
Vote sebelum membaca😊
Melissa tengah berada di sebuah studio foto milik Ronny yang berada di Las Vegas. Ada pasangan selebriti yang menyewa keahlian Melissa sebagai photographer, karena tidak memiliki studio pribadi, Melissa meminjam studio milik Ronny, dan pria itu mengizinkan tanpa meminta bayaran. Sekitar satu jam dipakai untuk sesi pemotretan, pasangan tersebut sudah berganti pakaian sebanyak lima kali dan akhirnya pada pukul satu siang, pekerjaan Melissa selesai. Ragam alat photografi yang berada di sana ia bereskan, dibantu oleh pekerja Ronny yang begitu sigap. Mereka menjelaskan bahwa mereka disuruh Ronny untuk membantu, dan Melissa tidak perlu sungkan kalau ingin segera pulang.
“Terima kasih,” ucap Melissa pada Ronny yang tersambung pada panggilan video.
“Kau bisa memakai studio itu setiap saat jika perlu,” sahut Ronny, terlihat duduk santai di sebuah sofa.
Melissa terkekeh. “Hanya hari ini, aku pikir. Orang-orang di studio sangat membantu, aku sempat berpikir kalau ini akan melelahkan tapi ternyata tidak.”
“Ya, dan seandainya aku tidak sedang berada di Korea, aku yang akan mengatur semuanya agar kinerjamu selesai lebih cepat.”
Melissa tersenyum simpul. “By the way, aku harus menemui temanku di suatu tempat.”
“Oh, baiklah. Kau harus lebih sering meneleponku.”
Melissa mengangguk, tersenyum lebar. “Aku tutup.”
Selesai berbincang dengan Ronny, Melissa menaruh ponselnya di dalam tas. Jack sudah menunggu di depan, membuat Melissa segera masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang. Ia memberitahu Jack nama kafe yang akan ia datangi, di sana Maggie dan Ava sudah menunggu.
Keduanya sangat antusias saat kemarin, Melissa menceritakan bahwa ia tiba-tiba sakit kepala setelah menunda makan siangnya, selera makannya berkurang dan ia sangat mudah mengantuk. Ava adalah orang pertama yang memberi respons berlebihan, ia segera mengajak Melissa untuk bertemu, mengajak Maggie juga agar membicarakannya bersama-sama, seolah ada topik menegangkan yang harus dibahas. Sampai di depan kafe, Melissa keluar dan segera menemui kedua temannya yang sudah memesan banyak makanan ringan.
“Hei,” Maggie menyapa saat Melissa mendekat. Ava yang saat itu tengah mengunyah gumpalan hot dog, membulatkan mata lalu menarik kursi yang akan dipakai Melissa agar lebih dekat padanya. Wanita itu meneguk paksa milkshake miliknya bahkan ketika mulutnya masih penuh, ia tersedak lalu memukul meja, membuat Melissa dan Maggie meringis.
“Bagaimana? Kau merasa mual pagi ini?” Adalah pertanyaan pertama Ava setelah mulutnya kosong.
Melissa menggeleng. “Tidak.”
“Aku yakin dia hamil,” celetuk Ava, sangat yakin, seratus persen.
Maggie memutar bola matanya. “Tapi dia tidak mual, Ava. Mungkin memang hanya pusing biasa. Aku juga pernah mengalami gejala seperti itu.”
Ava mendecak. “Dengar, Magg. Melissa juga kehilangan selera makan dan mudah kelelahan, dan yang paling penting, dia sudah melakukan itu dengan Jeon-Jonas.”
“Berapa kali, Mel?” tanya Ava.
“Dua kali.”
Maggie dan Ava membelalak.
“Dua kali! Kalian melakukan itu lagi? Kapan?!” seru Ava.
“Setelah bersepeda dengan Peter.”
Ava menganga. “Oh, astaga-astaga.”
Sementara Maggie berbisik ke telinga Melissa, mengatakan kalau seharusnya ia tidak terlalu jujur. Mulut Ava mungkin akan melebar ke sana-kemari.
“Mungkin kita memang harus memeriksanya, Melissa. Bisa saja ucapan Ava itu benar,” ujar Maggie.
