
Melissa sudah berhenti menangis ketika akhirnya Jeon Jonas menggendongnya ala koala, mengecupi pipi berisi gadis itu agar setidaknya melupakan rasa sakit di tangannya. Pria itu tersenyum hangat, membenarkan letak rambut Melissa lalu membawanya duduk di sebuah kursi dengan posisi berpangkuan.
Keduanya masih saling bungkam, meski tangan Jeon Jonas selalu aktif menyentuh pipi maupun mengusap punggung Melissa dengan sayang.
Detik selanjutnya pria itu menahan napas tatkala Melissa yang tengah bersandar di dadanya membawa jari lentiknya membuat pola-pola abstrak di dada telanjang pria itu.
“Jangan sayang..”
Melissa masih diam dan tetap melanjutkan gerakan jarinya. Ia suka bagian dimana aroma khas Jeon Jonas sangat menyatu dengan penciumannya, ia suka menyentuh bagian mengkilap di tubuh pria itu karena keringat, dan ia suka bagian dimana ia akan selalu bersama pria itu dengan posisi seperti ini.
Jeon Jonas mengerang pelan, merasa tersiksa dengan sentuhan polos gadis belia itu.
“Jangan menyentuhnya seperti itu.”
Maksud Jeon Jonas, bisa saja ia berubah menjadi singa jantan jika sedang bergairah.
Jeon Jonas bangkit, membuat Melissa mendongak dan tersentak tatkala ia dibawa ke atas meja yang ada di sana. Pria itu mencondongkan wajah, membuat Melissa terperangkap saat tubuh pria itu berada di antara kaki-kakinya.
“P-Paman..”
Gadis itu menengadahkan kepala ketika kepala Jeon Jonas berada di lehernya, mengendus aroma tubuhnya lalu memberi ciuman panjang di sana. Salah Melissa karena tidak mendengarkan pria itu untuk berhenti menyentuh tubuh sensitifnya.
“*Pinky, aku sangat menginginkanmu.”
Kepala pria itu masih berada di cerukan lehernya, Melissa bergidik geli begitu napas pria itu berhembus hangat di sana. Tapi tidak berlangsung lama, pria itu segera menjauhkan diri ketika menyadari tangan Melissa yang terluka.
Jeon Jonas mendesah frustrasi, untuk menghalau nafsu besarnya ia kemudian ******* bibir merah muda gadis itu sedikit lama sampai akhirnya melepaskannya dan membawa Melissa keluar dari ruangan itu dengan menggendongnya ke dalam rumah.
Hampir tengah malam, Jeon Jonas tiba-tiba merasa menyesal karena meminta gadis itu untuk berlatih sementara ia sendiri tahu jika gadis itu butuh istrahat untuk kembali bersekolah besok.
“Paman akan pergi?” tanya Melissa saat Jeon Jonas telah membawanya ke tempat tidur dan pria itu beringsut turun.
“Tidurlah.”
“Aku-” Melissa memainkan ujung rambutnya.
“Aku rindu Paman.”
Dada Jeon Jonas bergemuruh, ia tahu mengapa Melissa mengungkapkan itu saat ini, mungkin gadis itu mulai menyadari jika Jeon Jonas sedikit menghindarinya.
“I miss you more Pinky..” Jeon Jonas mambalas dengan suara lembut. Melissa pikir, pria itu akan paham jika ia menginginkan pria itu berada sedikit lebih lama bersamanya, tapi Jeon Jonas hanya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, mengecup dahinya lalu melangkahkan kakinya pergi.
***
Esok paginya, Melissa kembali ke rutinitasnya yang padat, mengingat ia akan pulang cukup lama karena harus kerja kelompok dengan keempat temannya. Ia bercermin sebentar untuk melihat penampilannya, lalu segera mengambil tas dan mengintip ke kamar Jeon Jonas. Ranjang di sana terlihat rapi, tidak ada siapapun. Gadis itu segera berlari menuruni tangga dan tersenyum senang tatkala melihat pria itu ternyata berada di dapur sedang memasak sesuatu dengan wajah serius.
