
Jeon Jonas dikenal sebagai pimpinan dalam bisnis dunia hitam. Ia merupakan ketua gangster, pemilik kasino, bar, dan klub. Pendapatan yang ia dapatkan tidak tanggung-tanggung, semua ia dapatkan hanya dengan menjentikkan jari. Jeon Jonas mempunyai anak buah yang loyal, meski sering kali ia memaki dan berlaku kasar jika sesuatu yang ia inginkan tidak berjalan sebagaimana mestinya. Seperti saat ini, Jeon Jonas mengumpat dengan keras, karena yang ia suruh untuk memata-matai geng Mattow, ketahuan dalam aksinya hingga tertangkap dan kembali dengan wajah sepenuhnya berdarah-darah.
“Enyah dari hadapanku, atau kubunuh kau sekarang!” sergahnya pada pria yang bersujud di hadapannya.
“Brengsek..” desisnya. Jeon Jonas mengetatkan rahang, ia yakin Bernard-ketua geng Mattow tengah terkekeh saat ini. Berhasil membuat anak buah Jeon Jonas cacat adalah sebuah kebanggaan terbesar bagi Bernard.
“Bos!” Jeon Jonas menoleh. Yang berani masuk tanpa mengetuk pintu hanya Hans seorang. Tangan kanan Jeon Jonas. Tanpa menyahut, Jeon Jonas memilih menggerakkan bola mata untuk mengintruksikan Hans memberitahu semuanya.
“Saya sudah mencari tahu semua yang Bos perintahkan. Melissa adalah yatim piatu. Dia anak satu-satunya. Ayah dan ibunya meninggal karena dibunuh, sampai saat ini belum ditemukan siapa pembunuh sebenarnya. Karena laporan pembunuhan sudah melewati batas waktu yang ditentukan. Polisi menutup kasus.” Jeon Jonas diam, mengisyaratkan lewat mata jika ia masih ingin mendengarkan lebih.
“Melissa hidup sendiri di sebuah rumah kontrakan. Demi meneruskan sekolahnya, Melissa bekerja paruh waktu di beberapa tempat. Dia juga-”
“Bekerja paruh waktu?” sela Jeon Jonas.
“Iya Bos. Salah satunya di cafe Wriston milik anak buah Bernard.”
“Antarkan aku ke sekolahnya,” perintah Jeon Jonas.
“Baik Bos.”
Jeon Jonas tidak tahu pasti mengapa ia menjadi terobsesi pada semua yang bersangkutan dengan gadis bernama Melissa yang ia temui minggu lalu. Yang ia tahu, Melissa berhasil menghantui pikirannya. Jeon Jonas seringkali mengenyahkan segala hal yang berkaitan dengan gadis itu, namun ternyata sulit. Sesulit mengenyahkan dunia hitam dalam kehidupan Jeon Jonas. Berhari-hari pria itu menyewa wanita untuk menjadi teman ranjangnya, setiap mencumbu, setiap mengerang, setiap menghujam, yang terngiang adalah wajah Melissa. Jeon Jonas menyerah membohongi perasaannya sendiri.
Jeon Jonas menyerah menghanyutkan segala macam Melissa dalam benaknya. Jeon Jonas menyerah. Pertama kalinya dalam sejarah hidupnya.
Hans merentangkan payung. Lalu membuka pintu untuk Jeon Jonas. Bahkan hujan selalu datang, mengingatkan Jeon Jonas mula pertemuannya dengan Melissa.
Beberapa siswa terlihat keluar dengan payung masing-masing. Jeon Jonas setia menanti, bahkan setelah jarum jam berputar berkali-kali. Di bawah hujan yang lebat, Jeon Jonas menajamkan matanya melihat suasana sekolah yang perlahan sepi namun gadis itu tak kunjung muncul di depan matanya.
“Bos,” panggil Hans. Mendapat bungkaman, Hans tak lagi berani untuk bertanya. Hans mengeratkan genggamannya pada payung lalu mengedarkan matanya untuk mencari gadis yang selama ini menjadi target pencarian bosnya.
