HOT GUY

HOT GUY
[48]



Please vote before you reading this story.


Pukul enam sore tadi, resepsi pernikahan mereka telah selesai dilaksanakan. Mereka telah bersiap pulang dari hotel milik Krista, dan berencana akan segera pulan ke Las Vegas. Namun, mengingat bahwa Melissa sedang hamil dan Krista khawatir wanita itu kelelahan, Krista akhirnya mengusulkan mereka untuk tetap tinggal di Florida hingga esok hari.


“Kalian bisa tidur di hotel ini dulu, suite room-nya akan membuat Melissa nyaman,” ucap Krista.


“Anak buahku akan menginap di sini juga.”


“Ya, tidak masalah. Ada banyak kamar kosong. Dan jika mau, teman-teman Melissa juga bisa menginap di sini, mereka bebas memilih kamar yang ingin ditempati.”


Melissa tersenyum lebar, setuju dengan saran Krista yang kini berstatus sebagai ibu mertuanya.


“Baiklah, sepertinya Melissa suka dengan ide Ibu.”


“Bagaimana malam pertama kalian? Apa melakukan itu akan aman untuk bayinya?”


“Bayi teman,” ucap Livy sembari menatap takjub perut Melissa.


“Jangan menanyakan hal itu,” tegur ayah Jeon-Jonas.


“Kenapa? Aku hanya khawatir Melissa merasa sakit.”


“Itu tidak sakit, mereka sudah pernah melakukannya.”


Jeon-Jonas menghela napas. “Kami akan langsung ke atas.”


“Oh, akan aku antar,” sahut Krista.


“Bibi Hazel?” tanya Melissa.


“Jangan khawatir, mereka semua akan aman.”


Melissa mengangguk, selanjutnya mengikuti langkah Krista yang memasuki lift menuju lantai paling atas hotel. Sesampainya di kamar suite yang dibicarakan Krista, wanita itu membawa mereka masuk ke dalam, menjelaskan banyak keistimewaan yang ada di kamar itu lalu berbagai kemewahan yang akan mereka dapatkan.


Grand penthouse suite—memiliki luas sekitar 2.200 meter persegi yang di dalamnya terdapat lima kamar tidur yang dilengkapi balkon pribadi menghadap Miami Beach. Berbagai fasilitas juga disediakan, seperti pusat kebugaran privat, ruang relaksasi, Jacuzzi tub, bioskop mini dan layanan pribadi.


“Khusus untuk kalian, kamar ini akan aku kosongkan selama satu minggu,” ucap Krista dengan senyuman semringah.


“Hanya sampai besok, Ibu,” sahut Jeon-Jonas.


Krista menatap sedih pada Melissa.


“Aku ingin Melissa tinggal lebih lama, kau pasti akan mengurungnya di rumahmu.”


“Aku ingin di sini,” celetuk Melissa.


“Ya kan? Lihat, Melissa saja ingin tinggal di sini,” sambung Krista.


“Akan aku pikirkan,” putus Jeon-Jonas pada akhirnya.


Krista mendecih. “Ya sudah, aku akan kembali ke bawah untuk mengurus yang lain.”


“Hm.”


Krista mendecih lagi, sedikit menarik Melissa untuk mendekat. “Lihat, dia begitu dingin padaku. Kalau dia macam-macam beritahu aku, ya.”


Melissa terkekeh.


“Ibu!” seru Jeon-Jonas saat mendengar bisikan ibunya seolah ingin menjelek-jelekkannya.


“Apa!”


“Sebaiknya Ibu keluar.”


Krista melipat tangan di dada dengan raut kesal. “Aku masih ingin bicara dengan Melissa.”


“Besok, dia perlu istirahat.”


Krista mendecak dengan mata mendelik. “Dasar jin!”


Seperginya Krista dengan membanting pintu, Jeon-Jonas mengajak Melissa masuk ke dalam kamar yang akan mereka tempati. Karena memang tidak pernah berpikir akan menginap di sana, mereka tidak mendapati taburan rose flower atau hiasan-hiasan ala pernikahan yang khas. Hanya ada sebuah ranjang king size, lampu gantung, sofa, lemari pakaian tinggi dan sebuah TV.


Baru saja akan melepas pakaian atasnya, Jeon-Jonas mendapat telepon dari Ben. Melissa yang tadinya melihat-lihat di balkon dengan tatapan takjub, akhirnya memilih berkeliling di dalam ruangan. Ia membawa ponselnya untuk memotret, berencana akan mengirimnya pada Ava dan Maggie.


Namun, begitu tatapannya menemukan sebuah kolam renang kecil, ia tidak berpikir panjang untuk segera menyelam ke sana. Melissa membuka gaunnya, meletakkan ponsel di pinggir kolam lalu menyebur ke dalam.


Ternyata kolam itu tidak terlalu dalam, Melissa suka karena air di dalam juga tidak terlalu dingin.


