
Perubahan sorot mata jelas begitu berbeda di sana. Satu sama lain menilai apa saja yang membuatnya menjadi berbeda. Stephanie menaikkan alis memindai gadis yang tengah berdiri tepat di belakang Jeon Jonas. Gadis belia itu menilik sedikit, ingin melihat siapa kiranya wanita tinggi semampai yang tengah menatap lurus ke arahnya.
Pemindaian Stephanie mengenai gadis itu segera berlalu saat sebuah tangan menariknya agar segera angkat kaki dari rumah.
“Apa yang kau lakukan?” Stephanie berteriak kesal, kali pertama tangannya dipelintir ke belakang bak tahanan polisi.
“Jeon..” Stephanie meringis, meminta dengan wajah memelas agar Jeon Jonas membantunya.
“Aku akan berbicara denganmu nanti,” sahut Jeon Jonas lantas menarik Melissa ke dalam kamarnya.
“Lepaskan aku Hans!” Kali ini Stephanie memasang raut wajah seperti monster, ia menghentakkan tangan lalu memberi tamparan di pipi kiri pria yang berani menyakiti tangan putihnya.
“Kau pikir Jeon Jonas akan mentolerir kelakukanmu ini padaku?” ancam Stephanie dengan tatapan nyalang. Sementara Hans masih setia dengan wajah datarnya sembari menggerakkan kepala menoleh pada wanita di depannya.
“Siapa dirimu berani mengancamku? Aku tangan kanan Jeon Jonas, sedangkan kau hanya wanita yang dibayar sebulan sekali untuk menuntaskan hasratnya.” Stephanie berdecih angkuh lalu melipat tangannya di depan dada.
“Seorang Jeon Jonas selalu membutuhkan wanita yang dibayar sebulan sekali sepertiku, dia tidak akan mampu meninggalkanku,” ucapnya.
“Kau pikir kenapa selama ini Jeon Jonas tidak mengunjungimu?” Hans menandas disertai seringaian.
“Ke*arat kau!” Kembali Stephanie ingin melayangkan tangan dan secepat itu pula tangannya kembali dipelintir ke belakang.
“Lepaskan!” Stephanie meronta namun tanpa belas kasihan Hans menariknya keluar dari rumah.
***
“Tadi itu siapa?” Jeon Jonas tahu kebohongannya akan semakin menumpuk di udara, bahkan untuk menjawab pertanyaan dari gadis itu ia harus kembali berdusta.
“Teman kerja.”
“Lalu kenapa Paman membawaku ke sini?” Melissa merasa sesak berada di ruangan serba hitam milik Jeon Jonas, bahkan pria itu tanpa sebab mengurungnya di dinding bersama kedua tangan kokoh berotot yang Melissa yakini muncul karena sering berolahraga.
“Paman tidak jadi makan?” tanpa ingin menerima jawaban dari pertanyaan sebelumnya Melissa bertanya sekali lagi.
“Sudah lewat jam sepuluh, sebaiknya kembali ke kamar dan tidur.”
“Paman tidak apa makan sendiri?” Jeon Jonas tersenyum tipis lantas mengusap lembut pipi gadis itu diantara kegelapan.
“Pinky, kau harus cepat dewasa.”
Meski bingung dengan maksud pria itu, Melissa kemudian mengangguk.
“Aku akan makan sendiri, sekarang pergilah ke kamarmu, kita bertemu lagi besok.”
Melissa mengangguk lagi.
“Sebentar, aku akan menyalakan lampu.” Jeon Jonas menurunkan kedua tangannya lantas beranjak menekan saklar lampu. Tidak mau gadisnya terjatuh karena tidak mengetahui jalan.
“Good night uncle.”
“Good night Pinky.” Jeon Jonas tersenyum saat dengan polosnya Melissa tidak berpikir panjang mengenai Stephanie, gadis seperti ini yang Jeon Jonas mau. Gadis yang mudah diatur dan dipengaruhi.
***
“Dia menyakiti tanganku.” Stephanie menunjukkan tangannya yang memerah sembari berwajah sendu.
