HOT GUY

HOT GUY
[24]



Dan akhirnya ketakutan Melissa selama ini terjadi, Jeon Jonas nyaris melakukan hal lebih padanya. Kini alih-alih tidur, Melissa justru menerka-nerka bagaimana selama ini Jeon Jonas menuntaskan kebutuhan biologisnya. Tidak pernah sekali pun Melissa berpikir jauh tentang ini, tapi malam ini, malam setelah Jeon Jonas pergi dari kamarnya, pemikiran Melissa mengambang jauh. Pria dewasa seperti Jeon Jonas pasti sering melakukan itu, dan dengan siapa ia melakukan, itu hal yang begitu berat untuk Melissa cari tahu.


Matanya mengantuk, tapi bayang-bayang kaki terlihat jelas di depan matanya. Melissa tidak ingin menerka-nerka lagi siapa orang yang berdiri di depan pintunya, sebab beberapa detik kemudian bayangan tinggi itu pergi dan Melissa tahu sekarang bahwa sejak tadi Jeon Jonas masih berada di sana.


Ia mengembuskan napas, menutup mata erat-erat sembari menaruh kedua tangannya di atas dada. Kenapa ia harus setakut ini? Melissa yakin di usia sepertinya banyak gadis yang sudah memberi kehormatannya pada kekasih mereka, tapi ini berbeda. Ini Melissa yang dulunya begitu canggung dengan orang asing, apalagi sekedar bersentuhan. Melissa belum siap menerima hal yang lebih serius.


***


Melissa mengikuti saran Enna untuk mengikat rambutnya tinggi seperti yang dilakukan Maggie sewaktu ia menginap. Bedanya kali ini ia melakukannya sendiri dan hasilnya tidak seburuk yang ia pikirkan. Rambutnya bergabung rapi begitu juga dengan poni depannya yang selalu teratur. Melissa menarik tasnya, siap untuk memulai sarapan di ruang makan.


Dan ia menemukan Jeon Jonas di sana.


Menyesap sesuatu dalam mug putih dan fokus terhadap bacaan di layar ponsel.


Debaran itu datang lagi. Melissa menarik napas dalam lantas berusaha berekspresi biasa saja. Tapi tidak bisa, hanya melihat penampilan Jeon Jonas saja ia harus menelan ludah beberapa kali. Pria itu sangat pantas dijuluki hot guy.


Jeon Jonas meletakkan gelasnya, ia memperhatikan cara gadis itu menuruni tangga dengan kaki jenjangnya. Dan bagaimana gadis itu mengikat rambutnya untuk memperlihatkan leher itu membuat Jeon Jonas harus melonggarkan dasi.


Seperti biasa, gadis itu duduk di dekatnya dengan posisi berhadapan. Namun kali ini, Melissa selalu mencoba menghindari kontak mata.


“Pinky..”


“Ya Paman.” Melissa mengoles selai ke atas roti, masih dengan usahanya untuk tidak bertatapan.


Tidak bertahan lama, secara mengejutkan tangan besar pria itu telah merangkum pipinya. Menekan pelan dagunya agar gadis itu menatapnya.


“Apa kau takut padaku sekarang?”


Melissa meremas roknya, akhirnya menatap mata hitam itu dengan seksama. Cara pria itu berusaha mengirimkan aliran panas tanpa harus mengintimidasi ia terima langsung dari mata itu.


“N-no.”


“Ya, kau takut.”


“Tidak.”


“Kalau begitu tatap aku, bicara denganku seperti biasa.”


Tangan pria itu masih berada di sana, mengelus rahang gadis itu hingga akhirnya mengapit dagu dan mencondongkan wajahnya lebih ke depan.


“Ini masih aku, pria yang kau sukai.”


Melissa masih diam saat Jeon Jonas akhirnya melepasnya, membiarkan gadis itu kembali pada tundukan kepalanya dengan dalih harus cepat-cepat sarapan sebelum terlambat ke sekolah.


“Kau akan ke sekolah bersamaku.”


“Ada yang harus aku katakan pada Jack, jadi aku akan berangkat dengan Jack.”


“Ya, bicara dengannya lalu berangkat denganku.”


Melissa menggigit bibirnya, untuk sesaat perhatian Jeon Jonas terpaku pada gigitan itu.


“Aku selesai.” Melissa mencoba memanfaatkan situasi dimana Jeon Jonas belum memakan apapun, jadi ada kemungkinan untuk dirinya berangkat dengan Jack.


