
Di antara beberapa mobil yang berlalu-lalang, mobil itu saja yang tiba-tiba berhenti dan membuat kepanikan di sana. Mobil abu-abu nyaris pekat datang entah dari mana bermaksud menghalangi. Thomas yang menyetir di depan masih sempat mengumpat saat ia lupa bahwa ia bahkan tidak memakai sabuk pengaman, ia lantas keluar tanpa berniat menutup pintu depan.
Bernard yang berhasil menghalangi benturan keras pada kepala gadis di sampingnya, masih menajamkan mata saat Thomas sedikit berdebat dengan pria di depan sana. Suara kaki kemudian datang diiringi ketukan di pintu mobil. Melissa menoleh pada Bernard sekilas, meminta persetujuan pria itu untuk membuka pintu sampai akhirnya Bernard mengangguk dan membiarkan saja gadis itu melakukannya.
“Ya ampun. Benar dugaanku, memang Nona Melissa,” ucap seorang pria berkemeja lusuh di samping mobil.
“Kau mengenalnya gadis kecil?” Bernard bertanya masih dengan tatapan yang lekat pada pria asing itu. Melissa menatap pria asing itu dengan seksama, di mana ia pernah bertemu pria itu? Melissa tidak mudah lupa pada orang yang dekat dengannya, jadi siapa?
“Jack menyuruhku menjemputmu.” Sampai pada akhirnya mendengar nama tak asing, Melissa tersenyum lebar lalu memberitahu Bernard bahwa ia bukan bertemu orang yang salah.
“Kau yakin mengenalnya gadis kecil?” tanya Bernard sekali lagi, kurang yakin jika gadis lugu itu dapat mengenal orang sesangar ini.
“Paman Jack pasti khawatir aku tidak sampai dengan cepat ke rumah,” sahut Melissa dengan percaya diri.
“Ahh..” Bernard menaikkan alisnya lantas membiarkan gadis itu keluar dan masuk ke mobil abu-abu di depan mobilnya.
“Kita akan melalui jalan lain.” Melissa yang baru saja selesai memasang sabuk pengaman menoleh pada pria suruhan Jack yang tengah melirik mobil Bernard dari kaca spion.
“Itu sangat berbahaya Nona, Nona tidak boleh asal naik mobil mereka, mereka itu bukan orang baik,” sambung pria itu.
“Paman itu tidak melukaiku,” sahut Melissa, menentang persepsi pria itu terhadap Bernard.
“Jika mereka orang baik, aku tidak akan kewalahan mengikuti kalian dan menarik Nona ke mobil ini, bahkan kepalaku akan dipenggal jika Jeon Jonas tau mengenai hal ini.” Pria itu mendesah dan masih melirik ke kaca spion, memastikan bahwa mobil Bernard tidak mengikuti jalan mereka.
“Paman tau dari mana aku naik mobil itu?” Pria itu akhirnya menatap Melissa.
“Aku suruhan Jeon Jonas."
“Paman selama ini memata-mataiku?” Ada sedikit perbedaan dari cara gadis itu bertanya, seolah membuat pria itu sulit untuk menelan salivanya sendiri.
“Tidak, tidak. E-maksudku begini.” Pria itu terlihat sukar untuk mencari alasan.
“Aku bekerja untuk Jeon Jonas sama seperti Jack, jadi tadi sebenarnya aku melihatmu saat akan naik ke mobil mereka,” ucapnya kemudian.
“Jadi Paman disuruh Paman Jack untuk menjemputku dan tidak sengaja melihatku akan naik ke mobil mereka, begitu?” Melissa bertanya kembali.
“Ya, benar.” Melissa menganggukkan kepala mengerti, sedangkan pria itu masih mengeluarkan peluh sebesar biji jagung karena takut ketahuan dipekerjakan sebagai mata-mata.
Jika saja tadi ia terlambat sedikit saja, dan gadis itu memberitahu Bernard bahwa ia dekat dan tinggal dengan Jeon Jonas maka tamat sudah riwayat mereka, bukan hanya ia yang terkena imbasnya namun semua orang yang bergabung di kelompok Jeon Jonas, lokasi mereka tidak boleh diketahui siapapun terutama Bernard sendiri.
***
Jeon Jonas baru saja kembali dari kolam renang saat mendengar suara Melissa memasuki rumah, gadis itu menaiki undakan tangga dengan cepat lantas segera menutup pintu kamarnya saat sudah masuk ke dalam.
