HOT GUY

HOT GUY
[27]



Ini akhir pekan, Melissa membebaskan dirinya di rumah, menulis, bercerita dengan Enna lalu terakhir mencoba menghabiskan waktunya dengan Jeon Jonas yang semalam ternyata tidak tidur di rumah. Melissa tidak mau berpikir buruk tapi semenjak Stephanie mengatakan bahwa Jeon Jonas selalu datang padanya setiap malam, pikiran Melissa dipenuhi banyak tanya.


Apa Jeon Jonas memang dekat dengan Stephanie?


Apa benar bahwa Jeon Jonas selalu datang pada Stephanie setiap malam?


Apa semalam Jeon Jonas menginap di rumahnya?


Dan pikirannya semakin memburuk tatkala Jeon Jonas kembali ke rumah dengan Stephanie yang mengekor di belakang.


Wanita berias tebal itu melirik Melissa dengan senyuman mengejek lalu merangkul Jeon Jonas dengan manja.


“Paman.”


Jeon Jonas berhenti melangkah, ia mengusap wajahnya yang sama lelahnya seperti kemarin.


“Dia butuh istirahat,” ucap Stephanie.


“Aku akan mengantar Paman ke kamar.” Melissa menarik tangan Jeon Jonas.


“Tidak, dia bersamaku.” Stephanie melotot.


“Tidak, Paman bersamaku. Ini bukan rumahmu.” Melissa memelototi balik.


“Lepaskan tanganku Stephanie.” Jeon Jonas akhirnya buka suara.


“Jeon, kau membelanya?” Stephanie menunjuk sarkas wajah Melissa, dan saat Jeon Jonas malah menggeram alih-alih menjawab, Stephanie mengejek Melissa dengan terang-terangan.


“Apa yang kau lihat dari dia? dia hanya gadis kecil yang tidak punya pengalaman, dia ***** dan buruk rupa.”


Tanpa diduga siapapun, Melissa melayangkan tangannya memberi tamparan. Jeon Jonas terkejut.


“Kau menamparku!!” Stephanie akan menampar Melissa, tapi Jeon Jonas segera memerangkap wanita itu di dinding, menekan lehernya hingga wanita itu kesulitan untuk bernapas.


“J-Jeon..”


“Kembali ke kamarmu.” Jeon Jonas melirik Melissa. Gadis itu bergeming, masih ingin melihat kesakitan Stephanie.


“Kembali ke kamarmu!” Melissa tersentak, ia mengepalkan tangan lantas berlari ke kamarnya.


Sekembalinya Melissa ke kamarnya, tekanan di leher Stephanie dilepas, pria itu mendorongnya ke samping.


“Akan kupotong tanganmu jika berani menyakitinya.”


“Dia menamparku lebih dulu!”


“Kau pantas mendapatkannya.”


“Sekarang keluar.” Jeon Jonas menunjuk pintu dengan tatapan tajam.


“Jeon maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi..”


“Keluar Stephanie!”


“Tapi aku masih bisa menemuimu lagi kan? Kau tetap membutuhkanku kan?”


“Keluar!!”


Staphanie tersentak, ia kemudian cepat-cepat pergi dari kediaman Jeon Jonas.


***


Jeon Jonas di sana, mengintip Melissa tengah memasang wajah muram sembari memeluk belasan boneka simba. Tidak ingin gadis itu berpikiran macam-macam, ia akhirnya membawa kaki-kakinya melangkah masuk. Melissa mendongak, memalingkan wajah, bukan hal yang Jeon Jonas duga sama sekali. Tanpa bicara Jeon Jonas menggantikan boneka simba di pelukan gadis itu menjadi tubuhnya, akan tetapi Melissa menolak. Setelah membawa wanita lain ke rumah, bagaimana bisa pria itu bertindak seolah itu bukan apa-apa.


“Paman, pergi!”


“Pinky..”


