HOT GUY

HOT GUY
[7]



Setelah sepeda pemberian Peter hancur, Melissa tidak punya pilihan lain selain harus diantar jemput oleh Jeon Jonas dari sekolah. Gadis itu bahkan masih menaruh kesal pada Jack, bagaimana bisa ketidaksengajaan bisa separah itu. Jika benar tidak sengaja bisa saja sepeda itu hanya lecet sedikit.


Melissa membuka pintu mobil lantas duduk di samping Jeon Jonas.


“Masih kesal pada Jack?” tanya Jeon Jonas seraya mengemudikan mobilnya.


“Ya, sedikit.” Jeon Jonas tersenyum samar lalu menoleh sekilas menatap Melissa.


“Peter akan kecewa padaku,” ujar Melissa dengan wajah murung.


“Jangan terlalu dipikirkan Pinky, perlihatkan senyummu, ini masih pagi.” Melissa menghela nafas lalu memaksakan diri untuk tersenyum.


“Sweet,” puji Jeon Jonas lalu membawa tangannya membelai rambut Melissa. Melissa menoleh, menatap Jeon Jonas dengan senyum tipis tanpa paksaan. Pria itu mengenakan pakaian kasual yang cukup santai. Sampai detik ini Melissa bahkan tidak tahu apa pekerjaan pamannya itu, yang ia tahu, Jeon Jonas adalah seorang pekerja keras.


Melissa memutar kepala menoleh ke arah lain lalu memandangi jalanan yang nampak lenggang, ia ingin bertanya banyak mengenai kehidupan Jeon Jonas, ia ingin tahu banyak, sungguh. Namun lidahnya seolah terbelenggu hingga ia hanya bisa membisu dan memendam tanya.


Sesampainya di sekolah, Jeon Jonas segera pergi. Tanpa sepengetahuan Melissa, ia sebenarnya telah menyuruh seseorang untuk mengawasi. Gadis itu perlu untuk dijaga meski tidak secara langsung. Jeon Jonas juga perlu kabar darinya saat mereka berjauhan, meski sebatas kiriman foto saat gadis itu beraktivitas.


Jeon Jonas melajukan mobilnya dengan cepat lalu membelok pada jalan yang lain. Ia merogoh saku saat ponselnya bergetar. Tertera nama Hans di sana.


“Bos, saya mendapat pesan dari kelompok Mattow, Bernard ingin bertemu,” ucap Hans to the point.


“Lanjutkan.” Jeon Jonas menyipitkan matanya mendengar jawaban selanjutnya dari Hans.


“Mereka menunggu di markas Mattow.” Kemudian Jeon Jonas terkekeh sinis.


“Dia pikir dia siapa menyuruhku datang menemuinya,” sahutnya remeh.


“Dia yang akan datang menemuiku, katakan padanya, jika dia perlu menemuiku, datang ke markas.”


“Baik Bos.” Jeon Jonas menaruh ponselnya kembali ke saku, lalu tanpa ia duga mobilnya ditabrak dari belakang. Sebuah mobil hitam nampak mengikutinya dari belakang, mobil itu lalu membelok dengan gaya ugal-ugalan. Jeon Jonas hanya berdecak, tak ingin mempermasalahkan mobilnya yang tergores parah, namun sepertinya pengendara asing itu ingin menyulut amarahnya, mobil Jeon Jonas kembali disenggol dengan keras lalu melaju cepat di depan mobil Jeon Jonas.


Jeon Jonas akhirnya kalap lalu menancap gas, pengendara asing itu rupanya pengendara yang hebat, Jeon Jonas menambah kecepatan namun pengendara asing itu masih tetap unggul di depan.


Sesampainya di sebuah gang, mobil itu akhirnya berhenti, Jeon Jonas meludah ke luar, ia masuk ke dalam jebakan.


Sang pengendara asing itu keluar, yang tak lain adalah Brian, tangan kanan Bernard. Jeon Jonas yang masih kalap segera melompat lalu memberi pukulan keras di rahang kokok Brian.


“Hei..hei lihat siapa yang datang.” Jeon Jonas bangkit lalu merapikan letak kemejanya. Ia menyempatkan diri untuk meludahi celana Brian lalu melirik Bernard yang berdiri dengan para anak buahnya. Bernard menyeringai kemudian duduk di sebuah kursi yang sudah disiapkan untuknya. Ia memutar mata, mengisyaratkan anak buahnya memberikan kursi untuk Jeon Jonas duduki.


“Duduk.” Jeon Jonas duduk secara reflex.


