HOT GUY

HOT GUY
[35]



Banyak hal yang luput dari pengetahuan Jeon Jonas tentang Melissa, selama dua tahun gadis itu tidak berada dalam jarak pandangnya membuat Jeon Jonas menyimpan rasa penasaran. Terutama mengenai kepergiannya yang mencengangkan, tidak ada yang tahu kapan dan bagaimana. Tapi Jeon Jonas menyakinkan satu hal, mungkin wanita itu pergi karena kesalahannya, karena tidak tahan dengan ketidakhadirannya.


Jeon Jonas ingat bagaimana tatapan bening wanita itu terlumuri oleh rasa sengsara, rasa sakit dan kebutuhan untuk dicintai. Namun ia pergi, ia pergi membawa rasa pengecutnya dan meninggalkan wanita itu sendirian.


Melissa tengah tersambung dengan Maggie, wanita itu tersenyum simpul saat Maggie bercerita, sementara Jeon Jonas duduk di tepi ranjang, mengisap rokok lalu memperhatikannya. Dulu merokok di depan Melissa merupakan hal yang sangat dijauhi Jeon Jonas, ia tidak ingin Melissa menilainya buruk dan tidak ingin wanita itu merasa tidak nyaman. Namun, kini semuanya sudah berbeda, Melissa sudah tahu siapa dirinya, seorang gangster yang hobi mengisap tembakau dan nyatanya wanita itu merasa baik-baik saja, hanya saja Jeon Jonas akan menjauhkan rokoknya jika ia sudah begitu dekat dengan Melissa.


Ia tidak ingin asap rokok lebih mendominasi sedangkan aroma Melissa yang manis selalu ia ingin ia baui.


“Jeongin membawaku ke rumahnya. Ibu dan ayahnya baik, mereka mengajariku memasak mie khas korea lalu kami berjalan-jalan dengan mobil. Aku baru tau kalau keluarga Jeongin ternyata punya sawah, mereka menanam banyak padi.” Celotehan Maggie sangat panjang. Mulai dari dirinya yang menuruni sawah, diajari memotong padi lalu memanen kerang.


“Maaf lupa mengabarimu, aku sampai lupa janji kita untuk berkeliling.” Maggie terkekeh.


Melissa tidak keberatan, dengan kepadatan aktivitas Maggie maka ia bisa menghabiskan waktu bermanfaat dengan Jeon Jonas.


“Ah, aku tau kenapa kau tidak merasa terganggu dengan aktivitasku, kau sudah bersama Jeon Jonas sekarang, apa saja yang kalian lakukan?” tanya Maggie. Melissa tergoda untuk menjawab dengan jujur bahwa Jeon Jonas dan dirinya sudah berada di tahap santap-menyantap. Ia melirik pria itu tengah memerhatikannya dengan saksama.


Melissa salah tingkah dalam bergerak, cara pria itu mengisap rokoknya, mengembuskan asapnya tinggi dengan menaikkan dagu lalu menatapinya lurus-lurus. He sexy as hell!


“Kau mendengarku, Mel?” interupsi Maggie.


“Y-ya.”


“Apa saja yang kalian lakukan?”


“Hanya begitu..”


“Jadi benar dia sedang bersamamu? Dia menemuimu lagi? Kapan? Bagaimana kejadiannya?”


“Kita bicarakan semuanya setelah bertemu.”


“I want now!”


Come on Magg! Jeon Jonas sedang ada di sini! Melissa tidak mungkin menceritakan apa yang dilakukan pria itu sementara pria itu tidak pernah mengalihkan pandangan.


“Nanti, aku akan beritahukan nanti.”


“Dia mendengarmu?” Melissa menjawabnya dengan deheman. Maggie menghela napas.


“Baiklah, lalu kapan kita bisa berkeliling bersama?”


“Bukankah kau sedang menikmati waktumu dengan Jeongin?”


“Ya, tapi aku juga ingin bertemu denganmu. Aku tidak memaksa, di waktu yang kau bisa saja, aku takut kau kesulitan memilih aku atau paman tersayangmu,” goda Maggie.


“Baiklah.”


“See you next time.”


