
Semakin banyak vote semakin cepat ceritanya diupdate! Vote Now!
“Jeon!” Stephanie berteriak senang tatkala mendengar suara deru mobil Jeon Jonas memasuki pekarangan rumahnya. Pria tegap itu keluar lalu bersandar di kap mobil. Ia melirik Stephanie berlari dan segera melompat memeluknya dengan erat.
“Apa ini semacam kejutan? Kau tidak menghubungiku sebelumnya.” Stephanie mendongak dan bertanya.
“Aku ingin mengajakmu ke luar, bersiaplah.” Stephanie mengangguk senang lalu berjinjit demi mencium pipi Jeon Jonas.
Seperginya Stephanie untuk bersiap-siap, Jeon Jonas mendapat telepon dari Hans.
“Pengirimanan senjatanya berjalan dengan lancar Bos. Anak buah Bernard sepertinya lebih fokus pada wanita yang menjadi kelemahan Bos.”
Jeon Jonas tertawa dingin.
“Bernard *****. Pastikan semuanya aman, aku akan memancing mereka semakin kenyang dengan umpanku.”
“Baik Bos.”
Selesai berbicara dengan Hans, Jeon Jonas telah melihat Stephanie keluar dari rumah dengan mini skirt dan baju tanpa lengannya. Wanita itu merias wajahnya cukup tebal dan memakai sepasang anting bulat sebesar gelang.
“Am i beautiful?”
“Beautiful like usually.” Jeon menjawab seadanya, tidak berbohong karena memang wanita itu cantik seperti biasanya, itu sebabnya Stephanie menjadi wanita terlama yang berhubungan dengan pria itu.
“Ke mana kita akan pergi?” tanya Stephanie pada Jeon Jonas yang masuk lebih dulu ke dalam mobil tanpa membukakan pintu untuknya.
“Ke tempat yang kau sukai.” Stephanie senang bukan main, ia duduk di samping Jeon Jonas lalu berbayang-bayang mengenai tempat yang disewa Jeon Jonas untuk mereka berdua.
Tapi bayang-bayang indahnya buyar ketika mobil Jeon Jonas berhenti di sebuah restoran biasa yang hampir penuh oleh pengunjung.
“Tempat ini? Katakan kau bercanda..”
“Ini memang tempatnya, kau suka ke mana aku membawamu pergi bukan?”
“Tapi tempat ini hanya restoran biasa, aku tidak terbiasa. Kau punya banyak uang, kita bisa sewa tempat yang lebih mewah, come on..”
“Turun Stephanie, jangan mengajakku berdebat.”
“Jeon..”
Jeon Jonas menatap Stephanie datar, tapi cukup membuat wanita itu bergidik dan segera turun dari mobil.
Siang ini sangat terik jadi Stephanie segera berlindung agar tidak terkena paparan sinar matahari, ia buru-buru menggandeng tangan Jeon Jonas yang baru saja keluar dari mobil.
“Apa makanan terbaik di restoran ini?” tanya Stephanie pada pelayan saat mereka telah duduk di salah satu tempat kosong.
“Toasted ravioli with marinara sauce..” Stephanie berdecak.
“Ya Tuhan, kau dengar itu Jeon? Itu makanan terbaiknya?” Wanita angkuh itu memutar bola matanya lantas menyuruh pelayan membawakan makanan termahal yang disediakan di sana.
Sementara Jeon Jonas lebih fokus pada ponselnya yang menampilkan foto Bernard dan anak buahnya yang berada di pelabuhan, menyambut kedatangan tiga pria berpakaian formal yang dipastikan akan bekerja sama dengan kelompok Mattow. Sedangkan anak buah yang lain berada di sekitar Jeon Jonas, mengikutinya, dan mengamati apa yang ia lakukan dengan Stephanie.
“Jeon, kau mengabaikanku..”
“Apa yang kau mau Stephanie?”
“Aku tidak suka tempat ini..”