“Selamat pagi Paman,” sapanya mendekati Jeon Jonas yang tengah membuatkan sandwich.
“Morning Pinky..” Pria itu tersenyum meski masih sangat fokus dengan aktivitas memasaknya.
“Perlu bantuan?”
“Tidak sayang, duduk di tempatmu, ini akan segera selesai.”
Melissa masih tersenyum senang, ia menduduki tempatnya lalu terkekeh ketika Enna mengedipkan mata padanya. Detik selanjutnya Jeon Jonas membawa enam potongan sandwich lalu meletakkannya di meja, di depan gadisnya.
Jeon Jonas menatapnya sejenak lalu mengusap rambut gadis itu karena gemas dengan senyuman senangnya. Dengan menggunakan garpu ia menusuk satu sandwich lalu memberikannya pada Melissa.
“Bagaimana rasanya? Enak?”
Melissa mengangguk masih sambil mengunyah, dihadiahi cubitan kecil oleh Jeon Jonas di pipi berisinya.
“Paman..”
“Hmm?” Jeon Jonas menyahut sembari meneguk air mineral.
“Aku ingin ke sekolah dengan Paman.”
Lama tidak mendengar sahutan pria itu, Melissa kemudian menggigit bibir.
“Jack akan mengantarmu,” balas pria itu kemudian.
Melissa menatap wajah Jeon Jonas lama, ada sedikit rasa sesak yang tiba-tiba menjalar ketika pria itu seakan menolaknya meski dengan cara halus.
“Baik Paman, aku berangkat.”
Melissa menaruh sisa sandwichnya di atas piring, lalu berdiri untuk pergi menemui Jack.
“Selamat pagi Nona,” sapa Jack ramah lantas membukakan pintu untuk Melissa.
“Nona..” lanjut Jack karena Melissa berjalan melamun.
“Ya Jack..” Pria paruh baya itu terkekeh pelan.
“Nona melamun?”
“Ahh..” Melissa terkekeh sumbang lalu masuk ke dalam mobil.
Pintu ditutup oleh Jack, selanjutnya Melissa kembali dengan lamunannya mengenai perubahan sikap Jeon Jonas. Apa ini disebabkan kelemahannya dalam berlatih menggunakan alat tajam? Atau pria itu bosan dengan tingkah kekanak-kanakannya?
“Pindah ke depan.”
Melissa secepatnya memandang ke depan dan menemukan Jeon Jonas dengan topi hitam, hoodie dan kacamatanya.
Pria itu menyalakan mesin mobil lalu berbalik menatap Melissa yang masih bergeming di tempatnya.
“Pinky?”
Rasa sesak yang tadinya semakin tumbuh menjalar tiba-tiba hilang menjadi binar senang tatkala Jeon Jonas ternyata mau mengantarnya ke sekolah. Melissa membuka pintu belakang, ia melihat Jack tersenyum seraya menundukkan kepala. Melissa kemudian duduk di jok depan lalu memandangi wajah serius pria itu dalam mengemudi.
“Paman, dua bulan lagi aku akan mengikuti ujian kelulusan.”
“Secepat itu?”
“Itu memang waktunya kalau Paman lupa, aku sudah kelas tiga. Nanti juga kami akan belajar bersama di rumah Maggie.”
“Gadis kecilku sebentar lagi akan lulus ternyata,” kekeh Jeon Jonas membawa tangannya yang menganggur untuk mengusap kepala Melissa.
“Tapi aku lemah dalam matematika.”
“Ahh aku benci mata pelajaran itu.”
Melissa tertawa, ia menatap pria itu lagi, Jeon Jonas masih sama, tidak seharusnya ia berspekulasi berlebihan.
***
Sepulang sekolah, Melissa naik ke mobil Maggie untuk berangkat ke rumahnya, sedangkan ketiga temannya yang lain menyusul di belakang.
“Kau tidak risih dengan orang-orang yang selalu menanyakan Pamanmu?” tanya Maggie.