Bukan karena patuh, ia melihat mobilnya telah terjebak di gang kecil, satu-satunya hal yang harus ia lakukan adalah melihat bagaimana Bernard membicarakan semuanya. Brian sendiri telah bangkit sejak tadi, pria itu meraih kapas basah lalu menempelkannya ke luka di bagian wajahnya.


“Kau tentu sudah mengetahui kabar yang menimpa anak buahku,” ucap Bernard sembari mengangkat rokok untuk segera dipantik anak buahnya.


“Aku tidak punya waktu untuk berbasa-basi Bernard!” Bernard terkekeh samar lalu menghisap rokok tembakau miliknya.


“Brian dan anak buahku yang lain hampir tertangkap.” Bernard menyipitkan mata melihat reaksi Jeon Jonas yang nampak tenang, lalu ia melanjutkan kalimatnya.


“Kau mengirim polisi untuk memata-matai kami. Dan ya, kau berhasil, sayangnya kami tidak tertangkap, polisi-polisi idiot itu kehilangan jejak,” tambahnya lalu menghembuskan asap rokoknya. Kemudian Bernard terkejut karena Jeon Jonas terkekeh sinis.


“Aku punya banyak pekerjaan Bernard dan hal itu tidak cukup menarik untukku.”


Kali ini Bernard yang terkekeh, namun segera memasang raut wajah marah.


“Beri dia pelajaran,” instruksinya. Jeon Jonas mengambil posisi siaga, lalu segera memukul ketika anak buah Bernard yang berani melompat ke depannya.


Saat pemukulan demi pemukulan terjadi, sebuah mobil dari arah lain datang dengan kecepatan maksimal, menyalakan lampu dan membunyikan klakson, semua anak buah Bernard mundur dengan cara memalukan lalu kembali memasang wajah sangar saat melihat anak buah Jeon Jonas keluar dari mobil.


“Ke*arat!” Ben berteriak lalu menghentakkan kakinya menendang anak buah Bernard yang berani menyentuh Jeon Jonas. Teriakan marah dan bersemangat untuk membunuh memenuhi gang itu. Bernard terkekeh , membuang puntung rokokya, lalu ikut berpartisipasi menghabisi orang-orang yang berani menentangnya.


***


Melissa fokus mendengarkan pelajaran yang diberikan oleh Mr. Kettel. Guru berkacamata itu menginstruksikan murid-muridnya untuk membentuk kelompok yang terdiri dari lima orang dalam setiap kelompok. Kelompok tersebut akan diberikan sebuah tugas lalu akan dipraktekkan minggu depan. Suara para murid seketika riuh memilih teman untuk dijadikan satu kelompok, terkecuali Melissa yang tetap diam di tempat duduknya.


“Melissa.” Itu suara Maggie, duduk tepat di sebelahnya.


“Kami butuh satu orang lagi untuk pemateri, kau mau bergabung?” lanjut Maggie.


“Ya, tentu saja.” Melissa tersenyum tipis lalu menarik kursinya duduk mendekati Maggie dan murid lainnya.


“Karena kita dibagi menjadi lima orang, jadi Maggie, Ava dan Melissa akan menjadi pemateri. Aku akan menjadi Moderator dan Lucas sebagai notulis,” ucap Bobby.


“Bagaimana? Setuju? Atau ada yang ingin memberi saran?” sambung Bobby.


“Setuju.” Bobby tersenyum lebar saat teman satu kelompoknya mengangguk setuju.


“Baiklah kalau begitu, tempat untuk kerja kelompok bisa kita bahas nanti karena ini sudah akan masuk pelajaran dari Mr. Sam.” Melissa dan yang lain segera kembali ke posisi semula.


Pelajaran Mr. Kettel digantikan dengan Mr. Sam, berjam-jam suasana sekolah nampak sepi dan damai, hingga pada akhirnya para murid diijinkan untuk pulang.


Melissa menarik tas untuk lebih mengerat ke punggungnya, ia berjalan cepat saat melihat mobil mengkilat terparkir di depan sekolahnya. Bayangan tentang Jeon Jonas keluar menyapa segera lenyap ketika Jack keluar dan membungkukkan badan memberi salam.


“Tuan Jeon Jonas menyuruh saya membawa Nona pulang,” ujar Jack. Melissa mendesis kesal, ia kemudian mundur dan berjalan ke arah lain.


“Nona, Tuan tidak bisa datang, Tuan ada masalah dengan pekerjaannya.” Melissa dapat mendengar derap langkah Jack yang tetap membuntutinya.


“Apa Nona marah karena sepeda itu?” tebak Jack.


