HOT GUY

HOT GUY
[47]



Tidak ada yang lebih diinginkan Jeon-Jonas selain perayaan besar-besaran di hari pernikahan mereka, sebelum itu ia sudah merencanakan untuk mengadakan pesta barbeque di kediamannya. Melissa dapat mengundang teman-temannya, hanya teman yang benar-benar dekat, dan Jeon-Jonas sendiri juga membebaskan anak buahnya untuk ikut berpartisipasi. Untuk pesta pernikahannya yang diadakan lusa, Jeon-Jonas tidak mengundang siapa pun kecuali Krista, livy dan ayahnya, sedangkan Melissa sudah lebih dahulu mengundang ke enam temannya. Jeon-Jonas tahu setelah ia bercerita bahwa Krista bersikeras akan menjadikan ballroom hotel miliknya sebagai tempat pernikahan mereka dan ia tentu tidak dapat menolak, terlebih karena Melissa juga menyetujuinya.


“Paman, apa kita memang harus ke dokter?”


“Ya, apa kau takut?”


Melissa memandang lurus perutnya.


“Apa mereka akan menyuntikkan sesuatu?”


“Tidak, mereka tidak akan menyuntik. Tidak suka disuntik?”


“Ya, because it hurts, and I thought I would never like it.”


Jeon-Jonas terkekeh samar kemudian membelai pelipis wanita itu dengan lembut.


“Ouw, kalau begitu aku juga akan benci jarum suntik.”


Mereka sedang duduk berdua di dalam mobil, rencananya akan memeriksa Melissa yang pagi-pagi tadi merasa mual dan Jeon-Jonas panik luar biasa dengan mengumpulkan semua pelayan, mengira ada yang berniat meracuni Melissa-nya.


Tapi kemarahannya akhirnya hilang ketika tidak ada tanda-tanda kejahatan dan teringat bahwa Melissa pernah membahas tentang kehamilan. Itu sebabnya mereka kini sedang menuju rumah sakit, untuk memastikan apa benar ada bayi di dalam perut kecil wanita itu atau justru sebuah hal buruk.


Melissa masih tampak gugup ketika mobil yang dibawa Jeon-Jonas semakin jauh dari kediaman mereka. Wanita itu terus-menerus menatapi perutnya dan akan mengalihkan perhatian jika Jeon-Jonas mengelus jemarinya.


“Well, Pinky. Aku rasa akan lebih baik jika kita hanya akan membeli alat cek kehamilan.”


Melissa mengerjap-erjap. “Jadi—kita tidak akan ke rumah sakit.”


“Ya, seperti yang kau inginkan, bukan?”


Melissa tersenyum lebar, mengangguk membenarkan.


“Sebagai gantinya, mungkin aku yang akan menyuntikmu.”


Melissa menggeleng, menolak disuntik. “No.”


“Why no? Aku pernah menyuntikmu, lupa?”


“Paman tidak pernah.”


“Pernah, Sayang. Oh, aku rasa aku perlu mengingatkanmu, nanti."


Melissa masih sibuk mengingat kapan ia pernah disuntik oleh pria itu ketika Jeon-Jonas menepikan mobil di depan sebuah toko swalayan.


“Tetap di sini, aku yang akan turun.”


Melissa mengangguk, membiarkan pria itu turun sendirian dan masuk ke dalam toko untuk berbicara dengan seorang pramuniaga. Ia menumpukan wajah ke atas dashboard lalu memperhatikan bagaimana Jeon-Jonas berbicara pada pramuniaga wanita itu sembari menunjuk beberapa benda. Ada dua pramuniaga wanita lain yang ikut bertanya mengenai keperluan pria itu dan Melissa sudah merasa tidak suka ketika kedua wanita itu seolah sedang menggoda Jeon-Jonas dengan mengumbar senyum dan mengibas rambut.


Ia mengerucutkan bibir lalu dengan cepat menuruni mobil dan masuk ke toko hanya untuk merangkul lengan Jeon-Jonas. Ketiga wanita itu memandang Melissa lurus-lurus, Melissa membalasnya dengan menatap mereka dengan tatapan sengit. Jeon-Jonas tersenyum samar lalu mengusap rambut Melissa dengan gemas.


“Yang terbaik,” ucap Jeon-Jonas pada salah satu pramuniaga.


“Oh, saya merekomendasikan ini untuk Anda,” jawab pramuaniaga itu seraya menunjukkan test pack berbentuk strip.


