
Ketika ponselnya berdering, Melissa sadar bahwa dirinya terbangun sendirian. Jeon-Jonas sudah tidak mendekapnya saat pertama kali ia terlelap, pria itu pergi dengan meninggalkan satu selimut cukup tebal untuk membungkus tubuhnya. Melissa menarik tas yang ia taruh di atas nakas, mengambil ponsel yang sudah akan berhenti berbunyi jika saja ia tidak bergerak cepat.
“Halo.” Melissa tidak sempat melihat nama penelepon. Bahkan tubuh dan jiwanya masih belum menyatu.
“Ada apa? Suaramu seperti kelelahan.”
Suara nyaring Ava membuat jiwanya perlahan kembali.
“Aku baru bangun tidur.”
“Tidur? Ini sudah jam satu siang. Apa ini karena hormon kehamilanmu?”
“Aku tidak hamil.”
“Sudah periksa?”
“Belum.”
“Kau harus segera memeriksanya, Melissa. Aku dan Maggie sudah bersiap-siap jika Jeon-Jonas tidak mau bertanggung jawab. Aku mengenal satu pria yang cukup tua, yah—dia mungkin bisa menjadi ayah yang baik. Aku tau kau juga suka pria matang, bukan? Jadi aku sudah mencari banyak pria yang cocok.”
“Aku tidak mau.”
“Apanya yang tidak mau?”
“Aku akan menikah dengan Paman Jeon.”
“Dia melamarmu?”
“Ya. Kami akan menikah. Sekarang aku di Florida untuk meminta restu ayah dan ibunya.”
“Oh, begitu. Jadi pria tua itu bagaimana? Tidak berencana mengenalnya? Aku lihat dia memiliki banyak pack di perutnya. Dan lagi—dia sepertinya lihai dalam masalah—well—you know—”
“Tidak mau. Aku hanya mau Paman Jeon.”
“Punya banyak Paman tidak masalah, bodoh. Supaya berpengalaman.”
Melissa menggeleng. Memiliki tiga paman sudah cukup baginya, ia tidak ingin memiliki paman baru.
“Baiklah, aku bercanda. Sepertinya pencarianku dengan Maggie sia-sia, tapi tidak masalah. Kami hanya ingin kau bahagia, dan sepertinya Jeon-Jonas masih segalanya. Well, aku harap hubungan kalian berlangsung selamanya.”
Melissa tersenyum. “Ya, Ava.”
“Jaga kesehatanmu, aku tutup.”
Melissa menaruh kembali ponselnya di dalam tas, ia mengusap kedua matanya dengan kedua tangan lalu beringsut turun dari ranjang. Ia mengamati semua foto yang ada di sana. Foto Jeon-Jonas saat bermain bisbol, memancing ikan, pesta ulang tahun, menaiki wahana, mendapat piala pertama saat memenangkan olimpiade, lalu ketika menemukan seekor anak anjing di selokan—semua terlihat normal, Melissa bahkan sempat mengira kalau Jeon-Jonas tidak pernah melewati fase remaja seperti ini. Nyatanya, pria itu tetap manusia biasa, hanya saja—ia memiliki kekuasaan yang lebih besar, bersifat mengendalikan dan tidak terlalu berbaur dengan orang lain.
Saat pemikirannya dikuasai oleh pria itu, Melissa tidak lagi berpikir panjang untuk melangkah keluar dan mencarinya di sekeliling rumah. Ia terkesiap saat melihat Livy tengah menggambar sesuatu di buku gambarnya. Melissa berusaha untuk tidak menimbulkan suara saat menuruni tangga, ia lalu berlari saat Livy melihatnya.
“Teman!”
Livy mengejarnya. Melissa panik. Ia nyaris melompat saat melihat Jeon-Jonas tengah berdiri menghadap jendela kaca sembari menjawab telepon.