“Sedikit.”
“Tapi aku sudah terbiasa,” lanjut Melissa.
“Mereka juga akan lupa, tenang saja. Pamanmu akan selalu menjadi milikmu.”
“Huh?”
“Aku tau Melissa, kalian berpacaran bukan?”
Wajah Melissa tiba-tiba tegang, diketahui Maggie yang langsung terkekeh padanya.
“It’s okay. Mungkin seleramu memang pria matang,” sambung Maggie.
Maggie memarkirkan mobilnya di garasi lalu menyuruh Melissa turun terlebih dahulu untuk menyusul ketiga temannya.
“Magg, aku rasa aku akan menginap di rumahmu,” celetuk Ava.
“Maaf sekali Ava, tapi rumahku terlalu sempit untuk menampung gadis cerewet sepertimu.”
“Hei, semua wanita memang cerewet, itu karena kita punya dua mulut.”
“Astaga Ava,” decak Maggie dengan ucapan Ava yang frontal.
“Benarkan Melissa? Kita punya dua mulutkan?” lanjut Ava merangkul Melissa.
“Aku hanya memiliki satu,” sahut Melissa.
“Ava, berhenti mengotori pikiran suci Melissa,” timpal Bobby.
“Melissa, kau harus belajar banyak padaku,” bisik Ava yang langsung dihadiahi pukulan ringan di kepalanya oleh Lucas.
“Maggie, Lucas menganiayaku,” adu Ava dengan memasang wajah berpura-pura akan menangis.
“Lucas,” desis Maggie sembari membuka pintu rumahnya. Ava menjulurkan lidahnya pada Lucas.
***
Melissa sampai di kediaman Jeon Jonas setelah pukul enam sore, dijemput oleh Jack karena Jeon Jonas tidak ada di rumah dan sedang sibuk dengan pekerjaannya.
“Hei,” sapa Melissa pada Enna yang tengah memasak di dapur.
“Hei.” Enna mengangkat wadah yang ia gunakan untuk mengaduk tepung dan telur.
“Resep baru lagi?”
“Hm, seperti yang kau lihat, aku belajar membuat makanan yang unik.”
Melissa meletakkan tas sekolahnya lalu menarik kursi untuk melihat kegiatan Enna.
“Aku melihat kalian semalam,” celetuk Enna.
“Maksudnya aku dengan Paman?” Enna mengangguk.
“Kenapa masih memanggilnya Paman? Kalian sudah pacaran, bukankah seharusnya kau memanggilnya dengan sebutan lain? Mungkin honey? Darling or something else?”
Melissa tersenyum geli dengan ucapan Enna.
“Aku sudah terbiasa dengan panggilan itu, lagipula aku malu untuk memanggilnya dengan sebutan lain.”
“Tapi dia memanggilmu dengan sebutan lain.”
Melissa menopang dagunya dengan kedua tangan.
“Atau kalau tidak kau bisa memanggilnya Jeon,” saran Enna seraya terkekeh geli.
Melissa menangkup pipinya membayangkan reaksi Jeon Jonas ketika ia memanggilnya dengan nama.
“Itu akan terdengar aneh, aku belum bisa melakukannya, tapi akan kucoba.”
“Harus.”
“Dia di mana?” lanjut Melissa sembari mendongak menatap lantai atas.
“Setelah mengantarmu ke sekolah dia belum kembali.”
“Selama itu?”
“Harus kuakui dia memang selalu pulang telat sebelum kau pindah ke sini.”
Melissa terdiam, selanjutnya ia menarik ponsel hendak menghubungi Jeon Jonas, tapi urung. Ia takut akan mengganggu pria itu.
“Dia pasti sedang sibuk,” gumamnya masih dapat didengar Enna.
“Bagaimana kalau kita belajar memasak makanan unik saja, jadi kau tidak akan bosan menunggunya.”
“Ide yang bagus, aku akan mengganti seragamku.”