Jeon-Jonas mengangguk, membayarnya dengan cepat. Ia lalu mengajak Melissa kembali masuk ke dalam mobil, memberi kantong plastik berisi test pack itu pada Melissa, dan wanita itu menatapnya dengan penasaran. Ada dua tulisan begitu ia membuka bungkusan biru itu, dua garis untuk pregnant, satu garis untuk not pregnant.


Sesampainya di kediaman Jeon-Jonas, Enna menyapa Melissa seperti biasa. Ia mengerutkan kening ketika wanita itu melamun alih-alih menyahut. Enna lalu menundukkan kepala dan bergerak mundur saat Jeon-Jonas muncul setelahnya.


Melissa menaiki undakan tangga dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi, ia menutup pintu lalu kembali membaca cara penggunaan test pack tersebut dengan saksama.


“Pinky..”


“A—aku akan memeriksanya.”


“Katakan jika kau kesulitan.”


“Ya.”


Jeon-Jonas memilih duduk di atas tempat tidur wanita itu. Ia menarik satu batang rokok, hendak menyalakannya sebelum menyadari bahwa ia mungkin akan merusak udara di kamar Melissa.


Pada akhirnya ia mengembalikan rokok itu ke dalam bungkusnya, ia menatap lurus-lurus pintu kamar mandi, menunggu Melissa muncul dengan pemberitahuan.


“Uncle..”


Jeon-Jonas mengerjap cemas. “Ya?”


Melissa tidak kunjung menjawab, perlu banyak detik yang terbuang hingga Jeon-Jonas memilih berdiri dan menghampiri pintu kamar mandi.


“Pinky?”


“I’m pregnant.”


Jeon-Jonas menaikkan alis, mengira bahwa ia mungkin salah mendengar. Segera saja ia membuka pintu, menemukan Melissa tengah memasang wajah semringah.


“Kita akan memiliki bayi?” tanyanya.


Melissa mengangguk dengan senyum lebar. “Ya.”


Jeon-Jonas merasakan dadanya membuncah. Ia memeluk wanita itu, menciuminya habis-habisan.


🌷🌷


Pesta barbeque diadakan tepat setelah pukul tujuh malam, teman-teman Melissa sudah berkumpul di depan taman yang dihias dengan banyak lampu warna-warni. Mereka berbagi tugas masing-masing, Maggie dan Melissa menyusun aneka sosis di atas panggangan arang yang sudah menyala. Ava, Lucas dan Bobby sibuk dengan memotong daging dan mencuci sayur selada, sedangkan Peter dan Jeongin tidak ikut berpartisipasi karena memiliki urusan masing-masing.


Mengenai anak buah Jeon-Jonas, mereka sibuk dengan alat panggang lain, sudah memanggang banyak daging dan patty burger dan diletakkan pada piring-piring, kadang-kadang mulut mereka ikut bekerja untuk menyantap, berhubung sang bos juga tidak ada di tempat.


“Demi Tuhan, kau tidak pernah bilang kalau kau tinggal di tempat seperti ini. Lihat betapa luasnya tempat ini, astaga!” ucap Maggie.


“Dan pria-pria tinggi itu, aku rasa aku akan berpaling dari Jeongin,” lanjutnya seraya menatap lapar anak buah Jeon-Jonas.


Ava ikut bergabung setelah selesai mencuci sayur, ia menarik satu tusuk sosis lalu mencobanya dengan mengembus-embus karena masih sangat panas.


“Oh, ya Tuhan, ini lezat.”


“Bagaimana bisa kau hanya tertarik pada Jeon-Jonas sedangkan pria-pria tinggi di sana juga tidak kalah tampan darinya,” ujar Maggie.


“Tapi yang jadi bos itu hanya Jeon-Jonas, Magg,” celetuk Ava.


“Well, kau memang pintar,” kekeh Maggie sembari menatap geli pada Melissa.


“Untukmu.” Ben datang dengan sepiring daging yang sudah dipotong-potong kecil, diberikan pada Melissa.


“Terima kasih, Paman,” sahut Melissa.


“Paman, aku juga mau,” goda Ava. Ben tidak menyahut, hanya memasang wajah datar lalu memberi garpu pada Melissa sebelum pergi.


Maggie menutup mulutnya menahan tawa sementara Ava mendecih karena tidak diacuhkan.


“Dasar,” decih Ava, tapi akhirnya ikut menusuk daging pemberian Ben dengan garpu lalu mengunyahnya.


