
Vote sebelum membaca 😺
Melissa Kyle. Mata wanita itu penuh dengan lumuran rasa cemas. Jeon Jonas yakin ia telah bertindak gila, bahkan ini lebih gila daripada yang pernah ia lakukan. Menarik pelatuk, mengarahkan moncong pistol tepat ke arah Melissa yang sialannya berusaha melindungi Hans. Melissa mungkin berpikir Jeon Jonas kejam, mungkin juga wanita itu sedang berencana mengubah perasaannya dan membuang semua memori mesra mereka selama di Korea. Namun, inilah Jeon Jonas yang sesungguhnya, Melissa harus tahu, pria itu bukan pria baik. Ia tidak lebih dari pria pemarah ketika seseorang berani memancing rasa marahnya.
Jeon Jonas bisa melihat Melissa mengalami ketegangan ketika peluru itu tertancap cepat melewati kulit lengan Hans dan melubangi sebuah meja.
Melissa sibuk mengendalikan tubuhnya yang gemetar, sementara Jeon Jonas tidak berniat menunggu untuk segera meraih wanita itu ke dekapannya.
“Jangan!”
Sialan! Melissa bahkan lebih mementingkan rengkuhannya terhadap Hans. Wanita itu membalikkan badan, menatap Jeon Jonas dengan tatapan yang tidak ingin pria itu artikan.
“Jangan lukai Paman Hans!”
Sialan Melissa! Sialan! Sialan! Jeritan kecil wanita itu justru membuat Jeon Jonas ingin menancapkan sebuah belati ke perut Hans yang saat ini hanya diam. Hanya bergeming, sebab tahu Jeon Jonas tidak akan berani melakukan sesuatu yang membuat Melissa merasa terluka.
Melissa mungkin tidak sadar jika Jeon Jonas bisa menjadi lebih gila jika terus-menerus melihat wanita itu menempelkan tubuhnya pada Hans. Jeon Jonas menggeram rendah, sisa amarahnya ia tekan dalam-dalam, tidak banyak yang bisa ia lakukan. Akan tetapi, ketika Hans menaruh kepalanya di bahu Melissa, Jeon Jonas telah kehilangan kesabaran.
Tangannya cepat meraih Melissa dengan keras sebelum akhirnya meninju Hans dengan tangan kanan. Hans tersungkur, Melissa membekap mulut saat melihat sudut bibir pria itu berdarah lalu menatap tidak percaya pada Jeon Jonas yang selama ini ia percayai hanya memiliki sisi kelembutan.
Melissa salah besar. Nyatanya Jeon Jonas selalu menyimpan sesuatu, sesuatu yang disembunyikan dalam-dalam tanpa ingin memberitahunya. Dan saat Jeon Jonas tetap memukul dan memukul, Melissa berusaha menahannya.
“Hentikan!” Hans babak belur, Melissa meringis mendapati wajah pria itu membiru.
“Kau senang melihat ini, Hans? Ini yang kau harapkan? Mendapatkan perlindungan dari seorang wanita?” Ucapan mencemooh itu tidak membuat Hans merasa gentar, pria itu memeluk Melissa lebih erat, seolah ia rapuh, seolah ia rentan berhadapan dengan Jeon Jonas.
Napas Jeon Jonas masih terdengar memburu, terkutuklah ia jika membiarkan pria itu memeluk Melissa-nya berlama-lama!
Melissa tidak bisa melakukan itu di depannya, Jeon Jonas mungkin akan meledakkan tempat itu bila masih melihat mereka di sana berpelukan seperti sepasang kekasih. Tidak lagi, tidak! Kali ini wanita itu harus mengerti. Hans bukan orang yang harus dilindungi, pria itu hanyalah pria gila yang terlalu terobsesi hingga memiliki niat buruk untuk mengurung Melissa di dalam kehidupannya.
Jeon Jonas bisa mendengar gemelatuk giginya sendiri ketika akhirnya meraih Melissa agar menjauh dari Hans.
“Paman!!”
Melissa harus berhenti menjerit seperti itu atau Jeon Jonas akan tergoda menciuminya di depan orang-orang!
