HOT GUY

HOT GUY
[34]



Ketika malam akhirnya merajai bumi, mereka masih di posisi yang sama. Bertatapan dengan intens, seakan tatapan itu akan menembus dalam hingga melubangi kepala. Melissa sudah tidak peduli bagaimana cara Jeon Jonas menyelinap ke kamar, seorang gangster pasti bisa melakukan itu dengan mudah. Sementara Jeon Jonas menjadi tidak karuan, ia menginginkan Melissa dan gadis itu hanya melihatnya dengan tatapan polos.


Bagaimana cara menjelaskannya pada gadis ini?


Rupanya, meski sudah berumur dewasa, Melissa tetap sama. Tidak mengerti predator seperti apa Jeon Jonas, dan sebesar apa kebutuhannya. Gadis itu hanya menganggapnya seorang paman yang baik, paman yang lembut dan paman perhatian terlepas penjelasannya beberapa menit yang lalu.


Dari cara gadis itu tergeletak pasrah di bawahnya, Jeon Jonas mengakui bahwa Melissa mungkin adalah santapan makan malam yang lezat. Tanpa berlama-lama, ia memagut bibir gadis itu, merasakan rasa manis Melissa yang merupakan kesukaannya.


Tangannya merosot ke bawah, menekan lutut Melissa lalu melihat apa yang ada di sana. Betapa gadis itu sangat panas, pisau kecil dan sabuk garter itu alih-alih membuatnya menakutkan justru terlihat sangat menggairahkan.


Jeon Jonas menunduk, mengecup kaki jenjang itu, juga pisau itu. Ia selalu senang saat mengingat Melissa mengandalkan pisau miliknya. Dalam pikirannya, Melissa pasti selalu mengingat Jeon Jonas saat menyentuh pisau itu. Patut ia banggakan bahwa pedang itu memang keberuntungan, meski berhasil menusuk pemiliknya sendiri.


Takut pisau itu melukai kulit gadisnya, Jeon Jonas menaruh pisau itu di atas nakas. Ia mendongak, meminta lewat tatapan mata dan gadis itu baru saja ragu-ragu menyetujui lewat bahasa mata juga.


Jeon Jonas melihat tatapan Melissa yang bergetar. Ia mengecup kedua mata gadis itu, membelai wajahnya dengan lembut dan membisikkan bahwa semua akan baik-baik saja. Gadis itu mengangguk. Kemudian, Jeon Jonas berhasil memilikinya seutuhnya.


“I love you, I love you, Pinky.”


***


Gadis itu marah. Jeon Jonas kelimpungan karena tidak tahu-menahu penyebabnya, ia sempat menebak bahwa kemarahan gadis itu pada pagi ini pasti menyangkut yang terjadi semalam. Dan saat menemukan jawabannya, Jeon Jonas harus menahan tawa. Melissa marah karena tidak berdaya saat bangun, Jeon Jonas berinisiatif membantu dan gadis itu memukulinya habis-habisan seraya mengerucutkan bibir. Jeon Jonas tergoda untuk menjadikannya sarapan pagi.


“Tapi kau tidak menolak saat aku melakukannya berulang kali.”


Ucapan itu membuat Melissa geram, ia kembali memukuli Jeon Jonas dengan kedua tangannya yang kecil. Alih-alih kesakitan, Jeon Jonas lebih mencondongkan tubuhnya agar Melissa lebih leluasa memukulinya dari jarak pendek. Tapi karena mata gadis itu memerah seolah ingin menangis, Jeon Jonas memeluknya dengan gemas. Ia membawa Melissa ke kamar mandi, menaruh gadis itu di dalam bathup.


“Kemarikan selimutnya, aku akan menyalakan air.”


Melissa masih merengut kesal. Jadi, Jeon Jonas menyalakan air sembari membalikkan badan, bertepatan dengan selimut itu terlempar. Takut gadis itu bertambah marah karena ia tetap di sana, Jeon Jonas akhirnya keluar dengan membawa selimut dan menutup pintu.


Ponsel Melissa berdering, Jeon Jonas melihat nama penelepon. Ronny. Karena khawatir Ronny adalah saingannya, Jeon Jonas mengangkat dan menyapa dengan nada datar.


“Ya?”


“Si-siapa? Melissa di mana?” tanya Ronny tergagap.


“Ada yang ingin kau sampaikan? Melissa sedang mandi.”