Hans menundukkan kepala memberi hormat lalu pergi meninggalkan Stephanie dan bosnya berada di ruangan itu.
“Ini terakhir kalinya Stephanie, kau melanggar aturan,” peringat Jeon Jonas.
“Itu karena kau tidak pernah mengunjungiku lagi,” rengek Stephanie seraya mengusap tangannya yang terasa perih.
“Sekarang pergilah, aku tidak punya waktu untukmu.” Jeon Jonas duduk di sebuah kursi lalu menumpukan kakinya di kaki yang lain.
“Tidak mau, kau bahkan tidak iba padaku.” Stephanie memasang wajah cemberut lalu meringis kecil diantara pijatannya.
Jeon Jonas mendongak dengan tatapan tajam.
“Kau tidak mendengarku?” tanyanya dengan intonasi suara lebih tinggi.
“Aku punya banyak wanita Stephanie, dan kau bukanlah wanita yang harus selalu aku kunjungi setiap kau mau. Banyak wanita yang lebih beruntung darimu.”
“Wanita tadi yang kau maksud?” tebak Stephanie. Jeon Jonas memilih tidak menjawab.
“Jadi kau menyimpan daun yang lebih muda sekarang?” sambung Stephanie.
“Itu bukan urusanmu!” Kali ini sorot mata Jeon Jonas berubah semakin pekat.
Stephanie tersenyum miring. “Spesial?” ucapnya.
“Well, aku memang bukan daun muda lagi, tapi aku bisa memberimu hal yang kau mau. Aku akan pergi sekarang, kau tau ke mana kau akan menghubungiku bukan? See you darling.” Stephanie membuka pintu untuk keluar lalu melayangkan ciuman jauh untuk Jeon Jonas.
***
Melissa tengah memasukkan bukunya ke dalam tas saat Bobby bercerita mengenai kejadian aneh yang menimpanya. Saat ini memang sedang jam istirahat untuk setiap siswa yang bersekolah di Faith Lutheran, bahkan beberapa sudah keluar untuk menyantap hidangan yang ada di kantin.
“Aku sengaja lewat gang itu karena sepi, di jalan yang biasa kulewati sedang dalam perbaikan. Lalu saat itu aku melihat semuanya,” ujar Bobby.
“Melissa, ada cerita baru dari Bobby,” panggil Ava.
“Ah ya.” Melissa tersenyum tipis.
“Hei, kau tidak perlu canggung lagi, kita semua temanmu sayang, ayo bergabung,” celetuk Maggie menggeser bangkunya agar Melissa menarik bangku miliknya ke tengah lingkaran gossip mereka.
“Ke intinya saja, jadi apa yang kau lihat? aku penasaran,” ucap Lucas.
“Ada sekitar lima orang berpakaian gelap sedang memukuli seorang pria, kupikir dia seumuran ayahku sekarang. Dia meminta tolong agar dilepaskan namun dia malah dipukuli lebih keras, aku langsung pergi karena takut ketahuan,” cerita Bobby.
“Hanya itu yang kau lihat, orang yang memukuli itu bagaimana? Kau melihat wajahnya?” tanya Ava.
“Tidak, mereka membelakangiku.” Lucas berdecak kesal. “Harusnya kau rekam saja bodoh, kalau begini aku akan selalu penasaran.”
“Dia bisa tertangkap Lucas,” desis Maggie.
“Dia kan bersembunyi, tidak akan ketahuan. Kalau aku yang jadi Bobby, aku pasti merekamnya, cukup atur ponselnya agar tidak memiliki suara. Beres,” gerutu Lucas.
“Sekarang saja kau berani, tiba kau yang di posisi Lucas, kau pasti langsung lari,” ejek Ava.
“Tidak usah sok tau,” sahut Lucas.
Maggie dan Bobby menghela nafas mendengar perdebatan kedua temannya itu.
“Ke kantin?” tanya Maggie.
“Boleh,” jawab Melissa.