Lucas dan Bobby ikut duduk bersama mereka setelah selesai memanggang daging yang mereka potong, ada empat botol bir yang Bobby pegang di kedua tangannya, ia lantas menaruhnya di atas meja setelah membuka salah satunya untuk diteguk hingga setengah.


“Jadi, sebenarnya aku dan Bobby ingin mengajak kalian bermain truth or dare,” celetuk Lucas.


“Aku akan setuju jika tantangannya mencium salah satu pria di sana,” sahut Maggie.


“Oh, halo Jeongin, pacarmu sedang jelalatan,” ujar Ava menempelkan jari kelingking dan ibu jari di telinganya, pura-pura menelepon.


“Come on, Ava!” Maggie mamutar bola matanya.


“Melissa kau setuju?” tanya Lucas.


Melissa mengangguk.


“Well.” Lucas menarik satu botol bir kosong, menaruhnya di tengah meja lalu memutarnya dengan jemari. Sasaran pertama adalah Bobby.


“Bobby, sudah berapa banyak wanita yang tidur denganmu?” tanya Lucas.


Bobby memutar bola matanya sembari mendesah. “ Enam.”


“Wow.” Ketiga wanita itu membelalak, Lucas tertawa kecil.


Bobby kemudian memutar botol, sasaran berikutnya adalah Ava.


“Well, ini membosankan! Ava, apa kau sudah pernah tidur bersama Lucas?”


Mata Ava membola, ia melirik Lucas dengan wajah memerah. “Dare.”


“Come on, Ava. Jadilah berani,” celetuk Maggie.


“Aku sedang mencoba berani dengan memilih tantangan, Magg.”


“Kalau begitu, cium aku di bibir. Itu tantangannya,” ucap Bobby.


Lucas membelalak. “Damn! Kami sudah pernah tidur bersama, sialan!”


Bobby tertawa keras, terutama ketika wajah Ava semakin memerah padam.


Tepat pada saat itu, sebuah mobil hitam masuk dan melalui gerbang. Anak buah Jeon-Jonas yang tadinya sibuk menggigiti sosis dan potongan daging, berlari terbirit-birit dan berbaris di samping mobil.


“Selamat datang, Bos!!” Mereka memberi salam dengan lantang lalu menundukkan kepala tatkala sang bos keluar dari dalam mobil.


“Di mana mereka?”


“Di taman, Bos!”


Jeon-Jonas mengangguk pelan, mobilnya diambil alih oleh Nevan untuk dibawa ke dalam garasi. Pria-pria berpakaian hitam itu berjalan pelan di belakang ketika Jeon-Jonas beranjak menuju taman, sementara Ben dengan anak buah yang masih memanggang daging di sekitar tempat duduk Melissa, masih sibuk dengan kegiatan masing-masing.


“Akhirnya giliran Melissa,” ujar Ava begitu botol yang ia putar mengarah pada Melissa.


“Siapa cinta pertamamu?” sambung Ava dengan wajah semringah.


“Paman Jeon.” Semua orang yang duduk di sana mendesah.


“Bagaimana dengan Hans?”


“Hei, pertanyaannya hanya boleh satu,” timpal Bobby.


“Boleh bergabung?” Mereka terkesiap ketika Jeon-Jonas muncul. Beberapa menit yang lalu pria itu pamit pergi hanya untuk melihat markas, ada hal mencurigakan. Dan ia kembali hanya untuk membuat mereka terkejut.


Tidak ada jawaban, jadi ia berinisiatif menarik satu kursi lalu duduk di samping Melissa.


“Ehm—giliranmu,” ucap Ava, memberi botol itu pada Melissa.


Tiba-tiba saja udara di sana seakan menyesakkan, terutama saat mereka menyadari bahwa semua anak buah Jeon-Jonas sudah berbaris rapi di belakang pria itu.


Melissa memutar botol dan botol tersebut mengarah pada—dirinya sendiri—tidak, itu pada Jeon-Jonas, pria itu duduk terlalu dekat dengannya. Pria itu meliriknya dengan sebuah senyum, menunggu pertanyaan.


“Ehm—apa Paman menyembunyikan sesuatu dariku? Hal yang mungkin harus kuketahui?”


Jeon-Jonas tersenyum miring. “Tentu saja tidak, Sayang.”


Jeon-Jonas tidak tertarik ikut bermain atau sekadar memutar botol, ia mendorong botol itu ke tengah dan Lucas berinisiatif memutarnya sendiri dan melanjutkan permainan.