“Jangan menyentuhku!” Melissa meronta ketika Jeon Jonas nyaris berhasil memeluknya.


“I have to!.. aku harus menyentuhmu sebelum aku benar-benar gila.”


Melissa berusaha keras agar cairan bening itu tidak merembes keluar, tapi nyatanya itu sudah jatuh, bahkan sebelum ia sempat mengerjap.


“Aku benci Paman.” Jeon Jonas nyaris sulit bernapas, ada pecahan kaca yang melesak hebat ke dalam jantungnya, mengoyaknya dengan bertubi-tubi, pelukannya mengetat.


“Aku pantas untuk itu.”


Melissa mendorongnya dengan keras, gadis itu mengambil belasan boneka simbanya sebagai pertahanan, sebagai pembatas, sebagai sesuatu yang kuat agar Jeon Jonas tidak menyentuhnya.


Mustahil itu berhasil, sebab Jeon Jonas bahkan bisa merobohkan sebuah gedung jika ia mau. Tapi tidak ia lakukan, Jeon Jonas tahu ia harus mengalah. Ia menatap gadis itu lekat, dan menemukan kekecewaan yang semakin kentara di sana.


Melissa kesal pada pria itu, tapi tidak sanggup membenci, level kesalnya hanya mampu mencapai titik marah, ia hanya butuh sebuah penjelasan agar rasa kesal itu menguap dengan cepat. Tapi alih-alih mendapatkan sebuah penjelasan, pria itu hanya menatapnya dengan waktu yang lama, berdiri dan menghilang di balik pintu. Tidak ada kata-kata yang ia dengar selain kata bahwa Jeon Jonas pantas untuk dibenci, Jeon Jonas adalah pengecut.


Melissa akhirnya sesunggukan.


Sebab semua orang tahu, ditinggalkan tanpa sebuah penjelasan adalah garam di atas luka. Perih, sakit dan begitu menyesakkan.


***


Keributan semakin sering terjadi, semua tahu bahwa Bernard adalah orang yang menciptakannya. Seorang wanita meraung ketika tangannya diseret paksa hingga ia harus merasakan perih di bawah perutnya. Istri Merlan. Ia harus menghadapi semuanya sendirian ketika Merlan telah mati.


“Bunuh saja saya Tuan!” Istri Merlan bersimpuh.


“Kau tidak boleh mati sebelum membayar hutang-hutangmu.”


“Saya sudah membayarnya Tuan, saya sudah membayarnya.” Bernard terkekeh panjang, diikuti anak buahnya yang tertawa tanpa alasan.


“Ya, itu benar. Tapi kau lupa kalau setiap yang berhutang padaku harus membayar bunga sebanyak tiga kali lipat, atau kau mau membayarnya dengan tubuhmu?” Bernard menyentuh dagu wanita itu dengan lembut.


“Aku senang menjual bagian dalam, jantungmu mungkin masih bagus. Kau ingin mati bukan?” Bernard menaikkan tangan kanannya, yang segera diisi Brian dengan pisau.


“Maka matilah!” Darah menyiprat, Bernard tertawa tatkala istri Merlan tersedak darahnya sendiri. Pria itu tertawa, masih menusuk-nusuk sampai puas.


“Astaga, aku lupa jantungnya..” Bernard memasang wajah sedih karena sekarang tubuh wanita itu habis tercabik-cabik. Ia kemudian berdiri, menjilat pisaunya lantas memberikannya pada Brian.


“Karena dia sudah membayar hutangnya, dia harus dikubur dengan layak, bersama pisau itu. Dan pastikan mencatat sisa bunga yang harus dia bayar, taruh di dalam kuburannya, dia harus mengingatnya bahkan setelah dia mati.”


Bernard tersenyum tipis saat melihat anak buahnya bergegas mengangkat jasad itu, ia kemudian menatap Brian yang selalu berdiri di dekatnya.


“Kau sudah melakukan yang kuminta?”


