HOT GUY

HOT GUY
[26]



Pada tengah malam yang begitu sepi, ketika semua mata telah memejam dan keheningan membungkus semuanya dengan damai, Jeon Jonas berhasil keluar, menyelinap ke sebuah kamar berpintu putih yang pemiliknya sudah tidur sejak lama. Dengan semua keberanian, ia mencium bibir gadis itu dengan begitu lembut, begitu pelan dan sangat hati-hati. Dengan demikian gadis itu tidak akan terbangun, tidak akan terganggu, tidak akan menjauh dengan raut marah.


Jeon Jonas ingat bagaimana wajah Melissa menyimpan kekecewaan, gadis itu tidak terima tempatnya diambil wanita lain. Jeon Jonas sangat mengerti itu. Ia paham bahwa Melissa akan selalu di sana, menempati seluruh ruang hatinya. Melissa bisa mengisi semuanya tanpa permisi, sebab Jeon Jonas akan menerimanya sepenuh hati.


Ia tersenyum, saat seperti biasa Melissa merengek menginginkan sebuah guling saat gulingnya justru terjatuh ke lantai, jadi Jeon Jonas menyiapkan dirinya di sana, memeluk gadis itu dengan begitu rapat, begitu hangat dan mereka nyaris lengket.


Semua yang ada pada Melissa sangat disukai Jeon Jonas, semua hal. Jeon Jonas menggilainya, itu sebabnya ia selalu sulit menahan diri, itu sebabnya ia selalu keras hati. Gadis itu selalu mengujinya.


“Pinky..” Ia menghisap rakus aroma Melissa, menyimpannya bulat-bulat untuk dibawa ikut pergi.


Di pagi hari, setelah selesai mandi dan memakai seragam, Melissa bergegas ke kamar Jeon Jonas, dan saat mendapati kekosongan di sana, ia mencari di segala tempat, Jeon Jonas tidak di manapun. Enna yang sudah bangun sejak subuh mengatakan tidak melihat pria itu seperti sebelumnya.


“Sudah cek di taman belakang? Mungkin dia lari pagi.”


“Tidak ada. Paman tidak ada di manapun.”


Enna tersenyum. “Jangan khawatir, dia pasti terburu-buru pergi ke suatu tempat. Sekarang giliranmu siap-siap berangkat ke sekolah. Segera sarapan.”


“Enna..”


“Ya?”


“Apa Paman sudah makan makanan yang aku masak? Aku menaruhnya di kulkas karena Paman pulang larut.”


“Aku tidak melihat makanan itu di kulkas..”


“Kau serius?”


“Ya, mungkin dia memang sudah memakannya.”


Melissa tersenyum senang. Ia mengoles roti dengan selai, mengunyahnya masih dengan senyuman yang tidak mau hilang, terbayang bagaimana Jeon Jonas menelan sup iga buatannya, pasti pria itu menghabiskannya dengan lahap, pasti perutnya juga menjadi membuncit. Itu banyak, Melissa mengingat ia memasak sup iga itu dengan porsi banyak.


“Apa yang membuatmu senyum-senyum?” Enna menarik kursi duduk di sampingnya.


“Aku membayangkan perut Paman yang membuncit.” Enna tertawa lebar.


“Mustahil, ada banyak pack di perutnya.”


“Pernah menghitungnya?”


“Hei, tidak.” Enna menggeleng cepat. “Tidak sengaja melihatnya saja sudah sangat beruntung.” Melissa berdecak.


“Tapi itu seperti enam atau delapan,” sambung Enna.


“Itu artinya kau sempat memperhatikannya Enna, kau menghitungnya.”


“Sebut saja begitu. Tapi kau pernah menyentuhnya, kau jauh lebih beruntung.”


“Well, itu memang bagianku.” Mereka terkekeh.


“Aku akan berangkat,” ucap Melissa mengangkat tasnya.


“Ya, selamat belajar.”


***


Melissa dan beberapa murid di dalam kelas tengah duduk sambil mendengarkan arahan dari wali kelas, karena akan menghadapi ujian akhir sekolah, seperti biasa Faith lutheran high school selalu mengadakan festival. Semua murid diharuskan berpartisipasi, dan semua murid harus mengambil pekerjaan masing-masing untuk membuat festival menjadi perayaan besar yang menyenangkan.


“Jadi kita akan memakai kostum?” ujar Melissa bingung.


“Apa di Elderd tidak pernah mengadakan festival?” tanya Bobby.


“Tidak, maksudku mereka hanya melakukan beberapa lomba, jika menang akan diberikan hadiah.”


“Ya, aku pernah mendengarnya. Tapi, Faith Lutheran memang berbeda dari yang lain, kita selalu mengadakan festival, seperti yang dikatakan Miss Dara, kita menentukan kostum sendiri,” ucap Maggie.


“Tapi Elderd memang membosankan, itu sebabnya Melissa pindah, iya kan?” celetuk Ava.


“Sok tau,” desis Lucas.


“Jadi kita akan pakai kostum apa? Katanya kostum yang kita pakai harus sama semua,” kata Bobby.


“Hanya satu kelas Bob, kelas lain beda.” Maggie mendesah.


“Bagaimana kalau temanya Halloween? Kita akan pakai kostum yang menyeramkan,” saran Lucas.


“Dan kelas lain akan berteriak, dan kita akan didiskualifikasi.” Ava memutar bola matanya.


“Perlu kukatakan Ava, kita tidak butuh hadiah, kita hanya akan bersenang-senang,” sambung Lucas.