Ponselnya berbunyi di saat itu juga, panggilan video dari Ava, yang langsung ia angkat dengan wajah basah yang semringah.


“Hai,” sapanya ceria.


“Hai … kau—basah?” sahut Ava.


“Sudah aku katakan, jangan meneleponnya bodoh,” celetuk Maggie, salah mengertikan kata ‘basah’.


“Aku berenang,” jawab Melissa.


“Uhh, malam seperti ini, itu dingin.”


“Jeon-Jonas akan membuatnya hangat,” goda Maggie.


“Airnya tidak dingin, bagaimana dengan kamar kalian?”


Ava memutar tubuhnya menujukkan kamar yang ia tempati dengan Maggie.


“Kami mendapatkan grand luxe room, Krista sangat baik. Lucas dan yang lain juga ditempatkan di kamar yang mewah,” jelas Maggie.


“Baguslah, bagaimana dengan Bibi Hazel?”


“Oh, aku melihat bibimu tadi. Dia dan Enna satu kamar, mereka juga ditempatkan di kamar yang bagus.”


Melissa tersenyum lebar, akhirnya naik dan duduk di pinggir kolam.


“Aku senang mendengarnya.”


“Uhh, dada itu. Jeon-Jonas akan menerkammu, Mel,” kekeh Ava.


Tepat pada saat itu, pria yang mereka bicarakan datang dan memeluk Melissa dari belakang.


“Aaaaa!!!” Ava dan Maggie berteriak. “Itu Jeon-Jonas, matikan!!”


Panggilan video berakhir. Melissa ingin berbalik, tapi tidak bisa karena Jeon-Jonas sudah menumpukan kepala pada bahunya. Ia sedikit menggeliat saat pria itu mengecupi bahunya yang terbuka.


“Paman..”


“Why do you still call me like that? Call my name, Pinky.”


“Jeon..”


“Ya, Sayang.”


Melissa menggigit bibir tatkala pria itu kini mengecup lehernya. Dari kulit mereka yang saling bersentuhan, Melissa yakin Jeon-Jonas sedang bertelanjang dada.


“Apa … kau ingin berenang juga?”


“Tidak. Kita harus kembali ke kamar. Kau akan kedinginan.”


Untuk terkahir kali sebelum bangkit, Jeon-Jonas menggigit kecil bahunya lalu beranjak mengambil handuk putih yang disediakan di dekat kolam. Ia menggulung tubuh wanita itu dengan handuk lantas mengajaknya masuk ke dalam kamar tidur.


“Seandainya bisa, aku ingin mengajakmu berendam air hangat di dalam jaguzzi. Tapi bahaya untuk janin di dalam perutmu. Kita akan mandi menggunakan pancuran air hangat.”


“Kita?”


“Ya, kita.”


Melissa menggeleng. “Tidak, aku ingin mandi sendiri.”


“Mandi berdua atau kusuntik?”


“Kenapa harus disuntik?”


“Itu pilihan, Pinky. Kalau kau setuju untuk mandi bersama, aku tidak akan menyuntikmu.”


Melissa mengerucutkan bibir. Rasanya—masih malu jika harus mandi berdua dengan pria itu. Tapi daripada harus kesakitan karena disuntik, ia akan memilih mandi bersama.


“Mandi bersama.”


Jeon-Jonas tersenyum miring. “Good choice.”


🌷🌷


Bertahun-tahun, Jeon-Jonas selalu bangun pagi untuk segala hal yang berhubungan dengan pekerjaannya. Biasanya, ia akan bangun cukup awal untuk menyempatkan diri berolahraga di ruang gym yang disediakan di dalam rumah, paling tidak akan lari pagi bersama Ben, dan akan berangkat menuju markas, gedung kasino atau tempat-tempat yang ia bangun untuk didatangi banyak orang sebagai hiburan.


Namun, pagi ini, untuk pertama kalinya, ia bangun hanya untuk menatap cukup lama wajah cantik Melissa yang berbaring di sampingnya. Wanita itu terbiasa memeluk guling atau boneka simba, dan karena tidak mendapatkannya, semalaman Jeon-Jonas yang dijadikan wanita itu sebagai simba besar.


Jeon-Jonas mengecup bibir Melissa ketika wanita itu melenguh rendah. Karena ketika ia mencoba bangkit untuk berjalan menuju kamar mandi, Melissa kehilangan simba besarnya.


Bibir wanita itu merengut seperti biasa, ia kemudian menarik guling yang semalam sengaja ia lemparkan ke sofa agar Melissa memeluknya, lalu menyelipkan guling tersebut ke lingkaran tangan Melissa.


Ia berhasil beringsut turun.


Ponselnya kemudian berdering, segera ia angkat karena tidak ingin Melissa merasa terganggu. Ayahnya menelepon, tidak biasanya.


“Jeon.”


“Hm.”


“Aku ingin membawamu ke suatu tempat.”


“Aku tidak bisa.”


“Hanya sebentar, pastikan memakai setelan formal.”