“Sudah Bos. Semuanya. Seperti yang Bos inginkan.”


“Bagus. Jeon Jonas harus merasa terancam, dan saat itu pula kita akan menyerang.”


Di tempat dan waktu yang berbeda, Jeon Jonas terperanjat tatkala menemukan Stephanie tergeletak tanpa busana di depan markasnya. Wanita itu mati tertembak di kepala dan betis, sementara tangannya tersayat-sayat, diukir dengan nama Bernard.


Jeon Jonas masih tenang, bahkan tidak berekspresi. Ia melangkahi Stephanie lantas masuk ke dalam markas diikuti para anak buahnya.


“Bagaimana dengan mayat itu Bos?” Ben bertanya.


“Buang.”


“Kita tidak menguburnya?” Ben berhenti melangkah ketika Jeon Jonas menatapnya dengan raut wajah berbeda.


“Baik Bos.”


“Di mana Hans?” Jeon Jonas duduk di single sofa. Sementara para anak buahnya berdiri dengan kepala menunduk. Ia menarik laci, mengambil rokok lalu dinyalakan untuk kemudian ia hisap dan mengembuskan asapnya ke udara.


“Sedang melakukan pengintaian Bos.”


“Apa yang dia dapat? Dia tidak datang padaku.”


“Hans juga tidak menelepon ke markas Bos. Terakhir kali dia mengatakan kalau kelompok Mattow sudah siap untuk menyerang.


“Senjata apa saja yang kita punya? Keluarkan semuanya. Kita akan menyerang lebih dulu.”


“Baik Bos.”


“Apa hanya Hans yang mengintai di sana? Di mana yang lain?”


“Maaf Bos. Tapi Hans mengatakan kalau pengintaian tidak perlu dilakukan berkelompok, dia ingin melakukannya sendiri.”


Jeon Jonas menghisap rokoknya kembali, menatap lurus-lurus ke depan lalu mengembuskan asap rokoknya, ia lakukan berulang-ulang sampai rokoknya habis terbakar.


“Kita akan menyerang malam ini, jika Hans menelepon, katakan bahwa kita akan datang. Kirim yang lain, kita membutuhkan beberapa orang untuk mengirim informasi.”


“Baik Bos!”


***


Tidak ada yang tahu apa yang Melissa inginkan saat ini. Gadis itu hanya diam, tak ada suara apapun yang mengisi kamarnya. Ia menatap tajam langit-langit, berperang dengan pikirannya sendiri bahwa ia harus pergi, tapi lagi-lagi lawan pikiran adalah hati. Hati Melissa menginginkan tetap tinggal, diam dan bersabar. Ia meremas seprai, semenjak mengenal senjata tajam, jiwa asingnya keluar, bahkan tanpa sadar pernah terlintas di benaknya untuk membunuh Stephanie.


Hanya karena ia marah, dan hanya itu yang ia pikirkan.


Sore ini ia akhirnya memutuskan turun dengan tasnya yang berisi pakaian, memutuskan menginap di rumah Maggie atau Ava. Tapi pria itu datang, menatap tajam tas besarnya seperti laser.


“Apa yang kau rencanakan?”


“Tidak ada.”


Secepat itu tas Melissa telah berada di punggung Jeon Jonas, pria itu menatapnya dengan alis tinggi mencuat, seakan-akan alis itu bisa mengejek Melissa, bahwa gadis itu tidak akan bisa ke mana-mana.


“Jangan pergi.”


Melissa meremas pakaiannya, melawan Jeon Jonas dengan mata yang ia usahakan terbuka lebar.


“Aku akan pergi.”


“Jangan pergi.”


Melissa menggigit bibir. Dua kata datar namun dingin itu berhasil membiusnya, tapi bius itu hanya bertahan beberapa detik, sebab ia akhirnya lari menuruni tangga, ia bergidik saat mengetahui Jeon Jonas juga berlari, menangkapnya dengan mudah dan ia digendong kembali ke dalam kamarnya.


