HOT GUY

HOT GUY
[17]



Vote vote vote !!


Jeon Jonas tidak membawanya langsung pulang, ia punya cara sendiri agar gadis belia itu tidak merajuk, jadi saat sebuah ide muncul, pria itu langsung membelok mobilnya ke tempat yang biasa dikunjungi oleh orang-orang untuk mengembalikan mood pasangan.


Melissa menoleh, menatap Jeon Jonas sedang membuka seatbelt dan hendak turun dan menyambut keramaian. Meski bingung serta dalam mood yang tidak baik, gadis itu akhirnya turun dan mengikuti Jeon Jonas yang menyeberang ke jalan kecil. Pria itu memegangi tangan kecilnya lalu menempelkan bahu satu sama lain agar lebih dekat.


“Ayo tunjukkan kemampuan anda!” teriak salah satu pria yang menjaga permainan sharp shooter.


“Simba!” Melissa tidak bisa menyembunyikan kegirangannya saat melihat banyak boneka simba di sana, bisa didapatkan jika menang dalam permainan menembak.


“Kau menginginkannya Pinky?”


Melissa mendongak lalu menatap Jeon Jonas dengan puppy eyes andalan.


“Biar kucoba,” ucap Jeon Jonas membayar untuk memulai permainan.


Ada enam sasaran yang harus ditembak di sana, dan sasaran itu tidak hanya bergeming melainkan berputar setiap pergantian detik.


Tapi ini Jeon Jonas. Pria itu mahir dalam menembak.


Jadi ketika matanya mulai membidik, peluru bergantian keluar untuk akhirnya berhasil menembak semua sasarannya, bahkan sasaran lain yang seharusnya tidak perlu ia tembak juga habis ia tembaki.


You win.


Tulisan kemenangan tertera dan berputar berkali-kali.


“Saya pikir saya tidak butuh pelanggan lain hari ini,” ucap pria penjaga mesin permainan sembari terkekeh. Seharusnya merasa rugi karena hanya sekali membayar Jeon Jonas dapat membidik semuanya dengan baik, tapi tidak. Jeon Jonas membayar dua kali lipat karena sebenarnya pria itu tidak melihat seberapa banyak uang yang ia keluarkan.


“Aku menembak semuanya, seharusnya bonekanya juga kami dapatkan semua bukan?”


“Ya, tentu saja.”


Pria penjaga mesin sharp shooter menarik bungkusan besar untuk tempat boneka simba sebagai hadiah lalu segera diberikan pada Melissa yang nampak senang di sana tapi juga bingung karena semua boneka yang dipajang di sana diberikan langsung ke tangan kecilnya.


“Semuanya untuk anda gadis manis,” ujar pria penjaga mesin sharp shooter.


“Ini terlalu banyak,” komentar Melissa.


“Tapi ayah anda berhasil menembak semuanya.”


“Aku pacarnya!” seru Jeon Jonas tidak terima disebut sebagai ayah.


“Aaaa begitu.” Pria penjaga mesin sharp shooter tersenyum sembari mengusap dagu, merasa iba pada Melissa. Jeon Jonas pasti memaksa Melissa memacarinya.


Pasangan itu kemudian pergi dari sana, memilih pulang karena merasa risih dengan bungkusan besar berisi belasan boneka samba milik Melissa.


“Lain kali aku juga ingin menembak,” ucap Melissa yang sudah duduk di bangku mobil.


Jeon Jonas tersenyum tipis, gadis itu sudah tidak merajuk.


“Paman tidak keberatan jika aku belajar menembak?”


“Tentu saja tidak. Aku akan mengajarkan segala hal yang tidak kau ketahui.”


“Sounds good.” Melissa terkekeh.


“Cute.” Jeon Jonas membingkai wajahnya lalu menarik hidung dengan gemas, memberi ciuman mungkin akan membuat gadis itu kembali merajuk.