Jeon Jonas telah duduk di sofa saat pintu kamar Melissa terbuka kembali dan menampilkan gadis itu masih memakai seragam sekolahnya. Jeon Jonas mengamati dari bawah, gadis itu nampak cemas akan suatu hal yang tidak ia ketahui sama sekali, Jeon Jonas penasaran lantas bersuara dari tempat duduknya.
“Apa yang kau cari Pinky?” Gadis itu menoleh. Matanya lantas menemukan Jeon Jonas duduk bersandar di sofa.
“Hanya sebuah kertas, kurasa aku menjatuhkannya di suatu tempat.” Jeon Jonas tersenyum saat gadis itu masih saja panik dengan cara paling menggemaskan di mata pria itu.
“Bagian dari pelajaranmu?” tanya Jeon Jonas.
“Tidak Paman, bukan apa-apa.” Melissa tersenyum tipis lantas turun untuk menemui Jeon Jonas.
“Kemari.” Jeon Jonas menepuk sofa di sampingnya.
“Paman baru selesai mandi?” tanya Melissa saat duduk di samping pria itu. Jeon Jonas menyentuh rambut basahnya lalu menggelengkan kepala.
“Aku berenang.” Jeon Jonas memberi jeda untuk bertanya kembali. “Jadi apa saja yang kau pelajari hari ini?”
“Ada lima mata pelajaran, dan yang paling membosankan adalah saat belajar senyawa kimia.” Jeon Jonas diam mendengarkan saat Melissa bercerita mengenai pelajaran kimia yang ia pelajari di sekolah, banyak rumus yang harus mereka hapal, dan gurunya justru menyarankan mereka untuk bernyayi bersama mengenai rumus senyawa tersebut.
“Kami jadi seperti anak TK.” Saat mendengar kekehan gadis itu, Jeon Jonas ikut tersenyum lebar, untuk pertama kalinya gadis itu bercerita panjang padanya. Cukup banyak waktu yang mereka lewati agar gadis itu tidak menutup diri lagi. Jeon Jonas yakin sedikit demi sedikit gadis itu juga akan segera luluh padanya.
Mereka kemudian terdiam dan saling bertatapan untuk beberapa waktu, hingga akhirnya Jeon Jonas tersenyum tipis dan memberikan kecupan singkat di pipi Melissa.
Seketika wajah Melissa menjadi merona.
Jeon Jonas tersenyum miring lalu memberi kecupan di pipi yang lain.
“Rona ini membuatmu semakin menggemaskan.”
Melissa merasa malu lantas membingkai wajahnya dengan kedua tangan.
***
Malam ini, Melissa turun ke bawah karena harus makan malam. Rambutnya masih setengah basah, beberapa menit yang lalu ia keramas dan memilih tidak mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, sebab kata Ava sering-sering menggunakan hair dryer akan merusak rambut.
Melissa terpaku saat melihat Jeon Jonas tengah berkutat di dapur lengkap dengan celemek biru tua yang terikat di pinggangnya. Melissa berjalan pelan mendekati meja lalu menaikkan kepala mengintip apa saja yang tengah dimasak pria itu.
Tangan Jeon Jonas bekerja cepat mengangkat wajan dan membalik daging, memindahkannya ke atas piring lalu memasukkan telur untuk dijadikan omelet. Proses memasak omelet terhitung hanya dua menit, dilanjut dengan memasak spaghetti instan, menambah bumbu yang sudah disediakan lalu setelah semua telah tercampur, pria itu menaruhnya di piring lain, memarut keju di atas spaghetti lalu siap dihidangkan.
“Paman hebat.” Mendengar pujian dari Melissa, pria itu berbalik lalu membalas dengan senyuman. Jeon Jonas manaruh masakannya di depan Melissa lalu menarik garpu untuk kemudian menggulungkan spaghetti buatannya dan diberikan pada gadis itu.
Melissa membuka mulut lantas mengunyah mie dengan parutan keju itu dengan pelan, matanya seketika berbinar saat lidah dan rasa makanan itu bergabung menjadi satu.
“Ini lezat.”
Jeon Jonas terkekeh tatkala gadis itu mulai mengambil sendiri spaghetti buatannya dan mengunyahnya dengan ekspresi senang. Tangannya kemudian bekerja untuk mengusap sudut bibir gadis itu karena sedikit kotor.