“Jeon-Jonas di mana? Aku takut dia tidak akan bertanggung jawab jika saja benar kau memang hamil. Tahu sendiri, kan? Dia itu pemain perempuan. Bagaimana kalau dia tidak peduli lalu meninggalkanmu, lebih parahnya menyuruhmu aborsi seperti di drama yang aku tonton,” celetuk Ava.
“Berhenti menyamakan pacar Melissa dengan drama yang kau tonton, Ava. Aku yakin Jeon-Jonas tidak seperti itu,” sanggah Maggie.
“Kalau seperti itu, bagaimana? Bagaimana nasib Melissa?”
Melissa terdiam. Bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia pernah memikirkan ini sebelumnya? Sebelum melakukan semuanya dengan pria itu?
Tidak. Tidak sekalipun.
🌷🌷
Jeon-Jonas baru saja selesai meninjau perkembangan bar yang ia buka di Henderson. Didampingi oleh Ben dan belasan anak buah lainnya, ia melangkah keluar dari sebuah ruangan, membuat perhatian beberapa orang terpaku pada mereka, pada barisan yang mengikuti di belakang pria itu. Jeon-Jonas melirik jam tangannya, sudah pukul dua siang.
“Kau sudah menyiapkan semuanya?” tanyanya pada Ben yang berjalan tepat di sampingnya.
“Sudah, Bos. Tempat itu tidak akan menerima pelanggan untuk satu hari ini.”
Jeon-Jonas mengangguk, puas dengan kerja keras Ben. “Antarkan aku ke sana.”
“Baik, Bos.”
Belasan anak buah pria itu membungkuk memberi hormat, salah satunya bergegas membuka pintu mobil agar Jeon-Jonas segera masuk, sementara Ben mengitari kendaraan tersebut untuk duduk di jok depan, bersiap mengemudikan mobil.
Setelah duduk di dalam, Jeon-Jonas memeriksa ponsel, tidak ada pemberitahuan tentang Melissa. Tapi tetap tidak ingin menelepon, takut wanita itu belum menyelesaikan pekerjaannya dan ia mungkin akan mengganggu. Ia menjejalkan kembali ponselnya ke dalam saku, memutuskan menunggu wanita itu mengabari terlebih dahulu.
Sesampainya di tempat yang mereka tuju, ia melihat para anak buahnya sudah berjaga di depan, mencegah pelanggan yang mungkin ingin masuk meski sudah dipsang tulisan closed. Sebab tempat itu adalah restoran mahal, restoran berkelas dan restoran yang beberapa tahun lalu sudah mendapat gelar best seller.
“Selamat datang, Bos!” Enam pria berpakaian hitam itu membungkuk singkat memberi hormat, ketika Jeon-Jonas keluar dari dalam mobil dengan satu kacamata bertengger di tulang hidungnya.
Jeon-Jonas menatap lurus nama restoran tersebut, melangkah maju dengan Ben di belakangnya lalu masuk ke dalam hanya untuk tersenyum puas dengan dekorasi yang disiapkan Ben dan anak buahnya yang lain. Ben menunggu dengan waswas, takut Jeon-Jonas akan mengatakan sesuatu yang tidak ia inginkan. Ia melirik ke samping, teman-temannya juga nampak tegang.
“Bagaimana dengan makanannya?”
Ben kembali menatap ke depan dengan tampang tegas. “Ada empat chef yang akan memasak untuk nanti malam, Bos.”
“Sudah kau periksa siapa saja mereka?”
“Sudah, Bos. Mereka adalah chef yang bekerja selama delapan tahun di restoran ini..”
“Bukan itu yang aku maksud,” sela Jeon-Jonas. Ben meneguk ludah, gugup.
“Apa mereka orang biasa, atau terlibat dengan orang yang ingin menghancurkan hidupku?”
“Mereka hanya orang biasa, Bos. Semuanya sudah diperiksa.”
Jeon-Jonas mengangguk, melegakan Ben dan anak buah yang lain. Pada saat itu, Melissa meneleponnya, Jeon-Jonas menarik sudut bibir, menempelkan ponselnya ke telinga.
“Hei, Pinky,” sapanya lembut. Ia memutar tumit sepatunya, memutuskan berjalan ke luar.
