
Melissa menjauhkan tangan Jeon-Jonas yang melingkari perutnya. Ia mencari tiga boneka simba yang semalam ia peluk, ternyata sudah pindah ke tempat semula, berkumpul dengan boneka simba lainnya.
Dengan perlahan, ia beringsut turun dari ranjang, menarik boneka hiunya yang diletakkan di sofa, kemudian diselipkan ke tangan-tangan Jeon-Jonas yang kosong.
Ah, ini saatnya melakukan semua hal yang pernah ia rancang di Florida.
Setelah menggosok gigi dan mencuci muka, Melissa beranjak menuju dapur. Sudah ada Enna dengan kegesitannya dalam urusan memasak. Wanita paruh baya itu menoleh saat mendengar langkah kaki Melissa, kemudian tersenyum lebar.
“Hei, pengantin baru. Selamat pagi.”
Melissa terkekeh. “Selamat pagi, Enna.”
“Kenapa bangun secepat ini?”
“Uhm, aku ingin memasakkan sesuatu.”
“Ohh, tidak perlu repot-repot. Aku akan menyiapkan semuanya.”
Melissa menggeleng. “Aku ingin membalas kebaikan Jeon. Selama di Florida, Jeon yang memasak. Jeon yang selalu menyiapkan segala hal, bukan aku.”
Enna terkekeh geli. “Baiklah. Apa yang ingin kau masak?”
Melissa melirik bahan-bahan memasak yang sudah dikeluarkan Enna. “Ehm, aku ingin membuat sandwich. Jeon suka sandwich.”
Enna mengangguk-angguk, masih memasang senyum geli.
“Aku juga ingin membuat sup. Jeon suka sup.”
“Baiklah, ada yang bisa aku bantu, Nyonya?” goda Enna.
Melissa mendengkus. “Aku akan mencoba melakukan semuanya sendirian.”
“Okay.” Enna mematikan kompor, menuang sayuran yang ia masak.
Melissa memeriksa paper bag berisi bawang, sayuran dan roti. Ada telur dan daging di dalam wadah yang berbeda-beda. Tangannya bergerak memecah telur, menuang sedikit penyedap ke dalam lantas menyalakan kompor untuk menggorengnya.
“Well, karena aku akan di sini menjagamu, setidaknya kita perlu bercerita tentang banyak hal. Mengenai Florida mungkin?” celetuk Enna, bersandar di dekat kulkas.
“Aku ingin mendengar ceritamu dulu,” sahut Melissa.
“Di sana menyenangkan. Akhirnya aku dan Bibi Hazel-mu menjadi teman. Kami bahkan sering berkeliling bersama. Kau benar, dia teman yang cukup keren.”
“Bibi Hazel memang sekeren itu.”
Enna tertawa. “Okay, sekarang giliranmu,” ucapnya saat Melissa tengah membalik telur yang ia goreng.
“Uhm—” Melissa menaruh telur gorengnya di atas piring, memotongnya menjadi empat bagian. “Ada banyak—aku baru tau kalau Jeon punya adik angkat. Namanya Livy, dia ditemukan di hutan, tapi tidak seperti orang hutan.”
“Awalnya Livy memang aneh, tapi akhirnya kami menjadi teman. Dia sering memberiku permen,” lanjutnya. Enna masih mengangguk, sedikit menganga.
“Dia memberi permen karet sebagai hadiah pernikahan. Lucu, kan?”
Enna terkekeh pelan. “Pasti ada banyak hadiah yang kau terima.”
“Ya. Peter memberikan satu set alat make up. Maggie memberikan gaun, Ava juga. Bobby dan Lucas sama-sama memberikan jam tangan, Bobby memberi kalung. Bibi Hazel memberikan sepatu dan darimu adalah sepatu bayi.”
Enna tertawa kecil. “Itu kode karena aku tidak sabar menggendong bayi kalian.”
