
Mereka tidak baik-baik saja. Setelah hari itu, di mana Melissa hanya bisa memukul keras dada Jeon-Jonas serta berlari ke luar untuk memungut kembali boneka dari Ben, mereka tidak lagi saling bicara. Mereka tidur di kamar masing-masing, tidak lagi saling mendekap seperti hari-hari sebelumnya. Hubungan mereka merenggang, benar-benar melebihi jarak yang sempat diperkirakan.
Sampai detik ini, Melissa tidak tahu apa kesalahan yang ia lakukan. Ia hanya tahu bahwa Jeon-Jonas tiba-tiba menjadi dingin, berekspresi datar dan selalu menjaga jarak. Pria itu menjadi tidak tersentuh, meski Melissa tahu, Jeon-Jonas selalu bertanya mengenai keadaannya melalui Enna.
Tapi tetap saja, itu bukan kabar baik yang bisa ia banggakan. Ia ingin pria itu sendiri yang bertanya padanya, bukan mendengar penjelasan melalui mulut orang lain.
Siang ini, tepat pada pukul sepuluh setelah sarapan di dalam kamar, Melissa menuruni undakan tangga hendak bersantai di kolam renang. Ia melepas gaunnya di ruang ganti, menggantinya dengan pakaian renang merah muda yang pernah ia pakai saat pertama kali menjadi penghuni di rumah tersebut.
Matahari tidak terlalu terik ketika ia akhirnya keluar, duduk dan merendam kedua kakinya di tepi kolam.
Kemudian—air yang tadinya tenang mendadak bergoyang. Melissa memekik ketika melihat tubuh seseorang tengah berenang di dalam air, menimbulkan kecipak keras, dan Jeon-Jonas muncul dengan rambut yang menututupi sebagian wajah.
Dengan kepala yang menyembul di permukaan, pria itu menoleh, menyipit tajam mendapati Melissa bergeming kaku di tepi kolam.
Jeon-Jonas kembali menenggelamkan kepala di dalam air. Ia menyentak kedua tangan, berenang secepat yang ia bisa, lalu membuat Melissa terkesiap saat tiba-tiba ia telah muncul tepat di hadapan wanita itu.
Melissa bergerak mundur, sementara Jeon-Jonas telah menaruh kedua tangannya yang terlipat di atas tepi kolam. Ia menatap wanita itu lurus. Tajam, datar.
Tidak ada yang berniat bersuara, mereka hanya saling melempar pandang. Sampai beberapa menit kemudian ketika Melissa berniat berdiri dan pergi, Jeon-Jonas menggenggam pergelangan kakinya.
Melissa menggigit bibir, tidak tahu pasti mengapa pria itu seolah tidak ingin ia pergi. Tapi kemudian, saat ia baru saja berpikir bahwa Jeon-Jonas menginginkannya tetap di sana, pria itu melepas pergelangan kakinya, kembali menceburkan kepala ke dalam air lalu berenang dengan gaya dada.
Melissa bergeming beberapa saat, masih ingin melihat bagaimana tubuh besar pria itu bergerak cepat dari ujung ke ujung. Tidak dapat ia pungkiri, Jeon-Jonas memang sekekar itu, seberotot itu, dan ia sangat menyukai itu. Andai saja tidak ada jarak yang membentang luas di antara mereka, Melissa akan dengan senang hati ikut menceburkan diri ke dalam kolam, membuat Jeon-Jonas menegurnya habis-habisan, lalu berakhir dengan merayu pria itu agar memaafkannya.
Namun sepertinya, kesalahannya kali ini sudah melewati batas, benar-benar tidak bisa diselesaikan dengan rundingan singkat. Ada yang perlu Melissa buktikan, dan ia tidak cukup paham harus mengawalinya dari mana.
🌷🌷
Ia bercerita pada Enna. Ketika wanita paruh baya itu bertanya mengapa ia tidak sesemangat hari-hari sebelumnya. Sepanjang cerita, Enna selalu mengelus punggung tangannya, memasang wajah iba lalu mendesah saat Melissa mengatakan bahwa Jeon-Jonas telah bosan dengan hubungan mereka.
“Tidak, tidak seperti itu. Aku yakin dia melakukan semuanya karena sebuah alasan yang kuat. Dia mencintaimu. Sangat malah. Orang bodoh pun tau kalau dia sangat menyayangimu. Tapi setelah dipikir-pikir aku pernah mendengar keributan sebelumnya. Tiga—atau empat hari yang lalu sepertinya. Aku mendengar beberapa orang di luar berlarian, tapi aku tidak melihat karena memilih tidur.”
“Berlarian?”
Enna mengangguk. “Aku sudah sempat akan tidur, tapi langkah kaki mereka benar-benar mengganggu. Apalagi saat itu hujan, aku tentu saja memilih menggulung tubuhku dengan selimut.”
Melissa mengerjap. Tidak ingin berpikir panjang mengenai hal itu.