“Ini benar sekolahnya..” Hans tidak tahu itu pertanyaan atau pernyataan sebab Jeon Jonas berucap dengan lirih.
“Iya Bos. Ini adalah sekolah Melissa.” Jeon Jonas mendongak. Menatap tulisan Elderd High school.
“Ya, ini memang sekolahnya, tapi di mana gadis itu?” gumamnya.
🌷🌷
Hans melirik arlojinya. Sudah hampir tiga jam mereka menunggu. Satu-satunya hal bodoh yang pernah dilakukan Jeon Jonas. Jeon Jonas tidak pernah menunggu sebelumnya. Selama bekerja, selama pertemuan, orang lain yang akan menunggunya. Bukan Jeon Jonas.
“Bos..” Hans memanggil dengan pelan dan sopan. Mengerti kebosanan Hans, Jeon Jonas akhirnya memutar tubuh, lalu masuk ke dalam mobil yang telah dibukakan Hans sebelumnya.
Di dalam mobil Jeon Jonas memegangi kepalanya. Mengapa ia seperti ini?
“Beraninya dia menghantui pikiranku,” gumamnya lalu memukul dinding mobil.
“Hans, bawa aku menemui Stephanie.” Hans melirik dari kaca tengah mobil lalu mengangguk.
“Baik Bos.”
Sesampainya di depan rumah bertingkat tiga. Hans segera membuka pintu lalu menundukkan kepala untuk memberi hormat sekaligus membiarkan Jeon Jonas keluar dari mobil.
“Kau bisa langsung pulang,” ucap Jeon Jonas.
“Tapi bos-” Ucapan Hans berhenti ketika Jeon Jonas berbalik lalu menghunusnya dengan tatapan tajam.
“Baik Bos.” Hans membungkukkan badan untuk pamit lalu masuk ke dalam mobil.
Belum sempat Jeon Jonas mendorong pintu, suara ketukan high heels seperti berlari dan tarikan pintu tiba-tiba mengejutkannya. Wanita bertubuh indah, berbibir penuh dan merah muncul dengan wajah sumringahnya.
“Aku tau kau akan datang Jeon,” ucap Stephanie lalu menarik tangan Jeon Jonas masuk ke dalam rumahnya.
“Aku memakai baju yang kau berikan minggu lalu, bagaimana? Cantik bukan?” lanjut Stephanie meliukkan tubuhnya. Stephanie cemberut karena tidak mendapat sahutan.
“Berhenti berbasa-basi Stephanie, kau tau apa yang kubutuhkan jika aku datang ke sini,” ujar Jeon Jonas tegas.
Stephanie segera merubah raut wajahnya menjadi wajah penuh dengan senyuman. Ia tahu sebagai apa dirinya bagi Jeon Jonas. Stephanie mendorong Jeon Jonas untuk duduk di sofa, ia dengan cepat menduduki kekuasaannya di pangkuan Jeon Jonas lalu menarik bajunya untuk memperlihatkan benda kesukaan pria itu selama ini.
Jeon Jonas mendekatkan kepala. Meraup kesukaannya dengan perlahan.
“Katakan Jeon, masalah apa yang membuatmu datang sebelum tanggalnya?” tanya Stephanie mengusap rambut Jeon Jonas dengan lembut. Stephanie memekik ketika bagian dirinya digigit dengan keras, bukti bahwa Jeon Jonas benci diganggu saat melakukan kegiatannya.
Beberapa menit kemudian Jeon Jonas melepas dirinya. Kepalanya berdenyut sakit.
Melissa. Melissa. Melissa.
“Brengsek!” Stephanie berjengit lalu menjauh dari tubuh Jeon Jonas.
“Apa aku melakukan kesalahan?” tanya Stephanie.
Jeon Jonas tidak mengubris, ia membenarkan penampilannya lalu membuka pintu rumah.
“Jeon..” Stephanie mengikuti hingga batas pintu.