Tapi Melissa memulai lebih dulu, gadis itu mendekatkan wajah untuk memberi kecupan di ujung hidung Jeon Jonas lalu menarik senyuman manis.


“Aku sayang Paman.”


Hanya dengan tiga kata itu, Jeon Jonas memberanikan diri memerangkap tubuh gadis itu untuk kemudian memberi ciuman lembut di bibir. Menjadi lumatan yang sensual ketika Melissa tidak sengaja membuka mulut karena butuh mengambil nafas.


Andai saja Melissa gadis yang berpengalaman, mungkin Jeon Jonas sudah memangsa gadis itu sekarang. Tapi lagi-lagi pria itu disadarkan ketika menerima dorongan di dadanya, baru saja dua menit tapi gadis itu sudah haus akan oksigen. Jadi mau tidak mau Jeon Jonas harus melepaskan dan memberi kecupan di kedua mata gadis itu sebagai akhir dari ciuman.


***


Jeon Jonas memilih berkunjung ke kasino untuk bermain, sebab beberapa jam yang lalu sebenarnya ia ingin menghabiskan waktu kosongnya bersama Melissa, tapi gadis itu mengeluh karena butuh waktu sendirian. Tidak ada pilihan lain lagi selain menguji keberuntungannya kali ini.


Tiga orang wanita berpakaian mini segera berlari ketika melihat pria itu datang, siapa lebih cepat pasti mendapat posisi menyenangkan bersama Jeon Jonas.


Pria itu duduk di depan meja kartu yang sudah berisikan beberapa orang sebagai pemain juga lalu menyuruh seorang gadis untuk segera membagikan kartu. Tapi pemadangan buruk mengganggunya. Salah satu wanita berpakaian mini di sana tanpa rasa canggung duduk dan bergelayut manja di sampingnya.


“Jangan menyentuhku.”


“Tuan pernah bermain denganku,” sahut wanita itu dengan wajah dibuat agar nampak menggemaskan.


Jeon Jonas menggeram lalu menekan dau wanita itu dengan kencang.


“JANGAN MENYENTUHKU J*LANG.”


Suara Jeon Jonas begitu keras, membuat wanita itu langsung berdiri dan bergidik ngeri ketika mendapati mata Jeon Jonas telah memerah. Tiga wanita yang tadinya berlari dan ingin merebut posisi seketika mundur karena takut, tidak biasanya Jeon Jonas menolak perempuan. Ini pertama kalinya pria itu berteriak marah ketika seorang wanita menggodanya.


Jeon Jonas melemparkan kartunya asal lalu berdiri dan memanggil Ben yang sejak tadi berdiri di belakangnya.


“Siapa wanita itu?”


“Dia Yunhee. Dari Busan, Korea Selatan.”


“Kembalikan dia ke Negaranya!”


Ketika mendengar itu Yunhee sudah tidak bisa menahan dirinya lagi untuk segera berlutut dan memohon di kaki pria itu dengan ekspresi penuh kesedihan.


“Tuan, tolong jangan kembalikan saya. Saya mohon.”


Jeon Jonas berdecih lalu menghentakkan kakinya dengan keras. Tidak ingin peduli dengan nasib seorang wanita yang berani menyentuhnya selain Melissa.


Melihat Jeon Jonas pergi tanpa mau mendengar keluh-kesahnya, Yunhee menangis dan seketika meraung ketika Ben dan dua lelaki yang berjaga di kasino menariknya untuk dikeluarkan dari sana.


***


Melissa merentangkan kedua tangannya ke atas, setelah menghabiskan waktu di dalam kamar untuk melanjutkan karangannya, ia kemudian segera mengirimnya ke sebuah blog yang cukup diminati oleh banyak pembaca.