“Jadi menurutmu, apa solusi yang tepat agar kami kembali baik-baik saja?”
“Temui dia dan bertanya.”
“Aku sudah melakukannya waktu itu, dan dia mengusirku agar keluar dari dalam kamarnya.”
“Hah? Serius?”
Melissa mengangguk. “Dia berubah jadi monster.”
“Mana ada monster setampan itu,” decak Enna.
“Ada, monster Jeon Jonas.”
Enna tersenyum geli. “Nanti juga kalian akan berbaikan, aku tahu itu.”
“Aku tidak yakin. Jeon tidak pernah sekasar itu sebelumnya.”
“Tapi serius, dia selalu bertanya padaku.” Enna membenarkan letak duduknya. “Begini. ‘Enna, Melissa sudah sarapan?’ ‘Enna, Melissa keluar dari kamarnya hari ini?’ ‘Enna, buah yang aku belikan sudah diberikan pada Melissa?’ ‘Melissa sudah makan siang? Makan malam? Bla bla bla.”
Enna memutar matanya. “Aku sempat ingin mengatakan ‘kenapa tidak Tuan cari tahu saja sendiri’ tapi takut dipecat. Aku perlu uang, kan?”
Melissa tertawa. “Aku akan menahanmu agar tetap di sini.”
Enna berdecak. “Kalian sedang bertengkar. Jadi bisa saja dia kalap lalu mengusirku.”
Melissa tertawa lagi. “Betul sekali.”
🌷🌷
Sudah pukul sepuluh malam. Melissa sudah berbaring dan bersiap akan tidur. Ia menutup mata, menghipnotis dirinya sendiri agar segera tidur. Dan setelah sepersekian detik yang panjang, matanya akhirnya memejam sempurna, ia diseret ke alam mimpi, hampir-hampir sepenuhnya terlelap saat ia merasakan tubuhnya ditindih.
“Pinky.”
Matanya terbuka, menemukan sepasang bola mata sendu yang mengulas senyum kepadanya. Bibirnya dikecup. Sekali, dua kali, tiga kali, berulang kali. Hingga kecupan itu menjadi lebih intens dari sebelumnya, ia benar-benar membuka kelopak mata sebesar-besanya.
Ini bukan mimpi. Ya, bukan. Tangan pria itu telah merayap ke balik gaun tidurnya, mengusap lembut dan berhenti tepat di benda kesukaan pria itu. Melissa bisa merasakan tangan itu bergerak cepat ke bawah, membelai halus, lalu menatap Melissa dengan senyuman miring.
“You’ll like it.”
Melissa menggeleng. “Don’t.”
Karena ia tahu pasti, akan berakhir seperti apa nanti.
Jeon-Jonas mempertemukan tatapan mereka, ia mengecup bibir Melissa, beralih pada kedua pipi wanita itu lalu berbisik, “Everything will be fine. I promise.”
Pria itu mencium kedua kelopak mata Melissa, merangkak ke bawah, lalu menyingkap gaun wanita itu untuk menyiapkan dirinya. Namun Melissa menolak, ia tidak ingin melakukan itu dan membayakan janin di dalam perutnya. Jeon-Jonas menangkup rahang Melissa, mendesis tepat di depan wajahnya.
“Kau mengizinkannya menyentuhmu, kenapa aku tidak?!”
“Jeon, I protect our—”
“Aku—”
“Did you ever love me?!”
“Aku mencintaimu!”
“Then let me…”
“No!”
Jeon-Jonas membungkam mulut wanita itu dengan bibirnya, bertepatan dengan dasi yang ia lepas lalu diikatkan untuk menutupi kedua mata Melissa. Dan kemudian, ia telah berhasil menempatkan dirinya di antara kaki wanita itu.
🌷🌷
Melissa tidak tidur. Tepat pukul empat pagi ketika Jeon-Jonas akhirnya selesai, ia hanya mengusap perutnya sembari menangis. Dua jam kemudian, ia beringsut turun dari tempat tidur, membersihkan diri dan berpakaian, lalu keluar dari rumah dengan menenteng tas kecil.
Di depan gerbang yang sepi, ia terperanjat menemukan Ben berjalan menuju rumah.
“Melissa?”
Melissa tidak menghiraukan, tetap berjalan melalui gerbang.
“Mau ke mana?”
Ben mencekal tangannya, menaikkan alis saat mendapati kedua mata Melissa berkaca-kaca. Pria itu sedikit membungkukkan tubuh, mengusap sudut mata Melissa yang berair.
“Seseorang melukaimu?”
Melissa menggeleng, menarik tangannya dari genggaman Ben lalu berjalan ke depan. Ben mengikuti langkahnya, berniat membawa mobil, yang kemudian diurungkan ketika Melissa menyuruhnya untuk tidak mengikuti dari belakang.