“Hanya beberapa bulan lagi. Jeon juga tidak sabar, katanya dia akan suka kalau memiliki dua bayi, padahal yang di dalam perutku saja belum aku lahirkan.”
Enna tertawa, tahu yang dimaksud Jeon-Jonas.
“Jeon-Jonas memberikan apa?” tanyanya.
“Jeon juga harus memberikan hadiah?”
“Ya, seharusnya begitu. Di malam pertama kalian.”
“Jeon tidak memberikan hadiah apa pun. Tapi Paman Ben membeli boneka hiu untukku, bonekanya besar. Belum lihat, kan? Bonekanya ada di kamarku.”
“Jeon-Jonas tahu Ben memberi boneka itu padamu?”
Melissa mengiris bawang dengan pisau. “Tidak. Aku hanya bilang kalau boneka itu dari Maggie dan Ava. Jangan beritahu, Jeon. Dia akan melarangku memeluk boneka hiu itu.”
Enna meringis pelan. “Baiklah, tidak akan aku beritahu.”
Selagi Melissa bercerita mengenai pengalamannya di Florida, Enna hanya mendengarkan, hanya melihat gerakan wanita itu saat memotong sayur. Kemudian, ia tersentak saat menemukan Jeon-Jonas berdiri di anak tangga. Melihat Melissa lurus-lurus.
“Aww.” Pria itu berlari saat Melissa mengibas tangannya, tangannya tersayat pisau.
Enna memilih menjauh, lantas beranjak menuju kamarnya untuk bersembunyi.
“Kenapa harus memasak?” tanya Jeon-Jonas sembari mengisap jari terluka itu, membersihkannya di wastafel.
Melissa yang sebelumnya terkejut akan kehadiran pria itu, akhirnya mengulum senyum.
“Aku tinggal membuat sup, sandwich-nya akan selesai.”
“Jangan melanjutkannya lagi. Sandwich sudah cukup.”
Melissa merengut. “Aku harus memasak sup.”
“Tidak, aku melarangmu.” Jeon-Jonas menarik Melissa masuk ke dalam lift, beranjak menuju kamar Melissa yang semalam mereka sepakati untuk dipakai berdua, lalu mencari kotak obat.
🌷🌷
“Apa ada kerusakan selama aku tidak berkunjung?” tanyanya setelah berada di kasino.
Anak buah yang berjaga di sana, menundukkan kepala sebagai tanda hormat. “Tidak, Bos. Kami selalu memastikan semuanya baik-baik saja. Hanya saja, selama Bos tidak ada, ada beberapa pemabuk yang berniat berulah. Tapi kami segera mengeluarkannya.”
“Siapa? Sudah telusuri profil mereka?”
“Sudah, Bos. Hanya pemabuk biasa.”
“Kenali mereka, dan jangan pernah menerimanya di sini.”
“Baik, Bos.”
Jeon-Jonas berjalan keluar dari dalam kasino. “Berjaga dengan baik, aku akan berkunjung lagi.”
Belasan anak buah yang berdiri di sana, membungkukkan badan dan menjawab lantang secara bersamaan.
“Baik, Bos!”
“Ben, kita ke bar yang ada di Henderson,” ucapnya sembari masuk ke dalam mobil. Ben menuruti, ia melajukan mobil dengan kecepatan sedang, hingga akhirnya sampai di Henderson.
Seperti biasa, selalu ada yang berjaga di depan. Dan mereka tahu bahwa sang bos telah datang. Empat dari mereka berlari mendekati mobil, berebut cepat saat ingin membuka pintu.
“Selamat datang, Bos.”
Jeon-Jonas mengangguk, mengentak jasnya sebelum melangkahkan kaki masuk ke dalam bar.
“Ada berapa minuman yang telah habis dan apa-apa saja jenisnya?” tanyanya sambil berjalan ke depan.
“100 botol Jagermeister jenis Liqueur. 150 Brandy, anggur. 98 botol Everclear—”
“Cukup jenisnya,” sela Jeon-Jonas.
