HOT GUY

HOT GUY
[59]



Dengan tubuh berbalut gaun tidur berwarna putih, Melissa berlari menghindari Enna yang menyuruhnya tetap beristirahat di dalam kamar. Tadinya, Enna berniat mengecek suhu tubuhnya dengan termometer. Namun, karena ia terbangun tanpa memeluk apa pun, dan menemukan sisi ranjang sebelahnya kosong, ia memilih memasukkan termomoter yang baru dibeli oleh Enna itu ke dalam mulut, mencari Jeon-Jonas di seluruh tempat.


Begitu langkahnya mencapai pelataran rumah, ia mengeluarkan thermometer tersebut.


“Hatchii.”


Tatapannya mengedar, menemukan mobil Jeon-Jonas terparkir di tempat biasa, bersisian dengan mobil lainnya.


Ia berjalan ke taman, dan suaminya itu tampak tengah berdiri di lapangan golf, bersama Nevan dan empat anak buah yang lain.


Dengan bergegas, ia menghampiri pria itu, memeluknya dari belakang tanpa merasa risi dengan tatapan Nevan dan pria-pria yang berada di sana.


Jeon-Jonas berbalik, menaikkan alis saat melihat wanita itu mengulum thermometer di dalam mulut. Ia mencabutnya, tidak menunjukkan ekspresi apa pun ketika menemukan angka 37.8 yang tertera.


“Enna!!” Ia berteriak, dan wanita yang ia panggil cukup tergopoh-gopoh saat muncul dengan satu nampan kosong.


“Kenapa membiarkannya keluar?”


“Itu—itu—saya tadi—”


“Dia sakit dan kau membiarkannya keluar begitu saja?!”


“Maafkan saya, Tuan.” Enna menundukkan kepala, merasa bersalah.


“Jeon—aku baik-baik saja,” ujar Melissa.


Jeon-Jonas memelototi Enna, dan wanita itu segera menarik pelan Melissa agar kembali ke kamar untuk beristirahat.


“Jeon…”


“Enna!!"


Enna meneguk ludah susah payah. “Ayo, Nona.”


Melissa mengerucutkan bibir, akhirnya mengikuti langkah Enna memasuki rumah. Ia hanya perlu beristirahat sebentar. Dan ketika suhu tubuhnya kembali normal, ia akan menemui pria itu.


🌷🌷


Sedari pagi, Melissa sudah meminum obat penurun demam dan menerima banyak makanan hangat yang katanya dapat digunakan sebagai pengganti obat. Enna akan sering masuk ke dalam kamar, mengecek suhu tubuhnya dan berakhir menyuruhnya tidur dengan menggunakan selimut meski ia merasa kepanasan.


Dan kali ini, ketika bangun dengan tubuh berkeringat, Enna tengah menata makanan di atas nampan.


“Kau sudah bangun?” Enna tersenyum hangat, menyodorkan segelas air putih hangat.


“Tidak ada yang dingin?”


“Yang hangat lebih baik.” Wanita paruh baya itu menempelkan telapak tangan ke dahi Melissa, tersenyum karena dahi wanita itu sudah tidak sepanas sebelumya.


“Jeon di mana?”


“Tidak tahu, aku tidak melihatnya sejak tadi.”


Melissa meneguk air putih di dalam gelasnya, memberikannya pada Enna untuk ditaruh kembali ke atas nampan.


“Aku akan mandi dan menemui Jeon.”


Enna mengangguk. “Aku akan menyiapkan air hangat, tunggu sebentar.”


Seperginya Enna ke kamar mandi, Melissa mendapat telepon video dari Ronny. Ia menerimanya, kemudian melihat Ronny yang menyapa dengan melambaikan tangan.


“Hai.”


Melissa tersenyum simpul. “Hai.”


“Aku menyuruhmu agar sering-sering menghubungiku, tapi kau tidak melakukannya.”


Melissa terkekeh kecil. “Maaf, aku lupa."


“Itu kamarmu?”


“Ya, benar. Kenapa tiba-tiba menelepon?”


“Hanya ingin melihatmu, kami sedang membutuhkan model sebenarnya. Ingin menawarimu hal itu. Temanya tentang remaja yang mengenakan kostum, dan aku pikir kau cocok.”


“Aku bukan remaja lagi, Ronny.”


“Benar, tapi perawakanmu masih bisa digolongkan remaja. Berminat?”


Melissa menggeleng. “Tidak, aku juga sudah membatalkan beberapa jadwal pemotretan. Dan mungkin akan kembali bekerja setelah aku melahirkan.”


