
Vote sebelum membaca😊
Hampir satu setengah tahun Melissa tidak bertemu Peter, sebelum-sebelumnya mereka sering bertukar kabar, membahas mengenai naskah cerita sebelum akhirnya kembali ditolak editor dan Melissa beralih pada kamera, memotret asal objek-objek yang menurutnya bisa memanjakan mata, membagikannya ke media sosial dan berakhir dikenali banyak orang hingga dirinya menjadi seorang photographer yang andal. Lalu hari ini ia akan bertemu pria itu lagi, diantar oleh Jack . Rok pink di atas lutut, baju putih tanpa lengan menjadi pilihan Melissa hari ini, ia memeriksa ponsel yang nyaris seperti mendapat teror dari pria itu agar cepat sampai atau Peter akan kembali bekerja.
Sampai di toko milik bibi Peter yang tidak jauh dari Faith Lutheran, ia melihat pria itu berdiri di sana, memakai topi putih senada dengan kaus yang membungkus tubuhnya. Melissa turun dari mobil, menyapa Peter dengan ceria.
“Aku pikir kau hanya terlihat lebih dewasa di TV, ternyata kau memang sudah bertranformasi secantik ini, Melissa. Wow."
Peter memperhatikan Melissa dengan saksama, tampak kagum dengan perubahan Melissa yang terlihat lebih cerah dengan pewarna bibir merah dan polesan make up. Bola matanya kemudian memindai rok yang dikenakan Melissa.
“Kita akan bersepeda, kenapa pakai rok?” tanya Peter.
Melissa menepuk dahi sendiri. “Aku lupa.”
“Dan ternyata kau masih bodoh,” gerutu Peter kemudian masuk ke dalam toko bibinya, diikuti Melissa dari belakang.
“Mana hadiahku?” sambung Peter mengulurkan tangan kanan. Melissa menunjukkan paper bag yang ia bawa dari rumah, memberikannya pada Peter.
Gerutuan Peter tidak lagi terdengar, secepat itu.
“Ayo foto, aku ingin membagikannya ke media sosial.” Tanpa membutuhkan persetujuan, Peter segera menarik Melissa, menaruh paper bag paling depan kemudian menempelkan wajahnya pada wanita itu. Tidak perlu melihat hasil gambar yang dipastikan sempurna untuk dua wajah yang sempurna juga, Peter segera membagikannya ke publik dengan mencantumkan nama Melissa dan tambahan emoticon hati ungu di caption.
“Aku yakin akan ada banyak orang yang meminta pertemanan padaku mulai sekarang,” kekeh Peter bangga.
“Aku tidak seterkenal itu,” gumam Melissa menarik kursi untuk duduk.
“Okay, tidak perlu duduk berlama-lama kawan, bibiku tidak di sini, jadi sebaiknya kita ke tempat lain.”
“Bersepeda?”
“Ya, jika kau memang berniat memamerkan celana dalammu.” Peter memutar bola mata. Melissa cepat-cepat memukulinya dengan keras lalu mengerucutkan bibir.
“I wear safety short pants!”
“Iya, iya.” Peter acuh, kemudian kembali mengajak Melissa keluar dari toko setelah meletakkan buah tangan dari Melissa di sebuah meja. Ada toko pakaian di seberang jalan, Peter mengambil inisiatif membeli celana untuk Melissa, menyuruh wanita itu segera memakainya di dalam fitting room. Tidak jauh dari sana, mereka memasuki sebuah cafe bernuansa remaja, memesan dua gelas minuman, kentang goreng, satu loyang pizza dan tentu saja ice cream sebagai pengganti yogurt yang tidak disediakan di sana.
Ponsel Melissa berdering, Jeon Jonas meneleponnya. Dengan kentang goreng masih berkumpul di mulut, Melissa menempelkan ponsel di telinga.
“Hi, Uncle.”
“Jam berapa kau akan pulang, Pinky?”
Melissa terkekeh, tahu pasti pria itu sedang bersungut-sungut. “Maaf tidak memberitahu Paman. Tadi Paman terlihat serius bicara dengan Paman Ben.”
“Tetap saja kau harus izin, sayang.”
“Okay, maafkan aku."
“Jadi, jam berapa? Perlu aku jemput?”
“No, please. Aku perlu banyak waktu dengan Peter.”
“Peter? Yang sepedanya aku rusaki?"
“Benar, dan dia masih dendam pada Paman karena itu.” Peter yang telah menelan potongan pizza ketiga menatap Melissa dengan alis menekuk.
“Oh. Katakan aku akan mengirim seribu sepeda jika dia mau.”
Melissa tersenyum simpul. “Paman tidak boleh pamer kekayaan."
“Tidak, aku tidak. Tapi rasanya aku perlu menemuimu sekarang.”
Melissa membalikkan badan, mulai berbisik.
“Jangan, Peter tidak suka Paman.”
“Aku perlu melihatmu.”
“Setelah aku pulang dan jangan membuntutiku.”
“Itu kejam, Pinky.”
Melissa tertawa kecil, masih membelakangi Peter yang mendadak bingung mengapa Melissa seperti orang yang sedang kesurupan.
“Aku akan—ehm memeluk Paman sampai bosan saat pulang nanti.”
“Ehm—”
“Baiklah, mencium Paman.”
“Ehm—”
“Okay, Paman akan mendapatkan keduanya.”
“Well, aku setuju.”
Melissa tertawa lagi. “Aku tutup, daah.”
Seperti anak-anak setelah dijanjikan akan mendapat mobil-mobilan, Jeon Jonas membalas. “Daah.”
Melissa berbalik, masih dengan sisa wajah ceria. Peter yang telah menghabiskan setengah Loyang pizza kemudian menempelkan punggung tangan pada kening wanita itu.
