
“Melissa, wait!” pekik Rosie dari dalam bar, sialan karena saat keluar tadi Jeon Jonas memasang wajah luar biasa marah.
“Melissa! Hei..” Rosie menarik tangan Melissa yang akan menyeberangi jalan.
“Kenapa kau menjadi marah seperti ini?” Melissa mengerjap tidak mengerti, ia merasa kebingungan dengan tingkah lakunya saat ini.
“Aku tidak tau, aku tidak tau mengapa aku begini, aku tidak tau,” sahutnya memperhatikan sekitarnya dengan wajah bingung.
“Aku ingin pulang sekarang,” lanjutnya.
“Bersamaku,” ucap Rosie mengeluarkan kunci motornya.
Melissa menurut ketika Rosie menarik tangannya untuk segera naik ke motor, Rosie menarik nafas lalu menghembuskannya dengan pelan. Meski cemas akan hal yang akan terjadi padanya nanti, Rosie harus mengutamakan Melissa, membiarkan gadis itu sendiri mungkin akan berakibat lebih fatal, Rosie tidak ingin mengambil resiko.
“Rosie..”
“Hmm?” Rosie menjawab sembari membawa motornya membelah jalanan.
“Apa merasa kecewa pada Paman sendiri itu wajar?”
“Maksudmu?”
“Apa wajar jika aku kecewa karena Paman ternyata suka bermain wanita?”
“Itu-aku hanya bisa menjelaskan satu hal, kecewa pada seseorang itu wajar, tapi Jeon Jonas itu pria dewasa, normal saja jika dia melakukannya, Setiap pria memiliki kebutuhan biologis.”
Melissa berpikir keras, lalu bagaimana jika ia tetap tidak suka Jeon Jonas melakukannya? Jeon Jonas sudah menciumnya malam itu, harusnya Jeon Jonas tidak melakukannya lagi dengan wanita lain. Atau sebenarnya Jeon Jonas menganggap dirinya sama dengan wanita lain? Hanya sebagai mainan dikala ia butuh.
“Perihal ciuman tadi, aku tidak sengaja melakukannya.” Melissa tiba-tiba mengingat satu hal, Jeon Jonas tidak sengaja saat menciumnnya kala itu. Tidak wajar jika Melissa merasa kesal karena Jeon Jonas menyentuh wanita lain, lagipula Jeon Jonas hanya orang yang berperan sebagai pamannya.
Tapi tetap tidak boleh! Jeon Jonas harus menjaga jarak dengan perempuan!
Sesampainya di kediaman Jeon Jonas, dapat dilihat Hans tengah berdiri tegap bersama anak buah Jeon Jonas yang lain.
“Kau!” Hans menatap Rosie dengan tatapan tegas.
“Hei..” sapanya saat melihat Melissa turun dari atas motor.
“Hai Paman Hans.” Melissa menyapa seadanya lantas segera memasuki rumah.
“Apa yang kau lakukan di sini?” Rosie berdecak mendengar pertanyaan dari pria di depannya itu.
“Aku sudah ketahuan, apa lagi yang mau aku tutupi?”
“Tolol!”
“Apa kau bilang?”
“Hei!” Rosie berteriak ketika Hans malah masuk ke rumah lantas naik ke kamar Melissa.
“Laporkan dia pada Jeon Jonas,” ucapnya pada anak buah Jeon Jonas yang lain.
“Dia akan masuk ke kamar Melissa, bodoh!” Rosie meringis karena para pria itu tetap bergeming di tempatnya.
“Akan kulaporkan sendiri.” Rosie menarik ponselnya dari saku celana lalu mengetikkan beberapa kalimat untuk ia kirimkan pada Jeon Jonas.
“Ah tidak, aku akan kena juga,” desisnya lalu menyimpan kembali ponsel itu ke saku.
Duk Duk.
Hans tersenyum lebar tatkala Melissa membukakan pintu untuknya.
“Paman?”
“Apa aku mengganggu?”
Melissa menggeleng.
“Maaf Paman, tapi aku memerlukan waktu untuk diriku sendiri.”
“Ah baiklah, kita bisa bicara lain kali.” Hans tersenyum paham lantas mengusap wajah Melissa dengan lembut.