“Paman di mana?”
“Miss me?” Enam pria itu berjalan di belakang, sementara Ben berjalan lebih dulu untuk membukakan pintu mobil.
“No.”
“No?”
“Kita selalu bisa bertemu.” Jeon-Jonas melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, ia masuk ke dalam mobil, disusul oleh Ben, meninggalkan enam anak buahnya untuk tetap berjaga di sana.
“Itu benar. Bagaimana dengan pekerjaanmu?”
“Baguslah. Jadi, kau sudah di rumah?”
“Belum, aku bersama temanku.”
“Katakan, Melissa. Tanyakan saja.” Meski pelan dan nyaris seperti bisikan, Jeon-Jonas dapat mendengar suara Ava dan Maggie yang seolah mendesak Melissa untuk mengatakan sesuatu.
“Ehm, itu—” Kerutan di dahi Jeon-Jonas menjadi lebih kentara.
“Kalau misalnya terjadi sesuatu padaku, seperti—”
“Jangan berbelit-belit, bodoh!” seru Ava yang mana membuat Jeon-Jonas menggeram.
“Apa yang terjadi?” Ben yang mengemudi di depan, melirik dari kaca tengah mobil.
“Kalau aku—hamil, apa yang akan Paman lakukan?”
Sudut bibir Jeon-Jonas tertarik ke atas. “Kenapa bertanya begitu?”
“Aku ingin tau jawabannya!”
Senyum pria itu semakin melebar saat suara Melissa terdengar melengking.
“Entahlah, aku juga tidak tau.”
“Sudah kukatakan, bukan? Matikan saja, akhiri panggilannya,” bisik Ava. Maggie ikut menimpali. Panggilan diakhiri Melissa secara sepihak, Jeon-Jonas mendengkus geli.
🌷🌷
Sebenarnya belum ada kesimpulan apa pun, Melissa belum memeriksa apa benar ia hamil atau tidak. Saran Maggie, ia harus bertanya dulu pada Jeon-Jonas. Jika pria itu menjawab dengan bingung atau tidak ingin bertanggung jawab, maka mereka harus segera membeli alat cek kehamilan. Dan kalau memang benar dirinya hamil, ketiga wanita itu akan mencari pria yang bersedia menjadi ayah bayi tersebut.
“Enteng saja dia bilang tidak tau,” gerutu Ava, kesal.
“Mungkin karena Melissa tidak menjelaskannya secara detail,” sanggah Maggie.
“Terus saja bela dia! Potong saja lilinnya kalau tidak mau bertanggung-jawab!”
“Ava!” seru Maggie.
Melissa menghela napas. “Aku rasa, aku perlu mencari udara segar dengan Jack.”
“Mel, jangan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupmu,” peringat Ava.
Melissa mengangguk. Ia mengangkat tas, berjalan keluar lalu terkejut saat melihat Jeon-Jonas bersandar di badan mobil. Ingin mundur, tapi pria itu sudah melihatnya. Dengan terpaksa, Melissa melangkah maju, mengabaikan senyuman manis pria itu. Matanya mencari keberadaan Jack, pria itu tidak ada. Jeon-Jonas sepertinya menyuruhnya pulang.
Seperti biasa, ia duduk di depan, memasang earphone di kedua telinga lalu menatap kaca mobil. Jeon-Jonas menyalakan mesin mobil, membawanya membelah jalanan. Ia melirik Melissa, wanita itu terlihat murung. Tangannya kemudian menarik earphone wanita itu, membuat Melissa mendengkus kesal.
“Kau merajuk..”
“Tidak.”
“Aku tidak bertanya, kau memang merajuk.”
“Tidak!”
“Ya, kau merajuk.”
Melissa melipat tangan di depan dada, seperti ada asap panas yang keluar dari lubang hidung dan telinganya. Ia mengguncang tangannya ketika jemari Jeon-Jonas mendarat di lengannya, mengelusnya dengan lembut. Semakin ia meronta, semakin pria itu dengan gencar memegang tangannya, bahkan menariknya untuk saling menyatukan telapak tangan.
🌷🌷
Jeon-Jonas pergi, itu yang Melissa tahu. Malam ini ia masih memasang wajah murung, sengaja menunda makan karena kesal. Tapi ketika arah jarum jam pendek nyaris mengenai angka delapan, pengemis di perutnya berteriak meminta makanan.