Oke, itu bukan sebuah kebohongan. Melissa memang benar-benar sedang mandi tetapi Jeon Jonas bisa mendengarkan kesiap halus dari Ronny.


“Anda satu hotel dengan Melissa?”


“Ya, tentu saja.”


“Anda siapa? Kenapa anda menerima panggilan ini?”


“Jadi, aku seharusnya menolak?”


“Tidak, bukan begitu. Tapi ini ponsel Melissa kan?”


“Lalu?” Ronny menghela napas.


“Maksudku, jika aku menelepon Melissa seharusnya Melissa yang menjawab.”


“Dia sedang mandi.” Jeon Jonas nyaris menambahkan kata to*ol di ujung kalimatnya.


“Anda siapa?”


“Jeon Jonas.”


“Lebih spesifik.”


Terjadi jeda. Jeon Jonas melihat layar, masih terhubung.


“Ada yang ingin kau sampaikan, Ronny?”


“Tidak.”


“Oh.”


“Bilang saja kalau aku menelepon.”


“Hm.”


***


Kemarin, Melissa menghabiskan satu harian di dalam kamar. Ia juga mengusir Jeon Jonas meski akhirnya datang juga tanpa diundang pagi harinya. Ini bukan salah Jeon Jonas, ia sudah setuju untuk menerima pria itu, tapi pria itu berbohong padanya kalau semuanya akan baik-baik saja, buktinya ia merasa sakit luar biasa. Ia menatap Jeon Jonas yang tengah menyusun makanan hasil delivery di atas meja, menyuruhnya makan atau akan Jeon Jonas makan. Melissa tidak menolak, ia juga kelaparan. Selesai menyantap makanannya, Melissa mendadak menginginkan yogurt.


Jeon Jonas menemaninya, lalu saat menemukan Ben tengah bicara dengan seorang wanita, Melissa terkejut. Ben segera menemui mereka dan menyapa dengan hormat. Pria itu menatap Melissa sekilas membuat Melissa menunduk, aura Ben masih seperti dulu, menyeramkan.


“Ben, dia marah,” ucap Jeon Jonas. Melissa mendongak.


“Tolong pukul aku, mungkin dia akan merasa senang.”


“Ya, Bos?”


“Paman!” Melissa mencebik lantas berjalan cepat ke depan.


“Kau masih ada urusan dengan wanita itu?”


“Tidak, Bos.”


“Kenapa?”


“Saya melakukannya agar mendapat kartu akses masuk, Bos.”


“Ada wanita yang kau sukai sehingga kau tidak tertarik bermain dengan wanita lain?”


“Tidak, Bos. Saya tidak pantas untuk menyukai seorang wanita.”


Seandainya Jeon Jonas tahu yang sebenarnya, mungkin Ben sudah berakhir menjadi mayat. Jeon Jonas menepuk bahunya lalu mengatakan kalau Ben pantas mencintai seseorang. Apalagi Ben memiliki paras yang tidak biasa, pria itu tampan, mungkin masalahnya hanya satu. Ia terlalu dingin.


Sebelum Melissa terlalu jauh, Jeon Jonas segera memintanya untuk pergi bersama. Melissa tidak menolak, sebab takut juga pergi sendiri, mengingat ini bukan Las Vegas.


Sampai di sebuah mini market, Melissa segera mencari yogurt. Ia hanya menemukan tiga botol yogurt kesukaannya di lemari minuman. Ia mendengkus lalu mencari banana milk, hanya tersisa satu botol. Demi Tuhan, tempat ini harusnya menyediakan semua jenis minuman! Dan sialnya, ketika ingin mengambil banana milk tersebut, sebuah tangan menepisnya.


“Aku yang melihatnya lebih dulu,” ucap laki-laki itu lantas menarik banana milk satu-satunya.


“Aku sampai lebih dulu di sini,” sanggah Melissa.


“Aku yang lebih dulu.” Jeon Jonas yang pada saat itu memperhatikannya, mengecup ubun-ubun Melissa lantas mengusap rambut wanita itu dengan gemas.


“It’s okay, kita bisa beli lagi.” Ia kemudian mengajak Melissa ke toko lain tanpa membeli apa pun dari sana. Begitu sampai di supermarket, Jeon Jonas segera memenuhi keranjang dengan yogurt dan banana milk.


Melissa tersenyum senang, sesederhana itu.


“Ada yang kau inginkan lagi, Princess?”


“Ice cream!”


“As you wish.”