“Kau akan sakit kepala kalau mendengar celotehan mereka,” sambung Maggie.
Melissa memperhatikan sekitar yang ramai karena kebebasan di luar jam pelaran, ingatan tentang Rosie yang selama beberapa hari yang lalu mengikutinya berkelabat, wanita itu seketika menghilang dan tidak dapat ditemukan di mana-mana. Untungnya Melissa tidak terbebani dengan itu, gadis itu justru senang karena dirinya tidak lagi dimata-matai, meski cemas jika ternyata wanita itu kesusahan di luar sana.
“Ya Tuhan ada macaron,” jerit Maggie saat melihat jejeran makanan yang diperjualbelikan di kantin sekolah.
“Melissa, kau mau yang mana? sepertinya aku akan pesan semua variannya,” ucap Maggie bersemangat.
“Strawberry please.”
“Lihat betapa imutnya ini,” ucap Maggie setelah duduk di samping Melissa bersama kue kering pesanannya.
“Wait, jangan makan. Aku akan memotretnya dulu,” cegah Maggie saat Melissa akan mengunyah macaron miliknya.
“Done, kau bisa mengunyahnya sekarang.” Melissa mendesah pelan.
***
Sepulang sekolah, seperti biasa Melissa akan bekerja sebagai pelayan, namun baru saja sampai, ia dikejutkan dengan kehadiran Brian di depan pintu cafe.
“Ya Tuhan, kau belum mendapat pemberitahuan dari temanmu yang lain?” tanya Brian.
“Mengenai?” Melissa balik bertanya karena bingung.
“Cafe hanya dibuka sampai siang hari, untuk hari ini saja. Besok akan kembali seperti biasa.” Melissa berubah jadi cemas.
“Lalu bagaimana dengan pekerjaanku?” Brian tersenyum tipis.
“Kau bisa bekerja besok, sekarang pulanglah. Beberapa temanku ingin berkunjung ke sini.”
“Kalian tidak akan membutuhkan pelayanan?” Brian mengerutkan dahi.
“Semacam?”
“Kau bilang temanmu akan berkunjung, mungkin aku bisa menghidangkan makan atau minum.”
Brian menghela nafas. “Kau bisa pulang Melissa, kami bisa melakukannya sendiri.”
“Baiklah, selamat siang.” Melissa membalik tubuhnya untuk pergi dari depan cafe, ia tidak ingin segera pulang, rasanya ia merindukan Peter.
***
“Kau ingin membicarakan apa?” tanya Peter, saat ini mereka berdua tengah berada di cafe sederhana yang berada tidak jauh dari tempat kerja Melissa. Tadi saat di telepon, Melissa bicara tidak jelas, hanya menyuruh pria itu agar segera menemuinya ke alamat yang ditujukan lalu gadis itu segera memutus sambungan telepon.
Melissa menyeruput yogurtnya lalu menyengir.
“Hanya ingin melihatmu,” sahutnya enteng.
“Ya Tuhan, aku sedang di kantor tadi, banyak naskah yang masuk ke emailku,” decak Peter, meski begitu ia tidak marah, karena sebelumnya ia memang berencana ingin menemui Melissa..
“Lagi pula kenapa kau tidak bekerja?” sambung Peter.
“Brian menyuruhku untuk tidak bekerja dulu, teman-temannya ingin ke tempat itu.”
“Hanya kau saja?” Melissa menggeleng sembari menyeruput lagi yogurtnya.
“Semuanya, sepertinya Brian tidak ingin terganggu dengan kehadiran kami.”
“Bukankah justru dia akan membutuhkan pelayan? Dia juga tidak perlu menutup cafe bukan? Memang sebanyak apa temannya?”
“Tidak tau, mungkin memang banyak.”
Perbincangan seru dengan Peter sangat berlarut-larut dan berakhir ketika Peter mendapat pangilan dari atasannya, Melissa memilih menelepon Jack karena harus segera pulang, takut-takut Jeon Jonas akan khawatir dan mencarinya ke mana-mana.