“Aku tidak apa-apa Jack, pulanglah duluan, aku ingin menemui Peter,” jawab Melissa.


“Nona saya tidak sengaja melakukannya, maafkan saya Nona.” Melissa menghembuskan nafas lalu berhenti.


“Apa kau benar-benar tidak sengaja menabraknya? Itu seperti dilakukan berkali-kali Jack, sepeda itu hancur.”


“Saya tidak bermaksud.”


“Apa yang harus aku katakan pada Peter sekarang?”


“Nona, saya benar-benar tidak ada niat untuk merusak sepeda itu, saya hanya diperintahkan.”


“Maksudmu?” Melissa menatap dengan tajam, sedangkan Jack mulai gelagapan karena telah salah bicara.


“Sa-saya di-” Melissa tersenyum kecut.


“Aku tau. Pamankah yang menyuruhmu melakukannya?” Jack mengangguk reflex lalu seketika menggeleng.


“Tidak perlu menutupinya, aku mengerti sekarang. Aku tidak ingin pulang dulu jadi kumohon tinggalkan aku sendiri.”


“Nona, Tuan akan marah jika saya meninggalkan Nona sendirian,” ucap Jack dengan nada memohon.


“Kalau kau mengikutiku, aku tidak akan memaafkanmu.” Melissa melanjutkan langkahnya. Ia merutuk kesal di dalam hati, apa salahnya membawa sebuah sepeda? Kenapa Jeon Jonas harus memerintahkan Jack menghancurkan sepedanya?


Ia memutuskan memanggil Peter lewat ponselnya, namun nomor Peter tidak dapat dihubungi. Melissa tidak punya pilihan selain harus berkeliling demi menghindari Jeon Jonas.


Pukul delapan malam, Melissa masih setia berjalan kaki di luar, ia bahkan tidak tau ini di mana. Ia tetap melangkah sampai sebuah suara gemerisik merusak fokusnya. Melissa menghela nafas, sejak tadi ia bahkan sudah merasakan kehadiran orang lain di dekatnya, namun tidak ambil pusing.


“Ketahuan rupanya,” sahut wanita itu membuka topeng hitamnya. Sesaat perhatian Melissa terfokus kepada wanita berambut blonde sebahu lengkap dengan kalung motif tengkorak di lehernya.


“Kenapa kau mengikutiku?” tanya Melissa dengan menaikkan alis.


“Itu pekerjaanku, dan ternyata kau cukup pintar merasakan keberadaanku. Jeon Jonas benar, aku harus berhati-hati,” gumam wanita itu di kalimat terakhir.


“Aku sudah mengikutimu sejak kau memasuki sekolah.” Wanita itu mengaku.


“Kau masuk ke sekolah?”


“Well, berarti kau tidak menyadarinya saat itu, aku tidak sepenuhnya kalah.”


“Mari buat kesepakatan, jangan beritahu Jeon Jonas kalau aku ketahuan telah mengikutimu, dan aku akan membebaskanmu melakukan apa saja. Aku akan tetap menjagamu, tapi tidak seketat pengawal lainnya, kujaga kau seperti temanku,” sambung wanita itu.


“Bukankah lebih mudah jika aku menelepon Paman sekarang? Kau tidak akan bekerja dan aku tidak akan dikawal, bukan begitu?”


“Aku akan dipenggal gadis kecil! Pikirkan juga nyawaku!”


“Mari berteman, aku Rosie.” Wanita bernama Rosie itu mengulurkan tangan lalu memberi senyuman.


“Melissa.”


“Berteman?” tanya Rosie. Melissa berpikir sejenak lalu mengangguk. Rosie tersenyum lebar, setidaknya jangan sampai Jeon Jonas tahu kalau mereka sepakat untuk berbohong.


***


Bunyi klakson mobil terdengar dari bawah. Melissa baru saja selesai mandi, ia mengintip dari balkon, bukan mobil Jeon Jonas yang ada di sana. Melainkan mobil Hans. Melissa masuk kembali ke dalam kamar lalu duduk di depan meja rias.


Duk Duk


Suara ketukan pintu mengintrupsi Melissa dari kegiatannya, ia menyahut, mempersilahkan orang itu masuk.


“Nona, ada Hans di bawah, Nona bisa keluar sebentar?” tanya Enna.


“Ya, aku akan turun.”


“Terimakasih Nona.”


Melissa beranjak, menuruni undakan tangga lalu menemui Hans yang tengah duduk di ruang tamu.


“Hei, sweetie..” Hans menyapa sembari tersenyum.


“Apa kau sedang sibuk?” tanya Hans. Melissa menggeleng pelan.