“Hah? Apa tadi?”


“Aku bilang, aku mungkin akan kembali bekerja setelah aku melahirkan.”


Ronny melotot, dan Melissa hampir-hampir tertawa jika saja tidak ingat bahwa ia tidak dalam kondisi sepenuhnya baik-baik saja.


“Sudah dua bulan.”


“Siapa yang—siapa suamimu?”


“Jeon-Jonas.”


Ronny mendesah. “Aku pikir, kita bisa lebih dekat. Aku sempat merasa kita memiliki ketertarikan.”


Menanggapi itu, Melissa tersenyum geli. “Maaf, apa setelah ini kita akan bermusuhan?”


Ronny memutar bola matanya. “Kita tetap berteman, aku akan menghubungimu, siapa yang tahu kalau tiba-tiba kau menyukaiku. Iya kan?”


Melissa terkekeh. Bertepatan dengan itu Enna muncul, memberitahu bahwa air hangatnya sudah siap. Kemudian, Melissa mengakhiri telepon setelah memberi penjelasan kepada Ronny bahwa ia akan mandi.


Setelah proses mandinya selesai, ia melirik jam, sudah pukul delapan malam. Ia mengenakan gaun tidur pink kesukaannya, menyisir rambut panjangnya, kemudian menoleh ketika Enna datang hanya untuk mengingatkannya agar segera makan.


Melissa menurut, menghabiskan makanan yang memang sejak tadi sudah dibawa oleh Enna. Begitu merasa kenyang, ia keluar dari dalam kamar, memutuskan mencari Jeon-Jonas yang tidak ia lihat sejak tadi.


Ia menuruni anak tangga, turun ke bawah.


“Jeon-Jonas sepertinya di kamarnya,” ujar Enna dari arah dapur.


“Kamarnya?”


“Maksudku—kamar lamanya. Aku melihatnya masuk ke dalam.”


“Begitu.”


Melissa kembali naik ke atas, membuka pintu kamar Jeon-Jonas dan mendapati pria itu tengah duduk di sofa berkepala tinggi tanpa lengan, mengetikkan sesuatu di atas keyboard, dan tatapan lurus ke monitor.


Ia tidak memanggil, hanya berinisiatif naik dan duduk di pangkuan pria itu dengan kepala mendongak, menatap Jeon-Jonas yang masih bergeming.


“Jeon…”


Pria itu tidak menyahut, hingga Melissa sedikit memutar tubuh dan melihat layar komputer tengah menampilkan permainan tetris.


“Jeon, aku sudah tidak demam,” ucapnya setelah kembali menatap Jeon-Jonas.


Dan masih, pria itu tidak menanggapi.


Melissa menunduk, melihat kedua lengan kekar Jeon-Jonas yang bergerak-gerak. Lalu, ia mengangkat kepala, terpaku pada jakun pria itu yang tidak bergerak sama sekali.


“Jeon…”


Ia merengut karena Jeon-Jonas tidak menyahut. Ia menyentuh lengan pria itu, sedikit mengguncangnya agar mendapat perhatian. Namun sia-sia, Jeon-Jonas bahkan tidak menurunkan kepala untuk melihatnya.


Maka di detik selanjutnya, ia memeluk pria itu, mendengar detak jantungnya.


“Apa aku melakukan kesalahan?”


Seingatnya tidak. Kemarin, ia sudah berjanji untuk tidak memasak, dan pria itu masih sempat menciumnya sebelum pergi untuk melihat tempat kerja.


“Go back to your room.”


Melissa mengerjap, meneguk ludah saat bertatapan dengan mata tajam Jeon-Jonas.


“Aku melakukan kesalahan? Itu mengapa aku diabaikan?”


“Ya. Kembali ke kamarmu sekarang.”


“Apa?”


Jeon-Jonas sudah terfokus ke layar komputer, sudah tidak menyahuti Melissa lagi.


“Apa kesalahanku, Jeon?”


“I told you to go back to your room, Melissa.”


“Tidak, ini kamarku juga. Aku akan tetap di sini.”


Selanjutnya, selama berdetik-detik, sudah tidak ada jawaban lagi. Pria itu menatap lurus ke depan.


“Jeon … aku hanya ingin—”


“Berhenti merengek dan keluar dari kamar ini sekarang!”


Melissa menggigit bibir, mengusap air matanya yang jatuh, untuk kemudian turun dari pangkuan pria itu.