Tapi Jeon Jonas ikut berdiri. Bahkan berjalan lebih cepat daripada gadis itu ke dalam mobil.


“Di belakang Pinky,” ucap Jeon Jonas ketika Melissa akan duduk di jok depan, di samping Jack.


“Aku harus bicara dengan Jack.”


“Kau bisa bicara dari belakang.”


Malas berdebat, Melissa akhirnya duduk di belakang. Melihat pintu tertutup Jack segera mengemudikan mobil melewati pagar rumah.


“Apa yang terjadi padamu?” Jeon Jonas bertanya saat Melissa menyibukkan diri dengan menatap pemandangan dari kaca mobil.


“Pinky?”


“Jack, ada yang ingin kukatakan padamu.” Melissa mengalihkan pembicaraan.


“Ya Nona?”


“Pinky..”


“Nanti tolong jemput aku dari sekolah.”


“Itu memang tugas saya Nona.”


“Pinky!”


Melissa terpekik tatkala dirinya dengan cepat telah berpindah ke pangkuan Jeon Jonas. Tangan pria itu menekan kedua pahanya, menatap gadis itu dengan tegas dan tajam.


“Paman, lepaskan.”


Pria itu tidak menjawab dengan mulut, Melissa menerima tamparan di pantatnya.


“It’s hurt.”


“Kau akan mengulanginya lagi?”


“Lepaskan aku.”


Jeon Jonas justru ******* bibir gadis itu alih-alih melepaskan. Menahan kaki Melissa lebih kuat dan mereka semakin dekat tanpa jarak. Jack yang mengemudi di depan mati-matian menahan dirinya agar tidak mengintip. Tidak ingin beresiko dipecat hanya karena ingin melihat.


“Masih ingin mengabaikanku?” tanya Jeon Jonas setelah pagutan bibir mereka terlepas.


Melissa menggeleng dengan air matanya yang luruh, justru membuat Jeon Jonas tersenyum sembari membawa jemarinya mengusap air mata gadis itu.


“Jack, jangan ke sekolah. Melissa libur hari ini.”


Melissa hanya membulatkan mata.


“Kita akan ke tempat yang menarik, mau?”


Tidak ada jawaban paling tepat selain mengangguk. Melissa pada akhirnya tidak sekolah. Jeon Jonas menyuruh Jack berhenti di sebuah kafe spring day yang menyediakan banyak varian ice cream dan Melissa menyukai tempatnya di pertemuan pertama.


Mereka duduk berdua di sebuah meja bundar yang penuh dengan gambaran ice cream berwarna merah muda, sangat cocok dengan Melissa yang pada dasarnya memang suka ice cream dan warna pink.


“You like it?”


Melissa mengangguk dengan perubahan wajahnya yang begitu cepat ceria. Ada dua menu yang memang sudah diletakkan di sana. Jeon Jonas menanyakan pilihan pada gadis di depannya, segera saja Melissa menunjuk tiga jenis ice cream yang mempunyai banyak topping.


“Halo..” Melissa menjawab telepon dari Ava.


“Kenapa kau tidak sekolah?”


“Aku sedang di kafe spring day dengan Paman Jeon.”


“Kafe spring day? Demi Tuhan, Melissa. Kau bolos sekolah karena ingin makan ice cream?”


“Siapa itu?” tanya Jeon Jonas penasaran.


“Ava.”


“Ya?” sahut Ava.


“Kalian belum belajar?”


“Sudah, aku permisi ke toilet.”


“Oh ya, sampaikan salamku pada pamanmu,” kekeh Ava.


“Ya, akan aku katakan.”


“Ya.”


Melissa menaruh ponselnya di saku lalu mendapati sudah ada tiga ice cream di depannya.


“Ava mengirim salam.”


“Huh?”


“Ava mengirim salam pada Paman, dia menyukai Paman.”


“Aku tau.”


“Paman juga suka Ava?”


“Tidak, aku suka Melissa.”


Melissa tersipu dan kini menyantap ice cream di depannya dengan lahap.


“Paman harus coba, ini enak.”


“Aku kenyang hanya dengan melihatmu.”


Melissa tidak ingin menyantap ice cream itu sendirian, jadi ia memberi sedikit pada Jeon Jonas.


“Harus.”


“Sayang, aku tidak bisa.”


“Please.”


Jeon Jonas mendesah pelan dan mau tidak mau harus menerima ice cream itu ke dalam mulutnya.


“Bagaimana?”


Jeon Jonas susah menelan, pertama kalinya menerima makanan dari hasil tangan orang lain. Tapi matanya kemudian membulat.


