
Cafe Wriston telah dibuka sejak dua hari yang lalu, seorang gadis nampak baru saja masuk ke dalam dan segera mengambil tempatnya untuk bekerja. Melissa menarik buku kecil dan pena lalu mencatat pesanan dari meja nomor delapan. Setelah jam sekolah berakhir, Melissa menyempatkan dirinya untuk mengganti seragam dengan pakaian santai yang telah ia siapkan di rumah. Kemudian dengan bantuan taksi ia segera bergegas berangkat menuju tempat kerja, sudah dua hari ini ia lakukan sama seperti itu, ia kembali pada rutinitasnya yang sibuk setiap harinya, tidak ada waktu untuk bersantai seperti beberapa hari yang lalu, selesai bekerja sebagai pelayan ia akan segera mengerjakan PR atau setidaknya menambah bagian dari cerita yang ia tulis sebelumnya.
“Two lychee teas, two chicken fingers, and one chocolate lava cake.” Melissa mengulang pesanan pelanggan di depannya.
“Terimakasih, penanan anda akan segera sampai,” sambungnya lantas menyerahkan kertas tulisannya kepada pekerja lainnya.
“Ganti dulu pakaianmu astaga,” gerutu Helen dari meja kasir. Melissa meringis kemudian segera berlari ke ruang ganti untuk memakai baju khusus pelayan.
“Melissa, pesanan meja nomor delapan sudah siap!”
Melissa membenarkan letak dasi berbentuk menyilang di bawah lehernya lalu segera kembali untuk mengantar pesanan.
“Bisakah kau tidak bergerak seperti siput?” Helen kembali menegur.
“Maaf.” Melissa mengangkat nampan berisi pesanan pelanggan lalu melangkahkan kakinya untuk menaruh makanan itu ke atas meja.
“Silahkan dinikmati,” ucapnya ramah pada pelanggan.
“Thank you.”
“Permisi, bisa tolong tunjukkan letak toiletnya?” Seorang wanita mengangkat tangan agar mendapat perhatian.
“Oh tentu, sebelah sini.”
Pekerjaan seperti ini adalah yang paling dibutuhkan Melissa saat ini, untung Brian segera membuka cafe dan menyarankan mereka untuk segera bekerja. Memang sejak dulu Melissa sudah terbiasa membanting tulang, ia dibesarkan tanpa kasih sayang orang tua yang seharusnya bisa menyanggupi kebutuhannya hingga ia setidaknya berumur 20 tahun, dan dengan bantuan semnagat dari Bibi Hazel yang merupakan hanya tetangga berhasil meningkatkan semangat Melissa untuk hidup meski ia sudah berniat akan mati saat merasa hidupnya tidak bernilai tanpa kehadiran ibu dan ayahnya.
Dengan Jeon Jonas semuanya terasa mudah, semua yang diinginkan dan yang tidak dibutuhkan gadis itu pun selalu dipenuhi, dan entah mengapa sejak perdebatan panjang mereka malam itu, Melissa seakan ingin kembali pada penutupan dirinya seperti dulu.
“Excuse me.” Melissa menarik buku kecilnya lalu kembali pada rutinitas padat yang akan ia hadapi sepanjang sore ini.
***
Suara dentingan pedang terdengar memenuhi ruangan, di sana ada Jeon Jonas, Ben, Hans dan anak buah lainnya sedang berlatih mengasah kemampuan menggunakan senjata tajam. Ben sendiri selalu berusaha keras menangkis ayunan pedang Jeon Jonas padanya, kali ini Jeon Jonas terlalu beringas memainkan pedangnya, Ben yang merupakan ahli dalam menggunakan pedan saja bahkan memerlukan kecepatan di kedua tangan dan kaki panjangnya untuk menyeimbangkan diri.
Hans yang melihat Ben mundur setelah dorongan antara pedangnya dan pedang Jeon Jonas, bergeser panik dan menginstruksikan teman latihannya untuk berhenti sejenak.
“Bos!”