Melissa menggeleng. “Paman menemukan sesuatu di sana?”


“Tidak, markas itu tersembunyi. Hanya aku dan anak buahku yang tahu tempat itu, and my pinky of course,” sahut Jeon-Jonas sembari membelai pipi Melissa.


“Dan Jack.”


“Oh. Ya, benar.”


“Melissa.” Melissa terkesiap saat botol bir itu mengarah padanya.


“Seperti pertanyaan sebelumnya, Mel. Apa kau sempat menyukai Hans?” tanya Ava.


“Dare,” sahut Jeon-Jonas. “Apa tantangannya?”


“Ta—tapi ini giliran Melissa, harusnya—”


“Dia juga memilih dare, jadi apa tantangannya?”


“Oh—ehm—minum bir saja.”


Jeon-Jonas menarik satu botol bir, membukanya lalu meneguknya hingga tandas.


“Jangan menyuruh atau mengajaknya minum bir, dia hamil.”


Maggie dan Ava menganga. “Melissa hamil?”


“Dan tidak perlu mencari pria-pria matang yang bisa menjaga bayinya. Kami akan menikah.”


Maggie dan Ava terkekeh kaku lalu menggaruk tengkuk.


🌷🌷


Untuk semua persiapan pernikahan, Jeon-Jonas hanya mengajak Melissa untuk mengunjungi sebuah butik ternama dan memilih pakaian pernikahan mereka. Bagian penting lain, ia percayakan pada Ben dan Nevan, dan kedua pria itu sudah melaporkan bahwa semuanya sudah dipersiapkan dengan baik.


Pada hari ini, mereka akhirnya kembali lagi ke Florida untuk melihat ballroom hotel milik Krista. Hotel itu cukup dekat dengan pantai Miami. Krista menjelaskan bahwa mereka bisa saja melaksakan resepsi pernikahan di pantai itu, dengan keamanan yang ketat. Namun, Jeon-Jonas menolaknya dengan cepat, ia akan menggelar pernikahan secara privat, hanya orang yang diundang yang bisa melihat.


Setelah puas melihat ballroom yang akan mereka pakai dan berkeliling di sekitar Miami Beach, mereka akhirnya kembali ke kediaman orangtua Jeon-Jonas.


Livy adalah orang yang pertama kali antusias luar biasa saat melihat Melissa yang selalu ia sebut ‘teman’. Ia hendak melompat dan memeluk Melissa, tapi ditahan Jeon-Jonas karena takut gadis itu beserta keantusiasannya, malah membuat janin di perut Melissa tidak baik-baik saja.


“Teman..” Livy mengerucutkan bibir ketika Jeon-Jonas menjauhkan Melissa darinya.


“Jeon—Livy hanya ingin berteman,” ucap Krista.


“Tidak. Livy harus selalu diawasi, bisa saja dia akan meremukkan tubuh Melissa hanya karena menyukainya.”


“Ya Tuhan. Kau terlalu berlebihan. Livy-ku masih kecil, dia tidak mungkin bisa meremukkan Melissa. Bukan begitu, Livy?” ujar Krista sembari mengusap-usap dagu Livy.


Livy mengangguk. Ini pertama kalinya ia bertemu teman sebaya, selama ini ia selalu di rumah, tidak pernah melihat orang yang sama kecilnya sepertinya, yang sama menggemaskannya sepertinya.


“Biarkan Livy bermain dengan Melissa,” lanjut Krista.


“Ibu, Melissa bukan anak-anak. Dia harus banyak istirahat untuk kesehatan bayi kami.”


Krista melotot. “Ba—bayi?”


“Bayi..” ucap Livy mengikuti.


“Ya, bayi.”


Krista menatap lurus perut Melissa lalu kembali menatap Jeon-Jonas.


“Ya, Tuhan. Kalian—kalian sudah memiliki bayi sebelum menikah. Kalian—adalah pasangan terbaik!”


Jeon-Jonas membuang napas, akhirnya meninggalkan Krista dan Livy berdiri dengan senyum melebar di sana. Ia mengajak Melissa ke lantai atas lantas bergegas masuk ke dalam kamar lamanya.


“You should sleep now.”


“Aku tidak mengantuk.”


Jeon-Jonas tersenyum, membaringkan tubuh mereka berdua di ranjang dengan posisi berhadapan.


“Ibu yang baik akan banyak beristirahat demi kesehatan bayinya.”