Namun di beberapa detik gadis itu menyeruput mie buatannya, Jeon Jonas merasakan sensasi panas yang tidak biasa.
Gadis itu hanya menyeruput mie astaga! Tapi mampu membuat mata Jeon Jonas menggelap, gadis itu begitu panas.
“Kita harus memakan nasi.” Jeon Jonas bersuara demi mencoba menghentikan gadis itu untuk menggodanya.
***
Jeon Jonas baru saja akan mengambil minum ketika suara Jack masih terdengar di depan rumah, Jeon Jonas melirik jam, sudah pukul satu dini hari. Jeon Jonas meneguk air putih lantas akan kembali naik ke lantai atas sampai akhirnya suara lain membuatnya berhenti melangkah.
“Bernard?” Jack bertanya pada teman bicaranya.
“Pelankan suaramu Jack..” Jeon Jonas mengintip dari balik gorden dan menemukan Jack dengan pria yang ia suruh untuk memata-matai gadisnya berada di sana.
“Aku berpura-pura aku tidak mengenalnya saat itu, untung saja Melissa begitu cepat percaya kalau kau menyuruhku menjemputnya.” Jeon Jonas mendengarkan dengan kerutan dahi yang begitu kentara.
“Lalu Bernard membiarkanku membawa Melissa turun dari mobilnya.”
Jeon Jonas tidak ingin semakin penasaran, ia mendorong pintu lalu membuat kedua pria itu terperanjat dengan wajah kaku.
“Apa maksudmu?” Gurat wajah Jeon Jonas masih tenang, setenang angin yang berhembus malam ini.
“Melissa tidak pulang denganmu?” tanyanya menunjuk Jack.
“Kalian membiarkan Bernard dekat dengan gadisku?” Jeon Jonas bertanya dengan ekspresi marah.
Kedua pria itu hanya mampu menundukkan kepala tidak berani.
“JELASKAN!!” Jack sedikit mendongakkan kepala untuk mulai menceritakan kemalangannya siang tadi, ban mobil bocor, menunggu lama di bengkel dan terjebak macet. Tetap saja tidak mengubah ekspresi Jeon Jonas saat ini. Bahkan yang Jack terima adalah pukulan di rahangnya karena berani membiarkan Melissa dalam bahaya.
“Kau tau siapa Bernard hah? Dia akan membunuh Melissa jika tau kebenaran tentangku!”
“Maafkan saya Tuan.” Jack membungkukkan badan berkali-kali. Hingga pada akhirnya punggungnya terasa begitu sakit karena Jeon Jonas memberi tinjuan di sana.
Jeon Jonas menggertakkan gigi lalu menutup pintu dengan keras. Ia segera berlari ke lantai atas lantas membuka pelan pintu kamar Melissa. Mendekat ke kasur dengan langkah yang mantap, memastikan tidak sedikitpun ada luka di tubuh gadis itu.
“Paman?” Suara Melissa terdengar parau, matanya terlihat memerah dan masih sangat mengantuk.
“Tidurlah sayang, aku hanya memastikan tidak ada bekas tangan laki-laki itu di tubuhmu.”
“Hmm?” Melissa bergeser sedikit hendak bangkit sembari mengusap matanya.
“Tidak perlu Pinky, tidurlah. Aku akan tidur di sini malam ini.” Jeon Jonas menyibak selimut gadis itu lalu masuk ke dalam, merengkuhnya lalu menggulungkan selimut itu di tubuh mereka berdua.
“Paman yakin akan tidur di sini?” Melissa setengah sadar, sedikit kikuk karena pertama kalinya Jeon Jonas datang tengah malam begini hanya untuk tidur bersama.
“Kuharap kita bisa selalu seperti ini.”
***
Sepulang sekolah, Melissa begitu terkejut saat mendapati cafe milik Brian telah terbakar habis, hanya tersisa sisa bangunan yang telah menghitam karena gosong. Banyak orang berkumpul di sana, namun tidak satupun teman kerjanya yang lain berada di situ, bahkan Brian sekalipun. Melissa bertanya pada mereka dengan canggung, seorang wanita paruh baya menjelaskan dengan tenang bahwa kebakaran terjadi pada pukul tiga tadi, saat semuanya masih gelap dan sebagian orang masih di alam mimpi. Penyebab kebakaran masih jadi tanda tanya besar, namun polisi sedang menyelidiki.