Ia turun ke dapur, tidak ada Enna atau siapa pun, dan tidak ada makanan yang disediakan. Melissa nyaris meledak jika saja tidak menemukan satu bungkus biskuit di atas meja.
“Melissa.” Ia masih sibuk mengunyah saat Ben datang, berdiri di depannya.
“Ikut aku,” sambung pria itu. Melissa mendengkus, menambah potongan biskuit ke mulutnya yang masih penuh. Ben tersenyum samar, mengusap rambut wanita itu dengan lembut. Melissa mendongak, menemukan Ben sudah memegang dua lembar tisu. Melissa mengambilnya, mengusap mulutnya hingga bersih dari remahan biskuit.
“Ayo ikut aku.”
“Ke mana?”
“Menemui Bos.”
Melissa hampir-hampir akan mengunyah biskuit lagi, tapi secepat mungkin Ben mencegahnya.
“Mau makanan, kan?”
“Di mana ada makanan?”
“Ganti pakaianmu, aku akan mengajakmu ke tempat yang menyediakan banyak makanan.”
“Tapi aku tidak mau bertemu Paman Jeon.”
“Kalau begitu, tidak ada makanan untuk malam ini.”
Melissa mendecak, meninggalkan Ben untuk berganti pakaian. Gaun putih bergaris-garis pink menjadi pilihannya saat ini. Ia becermin, tidak merasa perlu memoles wajah. Kakinya kemudian bergerak menuruni undakan tangga, mendapati Ben mengulurkan tangan untuk ia sambut di detik selanjutnya.
Mereka sama-sama masuk ke dalam mobil, dan ketika sampai di sebuah restoran mewah, Melissa mengerjap-erjap. Ingin bertanya, tapi Ben sudah turun terlebih dahulu. Pria itu membukakan pintu untuknya, tapi tidak menggenggam tangannya seperti tadi. Banyak mata menatapi dan pria itu tidak ingin kehilangan nyawa hanya karena menyentuh tangan wanita yang ia sukai.
Begitu masuk ke dalam, Melissa disambut oleh alunan piano. Ada satu meja terang di antara meja-meja kosong yang berada di sana. Namun, bukan itu yang menjadi pusat perhatiannya, tapi pria di depan sana, pria yang mengenakan setelan jas putih yang nampak bercahaya meski lampu di sana sudah cukup terang untuk sekadar hiasan atau penyejuk mata.
Melissa bergeming, tatapan mereka saling terkunci saat pria itu, yang tidak pernah diduga siapa pun, bernyanyi begitu merdu.
'Forget the world, now we won't let them see. But there's one thing left to do'
'Now that the weight has lifted, love has surely shifted my way'
'Marry me, today and everyday. Marry me'
Melissa membeku ketika pria itu berjalan mendekat, menyentuh telapak tangannya yang dingin, berbagi kehangatan yang selama ini saling mereka dapatkan ketika mereka memberi satu sama lain.
Melissa tidak bisa memindah tatapan, bahkan pada belasan pria berpakaian hitam yang berdiri di setiap sisi, bahkan pada Ben yang sebelumnya menggenggam tangan itu, bahkan pada wangi makanan yang menyergap penciumannya. Tidak ada satu pun yang bisa mengalihkan. Ia terpaku, pada bola mata pria itu, pada iris sendu yang tersulap menjadi terang. Ia di sana, terjebak tanpa ingin membebaskan diri.
“Melissa Kyle, will you marry me?”
Dan satu jawaban telah menggantung lama di sana, pada ujung lidahnya. Pada saat itu juga, ketika pria itu menunjukkan satu cincin berlian, yang membuat jantungnya memompa keras. Melissa menyahut dengan gamblang, bahwa ia milik pria itu, bahwa ia setuju dan selamanya memang akan selalu begitu.
Maaf update-nya lama 🙂 Yahh, seperti yang kalian tau, setiap orang memiliki kesibukan. Aku juga gitu. Dan aku udah usahain buat nuntasin semua hal-hal yang memang belum aku selesaikan. Terutama cerita Hot Guy.