HOT GUY

HOT GUY
[18]



Vote Vote Vote


Melissa masih menguap ketika dirinya bahkan sudah mandi dan mengenakan seragam. Semalam ia menghabiskan banyak waktu di ruangan Jeon Jonas. Mereka bermain game di komputer dan berakhir dengan ucapan selamat malam yang romantis. Jeon Jonas sepertinya memang berusaha membuat gadis itu tetap terjaga, jelas sekali dari caranya tidak membiarkan Melissa pergi dari sana. Dan dengan posisi masih dalam pangkuan, Melissa yang pada dasarnya polos hanya bisa merengek agar dilepaskan. Kemudian Jeon Jonas memberi pilihan yang cukup rumit.


“Tidur di sini, atau tidur di kamarmu tapi bersamaku.”


Melissa tentu saja harus berpikir panjang. Kedua pilihan itu memiliki makna yang sama. Tapi Melissa akan sulit tidur jika degup jantungnya selalu bertalu-talu di dekat pria itu. Jadi dengan sedikit tega, ia menolak keberadaan Jeon Jonas malam itu. Ia ingin tidur sendirian. Di kamarnya.


Mendapat jawaban yang seketika membuatnya muram, Jeon Jonas akhirnya meminta gadis itu untuk bertahan sebentar saja dan sesuatu yang sering dilakukan Jeon Jonas akhirnya terjadi. Pria itu mengambil sedikit haknya dari status mereka yang baru, menciumi gadis itu berulang kali.


Anehnya Melissa menyukainya. Bahkan lupa kalau ia perlu istirahat.


Inilah yang ia rasakan sekarang, berjalan menuruni tangga masih dengan setengah mengantuk.


Tiba di depan meja makan, ia tidak menemukan Jeon Jonas seperti biasanya.


“Selamat pagi,” sapa Enna yang datang dengan wadah makanan lalu ditaruh di atas meja.


“Pagi Enna.”


“Ada apa dengan suara itu? seperti tidak bersemangat. Masih mengantuk?”


Melissa mengangguk pelan.


“Paman di mana?”


“Aku tidak melihatnya sejak tadi.”


Melissa menopang dagunya lalu menutup matanya yang masih terasa berat, sampai akhirnya kecupan singkat ia rasakan di pipi kanannya.


Kaget.


Terlonjak ketika menemukan pria itu duduk di sebelahnya dengan bertelanjang dada sembari meneguk air mineral. Badannya sedikit mengkilat karena keringat.


“Kenapa Paman tidak memakai baju?”


Pria itu menoleh lalu meletakkan air minumnya.


“Bukankah lebih menyenangkan ketika kau melihatku seperti ini?”


Melissa diam. Tidak menampik jika memang benar ia suka dengan penampilan pria itu saat ini.


Jeon Jonas tersenyum miring sebelum akhirnya berdiri dan mengusap rambut gadis itu dengan lembut.


“Sarapan lebih dulu, aku ingin mandi. Aku akan mengantarmu ke sekolah.”


Melissa mengangguk, lalu menarik piring untuk ia isi dengan nasi.


***


Meneguk susu putih, Lisa kemudian menoleh ketika aroma khas Jeon Jonas menguar di udara. Ingin menutup mata untuk menikmati tapi urung karena pria itu berjalan ke dekatnya.


“Ayo berangkat.”


“Paman tidak sarapan?”


“Nanti, setelah mengantar pacarku ke sekolah.”


Pipi Melissa memanas dan seketika mendapat cubitan gemas karena Jeon Jonas suka rona merah di wajahnya.


Tak ingin berlama-lama, Melissa akhirnya berdiri lalu berjalan bersama Jeon Jonas menuju mobil.


Sesampainya di mobil, mereka tidak banyak bicara. Hanya saja sejak perubahan status mereka, Jeon Jonas menjadi pribadi yang agresif. Tiba-tiba saja mengangkat Melissa ke pangkuannya, tiba-tiba saja memeluknya, tiba-tiba saja menciumnya. Melissa tidak tahu harus senang atau justru berhati-hati. Bisa saja pria itu melakukan hal lebih.


Lalu teringat dengan yang pernah dikatakan Rosie. Setiap pria memiliki kebutuhan biologis, mungkin ini maksudnya.


Sampai di sekolah, Melissa melihat banyak teman sebayanya berdiri di depan gerbang. Mereka fokus menatap mobil, seolah akan menyerbu jika pintu terbuka.