“Dia belum berbentuk.”


“Siapa bilang? Dia sudah berbentuk, maybe … like a carrot..”


“Like a carrot?”


“Ya, that’s a small baby. Kau harus beristirahat agar bayinya tumbuh semakin besar. Dan kalau kau lupa kalau besok adalah hari yang melelahkan.”


Melissa mengangguk.


“That’s my good girl.”


🌷🌷


Cuaca sedang bersahabat ketika pernikahan itu akhirnya terjadi. Untuk hari penting seperti ini, Jeon-Jonas mengenakan tuxedo putih cerah, begitu berkharisma ketika ia menginjakkan kaki ke depan gedung itu bersama belasan anak buahnya.


Mereka—yang berjalan di belakang pria itu, juga memakai setelan rapi berwarna putih, hanya untuk hari ini. Karena setelah bertahun-tahun melekat dengan pakaian berwarna hitam, mereka risi terhadap warna lain.


“Berjaga di depan. Jangan menerima orang asing,” perintah Jeon-Jonas.


“Baik, Bos!”


Empat anak buahnya berdiri di depan hotel, berjaga seperti yang diperintahkan pria itu. Sementara yang lain tetap mengikuti sang bos, berjalan di belakang. Ketika ia akhirnya dapat melihat ayahnya sedang berdiri dengan anak buahnya yang ia perintahkan datang terlebih dahulu untuk mengawasi hotel, ia menyapa dengan datar.


“Ini ramai juga sepi.”


Jeon-Jonas paham. Ia tahu ayahnya sedang menyindirnya karena hanya mengundang beberapa orang ke pesta pernikahan itu.


“Ada puluhan anak buahku di sini.”


“Dan mereka terlalu kaku jika berbicara denganku.”


Jeon-Jonas melirik anak buahnya yang masih berdiri di belakang.


“Mereka tahu pada siapa mereka akan berbicara banyak, dan Ayah bukanlah jawabannya.”


Ayahnya tersenyum miring, akhirnya memantik satu batang rokok.


Di dalam ruangan pengantin, Melissa tengah berkumpul bersama teman-temannya dan berfoto bersama. Ada juga Bibi Hazel dan Enna yang memilih bercakap-cakap tentang banyak hal, tentang masa remaja yang dilewati Melissa tanpa Bibi Hazel lalu tentang bagaimana Enna pertama kali melihat dan mengajak Melissa belajar memasak bersama hingga mereka akhirnya akrab.


“Jadi, kau tidak mengundang Hans?” tanya Maggie.


Melissa menggeleng. “Paman Hans harus mengingat banyak hal kecuali aku, dan aku rasa Paman Jeon juga akan melarang.”


“Magg, Hans itu masa lalu. Jangan membahas Hans ketika Melissa akan menikah dengan Jeon-Jonas,” celetuk Ava.


Maggie mendesah. “Baiklah, maafkan aku.”


”By the way, foto-fotonya sudah aku bagikan ke sosial media. Aku menerima banyak pertemanan setelah membagikan foto kita berdua waktu itu,” ujar Peter.


“Aku rasa aku juga harus melakukannya,” sahut Ava membuka ponselnya.


“Harus yang ada aku,” celetuk Lucas.


Keenam teman Melissa datang ke Florida dengan uang yang dikirimkan oleh Ben atas perintah Jeon-Jonas. Mereka bahkan dapat membeli banyak pakaian dengan uang itu, dan tentu saja banyak hal lain. Tapi mereka akhirnya sepakat untuk menggunakan uang itu untuk membeli pakaian yang sama saat menghadiri pernikahan Melissa lalu, juga kado untuk wanita itu.


Suara pembawa acara yang terdengar dengan microphone kemudian terdengar, para tamu diminta agar berkumpul. Acara akan dimulai dan sudah saatnya memanggil pengantin wanita.


“Usahakan untuk tidak terpeleset atau melakukan hal memalukan lainnya,” peringat Ava.


Melissa mengembuskan napas, jantungnya semakin bertalu-talu saat Bibi Hazel sudah siap mengantarnya menuju altar.


“Bibi..”


“Kau bisa, Sayang.”


Melissa mengangguk, bertepatan dengan dua buah pintu yang ditarik terbuka oleh Lucas dan Peter. Ia menggenggam kuat tangan Bibi Hazel, tersenyum simpul lantas memantapkan hatinya untuk berjalan keluar menemui Jeon-Jonas yang sudah menunggu bersama seorang pendeta.