“Lepaskan aku!”
Dalam pemikiran Melissa, bagaimana pun Hans adalah penyelamatnya. Orang yang benar-benar selalu ada ketika ia membutuhkan sandaran, ketika ia terpuruk dalam kesendirian, ketika Jeon Jonas pergi dan wanita itu kesepian. Hanslah orang yang bertahun-tahun menjaganya. Memberinya tempat di mana ia menyadari bahwa jalan hidup mudah berubah.
“Melissa, akan aku jelaskan semuanya padamu. Masuk ke dalam mobil, kembali bersamaku. Enna menunggu.” Jeon Jonas yakin dengan meredam ledakan amarahnya adalah jalan terbaik. Melissa bukan wanita yang bisa diajak berkompromi dengan menunjukkan kekerasan.
“Tidak, Paman akan melukai Paman Hans.”
Jeon Jonas mengetatkan rahang, ia menangkup rahang wanita itu, mengunci tatapan mereka dengan sesuatu yang harus Melissa pahami dengan cepat, bahwa Jeon Jonas hanya memiliki kesabaran di depannya.
“Don’t make me angry, Pinky.”
Hans melirik Ben yang menatapinya sejak tadi. Ben tersenyum miring, mengejek Hans bahwa seharusnya pria itu mendengarnya sebelum semua ini terjadi. Hans mungkin bisa bangkit dan menarik Melissa detik ini, namun ia tidak memiliki apa-apa sebagai perlindungan. Jeon Jonas akan membawa Melissa pergi dan menyuruh Ben serta anak buahnya yang lain mengurus Hans lebih cepat.
“Aku akan kembali dengan Paman Hans.”
“Melissa!” Setelah bertahun-tahun mencarinya, setelah bertahun-tahun tidak melihatnya, apa Melissa pikir Jeon Jonas akan melepaskannya begitu saja? Jika saja bisa, Jeon Jonas bahkan berniat mengurung wanita itu di tempat khusus, ia penjarakan agar hanya ada waktu untuk mereka berdua, wanita itu tidak akan ke mana-mana.
“Dia menculikmu Melissa! Dia sudah merencanakan ini semua sejak lama! Hans mengancam akan menyakitimu jika Enna memberitahu bahwa sebelumnya Hans sempat memanipulasi rekaman CCTV. Hans menyembunyikanmu dari orang-orangku! Dia sengaja membuatmu membenciku!” sergahan Jeon Jonas membuat Melissa memejamkan mata.
“Amankan Hans, bawa ke markas!!” perintahnya. Melissa digendong paksa ke dalam mobil. Jeon Jonas menutup pintu lalu dengan cepat masuk dari pintu lain.
“Paman!”
“Kau tidak memercayaiku?”
“Jangan lukai Paman Hans!” Jeon Jonas geram, matanya menyipit tajam sebelum akhirnya menyalakan rokok, berharap kemarahannya mengambang tinggi seperti asap yang mengepul di udara.
“Aku memberimu waktu untuk berpikir baik-baik, Pinky.”
Melissa terkesiap halus saat menemukan tatapan itu, tatapan seolah—ingin mengunyahnya seperti permen karet. Jeon Jonas benci ketika Melissa yang tidak tahu apa pun masih bersikukuh membela Hans.
Ia menggeram hingga akhirnya menghimpit Melissa dengan duduk di tempat yang sama. Wanita itu mengaduh lalu terpekik saat Jeon Jonas dengan mudah mengangkat kedua kakinya untuk berpangkuan.
“Katakan sekali lagi, Melissa. Aku tega?” Suara dan embusan napas itu tepat mengenai wajahnya.
“Aku yang tega? Setelah Hans membawamu pergi dariku? Setelah pria itu berpura-pura mati agar bisa mengurungmu bersamanya? Aku yang tega? Aku Melissa?”
Melissa terisak, ia memukuli Jeon Jonas yang membuatnya tidak melihat hal lain selain wajah tegas itu.
“Ya. Aku yang tega. Benar. Yang salah di sini aku, bukan Hans. Harusnya aku biarkan saja pria itu tetap bersamamu, agar kita tidak bisa bersama, itu yang kau mau, bukan?”