Melissa menutup pintu setelah Hans pergi dari depan kamarnya, ia kemudian duduk di depan meja guna menulis beberapa bait untuk ia ciptakan puisi, hanya agar bisa menghilangkan pikiran tentang Jeon Jonas.
Sebanyak itu Jeon Jonas menghantui pikirannya, Melissa bahkan harus mengoyak dan meremukkan beberapa kertas untuk menulis ulang berbait-bait puisi yang ia ciptakan.
Di dalam bar Jeon Jonas masih sibuk memikirkan alasan yang akan ia jelaskan pada Melissa, bisa saja ia langsung berlari dan mencegat Melissa saat itu juga namun ia tidak mempunyai jawaban yang tepat jika nanti gadis itu bertanya. Jeon Jonas tidak mungkin jujur bahwa ia memang suka bermain dengan banyak wanita, ia juga tidak mungkin mengatakan bahwa ia sengaja datang ke sana hanya untuk mencari wanita sebagai pelampiasan, meski itu benar.
Sudah sangat lama Jeon Jonas tidak menyentuh wanita, semuanya dikarenakan ia memiliki Melissa di dekatnya. Jeon Jonas sudah berjanji pada diri sendiri bahawa ia hanya akan menyentuh Melissa, tapi Melissa bukankah wanita dewasa seperti wanita yang selalu ia gunakan saat ia butuh menuntaskan kebutuhannya. Melissa terlalu muda, terlalu polos dan belum mengerti mengenai kebutuhan Jeon Jonas.
Memaksa Melissa bukanlah hal yang benar, Jeon Jonas hanya akan membuat gadis itu takut. Jeon Jonas memang tidak punya pilihan selain berkunjung ke tempat-tempat yang menyediakan jasa perempuan penghibur.
Jeon Jonas mendongak dengan wajah frustrasi, sampai detik ini pikirannya masih kosong, ia tidak mendapatkan ide. Bayangan tentang wajah kecewa Melissa sanggup meruntuhkan pertahanannya.
Jeon Jonas juga kecewa, kecewa perihal Melissa berbohong harus kerja kelompok bersama temannya. Jeon Jonas juga bingung mengapa Rosie bisa ada bersama gadis itu. Keberadaan Rosie dirahasiakan, Rosie dibayar untuk menjadi mata-mata bukan pengawal dalam jarak dekat, namun kenyataan yang terpampang jelas di mata Jeon Jonas adalah Rosie bicara dengan Melissa bahkan mengajak gadis itu masuk ke dalam bar yang Jeon Jonas yakin Melissa juga tidak tahu mengenai tempat seperti ini.
Jadi Jeon Jonas sudah mendapatkan jawabannya. Rosie-lah dalangnya.
Para wanita yang sempat merayu Jeon Jonas perlahan mundur ketika Jeon Jonas bangkit dan merapikan pakaiannya. Tatapan Jeon Jonas menyiratkan emosi yang luar biasa. Mereka tidak mau jadi mayat dalam waktu dekat jika sampai menyulut emosi pria itu.
***
Jeon Jonas memarkirkan mobilnya asal, lalu keluar dan terkesiap ketika melihat Hans berdiri di depan rumah.
“Kupikir kau akan bergabung dengan Bernard?” singgung Jeon Jonas sembari tersenyum miring.
Hans membungkukkan badan memberi hormat lalu kembali ke posisi.
“Bawa Rosie ke ruang bawah tanah,” perintah Jeon Jonas.
“Baik Bos.” Hans memberi hormat lagi lantas segera masuk ke dalam mobilnya untuk menyeret Rosie ke ruang bawah tanah.
Jeon Jonas mengusap dagunya lalu berlari pelan menuju kamar Melissa.
Duk Duk.
“Pinky..”
Melissa yang tadinya duduk sembari menulis segera naik ke atas tempat tidur lalu menarik selimut menutupi tubuhnya.
“Pinky, kau di dalam?”
Tidak mendapat sahutan, Jeon Jonas akhirnya masuk ke dalam. Saat melihat gadis itu tertidur, Jeon Jonas ikut berbaring di samping gadis itu.