Jeon Jonas semakin mendorong pedangnya tepat ke wajah Ben, lalu dengan sekali hentakan pedang Ben telah terlempar ke sudut ruangan.
Anak buah yang sempat datang memanggil Jeon Jonas masih menjaga jarak, ia membawa kabar penting dari luar, kabar Melissa yang selalu ia pantau selama kurang lebih 10 jam menggantikan pekerjaan Rosie. Namun demi keselamatan jiwa dan raga, ia tidak ingin gegabah bahkan hanya untuk melangkah.
Jeon Jonas menoleh sembari mengusap keringat yang membanjiri tubuh atas dan seluruh permukaan wajahnya.
Kabar tentang Melissa tidak boleh ia lewatkan.
Jika Melissa selalu menghindar dan tak ingin berada di sisinya, maka Jeon Jonas tidak punya pilihan lain selain meminta anak buahnya memata-matai. Dua hari dua malam gadis itu tidak keluar lebih tepatnya tidak menampakkan diri di depan Jeon Jonas. Gadis itu betah mengurung dirinya di dalam kamar dan hanya akan keluar saat pagi untuk sarapan, bahkan itu harus tanpa Jeon Jonas. Pria itu harus mengalah dan menunggu Melissa berangkat sekolah untuk memasak sarapannya sendiri.
Namun Jeon Jonas tidak tahan lagi, ini bahkan nyaris tiga hari!
“Nona Melissa melakukan rutinitasnya seperti biasa Bos!”
“Tidak mungkin dia selalu melakukan aktivitas yang sama!” Jeon Jonas menyergah. Pria di depannya menelan ludah lantas mencoba menarik napas untuk melanjutkan kalimatnya.
“Saya tidak bisa masuk ke sekolah Bos, keamanan di sekolah itu ketat, saya tidak punya akses masuk seperti Rosie, tapi-”
“Itu saja kau tidak bisa? Aku perlu tau apa yang dia lakukan di sekolah!”
“Saya tidak bisa menyamar sebagai murid Bos.” Well, wajah pria itu memang tidak memungkinkan untuk menyamar sebagai murid, wajahnya sangat dewasa.
“Saya sempat menyamar sebagai guru dan staff namun akses saya untuk mengikuti Nona Melissa terlalu kecil, kegiatan guru dan staff di sekolah itu terlalu banyak, beberapa murid memergoki saya sedang melakukan aksi, saya diberitahukan untuk mengikuti kegiatan seperti guru lainnya.Tapi saya berhasil memasang kamera di kelas Nona Melissa dan setiap sudut sekolah kecuali toilet wanita.”
Dan untuk kabar ini, Jeon Jonas sedikit lega, setidaknya ada rekaman.
“Berikan rekamannya, aku akan pulang.”
“Baik Bos.”
Jeon Jonas membubarkan latihan pedang lantas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Ia menyalakan shower untuk membasahi badan lalu menaruh sabun di sekujur tubuhnya. Jeon Jonas menutup mata, kenyataan Melissa lebih memilih tidak berbicara dengannya sangat melukai hati Jeon Jonas, padahal ia selalu mengalah pada gadis itu, hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Tidak tahu lagi setelah ini jika Melissa tetap tidak mau berada di dekatnya, Jeon Jonas mungkin harus bertindak memaksa.
Biar saja gadis itu menilainya sebagai pria kasar, Jeon Jonas hanya ingin gadis itu bicara padanya. Kediaman Melissa tidak dapat ia terima.
Usai membersihkan diri, Jeon Jonas segera pulang ke rumah. Saat sampai ia telah menemukan Jack yang kemungkinan besar baru saja menjemput Melissa dari tempat kerjanya.
Gadis itu ada di rumah.
“Selamat sore Tuan.” Pelayan berjejer menyambut kedatangan Jeon Jonas.
Jeon Jonas berlari menaiki undakan tangga saat melihat pintu Melissa sedikit terbuka.
“Pinky..”
Pintu terbuka sempurna, Jeon Jonas mengedarkan pandangan. Ruangan itu kosong.
“Pinky..”