“Kau bekerja di sini?” tanya wanita paruh baya itu. Melissa mengangguk dan memberitahu bahwa ia sudah lama bekerja di sana, selama ini tidak ada insiden terjadi, semuanya baik-baik saja, sebelum cafe ditutup mereka akan memastikan bahwa kompor gas telah mati, sambungan listrik telah mati dan berbagai alat yang digunakan untuk memasak sudah disimpan di tempat yang aman.
“Banyak kejahatan terjadi tahun ini, aku berpikir pasti ada yang sengaja membakarnya.” Melissa mengernyit bingung.
“Mungkin ada yang iri pada kalian, siapa yang tahu.” Wanita paruh baya itu tersenyum tipis sembari menepuk bahu Melissa.
“Masih banyak yang membuka lowongan pekerjaan.” Wanita paruh baya itu lantas pergi dari tempat kejadian.
Melissa merogoh ponsel lantas menghubungi Brian, namun dua kali menelepon, tidak ada jawaban dari pria itu.
“Melissa!” Gadis itu menoleh ketika sebuah suara memanggil namanya dari arah jalan. Seorang wanita ber-helm, naik sepeda motor melambai padanya. Mengetahui kebingungan Melissa, wanita itu kemudian membuka helm dan memberi senyuman singkat.
“Rosie..”
“Ayo naik.” Rosie menunjuk belakangnya.
Melissa menurut lantas naik ke atas motor Rosie.
“Kenapa baru muncul sekarang?” tanya Melissa.
“Ada insiden,” jawab Rosie singkat.
“Insiden apa?” Melissa merapatkan dirinya pada Rosie.
“Aww, jangan terlalu merapatkan tubuhmu, punggungku sakit.."
Melissa bergerak cepat memberi jarak.
“Aku jatuh dari motor,” sambungnya agar Melissa tidak sempat bertanya.
“Bagaimana hubunganmu dengan Jeon Jonas?” Rosie bertanya kembali.
“Seperti biasa.” Jeda sejenak sampai akhirnya Melissa bertanya lagi “Waktu itu Paman melakukan sesuatu padamu?”
“Hah?” Rosie menjeda juga. “Tidak, aku hanya diberi peringatan agar melakukan tugasku dengan baik.”
***
Setelah sampai di kediaman Jeon Jonas, Rosie melambaikan tangan lantas kembali keluar dari lokasi itu. Tadi mereka sempat mampir ke cafe lain hanya untuk membeli ice cream, lalu segera berangkat karena tidak mau Jeon Jonas sampai bertanya.
Melissa naik ke kamarnya untuk menaruh tas dan mengganti pakaiannya, ia kemudian keluar untuk makan siang, di sana ia menemukan Enna tengah memasukkan adonan ke dalam oven.
“Selamat siang Nona, tumben Nona pulang lebih awal,” ujar Enna.
“Aku tidak bekerja hari ini, tempat kerjaku kebakaran.” Enna menutup mulut karena kaget.
“Oh ya Tuhan, anda tidak apa-apa?”
“Aku baik-baik saja, kebakaran terjadi sebelum pagi hari, aku baru mengetahuinya tadi saat akan bekerja.”
“Baguslah Nona baik-baik saja. Nona ingin makan apa siang ini?”
“Ehmm, Paman di mana? Paman sudah makan siang?” Melissa balik bertanya.
“Sepertinya belum, saya tadi melihat Tuan Jeon sedang ada di taman belakang dengan beberapa temannya.”
“Kalau begitu aku akan mengajak Paman makan siang bersama.” Melissa beranjak pergi dari dapur lantas mencari Jeon Jonas ke taman belakang rumah.
Sampai di sana, taman belakang kosong, tidak ada siapapun di sana bahkan orang yang biasa bekerja untuk memangkas bunga. Melissa merengut karena sehabis berkeliling, pamannya tidak ada di mana-mana.
Suara orang terjatuh kemudian terdengar, dua orang muncul dari sebuah pintu yang tampilan luarnya sangat mirip dengan tembok. Melissa bergerak mundur saat dua pria itu berjalan mendekat dan membungkukkan badan padanya.
Saat kedua pria itu telah pergi, Melissa mengamati pintu itu dengan lekat, ada tombol yang disamarkan dengan warna mirip cat tembok. Melissa menekan lantas pintu itu kemudian terbuka sendirinya.