Ia keluar disusul Jeon Jonas yang berniat membukakan pintu untuknya.


“Aku antar ke dalam.”


“Sampai di sini saja.”


“Kalau begitu, berikan ciuman perpisahan.”


Melissa memelototkan matanya, memperingatkan pria itu bahwa ia sudah berjanji untuk tidak menciumnya sembarangan, apalagi di sekolah.


Jeon Jonas terkekeh, dan gadis-gadis sebaya Melissa melompat-lompat dengan girang, seolah baru saja diberikan uang puluhan milyar.


“Di rumah saja bagaimana?” tawar Melissa saat Jeon Jonas ternyata ngotot harus mendapatkan jatahnya.


“Deal!”


Akhirnya.


Melissa mengembuskan napas lega. Ia akhirnya melambaikan tangan dan menatap teman sekolahnya sebelum akhirnya melewati gerbang.


Seperginya Melissa, para sisiwi itu ternyata lebih banyak daripada yang berdiri di gerbang, masih ada siswi lain yang ternyata berbondong-bondong sudah berdiri di depan dan disamping mobil.


Bahkan Ava!


Jeon Jonas seperti biasanya tidak ingin peduli ketika gadis-gadis itu menatapnya dengan tatapan suka, tapi belasan gadis yang lain menahannya agar tidak masuk ke dalam mobil. Jeon Jonas rasanya ingin meraih pistol dan menembak.


Dan pada akhirnya banyak surat diberikan padanya, ada juga yang berjatuhan di lantai mobil karena beberapa di antara mereka memilih melempar dari jauh karena tidak sanggup berdesakan.


Jeon Jonas menggeram, pistol sudah ia raba. Tembak tidak ya?


Tapi karena ini masih area sekolah kekasihnya dan ia ingin menjaga nama baiknya, ia dengan terpaksa mengulum senyum lalu membiarkan saja para remaja itu memberikan surat padanya.


“Paman, ingat aku? Aku Ava. Sahabat Melissa, kami sangat dekat. Baca suratku lebih dulu!” Teriak Ava menaruh paksa surat miliknya di saku jas Jeon Jonas.


Mimpi apa Jeon Jonas semalam?


Beberapa menit kemudian siwi-siswi itu akhirnya menggerutu tatkala mendengar bel dari dalam sekolah, Jeon Jonas mengambil kesempatan itu untuk menyalakan mesin mobil lalu melajukannya dengan kencang.


Ah sialan!


Ia mendecak ketika surat-surat itu berhasil mengotori mobilnya.


Tapi ada sedikit rasa penasaran dengan surat yang ia terima.


Sembari mengemudi dengan satu tangan, Jeon Jonas lantas menarik satu surat dari Ava. Dibungkus dengan amplop berwarna merah muda.


“Paman. Perkenalkan aku Ava. Aku lahir di Las Vegas pada tahun 2001. Ayahku bernama Wilton. Ibuku bernama Resha. Aku mempunyai hobi menggambar dan menari. Aku pernah juara satu lomba menari saat SD kelas 5, lalu dapat juara lagi kelas 6. Tapi setelah SMP aku berhenti menari, aku jadi fokus menggambar. Untuk saat ini Hobiku yang lain adalah mengagumi Paman hehe.”


Apa-apaan ini?!


*****. Jeon Jonas bahkan membaca semuanya!


Surat dari Ava ia lemparkan asal, lalu melajukan mobil dengan cepat ketika mendapat pesan dari Hans.


***


“Melissa! Hei! Melissa!” Gadis itu kemudian berbalik ketika namanya dipanggil.


Rosie di sana.


“Rosie, kau jarang kelihatan sekarang,” sahut Melissa.


“Jeon Jonas sudah sangat ketat padaku. Apa yang terjadi di depan tadi, seperti ada kerusuhan.”


“Hah?”


“Melissa!” Suara Ava yang berlari dari pintu masuk terdengar nyaring dan tergesa-gesa.


Rosie segera menyembunyikan diri.


“Ya Tuhan.” Ava menaruh kedua tangannya di lutut lalu mendongak menatap Melissa dengan napas ngos-ngosan.


“Astaga napasku. Aku menyukai Pamanmu.”


Pupil Melissa membesar. Ava menyukai Pamannya.


“Aku memberinya surat tadi, aku bahkan harus terjaga sepanjang malam untuk mengarang kata-kata itu.”