“Jangan berdebat! Kita akan pakai tema wedding, jadi kostumnya akan memakai gaun pernikahan, bagi laki-laki akan memakai jas atau tuxedo, bagaimana? Menarik bukan?” tanya Maggie.


“Aku suka idemu Maggie,” ucap Bobby setuju.


“Aku juga setuju,” celetuk Ava.


Di tempat lain Bernard tengah duduk sambil mengelus satu-persatu pedang di atas meja. Ia tersenyum miring, membayangkan pedang itu berhasil menembus kulit Jeon Jonas, membuat pria itu berteriak dan ia akan tertawa dengan keras, betapa menyenangkan jika itu menjadi kenyataan.


“Ada kabar baik untukku?”


“Mengenai penyelundupan senjata, polisi di sana sudah kami bayar untuk tutup mulut.”


“Lain?”


“Ini mengenai wanita yang selalu bersama Jeon Jonas.”


Bernard terkekeh. “Jeon Jonas pasti mengira kita bodoh, dia tidak mungkin menaruh wanitanya dalam bahaya, tapi kau lihat dia selalu membawa wanita itu ke luar, seolah menunjukkan pada kita bahwa dia punya wanita yang selalu dia jaga. Dan kita akan terkecoh dengan menganggap semua itu benar.”


Brian terdiam tatkala Bernard beralih mengelus sebuah senapan panjang.


“Tapi wanita itu bekerja sama dengannya, jadi dia harus dibunuh karena berusaha menipuku.”


“Kapan kita akan membunuh wanita itu?” tanya Brian.


“Secepatnya, kita lihat bagaimana reaksi Jeon Jonas saat wanita pura-puranya mati dalam keadaan mengenaskan.”


***


Melissa telah pulang sekolah, dijemput oleh Jack seperti biasa. Ia disambut oleh Enna dari ruang makan, wanita paruh baya itu menunjuk pintu atas, menjelaskan bahwa Jeon Jonas ada di sana. Dan Melissa segera berlari, menemui pria itu masih dengan seragam lengkapnya.


“Paman..”


Pria itu duduk bersandar di kursi putar dengan mata memejam, ada rasa lelah menggantung di wajahnya, dan Melissa melihatnya dengan sangat jelas. Meski demikian, Jeon Jonas memang selalu setampan itu, tidak ada kerutan di wajahnya, ia hanya menjadi terlalu seksi.


“Pinky?” Jeon Jonas berujar tanpa membuka mata.


Melissa mendekat, duduk di meja agar bisa melihat wajah itu lebih banyak.


“Pinky..”


“Ya..”


Ternyata Jeon Jonas hanya mengingau, sebab selama Melissa menunggu, pria itu tidak membuka matanya, hanya menyebut dirinya dan Melissa selalu tersenyum mendengar itu. Tidak tahu kalau sebenarnya ada kegelisahan di balik itu, ada mimpi buruk yang pria itu dapati dan ia membutuhkan Melissa berada di tempat yang aman.


Melissa bangkit, mencium pipi Jeon Jonas karena gemas lalu menutup pintu pelan-pelan.


Berada di kamarnya, Melissa mengganti seragam, membuka blog ceritanya lalu melanjutkan beberapa cerita yang ia tulis dengan mengisahkan dirinya dengan Jeon Jonas. Bisa dibilang saat menulis cerita itu, Melissa lebih bersemangat, mungkin karena itu mengenai kisahnya sendiri.


“Hei..” Enna datang.


“Jangan lupa makan siang, sudah ke sana?” Enna menunjuk kamar sebelah.


“Paman sedang tidur.” Enna mengangguk.


“Apa aku antar saja makananmu ke sini? Sepertinya kau punya kegiatan yang seru.”


“Tidak Enna, aku akan turun. Aku hanya perlu menambahkan ini sebentar.”


“Baiklah.” Enna tersenyum sebelum akhirnya turun ke bawah.


Beberapa menit menambahkan bagian di ceritanya, Melissa segera turun ke bawah untuk makan siang, ia terkejut saat melihat Jeon Jonas di undakan tangga paling bawah. Mereka sama-sama mengarah ke dapur. Saat pria itu membuka kulkas untuk mengambil minum dingin, Melissa melihat mata pria itu masih sedikit mengantuk.


Ia meneguk air hingga tandas lalu terkesiap saat Melissa memeluknya dari belakang.


“Paman harum..”


Jeon Jonas terdiam, ia melirik Enna yang diam-diam suka melihat interaksi mereka.


Melissa melepas pelukannya tatkala Jeon Jonas ingin duduk di kursi makan, Pria itu menunjuk tangan kanannya yang terluka lalu menyuruh Melissa agar duduk di hadapannya, Jeon Jonas tidak dapat menggendongnya seperti biasa.


“Tangan Paman masih sakit?”


Jeon Jonas mengangguk, menatap Melissa dengan lekat.


“Kami akan melakukan festival di sekolah, kami disuruh memakai kostum seperti pengantin, aku akan memakai gaun putih yang panjang.”


Jeon Jonas tersenyum.


“Aku akan menunjukkannya pada Paman saat memakainya.”


Jeon Jonas mengangguk.


“Paman sakit?”


“No Pinky.”


“Lalu? Paman terlihat lelah.”


Jeon Jonas menepuk kedua pahanya, meminta Melissa duduk di sana.


“Kenapa Paman sangat suka memangkuku?” tanya Melissa ketika duduk di sana.


Jeon Jonas tidak menjawab, Melissa merasakan hidung Jeon Jonas berada di lehernya. Pria itu sedang mencoba mencari sisi nyaman yang selalu ia dapat pada Melissa.