HOT GUY

HOT GUY
[32]



Vote please.. Sedih aja yang vote sedikit, padahal ceritanya selalu diupdate banyak, apa seburuk itu?


Jeon Jonas menarik sudut bibir tatkala menangkap kepalan tangan gadis itu menggenggam pedangnya, pedang JJ, pedang pemberian Jeon Jonas. Gadis itu membawa dan menyimpannya bertahun-tahun. Dapat Jeon Jonas simpulkan bahwa gadis itu masih belum melupakannya. Tapi sesuatu menyentaknya. Jeon Jonas baru sadar dengan perubahan Melissa, penampilannya yang lebih dewasa, cara berpakaiannya yang seksi, lekuk tubuhnya. Gadis itu telah tumbuh, ini yang ditunggu-tunggu Jeon Jonas selama ini.


Tapi, ini yang mengganggu Jeon Jonas sejak tadi. Melissa, matanya menjadi lebih dingin dari saat mereka pertama bertemu, ini bukan gadis yang Jeon Jonas ingat. Melissa telah menjadi gadis yang lebih berani, pandai mengambil ekspresi dan terburuknya gadis itu telah membuat jarak yang tak dapat Jeon Jonas hentikan detik ini. Melissa telah hilang digantikan dengan wanita dewasa yang akan melawan tegas ketika diintimidasi.


“Pinky..”


“Menjauh.” Melissa mengacungkan pisaunya, hanya itu yang bisa ia lakukan ketika kakinya bahkan sulit untuk menopang badan. Pria itu masih sepanas waktu itu, ototnya, rahangnya, hidungnya, matanya. Terlalu panas sehingga Melissa yang berusaha mati-matian untuk berdiri tegap malah harus mengumpati diri karena menjadi selemah jelly.


“Bagaimanapun dirimu sekarang, aku selalu mengenalmu. Bahkan ketika kau bertindak jauh untuk menutupi.” Melissa merintih dalam pikirannya, ia benci ketika pria itu selalu dengan mudah membacanya. Setelah bertahun-tahun ia berusaha, Jeon Jonas tetap mengenal gelagatnya dengan baik.


Pria itu mendekat, ingin segera melupakan segala kewarasannya dengan menciumi gadis itu sekarang juga. Akan tetapi, Melissa selalu membuat jarak, menolak semuanya.


“Aku benci kau menghalangiku untuk merengkuhmu, Pinky..” Melissa tidak tahu ini baik atau justru buruk, raganya seakan tersentak setiap kali panggilan itu terdengar. Ia tahu dirinya merindukan bagaimana Jeon Jonas memperlakukannya.


Jeon Jonas mengerang kasar, sudah tidak mampu lagi untuk menahan diri menghempas gadis itu ke dalam pelukannya. Ia mendesah saat tubuh mereka akhirnya saling melega karena bersatu, Jeon Jonas rindu gadis ini, sangat rindu tubuh ini. Jeon Jonas sangat merindukannya. Dan Melissa benci menemukan dirinya hanya terpaku dan menegang dengan cara yang memalukan.


“I miss you Pinky, I miss you so much.” Sangat lirih. Jeon Jonas tidak punya kekuatan untuk mengatakan lebih. Ia hanya bernapas lega berkali-kali, sangat bersyukur karena pada akhirnya Tuhan tidak mengutuknya lagi.


Tapi belum lama mereka saling melepas rindu, ponsel Melissa berbunyi menginterupsi. Gadis itu cepat-cepat mengurai pelukan, dan menaruh ponselnya di telinga.


“Magg..”


“Kau masih di sana kan?”


“Ya, aku menunggumu sejak tadi.”


“Ya Tuhan, maafkan aku. Ban mobilnya belum selesai, kami pikir hanya ban depan yang bocor ternyata ban belakang juga. Aku yakin ada yang sengaja menabur paku di sana. Sialan! Bisa tunggu sebentar lagi Mel?”


Melissa melirik pria yang saat ini memperhatikannya terang-terangan. Melissa harus di sini lebih lama? Dengan pria itu? kesialan macam apa lagi ini!


“Magg, kurasa…aku akan pulang lebih dulu. Aku akan memberitahu-”


“Tidak! Tidak Melissa,” sela Maggie. “Ini hanya lima belas menit, tunggu. Okay?”


“Baiklah.”


“Aku akan marah kalau kau keluyuran.”


“Iya, ya Tuhan..” Maggie terkekeh lantas mengakhiri panggilan.