Memikirkan gadis itu ternyata memang serius saat mengatakan akan pergi dari rumah membuat Jeon Jonas segera menghampiri lemari baju dengan tergesa-gesa.
Baju yang pernah dikenakan gadis itu dan beberapa potong celana masih tergantung rapi di sana.
Suara langkah kaki sedang berlari kemudian terdengar. Melissa masuk ke dalam kamar lalu menguncinya rapat-rapat, gadis itu memakai pakaian olahraga, rupanya tadi ia sedang lari sore. Melissa menempelkan telinga di pintu lalu menghembuskan nafas lega saat berhasil seperti biasanya tidak bertemu dengan Jeon Jonas.
“Apa yang kau lakukan?”
Waktu seakan berhenti, Melissa kaget luar biasa saat berbalik dan mendapati Jeon Jonas duduk di tepi ranjangnya.
Dengan pikiran linglung, Melissa kemudian kembali membuka pintu yang ia kunci rapat.
“Pinky!”
Tak ingin Melissa lolos dari jangkauannya, Jeon Jonas kemudian bangkit nyaris melompat menubruk pintu agar tertutup.
Namun untuk kali ini, ia kalah cepat. Melissa telah berlalu dan anehnya gadis itu malah masuk ke dalam kamar Jeon Jonas.
Permainan anak-anak macam apa ini?
Melissa mengamati kamar yang ia masuki. Seketika pemandangan dinding yang hanya dihiasi warna hitam dan aroma khas pria mengguncangnya. Jadi tadi ia tidak salah masuk kamar? Kamar yang tadi dimasukinya memang kamarnya? Dan sekarang ia dengan tololnya malah melarikan diri ke kamar Jeon Jonas. Betapa malunya.
Baiklah untuk beberapa jam, Melissa butuh menetralkan nafas dan memikirkan ide.
Kedua. Jeon Jonas pasti menyimpan kunci cadangan.
Ketiga. Melissa tidak mungkin tinggal diam, menunggunya di luar.
Well, mati saja Melissa!
Gadis itu bergerak mundur saat mendengar bunyi putaran kunci di lobang pintu, berbeda dengan kamarnya, rupanya kamar Jeon Jonas sangat tertutup, bahkan pintu menuju balkon tidak dapat ia temukan, warna dinding dan pintu sama hitamnya. Melissa hanya bisa pasrah ketika pintu terbuka dan ia tetap berdiri di sana. Menunggu sang pembuka pintu masuk dan mengagetkannya.
“Nona. Tuan sudah tidak ada.” Suara Enna membuat jantung Melissa yang tadinya nyaris melompat kini berdetak seperti sedia kala.
Enna tersenyum geli saat melihat Melissa bergerak malu dan keluar dari kamar. Masalah tentang mereka berdua, Enna sangat mengetahuinya, dan terasa lucu baginya saat Jeon Jonas harus uring-uringan karena seorang gadis.
***
Pada pukul delapan malam setelah menyelesaikan makan malamnya, Melissa mengecek ponsel saat mendapat email dari Peter. Email yang diteruskan dari penerbit novel.
“Selamat Siang Melissa Kyle. Terimakasih untuk karya bagus yang anda kirimkan kepada kami. Karya anda akan kami serahkan kembali dengan rasa menyesal, karena karya anda tidak dapat kami terbitkan. Jangan bersedih dan tetap berkarya. Sampai jumpa di karya berikutnya. Salam kami.”
Rasanya air mata Melissa ingin tumpah. Namun ia tahan dengan sekuat tenaga. Banyak karya bagus yang diseleksi bersama karyanya. Dan mengetahui Peter mengirim email pada malam hari yang seharusnya sudah dikirimkan padanya sejak siang tadi menyentuh perasaan Melissa. Peter berpikir lama untuk mengirim kabar ini, Peter mungkin berpikir Melissa akan merasa terluka dan tidak dapat mengatur emosional, Peter tahu seberapa lama Melissa menulis karyanya, dan bagaimana semangat gadis itu menyelesaikannya dalam beberapa bulan. Peter tak ingin sahabatnya itu akan menyerah dalam membuat karya baru.