Tangan Bibi Hazel terasa hangat, cukup menenangkannya dari banyak kegugupan yang menyergap. Ia kemudian menemukan Krista dan Livy tengah melambai sembari terkikik, sedangkan ayah Jeon-Jonas tidak menampilkan sebuah ekspresi sama sekali.


Ia tersenyum simpul, yang akhirnya menjadi senyum malu-malu ketika Jeon-Jonas menatapnya dengan intens. Menyebut kata ‘Pinky’ di ujung lidahnya, yang tidak bisa didengar siapa pun tapi Melissa tahu.


Bibi Hazel, sebagai pengganti ayah dan ibunya, menyerahkan tangan Melissa kepada Jeon-Jonas. Pria itu masih tersenyum seperti sebelumnya, semringah dan berbunga-bunga. Begitu Bibi Hazel membiarkan mereka untuk mengucap janji suci, Jeon-Jonas mengelus punggung tangannya dengan lembut, sebenarnya ingin sekali menghimpit wanita itu jika saja tidak ingat tempat.


Melissa, wanita itu terlihat begitu cantik dengan gaun putih yang membalut tubuhnya, begitu manis dengan tambahan veil di rambut panjangnya. Wanita itu—Jeon-Jonas ingin menelannya hidup-hidup.


“Saudara Jeon-Jonas, di dalam hidupmu, dengan campur tangan Tuhan. Apakah engkau bersedia menjadi suami Saudari Melissa Kyle, menjadikannya teman hidupmu, menjaganya, membimbingnya ke jalan yang benar dan senantiasa bersamanya seumur hidupmu?” tanya pendeta.


“Saya bersedia.” Begitu mantap saat matanya menyorot lurus wajah Melissa.


Pertanyaan yang sama, yang mempertanyakan kesediaan Melissa menjadi istri Jeon-Jonas juga diucapkan. Jeon-Jonas menunggu dengan gugup. Melissa sering bimbang dengan banyak hal dan ia mendadak takut jika saja wanita itu sempat terpengaruh dengan ucapan seseorang. Tapi akhirnya Melissa mengangguk sembari menatapnya dengan wajah merona.


“Saya bersedia.”


Senyum bahagia Jeon-Jonas perlihatkan di wajahnya, mendadak mulutnya seperti melebar hingga ujung-ujung telinga. Cincin telah tersemat di jari mereka dan Jeon-Jonas sudah tidak bisa menahan lebih lama dirinya untuk tetap berdiri seperti orang bodoh, ia mencium wanita itu, mengirimkan rasa yang kali ini melebihi semua hal manis di dunia.


“I want to hear you call my name.”


Jeon-Jonas memiringkan kepala ketika permintaan disertai godaannya malah membuat Melissa menundukkan wajah.


“Jeon..”


“Ya?”


Jeon-Jonas mendengarnya, tapi untuk kali ini, ia ingin menjadi serakah dengan memuaskan dirinya melihat wajah tersipu itu bersama sebutan namanya.


“Jeon..”


Ia nyaris benar-benar menelan wanita itu saat menemukan rona merah menebal di wajahnya.


“Again.”


“Jeon..”


“Again..”


Melissa tertawa kecil. “Jeon..”


Jeon-Jonas mencium lagi wanita itu, menjadi sedikit riuh ketika tepuk tangan Krista dan Livy disusul dengan tepuk tangan teman-teman Melissa.


Akhirnya. Setelah berbagai waktu yang pelik, Jeon-Jonas berhasil menjadikan Melissa sebagai rumahnya. Bukan lagi tempat singgah atau berteduh kala ia berjalan sendirian.


Sejak ini—atau mungkin sejak keberadaan wanita itu bersamanya, Jeon-Jonas tidak lagi menemukan dirinya bertemankan sepi. Ia akan bersama Melissa ketika menghadapi banyak senja yang menghilang, ia akan bersama Melissa ketika bintang terjatuh, melintas cepat dan hilang ditelan kegelapan.


Melissa akan menjadi segala-galanya. Menjadi obat untuk menutupi semua luka yang ia rasakan, menjadi pelangi meski hujan tidak sempat datang. Menjadi tawa, menjadi canda, menjadi semua hal berwarna merah muda, benar-benar menjadi segala-galanya.


Melissa, wanita itu—Jeon-Jonas berjanji akan menjadi segala hal yang diinginkan wanita itu juga.