“Lepas!”


“Tetap di sisiku Pinky, tetap di sisiku.”


“Kenapa aku harus tetap di sisi Paman sementara Paman sendiri pergi dengan wanita lain? Kenapa?”


“Karena aku tidak bisa hidup tanpamu. Kau sudah mengambil semuanya Melissa, dan aku tidak pernah berdaya tanpamu, tidak pernah.”


Melissa merutuki bola matanya yang begitu mudah basah, sementara ia sudah sekuat tenaga memaksa diri untuk terlihat tegar.


Jeon Jonas menaruh tangan gadis itu di dada kirinya.


“Aku tidak tau sampai kapan ini berdetak, tapi tetaplah mencintaiku.”


***


Semua terjadi ketika Bernard tengah mengadakan pesta champagne dengan semua rekan dan anak buahnya, merayakan pendapatan mereka yang melunjak, dan kemenangan yang diangan-angankan mereka saat akan menyerang geng Jeon Jonas yang tak memiliki nama. Nyatanya mereka diserang lebih dulu, puluhan pria berpakaian hitam datang mendobrak pintu dan jendela, menembak bertubi-tubi, menyerbu dengan adrenalin tinggi. Kelompok Bernard segera menyingkirkan tawa dengan memasang posisi siaga, dengan cekatan mereka melompat menarik banyak kayu, palu, pisau, senapan, semua benda yang bisa dijadikan untuk perlindungan.


Tetapi banyak yang terlambat untuk mengamankan diri, ketika anak buah Jeon Jonas berhasil membobol pintu, belasan anak buah Bernard telah habis tertembak dan terjatuh ke lantai dengan tubuh memerah, berdarah. Bernard kalap, ia melempar pisau saat matanya mendapati anak buah Jeon Jonas hendak menebas kepalanya, secepat itu pria itu ambruk, pisau Bernard berhasil menembus kepalanya.


Bernard menjauh, menyudutkan diri ke kegelapan, dan ia tidak berhasil bersembunyi sebab sepasang mata menemukannya. Jeon Jonas di sana, membawa senapan panjang dengan amunisi penuh, sama-sama berambisi saling menghabisi. Akhirnya Bernard keluar tatkala sebuah peluru terbang dan berhasil melubangi dinding. Ia terkekeh, melempar senapannya ketika Jeon Jonas juga melakukannya. Sebagai pria jantan, ia menggunakan tangan kosong,berlari meninju Jeon Jonas yang ternyata tidak berhasil dengan baik.


Jeon Jonas masih setenang itu, menepis setiap serangan yang datang padanya tanpa ekspresi, berbeda dengan Bernard yang akan selalu berteriak setiap bergerak. Pada detik berikutnya, Bernard telah berlutut meraih senapannya. Ia menembak Jeon Jonas dengan senyuman miring, tapi Ben melompat dengan cepat, mengorbankan kakinya menjadi sasaran peluru.


Bernard melompat dari bangku ke bangku, ia kembali menyembunyikan diri. Kemudian Brian datang, melawan Ben dengan dua pisau di tangannya, berhasil menyayat tangan Ben dan membuang pistol di tangannya.


“Jangan jadi pengecut Ben, serang aku layaknya pria jantan!”


Sementara Jeon Jonas berlari sembari menebas beberapa nyawa dengan mudah, matanya mencari Bernard. Musuh sesungguhnya.


Ketika kelompok Mattow terluka, kelompok Jeon Jonas juga demikian, banyak yang kehilangan nyawa dan mereka bangga telah melakukannya. Bangga sebab akhirnya mereka berjuang melawan musuh, sebab akhirnya mereka menghentakkan senjata menyayat tubuh sang musuh.


“AAA!!!” Tumit Jeon Jonas berputar ketika teriakan itu datang, nyaris saja kepalanya menjadi santapan palu besi. Si pemilik teriakan menggema itu tergeletak pasrah ketika dengan cepat Jeon Jonas menembaknya sebanyak empat kali.