“Aku tidak bisa.”


“Aku tunggu.”


Panggilan berakhir secara sepihak. Jeon-Jonas mendecak, melangkah masuk ke dalam kamar mandi dengan raut kesal.


🌷🌷


Melissa melenguh rendah, matanya sedikit membuka saat ingin menggapai gelas yang selalu diisi Enna dengan air hangat. Begitu menyadari bahwa letak nakas sedikit berbeda dan ruangan menjadi lebih luas, ia buru-buru bangkit.


Ia sudah menjadi istri!


Melissa mengerjap-erjap, gelagapan saat tidak melihat Jeon-Jonas di sampingnya. Ia sudah merancang banyak hal semalam. Bangun pagi, merapikan tempat tidur, membuat sarapan pagi untuk—suaminya.


Memikirkan hal itu, membuat wajah Melissa dipenuhi semburat merah. Tapi tidak, ia bahkan sudah gagal di hari pertama. Bangun pagi sudah didahului pria itu, bukan dirinya yang sudah berencana.


Lalu—Jeon-Jonas muncul dengan penampilan yang sudah rapi, membawa sarapan yang sepertinya baru saja dipesan dari layanan kamar.


“Good morning.”


“J-Jeon..”


“Ya?”


“Maaf, aku bangun terlalu lama.”


“It’s okay, Honey.”


Melissa memainkan jari-jarinya dengan kepala menunduk. “Aku tidak melakukan apa pun, seharusnya aku bangun lebih cepat, seharusnya aku membuatkan sarapan. Tapi aku bahkan baru bangun dan sepertinya kau akan pergi..”


Jeon-Jonas tersenyum samar. “Oh, sebenarnya aku sedang membutuhkan bantuan istriku.”


Melissa mendongak.


“Membutuhkan bantuan? Kau ingin aku melakukan sesuatu?”


“Ya, apa kau bisa memasangkan dasiku?”


Melissa tersenyum cerah, secepat itu.


“Tunggu,” ucapnya seraya berlari ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi.


Sangat cepat menurut Jeon-Jonas, ia baru saja akan meletakkan nampan ke atas nakas, tahu-tahu wanita itu sudah berdiri di hadapannya, masih dengan senyuman cerah.


“Dasinya di mana?” Jeon-Jonas belum menjawab, tapi karena keantusiasan wanita itu, dasi dan jas yang ia sampirkan di atas sofa menjadi begitu cepat ditemukan.


Melissa sudah siap menggerakkan tangan-tangannya. Dan karena Jeon-Jonas yang terlalu tinggi, ia kesusahan melanjutkan kegiatannya. Pria itu tertawa kecil, akhirnya mencondongkan tubuhnya lebih rendah.


Ia menatap lekat wajah wanita itu dari dekat, mengembus wajahnya, tersenyum geli saat Melissa merasa terganggu. Wanita itu selalu mudah memerah, tampak lucu dengan rambut yang digulung asal-asalan.


Ke mana saja ia selama ini?


Mengapa tidak ia nikahi saja wanita itu saat pertama mereka bertemu?


Wanita itu naif, mudah dipengaruhi. Mungkin … Melissa akan menurut saja jika ia membuat alasan agar mereka segera menikah waktu itu. Mereka mungkin sudah memiliki setidaknya tiga anak, mengingat bagaimana buasnya pria itu setiap bersentuhan dengan Melissa.


Sebelum berpikir jauh tentang tiga sampai sepuluh anak, ia menyadari bahwa sejak tadi dasinya belum terpasang dengan benar. Melissa tampak gugup dengan kepala sedikit mundur dan menunduk. Jika diingat-ingat, Melissa belum pernah memasang dasi sejenis ini. Saat sekolah dasar, dasi yang diwajibkan untuk dipakai adalah dasi yang tinggal dijepit pada kancing seragam. Hingga melewati sekolah menengah pertama dan lulus sekolah menengah atas, dasi yang ia pakai adalah dasi yang memang telah menempel di seragam.


“Pinky..”


“A—aku akan menyelesaikannya.”


Jeon-Jonas menegakkan punggung, membuat Melissa gelagapan. Ia kemudian duduk di tepi ranjang, menarik Melissa agar duduk di pangkuannya.


“Jeon..”


“Aku ajari.”


Melissa mengangguk, memperhatikan tangan-tangan Jeon-Jonas yang bergerak lambat saat memasang dasi tersebut dan mengikatnya dengan rapi.


“Aku akan mencobanya.”


“Lain kali, Sayang. Aku perlu menemui pria cerewet itu.”


Ia tersenyum geli begitu wanita itu mendesah muram.


“Akan aku ajari setelah pulang nanti. Okay?”


Melissa mengangguk. Dan karena pria itu sudah tidak tahan menahan gemas, ia mencium Melissa, menekan pelan tengkuk wanita itu lalu menyelipkan lidah. Ia akan sering melakukan ini, mungkin harus setiap hari.