“Jangan memancing kemarahanku.”
“Biasanya kau akan membawaku ke tempat berkelas, apa kau sudah bangkrut?”
“Apa yang akan kau lakukan kalau aku bangkrut?”
Stephanie mengerutkan dahinya.
“Jadi benar kau bangkrut?”
“Tidak ada alasan untukku kehilangan kekayaanku.” Stephanie menghembuskan napas lega.
“Itu kabar baik.”
Ketika pelayan datang dengan nampan berisi makanan terbaik di restoran tempatnya bekerja, Stephanie melotot.
“Hot dog?”
“Bisa kau tidak berkomentar Stephanie?” Tatapan tajam Jeon Jonas akhirnya membungkam mulut wanita itu.
***
Hari Jeon Jonas habis separuh dengan Stephanie, yang mana membuatnya lelah karena mulut cerewet wanita itu. Jadi ia segera mengantar Stephanie pulang dan kembali ke kediamannya untuk sekedar beristirahat.
Langit telah berwarna jingga ketika pria itu disambut oleh para pelayan di rumahnya. Ia naik ke kamar lantas memutuskan untuk membersihkan badan sebelum berkunjung ke kamar sebelah. Lima belas menit digunakan untuk mandi, ia lantas berpakaian dan membiarkan rambutnya yang basah tidak tertata dengan baik, Melissa akan membantunya untuk itu.
“Pinky..” Seperti biasa, ia mengetuk sebelum masuk ke kamar gadis itu.
Dan tidak ada jawaban dari dalam. Jeon Jonas membuka pintu lalu mengintip ke dalam.
“Boleh aku masuk?” Meski belum ada sahutan untuk masuk, pria itu masuk dan mendorong pintu kamar mandi. Melissa juga tidak ada di dalam sana.
“Enna.” Teriakan Jeon Jonas membuat Enna cepat-cepat berlari ke lantai atas.
“Ya Tuan..”
“Di mana Melissa?”
“Saya tidak tau Tuan, Nona Melissa belum sampai ke rumah.”
“Belum sampai? Ini sudah melewati jam pulang sekolahnya. Panggil Jack.”
“Baik Tuan.”
Terlihat di bawah Enna menyeret Jack dan menunjuk lantai atas, yang mana membuat Jack berlari cepat dan berdiri di depan Tuannya.
“Saya Tuan.”
“Kau tidak menjemput Melissa?”
“Saya melakukannya Tuan, Nona Melissa tidak pulang. Saya sudah mengirim pesan pada Tuan perihal itu.”
“Apa katamu? Tidak pulang?”
“Dia harus pulang.”
“Nona Melissa mengatakan akan menginap di rumah temannya.”
“Demi Tuhan.”
Jeon Jonas meremas rambutnya, ia benci mendengar fakta itu, fakta di mana Melissa akan berjauhan dengannya, fakta di mana Melissa akan tertawa dengan temannya sementara ia kesepian. Jeon Jonas tidak suka.
Jadi ia segera menghubungi Melissa yang segera diangkat oleh gadis itu.
“Hai Paman..”
“Kau tidak mengatakan kalau kau akan menginap..”
“Sudah kukatakan pada Jack.”
“Tapi padaku tidak sayang..”
“Kenapa harus menginap?” lanjut Jeon Jonas yang kini memilih duduk di atas tempat tidur Melissa.
“Maggie butuh teman untuk tidur, ibu dan ayahnya pergi ke luar kota..”
“Kenapa bukan temanmu yang satunya yang menemaninya di sana?”
“Ava tidak diijinkan menginap.”
“Jadi aku akan tidur sendiri?”
“Biasanya juga seperti itu kan?”
“Tidak, aku tidur denganmu.”
“Maksud Paman tidur bersebelahan tapi beda kamar?” Melissa terkekeh.
Tidak. Nyatanya Jeon Jonas memang sering menyelinap dan akan kembali ke kamarnya di pagi hari.