“Pinky..” Jeon Jonas menyapukan jarinya di wajah Melissa, menaruh anak rambut gadis itu ke belakang lalu berakhir dengan kecupan di dahi.
“Apa sebaiknya aku tidur di sini saja?” tanya Jeon Jonas pada dirinya sendiri. Jeon Jonas tersenyum miring lalu menarik selimut menutupi dirinya dan Melissa.
Melissa yang sebenarnya hanya berpura-pura tidur menggerutu di dalam hatinya, Pria sialan itu harusnya segera pergi bukan malah ikut tidur dengannya. Sial.
Menit berikutnya, ponsel Jeon Jonas berbunyi nyaring. Pria itu segera bangkit lalu menutup telinga Melissa agar tidak terganggu.
“Sialan,” desisnya saat melihat panggilan masuk dari Hans.
Jeon Jonas menolak panggilan lalu menatap Melissa-nya.
“I will sleep longer with my Pinky.”
Pelan-pelan Jeon Jonas mendekap Melissa untuk lebih merapat ke tubuhnya.
***
Jam enam sore, Melissa terbangun dari tidurnya, ia mengerjap-erjap tatkala mengingat kejadian siang tadi, ia menoleh, sudah tidak ada Jeon Jonas di sampingnya. Pria itu telah pergi.
Melissa merentangkan tangan, lalu menatap langit-langit. Karena dekapan Jeon Jonas kepura-puraannya menjadi sungguhan, ia tidur dengan lelap. Bahkan sangat lelap hingga tidak tahu jika pria itu telah keluar dari kamarnya.
Melissa beringsut turun dari ranjang lalu beranjak menuju dapur untuk minum.
“Nona baru pulang?” Melissa memutar tubuhnya lalu menggelengkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Enna.
“Ah ini, tadi aku ketiduran, akan segera ku ganti.”
Enna tersenyum tipis.
“Ada puding mangga di kulkas, Nona ingin mencoba?” tawar Enna.
“Ehm ya..” Enna segera membuka kulkas lalu menunjukkan puding buatannya kepada Melissa.
“Saya mencoba membuatnya lebih menarik,” ucap Enna sembari menunjuk beberapa potongan mangga dan taburan coklat di atasnya. Melissa meraih sendok lalu mebawa puding mangga buatan Enna ke dalam mulutnya.
“Ini akan menjadi salah satu favoritku setelah yogurt,” puji Melissa, menyendok kembali puding itu ke dalam mulutnya.
“Saya senang, Nona menyukainya, saya akan buatkan lagi jika Nona mau.” Melissa menggeleng.
“Ini sudah cukup, tapi aku akan menginginkannya lagi besok.”
Enna terkekeh.
“Nona ingin dibuatkan berapa porsi? Atau Nona ingin menu lain? Puding coklat mungkin?”
“Aku akan mencoba semuanya, aku pikir makanan yang kau buatkan semuanya enak.”
“Terimakasih Nona.”
Di ruang bawah tanah yang tadinya hanya diisi keheningan kini digantikan dengan suara cambukan keras nan menggelegar, tidak ada suara lain, suara cambukan mendominasi di sana.
Dicambukan ke dua puluh, rintihan kesakitan akhirnya keluar tanpa disengaja, wanita yang berlutut itu kemudian dengan cepat membekap mulutnya sendiri. Satu suara berarti hukumannya diulang sekali lagi. Wanita itu menggigit bibirnya dengan begitu kuat, bahkan tanpa ia sadari darah telah keluar dan membuat rasa mulutnya bercampur aduk.
Jeon Jonas yang berada di sana hanya menunjukkan wajah datar, sesekali ia akan menghisap rokok yang berada di antara dua jarinya.
“Bos, punggungnya sudah berdarah,” bisik anak buah Jeon Jonas.
Jeon Jonas tersenyum miring lalu bangkit dari tempat duduknya.
Ia mengibaskan tangan, mengisyaratkan orang yang mencambuk wanita itu untuk mundur dan menjauh dari pandangannya.
“Akh..” Wanita itu meringis saat mencoba bangkit dan memberi hormat, namun tenaganya telah habis terkuras untuk menahan rasa sakit, ia terjatuh ke samping dan meringis kembali ketika Jeon Jonas menekan pahanya dengan pentofel.