“Maaf Nona, ban mobilnya bocor, saya sedang di bengkel sekarang, mungkin ini akan memakan waktu yang lama,” sahut Jack dari seberang.
“Tidak apa Jack, aku akan naik taksi.” Melissa menjawab dengan tenang.
“Terimakasih Nona, tapi bisakah Nona tidak memberitahukan ini pada Tuan Jeon? Saya takut Tuan akan marah karena membiarkan Nona naik taksi.”
“Baiklah Jack.”
“Terimakasih Nona.”
Panggilan terputus, Melissa menjejalkan kembali ponselnya ke dalam saku lalu memperhatikan jalanan yang masih saja padat oleh mobil yang berlalu-lalang meski hari sudah petang.
Melissa memilih berjalan dengan sesekali melihat awan jingga. Satu hal yang tidak berubah dari Melissa, ia selalu menyukai warna awan dikala sore, jika dulu Bibi Hazel akan mengajaknya ke pantai dan melihat sunset maka hari ini ia hanya bisa memandanginya sendiri.
Tin Tin.
Melissa kaget lalu berbalik melihat mobil hitam yang berhenti tiba-tiba di belakangnya.
“Perhatikan jalanmu idiot!”
“Maaf, maafkan saya.” Melissa menundukkan kepala tidak berani melihat pria sangar yang tengah menunjuk kepalanya.
“Ini jalan untuk mobil! Itu jalan yang harus kau lalui, perhatikan pakai mata!” Pria itu menunjuk pinggir jalan sembari membentak.
“Maaf, saya tidak sengaja.”
“Apa lagi ini?” Seorang pria tinggi memakai kaca mata hitam keluar dari dalam mobil dan melihat keadaan.
“Maafkan saya.” Melissa membungkukkan badan meminta maaf.
“Tolol!” Pria yang mengatakan ***** itu tiba-tiba saja akan terhuyung karena mendapat tamparan di wajahnya.
“Dia hanya gadis kecil, bedebah!” Pria berkaca mata itu melayangkan tangan ingin memberi tamparan lagi namun dengan cepat pria tadi bergeser dan meminta maaf dengan menundukkan kepalanya.
“Ah, gadis kecil. Maaf membuatmu takut. Kau baru pulang sekolah?” tanya Pria itu dengan melepas kacamatanya.
Melissa menggeleng.
“Bertemu dengan teman?” tanya pria itu lagi.
Melissa mengangguk. Hanya itu yang dapat ia lakukan. Terpasang alarm bahaya di dalam dirinya, entah untuk alasan apa.
“Sebagai permintaan maaf, bagaimana kalau kau kuantar menggunakan mobilku?” Melissa memberanikan diri menatap pria jangkung itu.
“Jangan takut, ini hanya sebagai permintaan maaf, aku tidak suka gadis manis sepertimu dibentak.”
Melissa mengangguk pelan.
“Masuklah.”
Melissa masuk dan duduk di dalam diikuti pria itu duduk di sampingnya.
Terdapat tirai di dalam mobil, tirai yang menjadi batas antara pengemudi dan orang yang duduk di belakang. Untuk saat ini hanya mereka berdua yang duduk di belakang.
“Jadi siapa namamu?” tanya pria itu.
“Melissa Kyle.”
“Aku Bernard.”
“Kau sudah makan? Aku punya beberapa cemilan,” sambung Bernard.
Melissa menggeleng pelan. “Aku sudah makan Paman.”
“Paman? Kau dengar itu Thomas? Dia memanggilku Paman, aku punya keponakan sekarang.” Bernard terkekeh sumbang sedangkan pria bernama Thomas yang berada di jok depan masih gemetaran karena menjadi bahan pemukulan. Bernard menyalakan rokok lalu menghisapnya di depan mata Melissa.
Melissa takut dibilang tidak sopan jika menutup hidung, ia menahan nafas sejenak lalu menoleh ketika Bernard membuka pintu mobil yang posisinya masih berjalan lalu membuang rokoknya.
“Kau aman sekarang.”