“Aku akan mengirim semuanya ke rekeningmu.”
Setelah mengatakan itu, Jeon Jonas kemudian melanjutkan langkahnya menjauhi rumah Stephanie.
🌷🌷
“Hans!” panggil Jeon Jonas untuk kesekian kalinya. Tangannya sudaha terkepal di atas meja.
“Ya Bos.” Anak buah Jeon Jonas yang lain muncul dengan wajah menunduk.
“Kenapa kau yang datang? Aku membutuhkan Hans!”
“Hans tidak ada Bos. Bos menyuruhnya memantau pengiriman barang ke Vietnam.” Jeon Jonas mendesah panjang.
“Ben..”
“Ya Bos.”
“Antarkan aku ke sekolah Melissa.”
“Baik Bos.”
Jeon Jonas menatap pusat kota dari gedung miliknya. Hari ini tetap hujan seperti biasanya. Ia menghela nafas. Sialan. Jeon Jonas keluar dari ruangan, diikuti Ben di belakang, anak buah lainnya juga ikut serta. Ben menekan lift lalu masuk ke dalam setelah Jeon Jonas masuk dengan anak buah lainnya.
“Bagaimana perkembangan bar yang baru dibuka di Henderson?” tanya Jeon Jonas.
“Sejauh ini belum banyak yang berkunjung Bos. Tapi kami akan segera menyebar brosur,” sahut anak buah yang lain.
“Bekerja dengan cepat!”
“Baik Bos!”
Pintu Lift terbuka. Jeon Jonas berjalan dengan gagah bersama belasan anak buahnya. Ia diantar masuk ke dalam mobil, selanjutnya mereka berdiri dengan badan setengah membungkuk memberi hormat. Ben mengitari mobil, duduk di bangku pengemudi lalu menyalakan mesin mobil.
Ben melajukan mobil dengan cepat, ia tahu jika Bosnya tidak menyukai perjalanan yang lambat. Dengan kecepatan itu Ben akhirnya menghentikan mobil setelah sampai di depan Elderd High School. Ben membuka sabuk pengaman lalu membuka pintu.
“Tidak perlu keluar, kita menunggu di dalam mobil,” kata Jeon Jonas dengan suara tegasnya.
“Baik Bos.”
Hujan yang tadinya turun dengan deras berganti dengan gerimis. Jam yang ditentukan Jeon Jonas untuk kunjungan ke sekolah ini sangat tepat. Bel pulang berbunyi, seketika beberapa siswa berbondong-bondong keluar dari dalam sekolah.
Jeon Jonas mengusap kaca yang basah. Ia mengatupkan mulut. Sudah cukup penantian sia-sianya kemarin. Ia tidak mau menunggu lebih lama lagi.
Bunyi ponsel yang berdering tidak mampu mengubah perhatian Jeon Jonas dari kerumunan siswa yang berjalan keluar dari gerbang sekolah. Melissa tidak ada. Melissa hilang. Jeon Jonas dengan bodohnya membaca beberapa kali tulisan Elderd High Schoool. Mungkin Ben tidak membawanya ke sekolah yang benar. Tapi itu memang Elderd High School. Ini sekolah Melissa.
Dengan kemarahan penuh. Jeon Jonas menarik ponselnya lalu menekannya ke telinga.
“Apa ********!!”
“Bos, ini Hans. Saya ingin memberitahukan tentang Melissa, Melissa tidak masuk sekolah.”
“Apa?” Jeon Jonas melihat lagi ke gerbang sekolah.
“Gadis itu jatuh sakit.”
“Bagaimana kau tau tentang itu? kau kusuruh memantau pengiriman barang Hans, kau tidak melakukan tugasmu?”
“Barang dikirim dengan aman Bos. Saya tidak ikut ke Vietnam. Saya segera kembali dan mencari tahu tentang Melissa.”
Jeon Jonas kembali kepada kesadarannya. Gadis itu sakit?
“Setelah saya observasi, Melissa sudah sakit hampir seminggu.”