“Ajak saja temanmu itu ke sini, kau tau itu akan membuatku kesepian..”
“Maggie tidak akan mau meninggalkan rumahnya. Paman bisa tidur sendiri kan?”
Jeon Jonas mendesah berat. Ia terlihat seperti anak kecil yang harus ditemani tidur oleh ibunya.
“Aku akan tidur kalau kau ada di sini.”
“Aku akan kembali besok. Janji.”
Jeon Jonas masih belum bisa menenangkan dirinya.
“Bagaimana kalau aku menginap di sana juga?”
“Huh?”
“Aku akan ke sana.”
“Tidak boleh. Paman tidak boleh menginap di rumah perempuan.”
Jeon Jonas merengut kesal.
“Aku tau Paman kesal, tapi aku hanya menginap satu malam, besok kita akan tidur bersama, bagaimana?” Maksud Melissa adalah tidur dalam artian sesungguhnya, dalam satu ranjang, bersebelahan dan tidak melakukan apa-apa selain menutup mata. Sedangkan pria seperti Jeon Jonas sudah berpikiran liar mengenai apa yang akan mereka lakukan selama tidur bersama.
“Kau janji akan tidur bersamaku besok..”
“Ya Paman, aku janji.”
“Di kamarku.”
“Jangan, di sana gelap.”
“Tapi aku suka gelap-gelap.”
“Aku tarik ucapa-”
“Baiklah di kamarmu.” Melissa terkekeh lagi, dan itu menular pada Jeon Jonas yang ikut tersenyum lebar.
“Aku akan mengurungmu besok.”
“Itu akan menyenangkan.”
“Segera pulang gadis nakal.”
Jeon Jonas menghempaskan tubuhnya di tempat tidur Melissa yang berbau manis, berlama-lama menghirup aroma segarnya dan memilih tertidur di sana.
***
Melissa menatap dirinya di pantulan kaca, rok yang Maggie berikan terlalu pendek, lebih pendek dari rok yang biasa ia kenakan, jika saja semalam Maggie tidak mengajaknya bermain game yang mengakibatkan dirinya lupa mengganti seragam dan berbau keringat, ia akan lebih memilih memakai seragam pemberian Jeon Jonas.
“Hei, kita harus sarapan sebelum berangkat.” Maggie muncul di daun pintu.
“Oke.” Melissa merapikan rambutnya yang dikuncir kuda lantas mengikuti Maggie turun ke bawah.
“Gaya rambut itu cocok untukmu, lehermu jenjang dan menggiurkan.”
“Kau terdengar seperti paman-paman mesum..” Maggie terkekeh.
Mereka duduk di ruang makan lantas menyantap roti dengan selai sebagai sarapan.
Selesai dengan sarapannya, Maggie dan Melissa berangkat ke sekolah dengan mobil Maggie. Mereka segera disapa Ava yang saat itu juga baru sampai di sekolah.
“Lihat boneka barbie ini.” Ava berbicara, menilai penampilan Melissa yang tidak biasa.
“Tapi Magg, kurasa rok itu terlalu kecil untuk Melissa. Aku bahkan bisa melihat celana dalamnya.”
“Ya Tuhan, kau serius?” Melissa bertanya panik.
“Dia bercanda Melissa, tenang. Kau terlihat cantik pagi ini,” celetuk Maggie. Melissa menghembuskan napas lega lantas masuk ke kelas dengan kedua teman cantiknya.
***
Jeon Jonas gusar dengan fakta tidak kembalinya Melissa ke rumah. Ponsel gadis itu bahkan tidak dapat dihubungi, benar-benar lupa kalau Melissa adalah gadis SMA yang harus sekolah. Demi menghilangkan kegusarannya Jeon Jonas berniat akan menemuinya namun kedatangan Stephanie menghalangi segalanya. Wanita itu berani berkunjung dengan gaya angkuhnya.