Harusnya mereka tahu, Jeon Jonas bukan lawan yang setimpal. Pria itu terlalu pintar dan cekatan, dan Jeon Jonas hanya ingin segera menghabisi Bernard, orang yang selalu suka mengacau di kehidupannya.


Ketika matanya menemukan Ben tengah membutuhkan bantuan, Jeon Jonas mengurungkan niatnya mencari Bernard, ia melompat dari satu meja ke meja yang lain, memicingkan mata dan Brian berhasil ditembak di bagian kepala.


“Serang yang lain.”


Ben berdiri, ia mengumpat ketika pelurunya habis, ia menarik pedang, meninggalkan Jeon Jonas dengan membantai yang lain.


Darr.


Jeon Jonas membelalak, ia menggeram ketika lengannya tertembak. Bernard muncul dengan tawa, menembak Jeon Jonas untuk kedua kalinya, tapi lagi-lagi pria itu dalam keberuntungan, Hans datang entah dari mana,menembak perut Bernard tanpa jeda, memancing mata anak buah Bernard sebab Bosnya dalam masalah, Hans segera dikepung sementara Bernard dengan sigap dibawa ke tempat aman.


Ketika suara deru mobil terdengar, Jeon Jonas tahu Bernard sedang berencana untuk kabur, ia segera berlari ke luar, menembak semua badan mobil itu berkali-kali tapi akhirnya hilang dari pandangannya.


Jeon Jonas meludah, ia menekan lukanya, mengoyak lengan bajunya dengan gigi, mengikatnya dengan kencang lalu kembali ke dalam.


“Bos, Hans tertangkap! Mereka membawanya!” Ben datang dengan napas terengah.


Jeon Jonas mengedarkan pandangannya, pada akhirnya memerintah anak buahnya untuk mundur, tidak ada gunanya bertarung tanpa ketua geng Mattow. Perihal hilangnya Hans, Jeon Jonas tahu pria itu pandai dalam menjaga diri.


“Kita lanjutkan lain kali, bawa yang terluka ke markas.”


“Bagaimana dengan Bos?” tanya Ben. “Bos kembali ke rumah?”


“Tidak. Aku bersama kalian ke markas.”


***


Pada akhirnya Melissa memilih tinggal, setelah bersiteru dengan pikirannya yang tidak dapat diajak berkompromi. Pemikiran tentang baiknya Jeon Jonas yang menjaganya selama ini membuat Melissa terenyuh. Bagaimana pria itu menyayanginya, menyanggupi segala keinginannya terlebih lagi menampungnya di rumah itu tanpa meminta imbalan.


“Hei, mempelai..” Lucas mengibaskan tangannya pada Melissa yang mengenakan gaun pengantin.


“Kenapa melamun?” Lucas duduk di samping Melissa, saat ini di kelas mereka sedang sibuk mencoba kostum masing-masing, festival sekolah akan digelar tiga hari lagi, semua yang dibutuhkan untuk perayaan itu sudah disediakan dengan baik, mereka akan membawanya pulang ke rumah masing-masing dan akan dikenakan lagi saat festival diadakan.


“Melissa Kyle, apakah engkau bersedia menjadi istri yang menemaniku hidup dan mati.” Lucas yang tengah memakai tuxedo berwarna putih berjongkok, mengulurkan tangannya pada Melissa.


“Minggir! Minggir! Akan aku beritahukan pada Paman Melissa kalau kau menggodanya.” Ava yang baru saja kembali dari toilet dengan Maggie menjewer telinga Lucas. Pria itu mengaduh kesakitan tapi tidak berani melawan.


“Apa yang kau lamunkan? Pacar dewasamu?” tanya Maggie mengambil bunga mawar, ia selipkan di belakang telinganya.