Jeon Jonas membelalak. Jeon Jonas mengingat bahwa gadis itu adalah yatim piatu. Hidup sendiri di rumah kontrakan yang menyimpulkan bahwa Melissa tidak diurus siapapun.
🌷🌷
Melissa memegangi kepalanya, di saat-saat seperti ini gadis itu masih memaksakan diri menyelesaikan tulisannya untuk dikirim ke sebuah blog. Suara ketukan pintu membuatnya menoleh. Bibi Hazel? Tidak ada yang berkunjung selain wanita tua itu.
“Bibi Hazel?” tanyanya masih duduk di atas ranjang.
“Saya mengirimkan paket nona,” sahut seseorang dari luar.
Melissa beringsut turun lalu mengintip dari lobang pintu. Seorang pria memakai seragam hijau dengan paket di tangan kanan. Meski bingung, Melissa tetap membuka pintu.
“Paket untuk saya?” tanyanya.
“Ya. Nona Melissa bukan?” Melissa mengangguk.
“Siapa pengirimnya?” tanya Melissa. Sebab tidak ada tulisan apapun di atas paket. Alih-alih menjawab, pria itu justru berjalan cepat lalu masuk ke dalam sebuah mobil.
“Tunggu!” Melissa kalah cepat, pria itu sudah meghilang bersama mobilnya.
Melissa menghela nafas. Masuk ke rumah, ia kemudian membuka paket. Ia terkesiap, isi paket itu ternyata berbagai jenis obat-obatan. Melissa tidak tahu tepatnya obat apa saja itu. Tapi ia segera mengambil obat yang ia butuhkan untuk demamnya.
Paracetamol.
🌷🌷
“Apa yang dia katakan?” tanya Jeon Jonas pada Ben.
“Dia menanyakan nama pengirimnya Bos.”
“Apa yang kau katakan?”
“Saya tidak menjawab Bos.”
“Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Aku tidak bisa membiarkannya hidup di rumah kumuh itu sendirian. Dia bisa mati di sana.” Ben melirik dari kaca tengah mobil. Bosnya terlihat menekan emosinya.
“Maaf Bos, tapi siapa gadis itu?” tanya Ben. Selama hidupnya, Ben tidak pernah melihat Bosnya sangat terobsesi pada seorang wanita. Setiap wanita yang Jeon Jonas inginkan datang sendiri padanya. Lantas apa yang membuat gadis itu istimewa?
“Melissa. Orang asing yang berani mencuri perhatianku.”
“Telepon Hans, suruh dia mengatur rencana,” sambung Jeon Jonas.
“Baik Bos.”
🌷🌷
Tidak ada yang mengerti mengapa malam ini, Jeon Jonas meluangkan waktunya mengamati ruumah kumuh di sana. Jeon Jonas diikuti tiga mobil anak buahnya, menatap objek yang sama, menanti sebuah pergerakan kecil dan kemunculan penghuni rumah.
“Bos..” ucap Hans, menunjuk Melissa yang keluar dari rumah itu. Seperti pertemuan sebelumnya, gadis itu memakai hoodie pink, namun kali ini, hoodie itu tidak polos, ada gambar kelinci di tengahnya.
“Dia akan kedinginan,” kata Jeon Jonas melihat Melissa keluar dengan celana pendek yang nyaris tidak kelihatan karena ditutupi hoodie pink besar miliknya.
Melissa berjalan menuju mini market yang dekat dengan rumah bibi Hazel, ia kemudian masuk, bermaksud membeli beberapa yogurt kesukaannya dan roti selai stoberi untuk pengganjal perut.
Melissa keluar dengan sebotol yogurt menempel di mulutnya. Ia merasa tidak nyaman, entah untuk alasan apa. Ia memutar tubuh, mengedarkan pandangannya melihat sekitar. Melissa berjalan dengan cepat. Tiba-tiba seseorang menubruk tubuhnya hingga hampir terjatuh.