Anak buah yang sejak tadi bicara, mulai berdeham. “225 botol vodka, 297 botol whisky, 266 botol anggur, 300 bot—”
“Semuanya sudah diganti?” sela Jeon-Jonas lagi.
“Beberapa, Bos. Sebagian yang lain masih dikirim dari Jerman.”
Jeon-Jonas mengangguk. Setelah dari Henderson, ia dan Ben pergi ke bar lain. Kunjungannya itu menghabiskan banyak waktu, bahkan baru menyadari kalau hari sudah malam.
Ia melirik Ben yang tampak lelah, lalu meneguk segelas whisky di dalam gelas kecilnya.
“Panggil Nevan, aku masih harus melihat pub sebelum pulang.”
Ben mengangguk. “Baik, Bos.”
🌷🌷
Setelah membawa mobil menerobos hujan sambil menghubungi nomor Nevan yang tidak dapat dihubungi dan ia berakhir di kediaman Jeon-Jonas yang akhirnya menemukan Nevan ternyata berada di dalam rumah, ia menyuruh pria itu segera pergi menemui Jeon-Jonas.
Tepat di saat ia juga akan keluar, matanya memicing saat melihat salah satu temannya baru turun dari lantai atas.
Ia menaiki undakan tangga, membuat temannya itu terperanjat kaget.
“Kenapa kau ke atas?”
“Tadinya tidak ada rencana ke sana, tapi Nyonya Melissa sepertinya sakit.”
“Sakit?"
“Ya, aku hanya curiga kenapa Nyonya Melissa berisik sendirian di dalam kamar sementara Bos tidak ada di rumah ini, jadi—aku melihatnya.”
“Kenapa kau lancang?”
“Maaf, jangan beritahu Bos.”
“Jangan mengulanginya lagi, aku akan memeriksa apa yang terjadi.”
Pria itu menggaruk tengkuk lalu berlari menuruni undakan tangga, meninggalkan Ben yang masih terpaku. Ben kemudian membuka pintu kamar Melissa. Sama seperti yang dikatakan temannya tadi, Melissa sedikit berisik karena mengigau.
Bertepatan dengan suara petir yang menggelegar, Ben menaikkan alis saat Melissa mengingau tidak karuan. Ia beranjak masuk, memperhatikan gorden lalu mendekati Melissa untuk menyelimutinya.
Tangannya menepuk-nepuk bahu Melissa, berharap wanita itu akan tenang. Begitu merasa cukup dengan yang ia lakukan, ia beranjak menuju pintu, menarik pintu untuk ditutup.
Namun, Melissa semakin terisak, seolah menemukan hal menyeramkan di dalam mimpinya. Ben mengusap wajahnya, kembali masuk untuk mengusap-usap rambut Melissa agar tidur dengan nyaman.
“Hikh, Jeon…” Dalam tidur, tangan Ben yang mengusap rambutnya ia tarik mendekat. Pria itu membelalak, menarik tangannya menjauh.
“Hikh.”
Ben terpaku, melihat Melissa yang tersedu. Tanpa tahu mengapa ia harus berdiam diri di sana, ia memberi tangannya pada Melissa, mengizinkan wanita itu menggenggam tangan itu lalu mendekapnya dengan erat.
Sudah cukup. Ia hanya perlu memberi tangannya.
Tetapi ternyata, raganya yang lain ikut memberontak. Kakinya naik ke ranjang, berbaring di samping wanita itu hanya sekadar mengusap air matanya. Ia tidak sedang berencana melakukan hal jahat, tidak pernah memikirkan itu. Mungkin—ini karena ia menyayangi Melissa, menyayangi wanita itu lebih dari yang ia inginkan.
Tepat petir kembali menyambar, kepalanya kontan menoleh, mendapati Jeon-Jonas berdiri di daun pintu, menatapnya lurus-lurus.