“Teman!” Melissa menyembunyikan dirinya di dada Jeon-Jonas. Pria itu sedikit berjengit, lalu memeluknya sambil melirik Livy.
“Paman..”
Jeon-Jonas masih menjawab seseorang di telepon tapi matanya lurus pada Livy.
“Polisi akan berjaga di pelabuhan, katakan pada Nevan agar semuanya dibungkus dengan rapi.”
Livy mendekat, menarik jemari Melissa agar mendapat perhatian. Melissa tidak menerima atau menolak, ia bertahan di pelukan Jeon-Jonas. Ketika pria itu menjauhkan ponsel dari telinga, Livy sedikit mundur.
“Livy. Ini bukan waktunya bermain. Gambar sesuatu di bukumu, aku akan memeriksanya nanti.”
Livy mengangguk cepat, ia berlari ke tempat sebelumnya, segera menggambar sesuatu yang besar memenuhi halaman bukunya.
Seperginya Livy, Jeon-Jonas membawa Melissa duduk bersama lalu kembali mengecek ponsel. Pria itu masih mendekapnya dengan satu tangan, dagunya diletakkan di atas kepala Melissa. Mata Melissa kemudian mengedar menatap semua isi rumah lalu beralih pada pohon-pohon tinggi yang tumbuh di luar rumah.
“Paman..”
“Hmm?”
“Apa aku bisa berkeliling?”
“Ke mana?”
“Aku ingin ke luar, pemandangannya bagus. Aku ingin memotret.”
“Maaf, Sayang. Tapi itu sedikit berbahaya. Ada hal yang harus aku urus, aku tidak bisa menemanimu. Apa harus sekarang?”
Melissa mengangguk. Rasa penasarannya sudah membeludak.
“Tidak apa jika bersama Ben?”
“Paman Ben?”
“Ya. Aku tidak mengizinkan jika kau harus berkeliling sendirian.”
“Baiklah.”
Jeon-Jonas mengecup pipinya sebelum akhirnya mengirim pesan pada Ben, dan pria itu datang secepat kilat.
🌷🌷
Melissa sudah mengumpulkan banyak foto pohon pinus di dalam kameranya, ada banyak sangkar burung berbentuk kerucut besar bergelantungan di pohon-pohon itu. Melissa belum pernah melihat sangkar burung seperti itu, ia hanya pernah melihat burung, tidak lengkap dengan sangkarnya. Ia kemudian mengabadikan banyak momen ketika satu burung pelatuk terbang lalu hinggap untuk menancapkan paruh tajamnya melubangi pohon yang lebih rendah dari pohon pinus tersebut.
Melissa terkesiap tatkala Ben menaruh satu topi hitam di kepalanya, ia menengadah, akhirnya menemukan wajah datar Ben tengah merapikan rambut-rambutnya yang panjang lalu menyembunyikannya di balik topi. Ia sedikit mundur ketika pria itu menepuk-nepuk kepalanya, masih tanpa ekspresi.
“Panas,” ucap Ben. Menjelaskan pada Melissa bahwa terik matahari bisa saja merusak helaian rambut lembutnya. Hanya itu. Melissa mengucapkan terima kasih kemudian kembali memotret pohon-pohon.
Tempat tinggal keluarga Jeon-Jonas jauh dari perkotaan, sama seperti rumahnya yang berada di Las Vegas. Yang masuk ke sana hanya anggota keluarga dan orang-orang penting, lain dari itu, mereka tidak diperbolehkan masuk. Melissa akhirnya tidak heran mengapa banyak pohon di area rumah besar itu. Krista juga sepertinya suka menanam banyak tanaman, ada sayuran yang ditanam di beberapa pot, lalu di pot-pot lain yang digantung pada kayu, ada bunga Amaranth yang karena begitu panjang akhirnya menjuntai rendah ke bawah.
“Ehm..” Melissa menoleh, sedikit menaikkan topinya yang terlalu ditekan Ben pada kepalanya.