“Perhatikan jalanmu!” Melissa berjengit, yogurt yang menempel di mulutnya terjatuh begitu saja. Seorang pria tinggi besar menatapnya dengan tajam. Pria itu menyeringai lalu berkata.
“Yogurtmu tumpah, sayang sekali. Aku punya yogurt juga, kau pasti suka, mau?” Melissa menggeleng takut.
“Di mana rumahmu? Aku akan memberikan yogurtku,” ujar pria itu mulai menyentuh rambut Melissa.
“Bos..” panggil Hans. Hans bisa mendengar suara gemelatukan gigi Jeon Jonas yang duduk di sampingnya.
“Jauhkan keparat itu!” desis Jeon Jonas. Hans segera keluar dari mobil. Anak buah yang lain hendak keluar, namun Hans menahan. Ia sudah cukup.
Hans dengan cepat memukul pria asing itu dengan tangannya. Ia menyembunyikan Melissa di belakang, lalu menatap pria asing itu dengan tajam.
“Jangan berani menyentuh milik bosku!” desis Hans.
“Calm down, aku hanya ingin memberinya yogurt,” jawab pria asing itu.
“Pergi atau kuhabisi kau!” Pria asing itu meludah lalu menjauh.
Hans memutar tubuhnya, melihat Melissa yang bergetar takut, tapi tetap menggenggam roti dan yogurt lainnya, membuat Hans gemas.
Jangan. Gadis itu milik Jeon Jonas.
“Kau baik-baik saja?” tanya Hans. Melissa mengangguk.
“Aku akan memberimu yogurt,” ucap Hans tulus. Melissa menggeleng.
“Aku tidak mau yogurt,” balasnya.
“Yougurt yang kumaksud, yogurt seperti yang kau beli dari toko itu..” Melissa mengernyit.
“Ah, itu..kau pasti membelinya di sana kan?” Melissa mengangguk.
“Ini sudah cukup, aku tidak membutuhkan yogurt lain, terimakasih sudah menolongku Paman,” sahut Melissa. Hans meringis mendengar gadis itu memanggilnya paman. Umurnya baru menginjak 24 tahun.
“Selamat malam paman.” Melissa berjalan menuju rumahnya lalu mengunci pintu.
🌷🌷
“Dia harus tinggal bersamaku, kalian sudah melihatnya, tempat itu tidak aman, apalagi dia sendirian,” ucap Jeon Jonas.
“Melissa adalah pribadi yang tertutup, hanya akan berbaur dengan orang yang dekat dengannya. Satu-satunya cara agar bisa mendekati gadis itu adalah menjadi anggota keluarganya,” balas Hans.
“Aku paham maksudmu Hans, aku sudah memutuskan, aku akan menjadi pamannya.”
Sebelum menjadi kekasihnya.
“Bawa aku menemuinya,” perintah Jeon Jonas.
“Baik Bos.”
🌷🌷
Melissa mengotak-atik ponselnya sekedar mencari tahu mengenai kehidupan penulis idolanya. Ia tidak masalah menghabiskan waktu berjam-jam demi melihat-lihat foto penulis yang ia idolakan. Sejak dulu Melissa selalu memimpikan menikah dengan seorang penulis sepertinya. Rasanya pasti akan sangat menyenangkan. Bisa bertukar pikiran dengan baik, lalu saling menilai tulisan yang akan dipublikasikan. Melissa tersenyum membayangkan semuanya.
DUK DUK
Melissa menoleh kala mendengar suara pintu diketuk. Ia meletakkan ponselnya di atas ranjang lalu beringsut mendekati pintu.
“Siapa?”
Tidak ada sahutan. Melissa memilih mengintip dari lobang pintu. Matanya dihalangi sebuah benda hitam. Melissa berdecak, lalu segera membuka pintu.
Melissa terkejut, melihat seorang pria bersetelan formal berdiri di hadapannya. Belum lagi, ternyata pria itu tidak sendiri, ada belasan pria di belakangnya.
“Si-siapa kalian?” tanya Melissa gugup sekaligus takut.