“Kenapa?”
“Aku sering tertawa setelah mengenal Paman Jeon.”
“Oh, paman kayamu.” Peter menyeruput ice americano miliknya. “Bagaimana hubungan kalian? Masih malu-malu kucing seperti dulu?”
“Tidak lagi, kami sudah lebih serius.”
“Apa kau masih mengira kau terkena sejenis penyakit jantung setelah mendapat ciuman dari paman kayamu?”
Melissa terkekeh, merasa bodoh karena dulu sempat mengira ia mengidap penyakit serius setelah dicium Jeon Jonas. “Tidak lagi.”
“Puji Tuhan, akhirnya.”
Peter melanjutkan menyantap makanan di depannya, diikuti Melissa yang kemudian menyendokkan ice cream ke dalam mulutnya. Menghabiskan separuh waktu dengan berbincang-bincang dan berakhir dengan memesan makanan lain, mereka kembali ke toko bibi Peter, mengambil dua sepeda yang satunya milik anak bibinya itu kemudian mereka pakai untuk pergi menuju kediaman Jeon Jonas. Mereka melalui jalur khusus pesepeda dengan Melissa mengayuh lebih di depan karena Peter mengeluh telah lupa letak rumah yang ditinggali wanita itu.
Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya memasuki wilayah Jeon Jonas. Peter masih saja terperangah saat mereka melewati gerbang tinggi yang terbuka otomatis dan mereka menyambut taman hijau, kemudian gerbang kedua untuk menyambungkan jalan menuju rumah utama. Peter belum pernah sampai ke sini, sebelumnya mereka hanya sampai gerbang pertama yang langsung dicegat oleh Jack untuk memberi peringatan. Ada beberapa pria berpakaian hitam yang berdiri di depan rumah, pelayan-pelayan yang keluar masuk lalu beberapa pekerja lain.
“Wow!” Peter mengayuh di samping Melissa. “Kau tinggal di istana itu?”
Melissa tertawa. “Kau berlebihan.”
“Aku serius? Boleh aku masuk?”
Belum sempat mendapat izin, pemilik rumah keluar dengan menjejalkan kedua tangan di dalam saku. Ia menatap Peter datar, lantas berdiri di depan keduanya.
“Senang dengan bermain sepedamu, Pinky?”
Dengan polos Melissa mengangguk-angguk. Peter, yang katanya menyimpan dendam pada Jeon Jonas setelah menghancurkan sepedanya, menatap Jeon Jonas seolah terkesima dengan postur tubuh tegap dan besar pria itu.
“Aku Peter.”
“Ya, aku tau.”
“Paman, apa Peter boleh masuk ke dalam?”
Jeon Jonas tersenyum, membawa tangannya mengusap rambut Melissa yang jatuh ke punggung.
“Lain kali, sayang.”
“Oh, begini. Aku rasa aku tidak akan punya banyak waktu luang lagi untuk mampir, jadi bagaimana kalau hari ini?” celetuk Peter.
“Lain kali, aku tau kau akan mampir lain kali.” Dan Peter sudah tahu kalau ia memang tidak diijinkan, jadi dengan halus ia tertawa seolah tawaran Jeon Jonas menyenangkan.
“Okay.” Peter menjatuhkan kaki dari sepeda, menarik paper bag berisi rok Melissa yang dibuka di fitting room lalu mengembalikannya pada wanita itu.
“Aku pulang, aku akan mengirim foto kita yang tadi,” sambung pria itu dengan senyum lebar.
“Ya. Hati-hati, Peter,” sahut Melissa melambaikan tangan pada Peter yang sudah mengayuh sepeda membelakangi rumah Jeon Jonas.
“Apa yang dia berikan?” tanya Jeon Jonas mengambil alih paper bag yang sebelumnya berada di sela-sela jemari Melissa, mengernyit secara berlebihan saat menarik satu rok pendek dari sana.
“Tadi aku pakai itu,” jelas Melissa.
Pemikiran buruk menyergap pria itu. “Apa saja yang sudah kalian lakukan hingga harus melepasnya?”
Melissa menunjukkan sepeda dan celana yang ia pakai dengan menurunkan dagu. Jeon Jonas segera mengerti tanpa dijelaskan secara detail. Ia kemudian menggenggam lembut tangan wanita itu, membantunya turun dari sepeda.
“Ada yang ingin aku tunjukkan padamu,” ujar Jeon Jonas kemudian sama-sama menaiki anak tangga menuju kamar wanita itu. Melissa membulatkan mata ketika menemukan barang-barang yang tertinggal di penthouse Hans telah dibawa kembali, seperti kamera yang sering ia pakai, laptop, tas dan benda-benda yang memang ia butuhkan.
“Pisauku,” seru Melissa senang mendapati pisau kecil yang sering ia taruh di paha.
“Kapan Paman ke sana?”
“Bukan aku. Anak buahku, Pinky.” Melissa mengerjap, Jeon Jonas secara tidak langsung telah menekankan bahwa tidak ada alasan lagi bagi wanita itu untuk pergi ke sana.
“Terima kasih, Paman.”
“Well, kau juga sudah berjanji untuk mencium dan memelukku.”
Ya, Jeon Jonas tidak akan lupa hal penting seperti itu. Apalagi setelah Melissa mengatakan akan memberi keduanya sampai pria itu bosan, harus sesenang apa lagi Jeon Jonas mendengarnya? Dengan tersipu, Melissa mengangguk. Ia memeluk Jeon Jonas, sedikit berjinjit untuk menggapai bibir itu. Merasa lucu, Jeon Jonas segera menundukkan kepala.
“Let Uncle help.”
Hans ⬇⬇
**
**