Melissa menggeleng. “Aku tau itu pasti mengenai dia,” lanjut Maggie. Dan pada akhirnya Melissa mengangguk, lengkungan bibirnya yang cemberut membuat Maggie segera memeluknya.


“Semua laki-laki memang begitu, itu sebabnya aku selalu pilih-pilih pasangan. Mau aku pilihkan pasangan lain untukmu? Aku akan membawamu berkeliling sekolah, akan ada banyak pria yang menyukaimu.”


Terdengar menarik, tapi selera Melissa telah berubah, setidaknya mereka harus seperti Jeon Jonas, dari segi umurnya, cara bicaranya. Harus seperti Jeon Jonas. Persis.


“Kalau kau mencari seperti pacar dewasamu, mustahil kau temukan di sini. Kau harus mengunjungi club.”


“Aku bisa menemanimu ke sana,” tawar Maggie tersenyum tipis.


“Kapan kita ke sana?” Melissa mulai tertarik.


“Jadi kau setuju?” Melissa mengangguk malas.


“Malam ini, kita akan bersenang-senang!”


***


Jack terkejut tatkala melihat Melissa memakai gaun pengantin, ia mengerja-erjap, bertanya-tanya dari mana gaun pengantin itu berasal dan mengapa Melissa memakainya di sekolah.


“Jack..”


“Ah-ya, Nona.” Jack menyengir, akhirnya membuka pintu mobil untuk Melissa.


“Apa Paman sudah kembali?” Jack yang baru saja duduk dan menyalakan mesin mobil menggelengkan kepala.


“Tuan belum kembali.”


Melissa menghela napas, rencananya memberi kejutan pada Jeon Jonas sepertinya tidak berhasil. Ia memilih diam sembari menjatuhkan pandangannya pada jalanan yang lumayan padat. Bertanya lagi pada diri sendiri, mengapa Jeon Jonas berubah?


Sampai di kediaman Jeon Jonas, Melissa bergegas menaiki tangga. Membuka pintu kamar Jeon Jonas yang sepi tanpa pemiliknya. Melissa hanya bisa mencium aroma maskulin pria itu, hanya itu yang tertinggal di sana, dan Melissa mungkin akan gila jika pria itu masih belum ia temukan sampai malam.


“Hei, kenapa kau memakai gaun pengantin?” Enna datang, membawa nampan putih yang ia isi dengan satu mangkuk salad buah.


“Ini, untuk festival akhir sekolah.”


“Ohh, aku pikir Tuan Jeon menikahimu diam-diam,” kekeh Enna.


“Ayo masuk,” ucap Melissa setelah membuka pintu kamarnya. Enna mengekor di belakang.


“Kau terlihat murung, ada masalah di sekolahmu?”


“Tidak. Apa Paman menghubungimu?”


“Jeon Jonas tidak mungkin menghubungi pelayan.”


“Maksudku, menelepon ke telepon rumah.”


“Tidak, ada apa? Kalian bertengkar?”


“Kau tau Enna, aku pikir Paman bosan padaku.”


“Kenapa kau berpikir begitu.”


“Dia berubah, kami sudah tidak seperti dulu lagi. Mungkin hubungan kami akan berakhir, dan aku akan diusir dari sini.”


“Jangan bicara seperti itu, mungkin dia punya urusan. Well, pria dewasa memang sulit ditebak.”


“Aku buatkan salad, kau pasti suka. Tenang saja, Jeon Jonas tidak akan selingkuh.”


Melissa tersenyum simpul. Enna menepuk bahunya lalu pergi membawa nampan.


***


Nyatanya Jeon Jonas tidak kembali, pria itu pergi bahkan setelah Melissa memutuskan tetap tinggal. Jahat adalah kata yang cocok untuk pria itu, menyuruh Melissa untuk tidak pergi sementara ia tidak ada di sisinya. Melissa akan gila, dadanya memanas, meletup-letup dan nyaris meledak, ia menghubungi Jeon Jonas beberapa kali, hingga akhirnya mereka tersambung. Melissa meredakan napas.