Tapi sekelabat bayangan tentang adegan panas di dalam mobil kemudian terlintas di pikirannya. Melissa menutupi wajahnya yang memanas lalu menghembuskan nafas. Memikirkan hal yang negatif akan membuat otaknya cepat rusak. Jadi daripada diam dan pikiran itu kembali datang, Melissa memlih masuk ke kamar mandi untuk berendam di bathup.


“Nona..” Suara Enna.


“Aku di kamar mandi,” sahut Melissa dari dalam bathup.


“Berendam?” tanya Enna mengintip sebentar lalu membuka pintu kamar mandi dan masuk tanpa rasa canggung.


“Kulit Nona akan sangat wangi jika menuang wewangian ini ke dalam.” Enna menunjuk sebuah botol kecil berisi cairan keemasan, menyarankan Melissa agar mencampur cairan itu ke dalam air yang sedang ia pakai.


“Ingin mencoba?” lanjutnya.


“Ehmm ya.” Melissa mengangguk, dan tidak menunggu lama untuk Enna menuangkan cairan keemasan itu ke dalam bathup.


“Wanginya..seperti..” Melissa mengambil busa lalu mencium aroma yang menyebar di sana.


“Bunga Lili dan campuran madu.” Enna menyahut lalu tersenyum tipis.


“Benar. Ini sangat wangi, aku sudah melihat botol itu dari hari pertama tinggal di sini, tapi tidak tau apa manfaatnya.”


Enna terkekeh singkat.


“Saya juga lupa memberitahunya.”


Enna duduk di pinggiran bathup lalu menopang dagunya untuk melihat Melissa dengan senyuman geli.


“Aku tidak menyangka kalau Tuan akan terpikat padamu,” ucapnya.


“Ini yang aku tunggu Enna, jangan bicara formal lagi padaku,” sahut Melissa saat menyadari cara bicara informal Enna padanya.


“Ternyata lebih menyenangkan bicara informal. Aku juga ingin seperti Bibi Hazelmu yang akan bercerita banyak jika punya waktu luang, apa kau keberatan?”


“Tidak, astaga. Aku justru senang punya sahabat dewasa sepertimu.”


“Oh ya Tuhan, kabar baik.”


“Kembali ke pertanyaanku sebelumnya, aku tau kalian berhubungan jauh sekarang,” ucap Enna kembali memasang senyuman gelinya.


“Apa menurutmu dia terlalu tua untukku? Banyak yang mengira dia adalah ayahku.”


Enna tertawa terbahak-bahak.


“Justru lebih baik seperti itu, jadi pria yang ingin mendekatimu di depannya akan berpikir dua kali. Tapi kalian cocok. Tuan tidak pernah bertingkah seperti itu selama ini, dia menjadi sedikit menggemaskan.”


Melissa tersenyum malu.


“Apa itu sesuatu yang buruk ketika aku berpacaran dengan pamanku sendiri?”


“Kalian tidak punya hubungan darah, itu bagian pentingnya.”


“Kau serius ketika mengatakan kami cocok?”


“Ya. Astaga, sangat!”


“Pria dewasa seperti Jeon Jonas selalu punya cara sendiri untuk menyenangkan gadis kecil sepertimu, walaupun umurnya jauh lebih tua tapi aku bisa lihat bagaimana caranya menyesuaikan diri ketika bersamamu. Mungkin ketika kau sedikit lebih dewasa dia akan menenjukkan banyak hal yang lebih istimewa.”


“Aku harus bisa menjadi pribadi yang lebih dewasa, aku ingin tau lebih tentangnya.”


“Aku sangat menunggu. Jeon Jonas juga akan senang ketika kau menjadi dewasa.”


Duk Duk.


“Nona..” Suara pelayan lain.


“Aku sedang mandi,” sahut Melissa.


“Tuan meminta anda untuk datang ke ruangannya.”


“Baik, aku akan segera ke sana.”


“Aku juga akan kembali, terimakasih percakapan singkatnya. Aku juga ingin bilang kalau aku punya resep baru untuk dijadikan pancake,” ujar Enna.