Takk.


“Aww..” Ava meringis ketika kepalanya di pukul dari belakang. Ia membalikkan badan. Lucas tersenyum remeh padanya.


“Belajar yang bagus. Paman Melissa tidak mungkin suka dengan gadis idiot sepertimu,” ucap Lucas lalu berjalan melalui mereka berdua.


“Sialan Lucas!” Ava tidak tinggal diam, ia kemudian berlari menuju Lucas lalu memukul kepala pria itu dengan kuat.


“Aku melakukannya pelan padamu,” desis Lucas.


Ava menjulurkan lidah.


Melissa memutar bola matanya jengah, lalu beranjak ingin masuk ke dalam ruangan. Ia harus banyak menjaga ucapan sekarang, apalagi ketika depan kelasnya kini ramai dengan gadis-gadis yang sebelumnya ia lihat di depan gerbang pagi tadi.


“Itu dia,” tunjuk salah satu gadis.


Melissa terperanjat ketika belasan gadis itu berlari dan sudah mengepungnya.


Melissa pikir ini akan menjadi kasus pem-bullyan. Tapi tidak. Rombongan gadis itu ternyata pengagum pamannya juga. Mereka menarik Melissa ke dalam kelas, satu-persatu menanyakan hubungan Melissa dengan pria itu, dan Melissa terpaksa berbohong bahwa ia dengan Jeon Jonas hanya sebatas paman dan keponakan. Melissa yakin jika jujur, ia justru akan jadi korban penindasan di sekolah.


***


Jeon Jonas keluar dari dalam mobil ketika dirinya berniat mampir ke minimarket yang terdapat di sebuah gang perumahan tidak jauh dari kediamannya. Ponselnya ia tempelkan di telinga lalu menutup pintu, saat ini ia sedang terhubung dengan Hans yang menjelaskan bahwa kelompok Mattow membuat keributan semalam. Banyak kepala yang dipenggal Bernard, dan semuanya mati hanya karena alasan yang sepele. Bernard ingin berburu saja malam itu.


“Dia juga memantau lokasi kebakaran itu?” tanyanya lalu masuk ke minimarket untuk menarik satu botol minuman dingin.


“Ya Bos, beberapa hari yang lalu anggota kita melihat Bernard dan anggotanya berada di lokasi kebakaran.”


“Dia akhirnya tau siapa pelakunya.” Jeon Jonas terkekeh sinis.


“Ada kemungkinan mereka akan melakukan aksi penyerangan,” tambah Hans.


“Aku tau itu akan terjadi.”


Jeon Jonas membayar di kasir lalu masuk lagi ke dalam mobilnya, sampai akhirnya ada peluru yang berhasil menembus kaca belakang mobilnya.


“Ini yang kumaksud,” gumamnya lalu melajukan mobil untuk berbelok ke arah lain.


Bernard tidak boleh tahu letak kediamannya.


Darr.


Tembakan kedua meluncur dan berhasil membuat ban mobil Jeon Jonas bocor dan berdecit keras serta mengeluarkan asap karena paksaan dari kemudi.


“Sialan!”


Jeon Jonas menarik pistol, hendak keluar dan menembak siapa yang berani mencelakainya.


Tapi kalah cepat, saat hendak menodongkan pistol, tangan dan sudut dadanya lebih dulu terkena peluru panas.


***


Satu rumah sakit heboh ketika puluhan pria berpakaian hitam serentak mengantar Jeon Jonas untuk segera ditangani perawat.


Para pasien yang tadinya duduk santai dan bicara dengan keluarga segera berdiri, dan mundur ketika anak buah Jeon Jonas menatap mereka tajam, mengisyaratkan agar memberi ruang. Nyawa sang Bos sedang dalam bahaya.


“MANA DOKTERNYA!!” Ben berteriak keras, dokter dan perawat yang baru saja keluar dari ruangan pasien terkesiap ketika melihat orang-orang sangar itu.


Tidak sabaran, Ben menarik kerah dokter itu lalu mengancamnya lewat tatapan mata.


“LAKUKAN TUGASMU BAJI*GAN!”


Sang dokter menutup mata mendapat teriakan tepat di wajahnya. Ketika diturunkan, ia dan perawat terburu-buru mengecek keadaan Jeon Jonas dengan stetoskop.


Ben memicingkan mata, menatap nyalang orang-orang yang memperhatikan mereka seraya berbisik-bisik, tapi berdiri agak jauh karena takut.