“Ini enak.”


Melissa terkekeh, mendorong satu gelas ice cream pada pria itu.


“Tidak semua orang ingin berbuat jahat pada Paman, jadi Paman harus bisa mencoba makanan orang lain sebelum aku.”


Jeon Jonas diam dengan tatapan nanar pada gadis itu. Trauma karena diracuni memang susah ia hilangkan, bagaimanapun sebuah trauma memang akan meninggalkan bekas menakutkan, tapi Melissa berhasil membuatnya berani mencoba makanan hasil tangan orang lain dan ia tidak merasakan sesuatu yang berbahaya. Ia baik-baik saja.


“Tunggu di sini, aku harus ke toilet.”


“Paman baik-baik saja kan?”


“Yes Pinky.”


Seperginya Jeon Jonas, Melissa menarik gelas ice cream Jeon Jonas, mencolek sedikit untuk ia nikmati, ia geser kembali seperti semula. Ia tersenyum karena ternyata milik Jeon Jonas lebih nikmat.


Kafe itu ternyata menjadi ramai, bahkan sekarang ada seorang wanita cantik berambut panjang meminta duduk dengannya karena semua tempat sudah penuh.


“Silahkan,” jawabnya.


“Terimakasih.”


Melissa penasaran dengan bentuk tubuh wanita itu, gaunnya yang besar tidak bisa menutupi perut buncitnya.


“Kakak sedang hamil?”


Wanita itu terkekeh.


“Ya, benar. Sebentar lagi dia akan lahir.”


“Oh ya? Itu kabar baik.”


Wanita hamil itu tertawa dengan respon senang Melissa.


“Bukankah ini waktu untuk belajar?” tanyanya.


“Ya, tapi Paman tidak mengijinkanku sekolah.”


“Jadi kau dipaksa membolos?”


“Semacam itu, tapi ini menyenangkan.” Melissa terkekeh.


***


Jeon Jonas baru saja selesai berkomunikasi dengan Ben lewat telepon yang mengatakan kafe yang didatanginya aman. Hari ini kelompok Mattow sedang berkumpul di markas untuk membahas sesuatu. Bersama kelompok kecil lain dari Tiongkok. Ben mengatakan mereka sepakat bekerja sama untuk menyerang Jeon Jonas di waktu bersamaan.


Jeon Jonas merapikan letak rambutnya lantas masuk kembali ke dalam. Ia mengerutkan dahi saat melihat Melissa tengah bicara dengan seorang wanita. Saat tahu itu siapa, Jeon Jonas memilih segera ke sana.


“Pinky..”


“Paman, ini Sissy.” Wanita hamil itu shock melihat Jeon Jonas di sana.


“A-aku akan pulang,” ucapnya.


“Tidak apa Sissy. Kita bisa duduk bertiga di sini,” celetuk Melissa.


“Tidak, aku harus pulang.” Sissy segera berdiri kemudian cepat-cepat keluar dari kafe.


“Akhh..” Sissy menjerit ketika dirinya dipojokkan di dinding luar.


“Sudah kukatakan padamu agar tidak muncul lagi di hadapanku.”


“Aku tidak bermaksud.”


“Kau mencoba mempengaruhinya?”


“Tidak, aku tidak melakukan hal jahat.” Sissy ketakutan setengah mati tatkala melihat Jeon Jonas mengeluarkan pistol dari balik jasnya.


“Jangan bunuh aku, kumohon.”


“Kau harus mati, kau mencoba merusak masa depanku dengannya.”


“Komohon, aku harus hidup demi anak ini. Komohon.”


Mata Jeon Jonas akhirnya terpaku pada perut itu, ada nyawa seseorang di dalam.


“Siapa yang melakukan itu padamu?”


Sissy tidak bisa menyembunyikan tangisannya.


“Ini anakmu Tuan.”


Jeon Jonas menggeram, menekan pistol itu ke perut Sissy.


“Jangan bunuh aku dan anak ini, aku tidak akan meminta pertanggung jawabanmu, aku juga tidak akan mengganggumu, aku akan menyembunyikan diri. Jadi kumohon lepaskan aku.”


Jeon Jonas bergeming, tatapannya kosong dan Sissy berhasil pergi.


Ia kembali pada Melissa dengan pikiran melayang, melayang jauh pada kata bayi.


“Paman..” Melissa melambaikan tangannya pada Jeon Jonas yang melamun.


“Kita harus pulang.”


Melissa mengernyit tapi akhirnya mengangguk.