“Kita harus memasak bersama ketika aku punya waktu luang.”


“Ide yang bagus.” Enna tersenyum lebar lalu keluar dari kamar mandi.


***


Melissa bergegas beranjak menuju ruangan Jeon Jonas setelah mandi dan berpakaian, rambutnya belum kering sepenuhnya, ia menggunakan hairdryer dengan asal karena takut pria itu akan marah karena menunggu lama.


Membuka pintu pelan, ia kemudian menemukan Jeon Jonas tengah duduk di depan meja sembari mengetik di keyboard komputer.


“Paman..”


“Masuk Pinky.”


Jeon Jonas memutar badannya lalu menepuk paha sebanyak dua kali.


“Duduk di sini.”


Tidak ingin bertanya, Melissa segera menurut lalu duduk di pangkuan Jeon Jonas, dengan posisi tidak saling berhadapan.


“Baru siap mandi?” tanya pria itu dengan suara lembut.


“Ya, baru saja.”


“Paman sibuk?”


“Tidak terlalu, aku hanya harus menganalisis ini.”


Melissa merasa gugup ketika pria itu menaruh dagu di bahunya. Sementara tangan kanannya berada di atas mouse.


“Tadi aku membeli susu pisang, untukmu.” Jeon Jonas menarik kemasan botol berwarna kuning lalu di berikan pada tangan Melissa.


“Ini enak,” komentar Melissa setelah mencoba minuman itu menggunakan sedotan.


“Aku juga menyukainya,” jawab Jeon Jonas sembari tersenyum.


Detik berikutnya tangan Jeon Jonas sudah berpindah dari mouse, pria itu memeluknya dari belakang, masih dengan dagu di bahu Melissa, pria itu kemudian mengecupi pundak gadis itu dengan gemas.


“Kau wangi sayang.”


“Tapi Paman tidak.”


Jeon Jonas mendengkus pelan.


“Ya, aku belum mandi.”


Melissa tentu berbohong ketika mengatakan Jeon Jonas tidak wangi, lebih tepatnya sebenarnya aroma tubuh pria itu punya wangi yang khas. Aroma yang begitu maskulin ditambah jika sudah bercampur dengan keringat, itu menjadi aroma yang seksi.


Hakhh.


Melissa terpekik ketika tubuhnya diputar dengan begitu cepat, entah dari mana mulanya ketika tangan Jeon Jonas menekan pinggulnya lalu posisi mereka sudah saling berhadapan.


Dan tatapan mereka saling bertemu.


Jeon Jonas tersenyum padanya, membenahi rambutnya yang belum kering sepenuhnya lalu diselipkan ke telinga.


“Pinky..”


“Hmm?”


“Aku menyayangimu.”


Jeon Jonas mengecup bibirnya singkat lalu memeluknya dengan erat.


***


Ketika udara malam semakin mencekam, beberapa orang di ruangan itu masih saja menunduk dan siap menerima amukan ketika Tuannya menggeram dan melempar gelas wine ke kepala anak buahnya sendiri.


“Berminggu-minggu kebakaran itu terjadi! Dan kalian pikir aku akan diam saja dan membiarkan semuanya berlalu! Jeon Jonas yang melakukannya!!”


“Tapi Bos, tidak ada bukti yang kuat untuk menuduh Jeon Jonas.”


Bernard terkekeh singkat lalu melayangkan tamparannya pada wajah Brian.


“Kita tidak perlu bukti! Ketika aku bilang itu Jeon Jonas maka pasti benar Jeon Jonas yang melakukannya, bahkan ketika dia bukan pelakunya, kita memang harus menghabisinya!”


Namun Bernard segera disadarkan jika ia tidak bisa hanya mengandalkan diri serta anak buahnya, ia harus punya hal yang akan membuat Jeon Jonas bertekuk tulut.


“Kita harus mencari tahu kelemahan Jeon Jonas,” ucapnya sembari mengunyah tusuk gigi.