Melissa menaruh ponsel di meja kemudian berpura-pura sibuk dengan kameranya.


“Sudah selesai?” Melissa menoleh, mendapati Jeon Jonas tengah menekan rokok lalu mendekatinya. Belum juga menjawab ponsel wanita itu kembali berbunyi, mengganggu Jeon Jonas yang ingin bicara berdua dengan Melissa-nya.


“Halo..” Jeon Jonas mendecak keras, ia kembali menjauh untuk mengisi gelas dengan air minum.


“Bagaimana kabarmu? Kau baik-baik saja?” tanya Sani.


“Aku baik, bagaimana denganmu?” Sani mendesah pelan kemudian menjawab bahwa ia juga baik-baik saja.


“Sepertinya kau senang di sana, kau lupa meneleponku. Hans selalu pulang malam, dia merindukanmu, dia bahkan pernah bilang kalau dia akan ke sana menjemputmu.”


“Maaf tidak mengabari kalian, tapi aku baik-baik saja. Urusan pentingnya sudah selesai, aku hanya ingin menemani Maggie berkeliling Seoul.”


“Hans tidak pernah meneleponmu?”


“Tidak, tapi aku sempat memberitahukan kalau aku sampai dengan selamat.”


“Baguslah, dia sedang tidak ada di rumah, tapi akan aku beritahukan kalau kau sempat menelepon. Hubungi dia kalau kau sempat. Astaga, dia seperti anak kecil yang kesepian.” Melissa terkekeh.


“Baiklah, aku tutup ya. Aku menyayangimu.”


“Mee too.”


Ketika Melissa meletakkan ponselnya, ia terkesiap dengan kemunculan Jeon Jonas yang tiba-tiba, pria itu menahan kesal lalu menariknya ke atas pangkuan.


“Aku akan mengumpat jika seseorang meneleponmu lagi.” Melissa menggeliat geli ketika pria itu menempelkan dagu di lehernya.


“Why? Kau tidak suka aku melakukannya?” tanya Jeon Jonas menampilkan raut wajah sedih.


“Geli.”


“Hah?”


“Paman belum bercukur.”


Jeon Jonas tersenyum tipis, ia semakin menggesekkan rahangnya ke leher Melissa. Wanita itu tertawa kecil lalu mendorong kepala Jeon Jonas.


“Paman bisa lakukan lagi ketika Paman sudah bercukur.”


“So how if I want to do it again now?” Melissa meggelengkan kepala sementara Jeon Jonas tersenyum miring.


“Aku perlu sebuah ciuman sebagai gantinya.”


Tanpa menunggu persetujuan pria itu segera memagut bibirnya, menekan kedua paha wanita itu dengan tangan-tangan yang besar agar tidak bergerak banyak. Melissa selalu merasa melayang saat bibirnya terbuka dan lidah panjang itu masuk dengan gerakan tidak biasa. Jeon Jonas adalah pencium yang andal, ia paham bagaimana membuat Melissa merasa nyaman sekaligus bertahan di waktu yang lama tanpa memaksa.


“Uncle..” Cicitan itu membuat Jeon Jonas terbakar. Namun baru saja ingin menggerakkan tangan, bel kamar berbunyi. Jeon Jonas mengumpat pelan, mengusap bibir basah Melissa lalu mengecupnya sebelum mendudukkan wanita itu di sofa.


“Ben?” tanya Jeon Jonas saat melihat pria itu berdiri di depan pintu.


“Ada masalah di bar, Nevan sudah menelepon Bos tapi Bos tidak mengangkat. Nevan masih tersambung dengan saya, dia ingin bicara dengan Bos.”


Nevan adalah anak buah Jeon Jonas yang hampir akan ia angkat sebagai pengganti Hans, namun Ben sudah cukup. Ia tidak ingin posisi Hans tergantikan. Jadi, setelah menerima ponsel dari Ben, ia meminta Ben masuk dan berjaga sebentar.


