
Vote sebelum membaca ya😊
Maggie dan Ava bersungut-sungut ketika bel kamar berbunyi. Nyaris pukul sembilan pagi dan mereka masih setia berbaring dengan kenikmatan bantal super empuk dan aroma terapi yang menenangkan.
“Magg, please,” gumam Ava, menarik air liurnya kembali.
Maggie bergeming. Menahan napas, berpura-pura mati. Satu tendangan mendarat di pantatnya, cukup keras dan ia masih berpura-pura bahwa ia sudah kehilangan napas sejak semalam.
Suara bel semakin nyaring, semakin terdengar berulang-ulang. Ava berteriak kesal lalu kembali mendendang pantat Maggie hingga gadis itu tersungkur ke lantai.
“Ava sialan!”
Ava tidak menghiraukan, lebih memilih menggaruk rambutnya yang mengembang, menyeka air liur mengering dan memutih di pipi, lalu membuka pintu.
“Pagi.”
Untuk sesaat, bola matanya nyaris menggelinding. Teriakan seperti semalam hampir-hampir akan meledak.
“E—a—Sir—Tu—Tu—Tuan?”
“Aku meninggalkan Melissa sendirian, tolong temani dia sampai aku pulang.”
“O-ah, baiklah.”
“Sekarang.”
“Sekarang?” Ava mengusap wajahnya. “Aku dan Maggie perlu mandi.”
Mendapati raut wajah tidak suka pria itu, Ava terkekeh. “Okay.”
Jeon-Jonas bergumam, merasa puas, akhirnya memutar tumitnya untuk melangkah pergi dari depan kamar teman istrinya. Turun menuju lobi, dapat ia lihat Ben tengah merokok sembari memperhatikan orang-orang yang lewat. Anak buahnya yang lain—sepertinya masih menikmati surga yang ditawarkan oleh Krista.
“Selamat pagi, Bos!” sapa Ben.
“Aku akan pergi menemui ayahku.”
“Baik, Bos,” sahut Ben hendak menemani.
“Sendiri. Kau tidak perlu ikut, berjaga di hotel.”
Ben membungkuk singkat sebelum kembali menegakkan punggung.
“Baik, Bos.”
Ben tetap mengikuti langkah pria itu, memberi kunci mobil dan menunjukkan mobil yang memang sudah ia persiapkan. Begitu sang bos masuk ke dalam dan membawanya membelah jalanan, Ben kembali masuk ke dalam hotel. Memilih duduk mengawasi.
Di kejauhan, anak kecil tidak dikenal berlari di depan ibunya, memegang boneka hiu dan ia terlihat seperti Melissa dari potongan rambutnya. Melihat anak kecil itu tertawa, bersama boneka hiu yang akhirnya diseret-seret, Ben teringat bahwa ia belum memberi apa pun sebagai hadiah pernikahan Melissa.
Saat pemikiran itu muncul, Ben tidak lagi berpikir panjang untuk berkeliling dengan bantuan taksi, tidak ingin repot untuk menggedor salah satu kamar teman-temannya untuk meminta kunci mobil.
Ia menyuruh sopir berhenti di sebuah toko boneka. Masuk ke sana dan menanyakan tentang boneka hiu. Pramuniaga wanita di sana tersenyum ramah, lalu membawanya menuju jejeran boneka hiu berbagai ukuran.
“Untuk pacar? Anak?”
Ben mengerjap. “Bukan keduanya.”
“Lalu?”
Ben meraih satu boneka hiu berwarna biru cerah, ukuran paling besar dari yang lain.
“Aku mau ini.”
Pramuniaga wanita itu tersenyum lagi. “28 dolar, Sir.”
Ben memberikan kartu, segera diterima wanita itu untuk diproses. Begitu selesai, wanita itu menarik pena, menulis beberapa nomor di sebuah kertas yang akhirnya ia robek dan diberikan pada Ben bersama kartunya.
“Call me,” ucapnya dengan kedipan mata. Ben membuka kertas tersebut, meletakkannya di meja kasir, sebelum akhirnya pergi keluar dari dalam toko bersama boneka hiunya.