Melissa menggeleng. Jeon Jonas salah mengartikan. Melissa hanya tidak ingin Hans mendapat penghakiman yang buruk. Mungkin Hans memang benar melakukannya, tapi pria itu bukan orang jahat. Tidak sekali pun pria itu berbuat kasar padanya atau terhadap Sani yang nyatanya hanya seorang pelayan.
“Paman Hans bukan orang jahat!” Masih mendengar pembelaan terhadap Hans, Jeon Jonas mengacak rambutnya frustrasi. Ia berpindah ke kursi kemudi, mengendarai mobil dengan ugal-ugalan. Melissa ketakutan, ia memeluk lengan pria itu saat mobil mereka nyaris menabrak mobil berlaju pelan di depan. Jeon Jonas tidak peduli,tetap membawa mobil dengan kecepatan maksimal. Melissa bergetar, ia memohon dengan cicitan agar Jeon Jonas berhenti.
Lalu, saat mobil tetap melaju dengan kencang, Melissa tidak punya pilihan selain merengkuh tubuh Jeon Jonas dari samping.
Ketika mobil berhenti dan Melissa menyadari bahwa mereka telah sampai di kediaman lama pria itu, Melissa turun dengan sesunggukan. Ia berlari ke dalam rumah, lalu menghambur ke pelukan Enna yang saat itu sedang mengangkat sebuah wadah makanan.
“Nona?” Enna bingung, menegang saat melihat Jeon Jonas masuk dengan langkah besar.
“Melissa.” Panggilan datar pria itu membuat Melissa mengeratkan pelukannya terhadap Enna.
“Ke atas. Kita harus bicara.”
“Tidak mau,” isak Melissa menggelengkan kepalanya di bahu Enna.
Jeon Jonas mengerang, ia melangkah cepat ke kamar dengan penuh amarah. Melihat pria itu telah pergi, Enna melihat wajah Melissa yang basah karena air mata.
“Hei,” sapanya dengan senyuman. “Apa yang terjadi?”
“Paman Hans terluka.”
“Karena Jeon Jonas?” Melissa mengangguk.
“Itu sepadan, Melissa. Kau tidak tahu sefrustrasi apa Jeon Jonas saat tau kau pergi.”
“Aku pergi karena kemauanku sendiri, Enna.” Enna menggeleng.
“Tapi Hans sudah berbeda, dia bukan Hans yang kita kenal. Dia mengkhianati Jeon Jonas, mengkhianati kelompok mereka dan lebih parahnya lagi, Hans menyembunyikanmu selama bertahun-tahun.”
“Paman Hans tidak melakukannya.”
“Semua orang mencarimu, Melissa. Setiap hari, setiap waktu. Kau pikir apa yang Hans lakukan hingga kau tidak ditemukan setiap pencarian itu? Jelas-jelas dia sudah mengatur semuanya sejak awal.”
Enna mengusap wajah Melissa dengan lembut. “Kau harus memberi sedikit kesempatan pada Jeon Jonas. Dia sangat menyayangimu.”
Enna terkekeh saat melihat hidung Melissa memerah, ternyata wanita itu masih sama. Bedanya hanya tampilan luarnya saja, Enna menepuk lengan wanita itu saat menyadarinya.
“Kau sudah dewasa,” ucapnya. Melissa tidak menjawab, masih sibuk mengusap air matanya.
“Kita harus bicara banyak setelah ini. Aku perlu mendengar cerita darimu. Sekarang, kembalilah ke kamar lamamu, aku sudah membersihkannya kemarin.”
“Temui dia,” sambung Enna mengangkat dagunya menunjuk kamar Jeon Jonas. “Beruang pemarah itu pasti sedang merajuk sekarang. Kau mungkin terlalu membela Hans, itu mengapa emosinya menjadi tidak terkendali.”
“Aku tidak bisa melihat Paman Hans terluka.”
“Aku mengerti, Hans menyayangimu sama seperti Jeon Jonas. Jadi kau harus cepat—cepat memilih. Jangan menggantung salah satunya.”