***
Jeon Jonas menghisap rokok lalu menenguk wine untuk membasahi tenggorokannya. Ia menatap nanar orang-orang yang sibuk dengan pasangan masing-masing di dalam bar miliknya. Pikirannya melayang pada ucapan Ben dan Hans siang tadi. Bernard ternyata tidak takut dengan ancamannya, alih-alih mundur Bernard justru semakin membuat keributan. Jeon Jonas harusnya tidak peduli keributan apa yang dilakukan kelompok Mattow, tapi Bernard sudah tahu jika ia memiliki seorang gadis, dan Bernard pasti akan selalu mengawasi pergerakannya jika di luar.
Jeon Jonas tidak pernah ingin memiliki kelemahan, tapi takdir mempertemukannya dengan gadis lemah seperti Melissa. Mengajarinya bela diri justru membuat gadis itu ketakutan, Jeon Jonas perlu cara lain untuk melindungi Melissa.
Hans dan Ben memintanya untuk menjaga batasan dengan Melissa, apalagi aktivitas yang menyita waktu di luar, dan Jeon Jonas tidak akan bisa melakukannya, terbukti saat sarapan tadi ketika gadis itu terlihat marah karena tidak bisa mengantarnya, Jeon Jonas segera membuat penyamaran dan akhirnya menyanggupi kemauan gadis itu dengan berangkat bersama ke sekolah.
Jeon Jonas bangkit dari duduknya lalu keluar disusul Hans dan anak buah lainnya.
“Aku akan selalu bersamanya.” Hans tertegun.
“Aku bisa melindunginya tanpa harus menghindarinya.” Selesai mengatakan itu Jeon Jonas masuk ke dalam mobil, meninggalkan Hans yang masih saja bergeming di tempatnya.
Jeon Jonas mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, ia memantik rokok lain lalu menghisapnya dengan bulatan pikiran mengarah pada Melissa. Kenapa ia harus menjaga batasannya dengan Melissa? Ia punya kekuatan, ia bisa menjaga gadis itu tanpa harus membuat jarak dengannya. Bernard memang rival yang begitu kuat, selama pertikaian dengan kelompok itu, Jeon Jonas tahu jika Bernard memiliki hal yang tidak bisa disepelekan. Akan tetapi Bernard juga harus tahu jika Jeon Jonas akan selalu di posisi depan, mengendalikan bukan dikendalikan.
Sesampainya di pekarangan rumah, Jeon Jonas membuang puntung rokoknya lalu masuk ke dalam. Ia menemukan Enna sedang membereskan dapur yang terlihat sangat berantakan.
“Selamat malam Tuan,” sapa Enna, pelayan lain yang mendengar itu segera mengikuti Enna untuk memberi salam.
Jeon Jonas mengusap wajahnya, lalu melangkah lebih cepat ke kamar, ia menarik gagang pintu tapi matanya kemudian menatap pintu lain. Pintu kamarnya ia tutup kembali lalu melangkah pelan menuju pintu kamar Melissa.
Membuka pintu, ia menemukan Melissa tertidur pulas di bawah selimutnya. Ia menutup pintu hingga tidak ada cahaya yang masuk ke dalam kamar.
“Pinky..”
Jeon Jonas duduk di pinggiran kasur, membawa tangannya menyentuh kelopak mata Melissa yang tertutup, turun ke hidung lalu berhenti di bibir. Tanpa menunggu, ia menyatukan bibirnya dengan bibir merah muda candunya. Ia melumatnya cukup lama hingga akhirnya gadis itu melenguh merasa terganggu.
Menarik selimut, Jeon Jonas kemudian membaringkan tubuhnya di sebelah Melissa. Ia tersenyum geli tatkala Melissa tidak sadar dengan yang terjadi padanya. Gadis itu bergerak, menghimpit tubuhnya pada tubuh Jeon Jonas yang ia pikir adalah salah satu dari bantal empuknya. Pria itu tersenyum miring, menurut saja ketika Melissa memeluknya sangat erat sehingga pria itu bisa merasakan dada gadis itu menempel ketat di dadanya.
Jeon Jonas suka gadis itu ketika tidur*.