Jeon Jonas tersenyum hangat akhirnya bisa menatap Melissa sedekat ini.
“Hei Pinky..” sapanya lembut. Mendengar sapaan selembut sutra itu membuat Melissa terkesiap, bukan ia saja, namun anak buah Jeon Jonas lainnya. Jeon Jonas yang terkenal akan kekejaman dan kekasarannya bicara selembut itu?
“Aku Jeon Jonas.” Jeon Jonas mengulurkan tangannya, masih dengan senyum cerah di bibirnya.
“Aku pamanmu,” sambung Jeon Jonas. Melissa masih dalam mode bingung. Ia mundur selangkah.
Jeon Jonas bodoh karena membawa anak buahnya ke sini. Ia menghela nafas melihat langkah mundur gadis di depannya.
“Kembali ke dalam mobil!” instruksi Jeon Jonas tegas. Anak buah Jeon Jonas terperanjat. Baru saja mereka kagum dengan suara lembut Bosnya itu. Sekarang malah dikejutkan dengan suara tegas yang biasa mereka dengar.
Setelah anak buahnya pergi, Jeon Jonas menutup pintu lalu menatap mata gadis di depannya.
“Aku tau, pasti sangat mengejutkan untukmu, tapi aku benar-benar pamanmu. Maaf baru berkunjung, aku punya banyak masalah dengan pekerjaanku.”
“Aku tidak punya paman,” balas Melissa.
“Ya, bukan paman kandung, ibu dan ayahmu dulu pernah membantuku saat aku kecelakaan. Mereka merawatku selama berbulan-bulan, mereka menganggapku sebagai keluarga, begitupun aku. Kau tentu tidak mengenalku, saat itu kau masih sangat-sangat kecil, belum bisa bicara dan belum mengerti apa-apa.”
“Bagaimana aku harus mempercayai ini?” tanya Melissa. Jeon Jonas tahu bahwa gadis itu sedang menjaga dirinya sendiri. Lagipula tidak akan ada orang yang percaya begitu saja saat mendengar pengakuan tiba-tiba seperti ini.
“Melissa Kyle. Ayahmu Simon Kyle, dan ibumu adalah Tessa Hirrens. Ibu dan ayamu sama-sama dilahirkan di Las Vegas. Begitupun kau Melissa Kyle. Ibu dan ayahmu menikah di tanah keluarga Simon tahun 1994. Kau adalah anak tunggal dan-”
“Cukup, aku mengerti,” sela Melissa.
“Semuanya benar. Tapi mengapa kau datang sekarang?”
“Paman,” koreksi Jeon Jonas.
“Sudah kukatakan bukan? Aku punya banyak masalah dengan pekerjaanku Pinky.”
“Pinky?” tanya Melissa.
“Panggilan sayangku, karena kau suka dengan warna pink.”
“Bagaimana bisa?”
“Karena aku adalah pamanmu..” sahut Jeon Jonas seraya mengulum senyum.
“Aku ingin mengajakmu tinggal di rumahku, ayo kemasi barang-barangmu,” lanjut Jeon Jonas.
“Kenapa aku harus pindah? Aku menyukai rumah ini.”
“Tidak Pinky, di sini tidak aman. Kau harus tinggal bersamaku.”
“Aku tidak pernah merasa-”
“Melissa.” Perubahan ucapan dan suara membuat Melissa terkesiap. Pria ini, pria yang berbahaya. Melissa harus mengerti batasannya.
“Baiklah.” Jeon Jonas akhirnya menampakkan senyumnya lagi. Entah dari mana mulanya ia menjadi orang yang penyenyum seperti ini. Sejak mengenal Melissa?
Dan Melissa. Entah pengaruh apa, tapi ia merasa aneh dengan jantungnya kala melihat senyum dan mata berbinar pria di hadapannya. Terlalu lama mengubur jiwanya bersama khayalan dan tulisan ternyata membuat gadis itu lemah dengan seorang pria. Terutama Jeon Jonas.
Melissa! Dia adalah pamanmu!