HOT GUY

HOT GUY
[31]



Tolong di vote ya.


Melissa mencoba lagi. Merentangkan tangan, memajukan kaki dan menghentakkan lengan bersama pisau. Saat mendengar langkah kaki mendekat, ia segera menyembunyikannya. Hans muncul dengan mendorong daun pintu, menerbitkan senyum lalu membawa satu liontin di genggaman tangan.


“Hi, sweet..” