HOT GUY

HOT GUY
[21]



Vote Vote Vote


“Melissa, aku sudah lama tidak melihat Pamanmu, aku rindu,” ucap Ava. Maggie mendecak lalu mengunyah kentang goreng miliknya. Saat ini mereka sedang berada di kantin sekolah, mengingat jam mengharuskan setiap murid bisa mengistirahatkan diri untuk sementara waktu sebelum pelajaran lain dimulai. Sementara Melissa hanya diam dan mengaduk-aduk saus pada nampannya. Ia juga tidak melihat Jeon Jonas pagi tadi. Sepengetahuan Enna, pria itu berangkat pagi-pagi sekali setelah olahraga di ruang gym yang berada di rumah.


“Ava, berhenti mengharapkan Paman Melissa,” desis Maggie pada akhirnya.


“Kenapa? Aku itu orang yang pantang menyerah, jangan mempengaruhiku Magg, kau tau itu mustahil.”


“Melissa dan pamannya sudah berpacaran, kau harus cari target lain.” Ava yang pada saat itu tengah menyeruput lemon tea berhasil menyemburkannya ke wajah Maggie, membuat Maggie mengumpat dan menarik banyak tisu untuk mengeringkan wajah basahnya.


“Sialan Ava!” Maggie mengumpat dan nyaris menjerit tatkala menyadari seragamnya juga basah.


“K-kau pacaran dengan Pamanmu?” tuntut Ava pada Melissa.


“Maaf, tapi aku tidak ingin menjadi sainganmu,” balas Melissa.


“Demi Tuhan!” Ava mengusap wajahnya.


“Kau harusnya bilang padaku, aku jadi merasa buruk sekarang,” lanjut Ava menatap Melissa lurus-lurus.


Maggie berhenti mengumpat saat melihat Bobby dan Lucas masuk ke kantin.


“Harus kau sadari Ava, Lucas menyukaimu sejak lama. Kenapa kau seolah buta? Lucas tidak buruk rupa, tubuhnya juga tegap.” Reaksi dari Ava tidak pernah diduga Maggie, sebab Ava tertawa kencang sembari memukul meja.


Kedua pria itu akhirnya menarik dua kursi lalu duduk bersama mereka.


“Kenapa si idiot ini?” tanya Lucas menatap Ava bingung.


“Kau menyukai Ava kan?” celetuk Maggie.


Lucas berkedip biasa lalu menarik lemon tea milik Ava.


“Aku menyukai semua wanita,” jawabnya lalu menopang dagu. Maggie dan Melissa menghela nafas.


“Tapi kalian salah, aku tidak menyukai wanita idiot,” sambungnya. Ava melotot, meneguk lemon teanya lantas menyembur wajah Lucas dan tertawa.


***


Sepulang sekolah, Melissa terkejut tatkala menemukan kamarnya dihias dengan foto-fotonya saat berenang dengan ubur-ubur di Eil Malk. Ia menaruh tas di atas tempat tidur lalu menyentuh foto-foto yang di satukan di tali panjang kemudian diikatkan pada satu benda. Foto-foto itu begitu banyak, sejak kapan Jeon Jonas memotretnya sebanyak ini? Melissa tersenyum lebar karena menyukainya.


Melissa kemudian beringsut dari tempat tidur. Yang ada di pikirannya saat ini adalah menemui Jeon Jonas untuk mengucapkan terimakasih. Ia berlari dan memegang pembatas untuk mengedarkan pandangannya ke lantai bawah, dan sepertinya pria itu tidak di sana. Melissa akhirnya membuka pintu kamar Jeon Jonas dan menemukan pria itu sedang duduk menengadah dan bersandar pada kursi putar.


Ia mendekat, melihat pria itu tengah memejamkan mata. Melissa sangat ingin bicara tapi ia urungkan, ia hanya melingkarkan tangannya lalu memeluk pria itu sangat hati-hati.


“Halo beautiful.” Suara pria itu terdengar serak dan berat. Melissa sedikit terperanjat.


Jeon Jonas membuka mata tapi tidak sepenuhnya, ia mengangkat Melissa ke pangkuan lalu merengkuh gadis itu dengan posisi nyaman.


“Paman yang menaruh foto-foto itu di kamarku?”


“Hm.” Jeon Jonas hanya menggumam, terlalu nyaman dengan pelukan mereka.


“Terimakasih, aku menyukainya.” Meski tidak melihat, Melissa tahu pria itu tersenyum menanggapi ucapannya.


“Aku sangat merindukanmu.” Saat mengatakan itu Jeon Jonas semakin merapatkan tubuhnya.


“Tapi kita selalu bertemu.”


“Tetap saja tidak bisa menebus rasa rinduku.”


“Apa yang harus aku lakukan agar dapat menebus rasa rindu itu?”


“Aku ingin memelukmu seharian tapi tidak cukup, aku ingin melakukan banyak hal denganmu.”


Jeon Jonas menjauhkan tubuh Melissa lalu membuka mata sepenuhnya untuk merekam cara gadis itu menatapnya. Malu-malu dan terlihat lezat untuk ditelan. Terdengar seperti seorang kanibal, tapi ia serius saat mengatakan selalu ingin menelan Melissa hidup-hidup, gadis itu sangat menggiurkan.


“Aku ingin melakukan hal yang tidak pernah kita lakukan sebelumnya. Aku ingin mengajarimu bagaimana menebus rasa rindu itu, aku juga ingin mengajarimu bagaimana cara menyenangkanku. Segala hal, asalkan itu bersamamu.”


Melissa merasa wajahnya memanas, apalagi saat pria itu tersenyum dan menangkup pipi berisinya. Pria itu memeluknya kembali, kali ini lebih erat dari sebelumnya. Melissa curiga pria itu berniat meremukkan tulang-tulangnya.


“I want you so bad Pinky..”


***


Hans baru saja pulang saat pengintaiannya dirasa cukup untuk dijadikan laporan pada sang Bos. Ia meneguk air mineral lalu memantik rokok untuk dihisap. Saat masuk ke kediaman Jeon Jonas, ia dikejutkan oleh Enna yang langsung menyapa dari arah dapur. Wanita paruh baya itu memang selalu ramah pada orang-orang, jadi Hans segera menyapa balik lalu menanyakan keberadaan pemilik rumah.


“Tuan Jeon? Lima belas menit yang lalu pergi keluar dengan Ben.” Enna menyahut sembari melepas sarung tangan anti panasnya.


“Ahh begitu ya.” Hans menghisap rokoknya kemudian duduk bersandar di sofa.


Hans menarik ponsel dari saku celana, hendak mengabari Jeon Jonas bahwa ia sedang berada di rumahnya dan ada kabar penting untuk dibicarakan empat mata. Tapi tunggu, ia membalik badan lalu menatap lurus ke lantai atas, ia tidak harus terburu-buru.


Enna terlihat tengah bicara pada pelayan bawahannya, kesempatan itu digunakan Hnas untuk naik ke lantai atas dan begitu terkejut tatkala pintu kamar yang ingin ia ketuk terbuka dengan lebar.


“Paman Hans!” Melissa sempat kaget tapi setelah melihat pria tampan itu ia tersenyum lebar.


“Apa kabar gadis kecil?”


“Aku baik, Paman?”


Hans menaikkan bahu. “Seperti yang kau lihat, aku sedikit berantakan.”


“Paman baik-baik saja?”


Hans menggeleng. “Tidak, setelah lama tidak bertemu denganmu.”


Hans memutar tubuhnya melihat lantai bawah lalu meminta izin Melissa untuk masuk ke dalam kamar. Kabar baiknya, Melissa mengijinkan.


“Paman perlu sesuatu? Paman sepertinya sakit.”


“Bisa tolong peluk aku?”


“Huh?”


Melissa memindai penampilan Hans, pria itu memang terlihat berantakan, rambut ikalnya melengkung ke atas, segera dirapikan Melissa dengan jemarinya. Justru berdampak buruk pada detak jantung Hans yang kini bertalu-talu. Pakaian pria itu juga kusut, Melissa rapikan lagi dengan tangan kecilnya.


Hans tidak ingin jantungnya melompat keluar, ia menarik lengan Melissa lalu memeluk gadis itu hingga ia akhirnya terengah tanpa tahu alasannya. Seperti mengisi baterai, semakin lama pelukan mereka semakin tenang juga dirinya.


“Pinky..”


Hans terkejut setengah mati. Beruntung pintunya terkunci, jadi pria itu punya waktu untuk meminta Melissa agar tidak mengatakan apapun perihal kedatangannya lalu melompat dari jendela.


Brakk


Ben shock tatkala Hans terjatuh dari lantai atas dan mengumpat karena badannya seakan remuk sepenuhnya.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Ben tanpa berniat membantu Hans untuk bangkit.


“Kau menyelinap masuk ke kamar gadis itu?” lanjut Ben.


“Diam Ben.” Hans berdesis lalu merapikan pakaiannya.