Begitu Jeon Jonas pergi, Ben masuk ke dalam. Menemukan Melissa masih menatapnya dengan canggung. Ben memberanikan diri duduk di dekat wanita itu lalu berdeham pelan. Ia tidak tahu mengapa Melissa selalu takut padanya, ia merasa tidak terlalu mengerikan, ia bahkan sudah mengubah sedikit penampilan sangarnya agar setidaknya jika bertemu Melissa, wanita itu akan merasa nyaman.


“Apa kabar?” tanyanya dengan wajah datar.


“Baik. Paman Ben?”


“Seperti yang kau lihat.”


Ben semakin mendekat tatkala penciumannya menemukan aroma wanita itu. Aroma yang selalu ia simpan dan tidak dapat tergantikan. Menguasai dirinya sendiri, Ben kemudian mengalihkan pandangan.


“Kau tinggal di Korea selama ini?”


“Tidak, aku masih di Las Vegas.”


“Oh ya? Lalu mengapa selama ini kau tidak pernah muncul? Kami selalu mencarimu.”


Melissa bergeming, lalu Ben membuat suaranya lebih pelan dari sebelumnya, mungkin suaranya terlalu mengintimidasi.


“Jadi, di mana kau tinggal? Aku tau kau tidak menginap dengan temanmu, kami sudah bertanya.”


“Penthouse Paman Hans.”


“Hans?” Ben mengenyitkan dahi secara berlebihan, apa lagi saat Melissa mengangguk mantap.


“Kau sempat bertemu Hans?”


“Kami tinggal bersama.” Ben menatap pintu yang tertutup, berharap Jeon Jonas tidak muncul secara tiba-tiba.


“Hans tinggal bersamamu, itu atinya dia masih hidup?” Melissa mengerjap bingung.


“Paman Hans memang masih hidup.”


Ben mulai berpikir yang tidak-tidak. Melissa tidak mungkin berbohong. Fakta yang sebenarnya adalah Hans membohongi semua orang untuk mendapat wanita itu. Ben mengumpat, beraninya Hans bermain sejauh ini, mengirim mayat palsu lalu menyembunyikan Melissa selama bertahun-tahun.


“Tolong jangan beritahu Jeon Jonas tentang ini.”


“Kenapa?”


“Karena aku menyuruhmu, ini untuk kebaikanmu juga.” Ben mengerjap, memperhatikan penampilan Melissa yang cukup dewasa, dan rasanya ia ingin gila seperti Hans! Tapi Ben masih memikirkan banyak hal, ia menghormati Jeon Jonas dan ia tidak mungkin merusak kepercayaan pria itu hanya karena seorang wanita yang tidak bisa ia miliki.


Melissa tersentak saat Ben menyentuh ujung roknya, pria itu mengikis jarak lalu menatapnya lurus.


“Paman Ben.”


“R-rokmu berantakan.” Benar. Itu mungkin perbuatan Jeon Jonas tapi Ben benar-benar tidak tahan jika melihat rok itu bergulung ke atas. Ia sedikit tersengal saat kulit lembut wanita itu menyapa tangannya.


Melissa menjauh takut, Ben mengerang kesal lalu menjambak rambutnya sendiri. Ia bangkit dengan marah, mengapa ia tidak bisa menahan diri? Wanita itu tidak akan pernah merasa nyaman jika Ben saja tidak bisa mengontrol diri sendiri.


“Aku bilang rokmu berantakan!” seru Ben kesal. Melissa merapikan pakaiannya lalu menatap Ben dengan khawatir. Pria itu melipat kedua tangan di depan dada kemudian melengos saat Jeon Jonas masuk dan mengembalikan ponselnya.


“What’s wrong Pinky?” tanya Jeon Jonas saat menemukan Melissa menunduk. Melissa menggeleng.


“Aku tidak punya alat cukur sendiri, jadi kau harus menemaniku bercukur.” Melissa mengangguk.


“Apa Ben melakukan sesuatu padamu?” tanya Jeon Jonas dengan tatapan menyelidik.


“Tidak.”


“Jadi kenapa kau terlihat berbeda?”


“Tidak, aku tidak.”


Jeon Jonas mengusap rambutnya dengan lembut lalu mengecup keningnya.


“Jangan menyembunyikan sesuatu dariku. Kau tau aku akan mengetahuinya dengan atau tanpa pemberitahuanmu.”