“Apa yang kau lakukan di sini?” Hans yang saat itu bersiap menemani Jeon Jonas ke markas, menghadang Stephanie untuk tidak masuk ke dalam rumah.
“Aku menemui kekasihku.” Hans berdecih.
“Kau harus ingat di mana posisimu.”
“Ya, di sisi Jeon Jonas, di pelukannya, pangkuannya, dan segala posisi yang menyenangkan.”
“Memang wanita murahan.”
Stephanie menggeram marah, akan menampar Hans jika saja panggilan Jeon Jonas tidak menghentikannya.
“Jeon, dia menghinaku,” adunya pada Jeon Jonas. Sementara pria itu diam dengan raut wajah dingin.
“Hans benar, Stephanie. Kau tidak diperbolehkan datang ke kediamanku.”
“Aku hanya ingin menemuimu..”
“Harus kau ingat mengapa aku membayarmu selama ini. Kau tidak se-spesial itu.”
Stephanie mengetatkan rahang, tapi ingat bahwa ia masih membutuhkan uang Jeon Jonas.
“Baiklah aku minta maaf.”
***
Di jam istirahat Melissa kaget tatkala merasakan ponselnya bergetar. Tapi segera mengangkat karena tahu itu Jeon Jonas.
“Kau tidak pulang seperti yang kau janjikan..” Suara Jeon Jonas terdengar muram.
“Paman lupa kalau aku harus bersekolah?”
Melissa tersenyum saat mendengar desahan napas Jeon Jonas, pria itu benar-benar tidak ingat mengenai fakta itu.
“Aku sangat merindukanmu.” Pelannya suara Jeon Jonas membuat dada Melissa kembali bertalu-talu.
“Aku juga..”
“Hm, aku tidak dengar..”
“Aku juga rindu Paman..”
“Huh?”
“Aku rindu Paman, sangat rindu.”
Jeon Jonas tertawa singkat dan berefek besar pada debaran sialan itu.
“Aku benar-benar akan mengurungmu nanti malam.”
Melissa terkekeh.
“Halo, kami di sini.” Suara Ava menginterupsi. Membuat Melissa sadar bahwa saat ini ia sedang di kantin bersama dua temannya.
Melissa segera memutus panggilan karena gugup.
“Kalian mendengarku?”
Keduanya mengangguk.
“Aku rindu Paman, sangat rindu..”
“Ava..” Melissa yang malu akhirnya memukul pundak Ava agar berhenti menggodanya.
***
Fakta yang sebenarnya adalah Jeon Jonas tidak di rumah ketika Melissa pulang. Yang pertama kali menyapanya saat kembali adalah Enna yang mengatur pelayan bawahannya untuk membersihkan alat-alat dapur bekas pakai.
“Bagaimana acara menginapmu?”
“Cukup menyenangkan.”
“Bisa kulihat, kau ceria siang ini.”
“Ya.” Melissa mengulum senyum.
“Paman tidak di rumah?”
“Dia pergi dengan Hans..”
“Masalah pekerjaan ya?”
“I guess so..”
“Hei, gaya rambut seperti itu cocok untukmu, kau harus sering melakukannya,” lanjut Enna.
“Maggie membantuku.”
“Oh ya? Aku bisa membantumu lain kali.”
“Tentu, aku akan mengikat rambutku lebih sering.”
“Itu bagus.”
“Aku akan ke atas.”
“Ya, segera turun untuk makan.”
“Baik.”
***
Hari telah sore ketika Jeon Jonas kembali dari markas, meninjau bar dan kasino miliknya bersama Ben dan Hans tanpa anak buah yang lain. Ia bergegas mendorong pintu kamar Melissa saat naik ke atas, menemukan gadis itu baru saja selesai mandi dan masih mengenakan handuk menutupi tubuh basahnya.
“P-Paman.” Melissa tidak sempat mundur tatkala Jeon Jonas menarik tubuhnya untuk berpelukan.
“Aku harus melakukan ini sebentar.”
“Tapi aku harus berpakaian.”