Ben mengangguk, tapi setelah Melissa cukup jauh, ia membawa mobilnya mengikuti dari kejauhan. Ketika anak buah Jeon-Jonas yang berjaga hendak membawa Melissa kembali ke dalam rumah, Ben menelepon agar mereka melepaskan Melissa.
Sampai kemudian Melissa tiba di depan halte, duduk di sana dengan aman, Ben meninggalkannya.
Suasananya sudah ramai. Namun yang duduk di halte tersebut, hanya Melissa seorang. Ia mengusap perutnya, menangis karena takut yang hidup di sana sudah tidak dapat diselamatkan.
Bertepatan dengan itu, ponselnya berbunyi. Krista menelepon. Melissa menerima panggilan.
“Halo, Sayang. Aku mendadak cemas. Tadi aku sudah menelepon Jeon tapi suamimu itu tidak menerima panggilanku. Kalian baik-baik saja?”
Melissa menarik napas dari hidung. “Iya, Bu.”
“Kenapa suaramu parau seperti itu?”
Melissa mengusap hidung, tidak berniat menutupi apa pun lagi. “Jeon—Jeon jahat.”
Krista terdengar mendesah. “Ya, Sayang. Ceritakan padaku.”
Cerita Melissa perlahan mengalir begitu saja. Tentang dirinya yang diusir dari kamar, boneka yang dibuang, tidur di kamar masing-masing, tidak saling bicara berhari-hari, lalu menambahkan cerita mengenai Jeon-Jonas yang melukai bayi mereka. Tidak secara frontal menjelaskan bahwa pria itu memaksanya.
“Ibu akan menghukumnya. Demi Tuhan, dia pria yang sudah kehilangan akal sehat. Ibu akan menghukumnya. Dasar pria tua itu!”
Sambungan telepon berakhir. Melissa mengusap wajah lantas menaiki taksi untuk berangkat menuju rumah sakit. Di sana, ia bergegas menjelaskan keperluannya, diperiksa oleh dokter yang bersangkutan lalu dibiarkan duduk tenang sembari meneguk air putih.
“Baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dicemaskan.” Dokter wanita yang sepertinya seumuran Jeon-Jonas mengulas senyum kepadanya.
“Janin di dalam perut Anda kuat, dan sepertinya ayahnya juga cukup lembut.” Dokter itu, yang Melissa ketahui bernama Ms. Meera tersenyum geli. “Tapi ayahnya juga tidak boleh terlalu sering menyapa calon bayi kalian, ya. Nanti, setelah melewati trimester pertama. Ayahnya bisa menyapa dua sampai tiga kali dalam sebulan. Kuncinya pelan-pelan. Harus pelaaannnnnnn.”
Melissa mengangguk. Ms. Meera masih memasang senyum. “Senang bisa mengenal calon ibu selucu Anda Mrs. Melissa,” kekehnya.
“Jika ingin konsultasi lagi, jangan sungkan untuk menghubungi saya secara langsung,” sambungnya.
Melissa mengangguk, tersenyum lebar. “Terima kasih, Ms. Meera.”
Selesai memeriksa kandungannya, yang sempat Melissa duga bahwa bayi di dalam perutnya tidak baik-baik saja, Melissa membeli buah apel dan jeruk, sesuai anjuran Ms. Meera yang menyuruhnya menjaga pola makan dan rajin mengonsumsi buah.
Baru saja akan keluar dari toko buah, Melissa mundur saat melihat hujan.
Ia merogoh tas, merentangkan payung, lantas berjalan di sekitar pinggiran jalan. Langkahnya lambat, sambil memanjangkan sebelah kaki agar dibasahi hujan.
Kemudian, ia tercenung tatkala menemukan seorang pria tinggi tampak bergeming di bawah hujan, tanpa memiliki satu payung sebagai perlindungan.
Merasa kasihan, ia membagi payung kecilnya. Membuat pria itu menoleh dengan alis terangkat. Melissa mencoba menarik senyum, menjelaskan bahwa tidak apa-apa bila ia berbagi perlindungan.
“Aku orang jahat. Pergi saja,” ucap pria itu.
Melissa mengerjap, membuat pria itu sedikit menunduk dan berbisik.
“Aku sering mencuri gadis-gadis kecil sepertimu.” Pria itu menunjukkan tangannya, pura-pura ingin mencakar. “Grrauunggg.”
“Melissa!” Pria di depannya menegakkan tubuh, sedangkan Melissa menoleh menatap Jeon-Jonas yang berjalan menghampirinya, tanpa payung.
“Ayo pulang,” ucapnya, menatap tajam pada pria yang kini menatapi jalanan.
Melissa melepaskan tangannya dari cekalan Jeon-Jonas. Memang wajah marah. Ketika Jeon-Jonas akan memegang bahunya, Melissa bergerak mundur.
“Pinky, hei, listen…” Jeon-Jonas menangkup wajah Melissa, membungkukkan badan. “I’m sorry.”