Melissa beranjak, memilih duduk di sebuah tempat duduk panjang yang dicat dengan warna putih, berusaha acuh pada pria yang kini melangkah mendekatinya. Saat sentuhan ringan jatuh pada pipinya, ia mendongak. Terkejut karena wajah pria itu sangat dekat dengannya.


Melissa gelagapan, sementara Jeon Jonas sebenarnya hanya ingin mengamati lebih jelas mengenai semua yang menempel di kepala gadis itu. Pipinya yang merona nyata ditambah dengan blush on peach, lentik bulu matanya yang kini lebih dilentikkan dengan bantuan mascara, bibirnya yang merah, lebih merah dibanding yang pernah ia ingat. Pada akhirnya jari Jeon Jonas menempel di sana, menyapukan jarinya di garis bibir gadis itu, memastikan itu asli atau seperti yang lain.


Dan benar, bibir itu memang menjadi lebih merah, tetapi gadis itu memolesnya dengan lebih tajam, sehingga kepolosannya tertutupi. Jeon Jonas tersenyum saat mengetahuinya. Melissa mungkin ingin terlihat lebih dewasa, sehingga orang akan terkecoh dengan penampilan barunya, tapi Jeon Jonas berbeda, ia sangat mengenali gadis itu.


“Melissa!” Melissa cepat-cepat bangkit saat Maggie memanggil. Maggie terkesiap saat melihat Jeon Jonas di sana.


“Magg..”


“D-dia..” Melissa menariknya menjauh. Bergegas menuju Jeongin yang menunggu di dalam mobil. Sementara Jeon Jonas hanya melihat dari jauh.


“Kapan? Kenapa dia ada di sini? Kalian bicara?” Maggie langsung bertanya banyak ketika akhirnya mereka duduk di dalam mobil.


“Ayo bicarakan ini di hotel.” Maggie mengangguk, meluruskan tatapannya pada Jeon Jonas yang berdiri di luar gedung.


***


Tidak ada waktu untuk diam, Maggie langsung mengajaknya bicara setelah mereka sampai di hotel. Melissa menembuskan napas berat, sulit membicarakan sesuatu ketika ini menyangkut Jeon Jonas, pria yang menghilang selama bertahun-tahun lalu muncul seperti hantu.


“Dia menciummu? Warna bibirmu berantakan.” Melissa mengusap bibirnya, jejak sentuhan lembut Jeon Jonas masih belum hilang, meski jari itu telah jauh dari jangkauan.


“Tidak.”


“Lalu apa yang terjadi? Dia muncul tiba-tiba seperti itu.”


“Aku tidak tau kenapa dia ada di sana, tapi dia langsung memelukku, aku bahkan menusuknya.”


“Menusuknya?”


Menusuknya? Melissa menusuknya. Lengan pria itu berdarah. Apakah ia baik-baik saja?



“Lalu lalu?”


“Kami tidak bicara banyak.” Tapi efeknya kuar biasa.


“Dia tidak jelaskan kenapa dia menghilang? Kenapa dia ada di sana dan kenapa memelukmu tiba-tiba?” Melissa menggeleng.


“Si be**ngsek itu..”


“Aku yakin dia akan menemuimu lagi, aku yakin itu,” lanjut Maggie menggeser posisi duduknya.


“Magg..” Maggie tercenung saat melihat raut wajah Melissa menjadi murung.


“Apa yang harus aku lakukan? Aku belum bisa melupakannya, aku bahkan khawatir karena telah menusuknya.”


“Mel, setelah bertahun-tahun, kau masih berharap?” Maggie menarik napas. “Kau masih mencintainya?


Saat mata Melissa menjadi berair dan basah, Maggie menyimpulkan kesederhanaan itu bahwa Jeon Jonas masih segalanya.


“Bagaimana dengan Hans?” Melissa menggeleng, mengusap air matanya.


“Aku hanya menganggapnya sebatas paman.”


“Lihat, ingat ketulusannya selama ini Mel, dia selalu ada bersamamu. Sedangkan Jeon Jonas, dia pergi, dia menghilang saat kau butuh, apa lagi yang kau harapkan? Kau harus membuka hatimu pada orang baru.”


“Magg, sulit melakukannya. Setelah semua ini, aku pikir aku lebih baik sendiri. Seperti dulu, tidak ada yang menyakitiku, tidak ada yang melukaiku, tidak ada yang mengangkatku tinggi-tinggi lalu pergi.”