“Aku perlu mengisi bateraiku.”
“Huh?”
“Sebentar saja.”
Melissa memilih bergeming.
“Jangan menginap lagi.” Jeon Jonas bersuara tepat di telinga gadis itu.
“Iya.”
“Jika temanmu itu perlu teman tidur, akan akan mengirim banyak wanita ke rumahnya.”
Melissa masih diam, mengeratkan tangannya pada handuk agar tidak terjatuh.
Pria itu akhirnya mengurai pelukan, mencium pipi Melissa dengan hangat lalu memegang dadanya
“Masih 80 persen, 20 persennya akan aku isi lagi nanti. Kau janji tidur bersamaku.”
“Ya Paman.”
Melissa merasa lega karena Jeon Jonas telah keluar, tidak tahu apa jadinya jika pria itu berada di kamarnya lebih lama. Gadis itu mengambil baju, memakainya dengan sangat cepat, takut pria itu menerobos masuk dan dirinya mungkin akan berteriak.
Melissa merasa menyesal telah menyetujui ajakan Jeon Jonas untuk tidur bersama, sebab saat langit malam semakin gelap, Melissa mendapati dirinya sendiri ketakutan. Ketakutan berbeda yang tidak bisa ia jelaskan. Ia mematikan lampu lantas mengurung dirinya di bawah selimut. Tapi celah pintu di kamarnya membuat ruangan terkena cahaya dari luar, Melissa bisa merasakannya, kehadiran seseorang yang berhasil mendorong pintu hingga terbuka semakin lebar.
“Open your eyes.” Kalimat ringan yang diutarakan bersamaan sapuan hangat di pipinya. Melissa bergidik, membeku parah tatkala menemukan Jeon Jonas berhasil mengurungnya dengan tangan-tangan kekar itu.
Mata pria itu segelap malam tanpa bulan, ada senyum misterius yang ia dapatkan ketika tatapan mereka saling beradu. Jeon Jonas masih belum terbaca sebagaimana pria itu selalu dengan mudah membaca dirinya.
Melissa yakin pria seperti Jeon Jonas menyimpan sesuatu di balik keheningannya, dan saat bibir pria itu mendarat di tulang selangkanya, Melissa tahu, tahu benar jika tidur bersama yang ia bayangkan tidak serupa dengan pemikiran pria itu.
“Do you know what I want now?”
Gadis itu menggeleng dan Jeon Jonas tidak tahan hanya untuk memberi gigitan kecil di telinganya.
“Aku ingin menggigitmu, mengunyahmu, menelanmu ke perutku.” Bola mata gadis terlihat gelisah, Jeon Jonas terdengar seperti kanibal yang mana membuat Melissa harus menutup mata rapat-rapat agar dirinya merasa tenang.
Jeon Jonas menemukan dirinya nyaris melanggar sumpah, sumpah di mana ia akan menunggu gadis itu lebih dewasa. Sebab sesuatu dalam dirinya terbakar dan Jeon Jonas semakin mengutuk diri sendiri saat ia menyibak selimut dan menaruh tangan beruratnya ke dalam gaun tidur Melissa.
Gadis itu terkejut, Jeon Jonas bisa melihatnya.
“Uncle, no..”
Jeon Jonas tidak mendengarkan, ia menekuk kaki itu hingga gaunnya tersingkap. Jeon Jonas melihat mata itu lagi sebelum akhirnya menaruh bibirnya di kedua lutut itu. Menciumnya, meninggalkan jejak basah yang membuat Melissa merinding.
Hanya sebentar. Jeon Jonas meyakinkan dirinya sendiri.
Pria itu akhirnya berdiri, menyelimuti tubuh bergetar Melissa dengan selimut merah mudanya. Tidur bersama kali ini bukan ide yang baik, jadi Jeon Jonas mengakhiri malam mereka dengan memberi kecupan di dahi gadis itu, mengucapkan selamat malam dan keluar dengan menutup pintu.