Dengan bantuan taksi, ia sampai di hotel dengan waktu cepat. Memasuki lift, yang melintasi beberapa lantai, kemudian berhenti di lantai teratas di mana Melissa dan Jeon-Jonas ditempatkan oleh Krista, ia menekan bel. Perlu menunggu berdetik-detik sebelum pintu akhirnya terbuka, dan wanita berponi dengan atasan off shoulder dan celana jeans pendek muncul dengan erjapan mata yang lucu.
“Paman Ben.”
Ben berdeham, menyodorkan boneka hiu di tangannya.
“Untukmu."
Sesaat, Melissa mundur dan mengamati benda lembut yang diberikan pria itu. Senyum lebar ia perlihatkan, suka pada pandangan pertama begitu menemukan mata lucu hiu itu.
Ben yang tadinya mengalihkan pandangan, kemudian menatap Melissa. Boneka hiu itu terlalu besar, nyaris menyamai tubuh Melissa.
“Terima kasih, Paman.”
“Hm.”
“Paman membelinya?”
“Ya. Jangan beritahu Jeon-Jonas kalau aku yang memberikannya.”
“Kenapa?"
Karena aku mungkin akan tewas sebelum waktunya!
“Katakan saja kalau itu dari temanmu.”
Melissa mengangguk. “Paman ingin masuk? Tapi—” Melissa memeluk hiunya, menundukkan wajah menyembunyikan rona merah. “Jeon tidak di sini. Hanya ada aku dan temanku.”
“Ya,” angguk Melissa.
🌷🌷
Tidak banyak yang berubah dari keseharian Ayah. Di meja ruang depan, tempat Ayah sering duduk, akan ada beberapa puntung rokok yang nyaris memenuhi asbak, gelas bekas kopi yang tinggal meninggalkan ampas, serta koran yang dibiarkan terbuka. Meski Jeon-Jonas baru berkunjung beberapa kali setelah bertahun-tahun, ia paham bahwa beberapa hal memang tidak pernah berubah.
Langkahnya telah melewati beberapa ruang, Krista dan Livy tampak tidak berkedip saat menonton adegan menuju akhir Agen M menarik pelatuk menembaki tentakel-tentakel panjang monster dalam film MIB, sebelum menemukan ayahnya berada di taman belakang, berbicara bersama seorang pria yang sepertinya merupakan kerabat kerja.
Menyadari kehadirannya, kedua pria itu mengalihkan pandangan, Ayah tampak antusias.
“Oh, kau datang, Jeon.” Ayah tersenyum lebar, tidak pernah selebar itu sebelumnya.
Ia meraih pundak Jeon-Jonas, membuat mereka dekat lalu memperkenalkannya pada Harold, teman bicaranya.
“Masih mengenalku, Jeon? Kau menjadi tampak lebih bugar.” Jeon-Jonas sudah mengenalnya sejak detik pertama tersenyum. Harold, salah satu pengedar, yang menjalani tahanan selama belasan tahun bersama ayahnya, yang kini tampak lebih tua, tapi tidak kehilangan kharisma.
Harold sudah mengulurkan tangan, dan demi terlihat sopan, Jeon-Jonas menjabatnya tanpa ekspresi.
“Ya, tentu. Selamat datang di rumah kami.”
Harold menaikkan bahu. “Well, kalau bukan karena kabar pernikahanmu yang sama sekali tidak mengundangku, aku tidak akan datang ke sini.”
Kali ini, senyuman tipis Jeon-Jonas tunjukkan. “Kami memang sengaja tidak mengundang orang lain.”
“Jadi, aku masih dianggap orang lain?” Meski disertai kekehan, Jeon-Jonas masih menangkap sindiran.
“Di mana istrimu? Apa dia tidak ikut?” sambung Harold.
“Tidak. Dia perlu istirahat.” Harold tertawa, sementara Ayah tersenyum geli.
“Ya, pengantin baru, aku mengerti. Dan … aku menyesal karena sangat terlambat, seandainya waktu bisa diulang kembali, aku sangat ingin Daniela menikah denganmu.”
Daniela. Wanita itu terlalu sering mengunjunginya, selalu berdalih bahwa ada pelajaran yang tidak ia pahami, sehingga Jeon-Jonas yang saat itu sangat menguasai pelajaran, harus bersedia membantu.
“Aku tidak menyukai Daniela.” Untuk sesaat, ada hening panjang, sebelum Ayah akhirnya menyenggolnya pelan. Jeon-Jonas setidaknya perlu berbasa-basi.
