja, dan otot-otot besar itu mampu mengalihkan seluruh pusat perhatian Melissa.
Melissa, ini akibatnya jika kau terlalu menutup dirimu. Kau tercengang hanya dengan melihat otot!
“Nona..” Melissa menoleh cepat tatkala Enna menyentuh bahunya. Enna mengajak Melissa masuk ke dalam ruangan kecil di dekat kolam. Di dalam tersedia berbagai jenis baju renang untuk pria dan wanita. Enna menarik satu, bikini merah muda yang pastinya akan sangat menggoda jika Melissa memakainya.
“Ehm..itu terlalu..” Enna menarik bikini lain, berwarna merah muda juga. Melissa yakin semua bikini di sini berwarna merah muda. Melissa menggeleng.
“Aku akan cari yang lebih sopan,” ucapnya. Enna menahan tawanya.
“Semuanya sama Nona, tidak ada bikini sopan di sini,” balasnya. Melissa mendesah gusar, lalu menarik satu.
“Aku akan pakai ini,” putusnya menarik satu baju renang yang tetap saja terlalu seksi menurutnya.
“Itu sangat manis,” nilai Enna lalu berjalan keluar membiarkan Melissa mengganti pakaiannya.
Setelah mengenakan baju renangnya, Melissa segera keluar dan berdiri di pinggiran kolam renang. Di sana sudah tidak Ben, atau mungkin Ben sedang menyelam ke bawah. Melissa tidak tahu. Yang Melissa lihat, Jeon Jonas berenang sendiri, pria itu seperti tidak menyadari kehadirannya.
“Pinky..” Melissa menoleh. Jeon Jonas melambaikan tangannya dari ujung kolam.
Jeon Jonas membawa badannya naik, lalu berjalan menuju tempat duduk yang tersedia di sana.
“Berenanglah,” ujarnya lalu meneguk minuman yang disediakan di sana.
“Paman sudah selesai?” Jeon Jonas mengangguk.
“Bagaimana dengan teman paman?” Jeon Jonas meletakkan gelasnya lalu menatap Melissa yang tengah berdiri di pinggiran kolam. Gadis itu..Jeon Jonas baru saja membasahi tenggorokannya dengan air namun secepat itu kering karena melihat gadis yang tampak manis dengan baju renang pink yang ia sediakan.
“Dia sudah pergi.”
“Oh begitu..”
Jeon Jonas memandangi Melissa dari tempat duduknya, gadis itu mengambil ancang-ancang untuk melompat ke dalam air. Gadis itu menyelam selama beberapa detik kemudian memekik kegirangan saat muncul ke permukaan.
Jeon Jonas suka. Suka bagian di mana gadis itu tertawa sembari mengusap wajahnya yang basah sepenuhnya karena air.
Melissa kembali menyelam. Ia masuk semakin dalam lalu berdiam di sana. Dari dalam ia bisa melihat sinar matahari yang mulai meredup. Di sana terasa nyaman dan tenang. Melissa suka seperti ini.
Byur..
Melissa menoleh. Jeon Jonas berenang ke arahnya dengan cepat, lalu menariknya ke permukaan. Mereka sama-sama mengambil nafas lalu membuangnya perlahan.
“Apa yang kau lakukan!” Melissa terperanjat saat Jeon Jonas membentaknya.
“A-aku-”
Nafas Jeon Jonas terasa memburu. Ia memperhatikan sejak tadi. Melissa menyelam dan bertahan di dalam air selama beberapa menit. Jeon Jonas kalang kabut, khawatir gadis itu tidak bisa naik karena tidak melakukan pemanasan terlebih dahulu.
Dan saat menemukan gadis itu ternyata menutup mata seperti menikmati suasana tenang dalam air, membuat Jeon Jonas geram tapi juga lega.
Melissa menatap Jeon Jonas dengan tatapan nanar, tidak tahu apa kesalahan yang ia perbuat sehingga pria itu membentaknya seperti ini.
Jeon Jonas yang merasakan kekakuan Melissa, segera menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Ia hanya khawatir, tidak bermaksud yang lain. Namun terlanjur sudah membuat gadis itu berpikiran lain-lain.