“Tidak Paman.”


“Bagaimana sekolahmu? Menarik?” Melissa mengangguk lalu duduk di depan Hans.


“Cukup menarik, aku sudah punya teman.” Hans tersenyum senang lalu mengusap lembut puncak kepala Melissa.


“Itu kabar baik. Kau sudah makan?”


“Belum, aku akan makan sebentar lagi. Kenapa Paman datang ke sini?”


“Kau tidak menyukai keberadaanku? Oh itu menyakitiku..”


“Bukan seperti itu, tapi Paman tidak pernah berkunjung seperti ini sebelumnya. Aku lebih sering melihat Paman Ben.”


“Kalau begitu aku juga akan sering ke sini, tidak apa bukan?”


“Kupikir lebih baik Paman yang sering di sini daripada Paman Ben,” Hans terkekeh pelan.


“Tidak menyukai Ben?” tanyanya.


“Paman Ben menyeramkan, kami juga terlalu canggung.”


“Kabar baiknya, Ben tidak akan ke sini selama beberapa waktu, aku yang akan menggantikannya.”


Tentu saja Ben tidak akan datang, karena perkelahian mereka dengan kelompok Mattow, Ben cedera parah, kelompok Mattow begitu bersemangat memukulinya. Ben menangkis dengan baik, namun lagi-lagi anak buah Mattow bukan orang biasa, mereka punya kemampuan bela diri yang bagus.


Sedangkan Jeon Jonas hanya cedera biasa, banyak anak buah yang melindunginya.


“Bagaimana kalau kita makan bersama?” tawar Hans. Melissa berpikir sejenak, Jeon Jonas tidak di rumah, biasanya pria itu yang akan mengajaknya makan bersama. Meski menyimpan rasa kesal, ia tetap saja memikirkannya.


“Paman Jeon di mana?” tanyanya kemudian.


“Dia sedang ada urusan. Dia baik-baik saja tidak perlu khawatir.”


“Aku tidak khawatir,” gerutu Melissa dengan bibir mengerucut.


“Hei, kenapa cemberut seperti itu..” Hans bertanya dengan senyum geli.


“Dia merusak sepedaku Paman, aku kesal padanya.”


“Akan aku belikan sepeda baru, bagaimana?” Melissa menggeleng.


“Tidak, sepeda itu pemberian Peter, Peter juga tidak akan menerima jika kukembalikan dengan yang baru.” Hans mendesah pelan. Sekarang ia tahu mengapa Jeon Jonas merusak sepeda gadis itu.


“Kalau begitu kita makan saja dulu, perutmu tidak boleh kosong. Mengenai sepeda, aku akan membantumu menjelaskannya pada temanmu.”


“Bagaimana kalau Peter marah?” tanya Melissa mulai panik.


“Aku jamin tidak. Percaya padaku.” Melissa mengangguk pelan lalu mengikuti Hans duduk di ruang makan.


‘Ya Tuhan dia menggemaskan.’


Hans memperhatikan Melissa mengunyah daging dari piringnya, wajahnya mengembung karena penuh. Merasa gemas, Hans membawa jarinya menarik pipi Melissa lalu berakhir dengan kecupan di rambut.


Hans tersenyum lebar. Tidak ada Jeon Jonas malam ini.


***


Pagi ini, saat akan berangkat ke sekolah, Melissa melihat mobil Hans dan Jeon Jonas memasuki pekarangan rumah. Semalam setelah menyelesaikan makan malam dan memastikan Melissa tidur, Hans segera pergi untuk menemui Jeon Jonas, mengobati luka anak buah yang lain lalu membuat rencana untuk menyerang kelompok Mattow di lain waktu.


Jeon Jonas dan Hans keluar bersamaan dari mobil masing-masing. Jeon Jonas berdiri di depan mobil, mengunci pandangannya pada gadis berseragam di hadapannya.


“Pinky..” Jeon Jonas memanggil dengan suara parau. Ia haus, haus akan kebutuhannya mendekap tubuh Melissa.


“Kemari Pinky..” Jeon Jonas merentangkan tangan, menyuruh Melissa agar segera berada dalam pelukannya yang hangat.


Melissa perlahan mendekat, ia melangkah sejajar dengan tubuh tegap Jeon Jonas.


Jeon Jonas senang saat aroma manis Melissa mulai memenuhi penciumannya, namun ketika gadis itu bergeser ke samping dan tak lagi menatap, Jeon Jonas menggeram.


Melissa tidak datang padanya, melainkan beranjak mendekati Hans dan memeluk tubuhnya.