“APA!!”


Mendengar sergahan itu, mereka akhirnya memlih pergi. Tahu jika puluhan orang berpakaian hitam itu bukan orang biasa.


Lima belas menit kemudian, Jeon Jonas sudah dipindahkan ke ruangan yang lebih apik, ruangan khusus untuk orang-orang yang memiliki kartu debit berwarna hitam.


Belasan orang berjejer berdiri di depan pintu. Menjaga sang Bos.


Sedangkan Ben duduk di dalam, terhubung dengan Hans yang memberitahukan jika Jeon Jonas dalam keadaan bahaya.


“Aku sedang menjaga Bos, kirim saja barangnya dengan aman,” sahut Ben lalu menjejalkan ponselnya ke dalam saku.


***


Jeon Jonas akhirnya setelah pingsan sejak penanganan dokter. Ia beringsut, lalu terkesiap ketika Ben tiba-tiba menyentuhnya dan menyarankan agar tidak banyak bergerak.


“Aku bukan bocah,” desis Jeon Jonas lalu dengan keras kepala menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


“Bos melihat siapa pelakunya?”


“Siapa lagi kalau bukan Bernard. Tidak ada yang berani membawa pistol dan memainkannya sembarangan. Dia adalah satu-satunya musuhku.”


Ben menganggukkan kepala, yakin seratus persen kalau itu memang Bernard.


Namun detik berikutnya terdengar keributan di luar, Ben segera beranjak dan melihat apa yang terjadi.


“Paman!”


Melissa menggeser pintu dengan kuat lalu terisak memeluk Jeon Jonas dengan erat.


“Siapa yang membawanya ke sini?!” teriak Jeon Jonas geram.


Tidak ada yang menyahut. Seolah gadis itu tahu sendirinya.


“Apa yang terjadi pada Paman?” Gadis itu mendongak dengan mata memerah dan berkaca-kaca.


Jeon Jonas tidak sanggup melihatnya. Ia kemudian membawa tangannya mengusap pelan sudut mata Melissa dengan sayang.


“Tidak apa-apa sayang, tadi aku hanya terjatuh.”


“Tapi kata Paman itu, ada yang mencelakai Paman.”


“Paman yang mana? siapa?”


Orang-orang yang berjaga di luar mendengarkan, mengantisipasi dengan baik jika saja gadis itu asal ceplos. Nyawa mereka taruhannya.


“Siapa yang membawamu ke sini?”


“Jack.”


“Ahh..” Jeon Jonas mengangguk. Tersirat niat buruk di kepalanya.


Gadis itu masih menangis.


“Kenapa Paman bisa seperti ini? Siapa yang mencelakai Paman?”


“Tidak ada sayang, aku hanya terjatuh. Sungguh.”


“Tapi-”


“Sshh sudah, jangan menangis lagi. Aku baik-baik saja.”


“Paman tidak baik-baik saja!” seru gadis itu mengencangkan tangisannya.


Jeon Jonas mendesah pelan, merasa jengkel dengan orang yang sudah memberitahu Melissa tentang ini.


“Naik ke sini.” Jeon Jonas menggeser tubuhnya, memberi ruang pada Melissa agar berbaring juga di sampingnya.


Melissa diam lalu menggeleng.


“Itu khusus untuk pasien.”


“Aghh dadaku.” Pria itu pura-pura kesakitan di dadanya. “Cepat naik ke sini, aghh dadaku..”


Gadis itu dengan patuh menurut dan berbaring di dekat Jeon Jonas.


“Kata dokter, aku akan cepat sembuh kalau sering diberi suplemen.”


“Suplemen? Yang bagaimana?”


“Ada beberapa jenis, tapi sentuhan dari pacar adalah yang paling mujarab.”


“Coba sentuh dadaku,” lanjut Jeon Jonas.


Melissa mengernyit tapi dengan polos akhirnya menyentuh dada Jeon Jonas yang tertutup baju rumah sakit.


“Detaknya tidak normal,” ucap gadis itu setelah membandingkannya dengan detak jantung miliknya.


“Ya benar. Dokter juga bilang begitu. Supaya normal, aku disuruh memeluk pacar selama dua puluh menit setelah itu harus menyentuh dada pacar juga.”


“Dada paman?”


“Bukan, dada pacar.”


“Ada suplemen lain?”


“Mencium pacar selama dua puluh menit juga boleh.”


“Ahh baiklah.”