“Kau tau Magg, ketika kau mengenal cinta. Kau memang akan merasakan ini. Kecewa, sakit hati, putus asa, cemas dan sebagainya. Tapi, bukan berarti kau harus berhenti dan berusaha enyah dari semuanya. Sebaliknya, kau harus mencari sesuatu yang baru, belajar untuk menemukan ketenangan yang baru saat yang lama telah pergi. Mungkin bukan Hans, tapi orang lain? Ijinkan orang lain masuk, jangan mengunci hatimu terlalu lama.”


Aku tidak menguncinya, itu memang tertutup. Dan Jeon Jonas adalah kuncinya.


“Baiklah, tenangkan pikiranmu. Aku hanya berharap kau menemukan yang terbaik, hanya kau yang bisa menentukannya, Mel. Jeongin menunggu di bawah, aku akan tidur di rumah sepupunya. Gunakan waktu sendirimu dengan baik, okay?”


Melissa mengangguk. “Thanks, Magg.” Maggie menepuk bahunya, lantas membiatkan Melissa sendiri.


***


Tiga puluh menit yang lalu, Jeon Jonas melihat Maggie keluar dari dalam hotel, masuk ke dalam sebuah mobil dan pergi tanpa Melissa. Kedatangan Ben dari dalam hotel dan menunjukkan sebuah kartu membuatnya tersenyum senang.


“Apa yang kau katakan pada wanita itu?” Ben tersenyum samar.


“Tidur bersama.” Jeon Jonas tertawa.


“Aku akan memberimu bonus, Ben.” Jeon Jonas membuang puntung rokoknya lantas masuk ke dalam hotel. Sementara Ben hanya bisa menghela napas, jika saja ia seberuntung Jeon Jonas, mendapatkan hati Melissa dan dicintai gadis itu, seandainya…Ben tidak ingin berandai-andai lebih jauh, sebab Hans yang terlalu berambisi untuk mendapatkan gadis itu telah menjadi mayat dengan keadaan gosong.


Jeon Jonas menempelkan kartu akses masuk yang didapatkan Ben dengan ganti harus merelakan tubuhnya menjadi santapan wanita pemegang kartu tersebut. Jantungnya bertalu-talu, gila. Saat akhirnya pintu itu terbuka, Jeon Jonas mendapati keheningan, tidak melihat Melissa di manapun.


Tapi jawaban akhirnya ia dapatkan saat mendengar aliran air dari kamar mandi, Jeon Jonas membeku ketika menemukan gadis itu, memperhatikan siluet tubuh indahnya dari dinding kaca putih buram.


Siapa orang yang pertama kali menciptakan dinding kaca seperti itu? Jeon Jonas mengumpat saat dirinya mengeras. Ia cepat-cepat menguasai diri, mennyalakan rokok lalu menghisapnya pelan-pelan, sesuatu harus mengalihkan pikiran liarnya. Ia mendudukkan diri di atas ranjang, merokok dan memperhatikan tubuh itu masih sibuk membelai tubuhnya. Mata Jeon Jonas tidak dapat mengalihkan fokus, apalagi saat membayangkan bagaimana jika ia juga berada di sana, melihatnya secara langsung lalu menyentuh semuanya. Oh tidak, pikiran sialan!


Melissa Kyle. Meski tidak secara langsung, Jeon Jonas dapat melihat lekukan tubuh yang tumbuh itu, besar dan padat. Jeon Jonas menggigit bibir, seolah yang sedang ia gigit adalah gadis itu. Dan tenggorokannya menjadi lebih kering, Jeon Jonas butuh gadis itu sekarang juga.


“AAAAAA!!!!” Tentu saja gadis itu berteriak, apalagi dengan santainya Jeon Jonas hanya memandanginya yang sedang membelalak seraya memegangi handuk.


“Paman!!” Jeon Jonas terkekeh mendengarnya, entah kenapa senang saja saat panggilan paman itu terlontar.


“Ya, honey?”


“A-a-apa yang kau lakukan di sini?!”


“Uncle,” ralat Jeon Jonas.


Melissa masih belum bisa tenang. Alih-alih pergi, Jeon Jonas malah mendekat, membuatnya mundur karena pria itu membuang asap rokoknya tepat di samping telinga Melissa.


“You’re so sexy.”


Melissa membeku, napasnya tersengal saat tangan besar itu menyentuh telinganya yang masih basah, mengecupnya dan membisikkan sesuatu yang tidak dapat Melissa dengar dengan jelas. Tapi, dunia seolah berhenti berputar. Terutama ketika pria itu menatapnya sendu, menangkup rahangnya lalu tersenyum penuh arti.


“I miss you.”