“Kau harus ingat kalau gadis itu milik Bos,” peringat Ben.


“Kau juga menyukainya.”


“Ya, tapi aku cukup menghargai nyawaku.”


“Aku juga.” Hans menarik satu bungkus rokok lalu mengeluarkan satu untuk dibakar dengan api.


“Tapi kau tetap bersikeras mendapatkannya,” ucap Ben setelah menerima rokok dari Hans.


“Aku hanya memastikan apa aku hanya sekedar suka atau sebaliknya. Dan kupikir aku tidak sebatas menyukainya.”


“Kau harus berhenti Hans.”


“Kenapa? Aku tidak pengecut sepertimu.”


“Terserah saja,” desis Ben lalu menghisap rokoknya.


***


Hans dan Ben sedang berada di ruangan yang sama dengan Jeon Jonas. Kedua pria sama-sama berdiri sementara sang Bos duduk di single sofa, memperhatikan anak buahnya itu dengan tatapan khas pengintimidasi.


“Kapan kita bisa memulai penyerangan, aku tidak ingin tetap bersembunyi seperti seorang pecundang,” geram Jeon Jonas.


“Anak buah kita siap kapan saja Bos,” jawab Ben.


“Bagaimana dengan Melissa?” tanya Hans.


“Kenapa kau peduli?” desis Jeon Jonas.


“Maksud saya, apa dia akan tetap bebas berkeliaran di luar? Bersama Bos?”


Jeon Jonas mengerang pelan lalu menyahut.


“Aku akan mengunjungi Stephanie.”


“Maksud Bos?” tanya Ben bingung, sebab yang ia tahu tujuan Jeon Jonas bila bertemu wanita itu hanya untuk menuntaskan kebutuhannya.


“Aku akan menggunakannya. Bernard akan mengira Stephanie adalah wanita yang aku lindungi selama ini.”


“Itu ide yang sangat cemerlang Bos.” Ketiga pria itu tersenyum puas dengan rencana mereka.


Selesai dengan pembicaraan itu, ketiganya akhirnya keluar dari ruangan dan menemukan Melissa sedang melihat mereka dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.


“Ingin berenang bersamaku?” tanya Jeon Jonas mendekati gadisnya di depan Hans dan Ben.


“Kami pergi Bos.” Hans dan Ben menundukkan badan untuk pamit.


“Berenang? Berdua?” tanya Melissa.


“Apa kau berpikir aku akan mengajak Hans dan Ben untuk bergabung?”


“Tidak, kalau begitu ayo.”


***


Melissa dan Jeon Jonas tengah berenang bersama saat Enna datang membawa satu gelas cocktail dan banana milk untuk Melissa. Enna betah memandang mereka saling meliukkan badan di dalam air, apalagi saat dengan jelas Jeon Jonas memperhatikan cara gadisnya berenang dari samping. Enna tahu pria itu sangat mengagumi Melissa.


“Oh ya Tuhan, mereka sangat seksi,” gumam Enna masih memperhatikan keduanya.


Dan saat Jeon Jonas mengajak gadisnya muncul di permukaan, Enna segera menunduk tak berani bertatapan dengan Tuannya. Pria itu mengecup puncak kepala Melissa lalu membawa gadis itu menaiki tangga.


“Saya membawakan minuman Tuan.”


“Pergi.”


“Baik Tuan.”


Enna terkekeh pelan saat matanya bertemu dengan mata Melissa. “Kau seksi,” ucapnya tanpa suara. Melissa membalas ucapan Enna dengan senyum malunya.


“Banana milk?” ucap Melissa lalu duduk di samping Jeon Jonas yang tengah menyesap cocktailnya.


“Kau pernah bilang menyukainya jadi aku menyuruh Enna membawanya ke sini.”


“Terimakasih.”


Jeon Jonas mengusap kepala Melissa sembari tersenyum lalu menyesap cocktailnya lagi. Ia melirik Melissa tanpa harus memiringkan kepala, gadis itu meneguk banana milk pelan-pelan, tidak sengaja menetes ke dagu dan jatuh ke pakaian renangnya.Kali ini susu rasa pisang itu mengalir dari sudut bibirnya, membuat Jeon Jonas mengerang frustrasi, kenapa gadis itu selalu menggodanya?


Daripada diam dan selalu mengumpat dalam hati, pria itu akhirnya merebut banana milk Melissa, membuat gadis itu terkesiap dan membulatkan mata saat pria itu menjilat sudut bibir dan dagunya yang basah.


“Jangan menggodaku sayang.”