“Aku tidak suka menyakiti wanita sungguh,” ucapnya.
“Tapi kau mencoba menipuku, dan..” Sepatu pentofel itu semakin kuat menekan paha Rosie. Rosie mengigit bibir, menutup mata dan mengepalkan tangan, melawan Jeon Jonas bahkan akan membuatnya menjadi mayat.
“Aku benci itu.” Jeon Jonas tersenyum miring, ekspresi terburuk yang ia keluarkan selain ekspresi marah.
***
“Bagaimana kalau kita buat sekarang saja pudingnya? Aku ingin belajar memasak,” ucap Melissa sembari duduk di depan meja makan.
“Tidak masalah, tapi sebaiknya Nona mengganti pakaian dulu.”
“Aku punya seragam lain jika kau takut seragamku kotor..”
“Tuan Jeon akan marah kalau Nona masih memakai seragam, ini hampir malam.”
“Aku akan mandi, tapi setelah itu kita harus memasak ya..”
“Iya Nona.” Enna tersenyum manis.
Melissa beranjak cepat ke kamarnya. Menanggalkan seragam ia kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan.
Sekitar 25 menit ia berada di sana. Melissa kemudian keluar lalu memakai baju santai, tak lupa mengikat rambutnya menjadi satu ke atas. Dengan pebuh semangat Melissa langsung mencari Enna untuk belajar memasak.
“Enna..”
“Nona.” Enna memegangi jantungnya karena kaget.
“Bisa kita memasak sekarang?”
“Nona sudah mandi?”
“Tentu saja.”
Enna terkekeh akan keantusiasan Melissa, ia kemudian menarik kursi agar gadis itu duduk.
“Membuat pudingnya cukup mudah, Nona ingin puding apa?”
“Coklat, mangga juga.”
“Kita perlu coklat bubuk sekitar 20 gram, telur satu butir saja, susu cair, garam..”
“Garam diperlukan juga?” tanya Melissa ingin tahu.
“Ya, supaya tidak terlalu manis. Lalu kita ambil wadahnya.” Enna menarik wadah kaca untuk menjadi tempat adonan.
Suara tarikan kursi di samping Melissa terdengar, Enna dan Melissa menoleh serentak. Jeon Jonas duduk lalu mengambil alih wadah dan alat memasak yang akan dipakai Enna.
“Kau bisa belajar dariku Pinky..”
“Enna..” Melissa menatap Enna, meminta Enna agar mengambil kembali wadah dan alat memasak itu dari tangan Jeon Jonas.
“Belajar denganku atau tidak?”
Melissa mendorong kursi hendak pergi.
“Kupecahkan saja wadah ini,” ancam Jeon Jonas. Melissa yang mendengar itu merasa kesal.
“Paman sudah dewasa,tidak boleh bertingkah kekanak-kanakan.”
“Tergantung lawan bicaraku siapa,” sahut Jeon Jonas dengan wajah datar.
Melissa melangkahkan kakinya beranjak dari dapur, keantusiasannya untuk belajar memasak tiba-tiba hilang begitu saja.
“Melissa, aku bicara padamu.”
Melissa tetap berjalan menaiki undakan tangga hingga sebuah tangan mencengkeram lengannya.
“Apa yang membuatmu semarah ini padaku?”
“Aku hanya perlu waktu untuk diriku sendiri.”
“Aku tidak mengijinkan, sejak kapan kau mempunyai hak untuk mendiamiku?”
“Apa di tempat ini hakku dibatasi? Kalau iya, aku akan kembali ke rumah lama.”
“APA MAKSUDMU?!”
“Aku akan kembali ke rumah lama,” ulang Melissa.
“Tarik kembali ucapanmu, kau tidak akan ke mana-mana.”
“Aku berhak memutuskan di mana aku akan tinggal.”
“Akan kuratakan rumah itu detik ini juga!”
“Aku akan tinggal dengan Bibi Hazel.”
“Kuratakan rumahnya juga.”
“Aku menginap di rumah temanku.”
“Kubakar rumah mereka.”
“Aku cari tempat lain yang tidak diketahui siapapun.”
“Aku akan tahu. Aku selalu tahu di mana kau berada!”