“Paman ingin dipotret juga?”
“Ah—itu—”
Dari cara pria itu menarik rambutnya ke belakang, kemudian tatapannya yang teralih ke sana-kemari, Melissa akhirnya memutuskan untuk memotretnya, karena berpikir bahwa pria itu mungkin ingin dipotret juga.
Tapi saat ia berhasil memotret, pria itu terkesiap.
“Jangan, jangan.”
“Hah?”
Ben mengusap wajahnya. Melissa mengerutkan dahi karena bingung. Ini pertama kalinya Ben yang selalu terlihat seram menjadi sangat canggung.
“Aku sudah memotret, Paman mau lagi?”
“Tidak. Hapus itu.”
“Kenapa?”
“Aku tidak suka.”
Mendapati raut murung wanita itu, Ben meralat ucapannya.
“Maksudku—aku hanya tidak ingin Jeon-Jonas salah paham jika kau menyimpan fotoku.”
Melissa mengangguk mengerti. Ia tersenyum simpul lalu berjalan ke depan untuk memotret bunga daisy yang bermekaran secara bersamaan.
“Pinky.”
Melissa tersenyum lebar tatkala Jeon-Jonas berjalan menghampirinya, pria itu memerintah Ben agar pergi lalu membelai pipinya dengan ibu jari.
“Masih ingin memotret? Aku rasa kita harus kembali ke Las Vegas.”
“Hari ini?”
“Ya. Kita juga harus menemui wanita tua yang kau sebut bibimu.”
“Bibi Hazel!” seru Melissa senang.
“Benar, Sayang.”
🌷🌷
Krista bersungut-sungut ketika Jeon-Jonas mengatakan akan mengajak Melissa pulang hari ini juga. Wanita paruh baya itu bahkan sudah sempat membantu pelayan memasak agar setidaknya mereka makan di rumah, dan Jeon-Jonas akhirnya menerimanya karena ingat Melissa belum makan.
Setelah proses makan selesai, mereka akhirnya bersiap-siap untuk pergi. Livy sempat berlari untuk menunjukkan gambar Melissa di bukunya. Di sana Melissa terlihat kurus, Melissa bahkan curiga kalau Livy hanya menggaris lurus bukunya, dibentuk menjadi empat lalu menambahkan sepasang bulatan yang menyerupai mata.
Tapi Melissa akhirnya tersenyum, terutama ketika Livy merobek satu halaman itu untuk diberikan pada Melissa sebagai hadiah.
“Teman.”
Krista menangis secara dramatis, ia menarik banyak tisu untuk mengusap matanya yang bahkan hanya basah sedikit. “Kalian harus cepat menikah agar aku punya alasan bisa melihat Melissa.”
Jeon-Jonas mengangguk. Ia tercenung ketika melihat ayahnya datang sembari merokok, pria paruh baya itu duduk di sofa lalu memperhatikan mereka.
“Kami pergi.”
“Tinggalkan saja Melissa di sini, Livy senang punya teman. Urus saja pernikahan kalian sendirian,” ucap Krista.
“Tidak. Aku akan membawanya.”
Krista merengut kesal. Tapi tetap mengikuti mereka saat keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil. Livy terlihat berjalan di tempat, seperti terburu-buru sekaligus cemas saat Melissa sudah duduk di dalam kendaraan tersebut. Pada akhirnya ia berlari masuk ke dalam rumah hanya untuk membawa kotak besar miliknya lalu memberikannya pada Melissa.
“Teman.”
Melissa menerimanya. Menganga saat melihat banyak permen karet di dalam kotak itu.
“Ini semua—untukku?”
Livy mengangguk.
“Terima kasih, Teman.”
Livy tersenyum lebar, begitu lebar sehingga Krista harus menyentuh rahang gadis itu agar mengatup. Melissa terkekeh, melambaikan tangan saat kendaraan tersebut melaju keluar dari pekarangan rumah.