Hal yang pertama kali didapati Melissa adalah Jeon Jonas dan belasan pemuda bertelanjang dada tengah berlatih tinju dan pedang, sedangkan Jeon Jonas nampak meneguk air mineral lalu menuangkannya ke badan.
Ruangan itu dingin dan begitu luas, Melissa bahkan tidak tahu bahwa ada ruangan seperti ini di kediaman Jeon Jonas. Melissa masih berdiri di depan pintu yang ia buka, matanya bergerak cemas saat beberapa pria di sana berteriak dengan suara jantan.
Seolah tahu ada orang asing di dalam ruangan, Jeon Jonas menoleh dan terkesiap saat Melissa berdiri takut di sana.
“Pinky.” Pria itu mencoba berbicara dengan tenang.
“Kemari..” Melissa menggigit bibir karena gugup, namun tetap melangkah mendekati pamannya yang nampak basah karena keringat.
“Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Jeon Jonas.
“Aku ingin mengajak Paman makan siang.”
Jeon Jonas menarik sebuah pedang yang belum dipakai dari kumpulan alat tajam di sana, lalu memberinya pada Melissa. Melissa bergerak mundur, menolak menyentuh benda tajam itu di kulitnya.
“Banyak kejahatan di luar sana, kau harus menjaga dirimu sendiri jika aku tidak ada.”
Jeon Jonas kemudian mendekap tubuh Melissa dari belakang, menyelipkan pedang itu lalu mengayunkannya bersama tangan Melissa. Ayunan berpola silang dan menghentak lurus. Melissa meringis karena ia belum pernah memegang pedang sebelumnya.
Ingatannya kemudian melayang pada cerita Bobby beberapa hari yang lalu.
“Ada sekitar lima orang berpakaian gelap sedang memukuli seorang pria, kupikir dia seumuran ayahku sekarang. Dia meminta tolong agar dilepaskan namun dia malah dipukuli lebih keras, aku langsung pergi karena takut ketahuan.”
Benar kata Jeon Jonas, ia tidak selalu punya waktu menjaga gadis itu, jadi Melissa harus belajar melindungi diri sendiri.
Jeon Jonas melepas dekapannya lalu membiarkan Melissa memegang pedang itu sendirian, Melihat tangan gadis itu gemetar, Jeon Jonas kemudian mengganti pedang itu dengan pisau lipat yang pas dengan tangan gadisnya.
“Ini cocok untukmu.”
“Bagaimana cara melakukannya? Aku tidak mengerti,” keluh Melissa.
Jeon Jonas beranjak menarik sebuah alat yang terbuat dari gabus, bentuknya mirip pohon yang terpotong.
“Kau bebas menusuk bagian mana saja,” kata Jeon Jonas kembali mendekap gadis itu lalu mengajarinya dari belakang.
Melissa meneguk saliva, kelembapan tubuh Jeon Jonas yang menempel di punggungnya sulit membuatnya berkonsentrasi. Meski berkeringat banyak, tubuh Jeon Jonas tidak menimbulkan bau yang menyengat, Melissa bahkan tidak dapat menampik jika saat ini ia sangat menyukai aroma tubuh pria itu.
Para pemuda yang berlatih di ruangan itu, tiba-tiba saja terfokus pada kegiatan Jeon Jonas dengan Melissa.
“Kalian bisa keluar.” Jeon Jonas menatap dengan ekspresi lurus tapi tajam.
“Baik Bos.”
Melissa mengalihkan pandangannya saat para pemuda itu mencuri pandang sembari memakai pakaian.
“Paman ini ruangan apa?” Melissa bertanya karena penasaran.
“Ini, aku membuka pusat kebugaran di sini.”
“Jadi nanti kalau temanku ingin datang untuk kebugaran, Paman akan mengijinkan?”
“Tidak, hanya untuk orang tertentu. Berapa banyak teman pria yang kau punya?” Secara tidak sadar, pegangan Jeon Jonas pada tangan Melissa sedikit mengetat.
“Ada tiga. Peter, Lucas, Bobby.”
“Sedekat apa mereka denganmu?”
“Tidak terlalu dekat, kalau Peter, kami sudah berteman sangat lama, dia temanku yang paling baik.” Jeon Jonas memutar bola matanya dengan kesal.
“Baiklah, jangan memujinya di sini.”