“Halo..”


Suara Ben.


“Mana Paman?”


“Bos-dia, kenapa?”


“Paman Jeon di mana?”


“Ada, sedang d-di luar, di toilet.”


Melissa mengepalkan tangan sejak lama, berkeringat.


“Katakan pada Paman kalau aku akan pergi kalau Paman masih tidak ingin kembali.”


“Huh?”


“Mana Paman?”


“D-di toilet.”


“Aku akan pergi dengan Maggie! Aku akan ke club!”


Melissa meremas ponsel setelah mematikannya. Amarahnya meluap, Jeon Jonas harus tahu bahwa bukan hanya ia yang bisa pergi, Melissa juga.


***


Melissa terperangah, ia belum pernah datang ke tempat seperti ini. Ini gila, mengapa ada wanita yang bersedia bergelantungan di tiang itu dengan pakaian terbuka, banyak pria yang melihatnya dengan tatapan lapar, melempar dollar, bahkan menyelipkannya pada pakaian wanita itu.


Oke. Melissa tidak ingin melihat itu.


Di sudut itu, di sudut sana, di sudut yang lain, ada banyak pasangan yang bercumbu tanpa merasa malu.


Melissa mendesah. Jangan dilihat. Jangan dilihat.


Ia masih menutup telinga seperti pertama kali masuk, sementara Maggie berteriak senang dan menuntunnya ke bar.


“Bagaimana? Sudah mendapat santapanmu?”


“Apa?!” Melissa berteriak, tentu saja tidak mendengar Maggie sementara kedua tangannya masih menutup telinga.


“Aku bilang, sudah mendapat santapanmu?” Maggie bicara kuat sambil menyingkirkan tangan Melissa. “Lihat di sana! Banyak pria dewasa!”


Melissa mengikuti arah jari telunjuk Maggie. Mereka memang pria dewasa, tapi tidak seperti Jeon Jonas. Mereka lebih cocok dikategorikan, pria dewasa mesum.


*Jeon Jonas juga begitu.


Tapi tidak terlalu seperti itu*.


“Kau suka tempatnya? Ini club milik teman ayahku, kita akan aman di sini. Tapi jangan minum, bahaya.”


“Kenapa bahaya?”


“Kadar alkoholnya tinggi, mungkin kau akan mabuk.”


Melissa sudah tidak ingin peduli, alih-alih diam dan menurut, Melissa justru ingin berada dalam bahaya.


“Aku harus mencobanya.”


“Huh?” Maggie membulatkan mata.


“Aku ingin minum!” Sebelum Maggie menjawab, seorang pria yang baru datang dan duduk di samping Melissa, mendorong botol minuman miliknya.


“Ini enak,” ucapnya.


Melissa menatap botol itu lama, hingga akhirnya meneguknya tanpa menuang ke gelas, pria itu terkekeh.


“Melissa! Jangan minum!” Maggie merebut botol itu, mengomel pada Melissa dan akhirnya menyuruh pria itu pergi sebelum Maggie memanggil teman ayahnya.


Melissa mengerutkan dahi, rasanya ingin muntah. Bertanya mengapa ada minuman seperti itu di dunia ini.


Kepalanya berputar, Melissa memeganginya kuat, seolah itu akan copot jika ia tidak melakukannya. Ia mengerjap saat menemukan Maggie ada dua, tiga, empat. Hingga akhirnya kepalanya membentur meja bar.


Ia terkekeh ketika melihat Jeon Jonas di sana.


“Paman..” Melissa mengangkat kedua tangannya ke atas. Ingin Jeon Jonas menggendongnya. Tapi itu bukan Jeon Jonas, Melissa menggeleng. Itu Maggie yang berwujud Jeon Jonas. Detik berikutnya semuanya gelap, Melissa kehilangan kesadaran.