Kemudian, Harold tertawa kecil, terdengar sumbang. “Ya, kau sudah punya istri. Aku sangat ingin melihatnya. Ingin tahu apa yang membuatmu menikahinya. Apa semenarik itu?”
Tahu bahwa pembicaraan kedua pria itu malah terlihat seperti saling mengirim sengatan-sengatan listrik tak kasat mata. Ayah memulai pembicaraan sebagai pengalihan.
“Ah—hadiah pernikahannya. Ayo aku tunjukkan, kau akan suka.” Jeon-Jonas ditarik ke samping rumah, dan Mercedes Maybach Exelero yang begitu mengilap sudah menyilaukan mata.
“Wow.” Harold takjub, sementara Jeon-Jonas bersedekap, menatap ayahnya.
“Ini akan menggantikan Bugatti-mu,” jelas ayahnya.
“Menggantikan?”
“Ya. Kau suka, bukan?”
Rupanya, kebiasaan Ayah yang suka pamer ternyata belum berubah. Adanya Harold di sini, mendukung keinginan Ayah untuk menjunjung tinggi harga dirinya, martabatnya, juga egonya. Maka, demi menyenangkan hati pria itu, Jeon-Jonas mengangguk, belum menarik senyum.
“Ya.”
“Ba-bagaimana bisa kau mendapatkan ini? Ini tidak diproduksi massal. Hell! Ini mengagumkan!” Harold memutari mobil itu, menyentuh desain retro yang tampak eksotis.
“Ingin mencobanya, Jeon?” tanya Ayah.
“Tidak, hari ini kami akan kembali ke Las Vegas, jadi aku akan langsung pulang.”
“Well, aku rasa aku perlu ikut denganmu.”
“Untuk?”
Harold terkekeh, meski sangat tidak suka dengan tanggapan singkat Jeon-Jonas.
“Melihat istrimu tentu saja. Aku juga akan mengajak Daniela.”
“Tidak, tidak perlu datang. Seperti yang telah kau dengar, kami akan kembali ke Las Vegas dan tidak punya cukup waktu untuk melayani tamu.”
“Jeon,” tegur Ayah.
“Apa menyuruhku memakai setelan formal, hanya untuk melihat ini?”
Ayahnya diam, begitu juga Harold. Kediaman itu menjelaskan bahwa memang benar tidak ada hal yang benar-benar penting, yang harus dikatakan ayahnya. Ayah hanya ingin memamerkan Mercedes edisi terbatasnya.
“Aku pulang.”
Ayah mendecak. “Kenapa terburu-buru? Setidaknya kau perlu bercerita tentang banyak hal pada kami, sudah bertahun-tahun sejak terakhir kali kita duduk bersama.”
“Aku pergi.”
“Jeon!” Jeon-Jonas telah beranjak, masih menemukan Krista dan Livy di depan televisi, menonton film berbeda dan masih menegangkan.
Ia memutuskan pulang tanpa pamit. Lagi pula, kedua wanita itu akan menggerutu jika ia menginterupsi. Bugatti hitamnya ia bawa menjauhi kediaman utama, lalu melesat cepat mendahului pengendara lain. Sampai di depan hotel, Ben bersama lima anak buah lain sudah berdiri di depan. Membungkuk ketika Jeon-Jonas muncul.
“Selamat datang, Bos!”
Jeon-Jonas mengangguk, melempar kunci mobil pada Ben, sebelum melalui mobil dan menaiki lift. Hotel milik Krista selalu mengutamakan keeleganan, kemewahan, dan karena hal itu, para orang yang berlimpah kekayaan, selalu memilih hotel itu sebagai pilihan utama.
Jeon-Jonas menempelkan cardlock pintu, melangkah masuk melewati ruang utama. Mulanya, tawa Ava bergema, disusul tawa Maggie yang tidak kalah keras. Kemudian, suara pekikan dan jatuhan benda yang sepertinya terbuat dari kaca, memenuhi pendengarannya. Ia melangkah lebar, sudah berpikir yang tidak-tidak. Lalu ia sampai di sana, di dekat pantry, tidak bisa tidak melotot.
Meledak. Grand penthouse suite kebanggaan Krista telah meledak!