Ponselnya kemudian berdering, Peter meneleponnya.
“Halo Peter.”
“Aku minta maaf Melissa.” Suara Peter terdengar menyesal.
“Aku tidak apa-apa, lagi pula kupikir banyak karya orang lain yang lebih baik dariku. Ini juga sebagai pelajaran agar aku memperbaiki tulisanku.”
“Karyamu bagus, aku serius.”
“Terimakasih.”
“Kau akan tetap menulis kan? Aku tidak ingin kau menyerah karena berita ini.”
“Aku tidak sepesimis itu Peter. Lagi pula kenapa kau meneruskannya sekarang?”
“Kau tau, aku memang sengaja tidak memberikan emailmu saat penerbitnya meminta, aku bahkan tidak ingin memberitahumu tentang ini. Aku takut kau akan meragukan kemampuanmu sendiri, sudah banyak penulis yang menyerah karena karyanya tidak diterima penerbit, aku tidak ingin kau melakukan hal yang sama.”
“Untungnya aku tidak seperti mereka.”
“Thank God.” Peter menghembuskan nafas lega.
“Berhenti mencemaskanku, aku tutup.”
Tanpa ingin mendengar sahutan, Melissa mengakhiri pangilan secara sepihak.
“Come on, you can do it, don't give up.” Melissa menyemangati dirinya sendiri.
Setelah berhasil menguatkan diri. Melissa keluar dari kamar tepat pukul sepuluh malam untuk mengambil air minum. Pelan-pelan ia menurunkan kaki untuk menuruni undakan tangga.
“Melissa.”
Melissa memutar tubuh hendak kembali ke kamar.
“Berhenti di sana!”
Melissa menghembuskan napas berat.
“Sudah cukup acara hindar menghindarnya Melissa, sudah cukup.”
Melissa menutup mata mendengar dan merasakan hembusan napas Jeon Jonas di belakangnya.
“Berbalik.”
Jeon Jonas menggeram rendah saat gadis itu tetap bergeming di posisinya. Maka tangan Jeon Jonas yang bekerja untuk membalikkan tubuh gadis itu agar menatapnya.
“Apa Paman?”
Well, Mata Jeon Jonas yang tadinya memerah karena menahan amarah seketika berubah ke warna semula setelah mendengar suara lembut itu, Jeon Jonas mengurungkan niat untuk bertindak kasar. Hanya karena suara. Semudah itu.
“Pinky,apa menurutmu kau gadis yang baik?”
“No.”
“Ya, karena gadis yang baik tidak akan mendiami pamannya. Lihat ini.” Jeon Jonas menunjuk rahangnya yang ditumbuhi bulu halus.
“Aku tidak mencukurnya karenamu. Aku bahkan tidak bisa makan dengan baik, aku nyaris mati.”
“Paman bisa makan dengan Enna dan Jack.”
“Mereka tidak mau Pinky, mereka menghindariku. Aku tidak punya siapa-siapa.”
“Kenapa tidak makan saja dengan teman kencan Paman?”
Jeon Jonas menghela nafas.
“Jangan memulainya Pinky..”
“Kenapa?”
“Aku tidak punya teman kencan. Aku hanya memilikimu.”
Untuk beberapa saat Melissa merasa detak jantungnya berdetak tidak normal. Ini karena dia sedang takut pada Jeon Jonas. Ya benar.
“Gadis yang baik akan menemani pamannya makan bukan?”
Jeon Jonas tersenyum saat mendapati gadisnya menganggukkan kepala. Ia akan berhasil mempengaruhi pikiran lugu Melissa sampai suara pintu terbuka dan gadis tinggi semampai masuk dengan gaun merahnya.
“Jeon..”
“Apa yang kau lakukan di sini, Stephanie?”
Jeon Jonas memegang erat tangan Melissa yang sempat mengepal saat menemukan wanita memanggil Jeon Jonas dengan suara menggoda.
“Kau tidak pernah mengunjungiku lagi..”