Seorang wanita berparas cantik kemudian masuk dan duduk di sampingnya.


Tanpa rasa malu Bernard segera menarik wanita itu lalu menciuminya di depan semua anak buahnya.


Saat tautan bibir mereka terlepas, wanita itu kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Bernard untuk berbisik.


“Baiklah, akan aku lihat nanti. Tunggu di dalam kamar.”


Wanita itu mengangguk lantas keluar dari ruangan.


“Mungkin wanita?” celetuk Bernard.


“Wanita bukan kelemahan Jeon Jonas, Brian. Dia menyimpan wanita untuk dipermainkan, dia tidak pernah jatuh cinta. Terakhir kali aku bahkan mendengar kabar kalau dia mengembalikan jalangnya ke Negara asal.”


“Tidak mungkin,” gumam Bernard.


“Kita akan segera menyerangnya, tapi kita harus memikirkan banyak cara. Terutama hal yang akan membuatnya tidak bisa melawan. Jeon Jonas mahir dalam menggunakan senjata apa saja, aku tau dia juga selalu menyimpan hal yang tidak pernah kita duga. Tapi percayalah dia selalu punya kelemahan, dan kita harus cari tau itu.”


Semua orang tahu bahwa Bernard pria yang ambisius, dan semua orang juga tahu jika pria itu berbahaya namun Jeon Jonas merupakan pemain yang handal, baik dalam menggunakan anggota tubuh atau senjata, pria itu selalu menjadi pemenang. Bernard membuang ludah ketika mengingat kemenangan Jeon Jonas selama bertarung dengannya, untuk kali ini Bernard tak ingin kalah, kepala Jeon Jonas harus jadi hiasan pintu rumahnya.


“Siapkan mobil, aku ingin memangsa banyak kepala hari ini.”


“Baik Bos!”


Bernard berdiri lalu mengancingkan jasnya dengan posisi tegap, saat anak buahnya datang dan memberitahu mobil sudah disiapkan, ia segera beranjak keluar dan masuk ke dalam mobil.


“Siapa yang belum kita temui?” tanyanya setelah duduk di jok belakang.


“Empat lagi Bos, yang jarang membayar adalah keluarga Merlan.”


Bernard menyeringai.


“Ah itu akan menyenangkan.”


Sesampainya di depan sebuah toko minuman milik keluarga Merlan, Bernard segera keluar setelah pintu dibukakan untuknya.


Keributan terjadi bahkan sebelum pria itu menginjakkan kakinya masuk.


“T-Tuan.”


Brian menarik kerah baju Merlan lalu membawa tubuh lemah pria paruh baya itu ke depan Bernard.


“Tuan, maafkan saya. Tapi saya harus membayar uang kuliah anak saya.”


“Apa?” Bernard mendekatkan telinga, pura-pura tidak mendengar.


“Saya berjanji akan segera membayarnya Tuan. Saya berjanji.”


Brakk.


Setelah mendengar rintihan memohon itu, Bernard mendorong kakinya untuk menendang perut Merlan dengan kuat, bahkan setelah Merlan terjatuh dan memohon agar Bernard berhenti menekan dan menendang perutnya, Bernard tidak peduli. Pria itu bahkan sudah menarik pistol dan mengarahkan moncongnya ke dahi Merlan.


Darr.


“Ah kupikir akan ke dahi,” decak Bernard ketika pelurunya berhasil melubangi mata kiri Merlan.


Tubuh Merlan menggelepar, masih belum mati.


Istri Merlan yang meringkuk di balik meja kasir hanya bisa menangis.


“Bagaimana? Kau ingin aku menembak matanya yang sebelah kanan atau dahinya saja?” tanya Bernard pada wanita itu.


“Mata saja,” ucap Bernard lalu menembak mata Merlan yang kini akhirnya sama berlubang dengan mata yang lain.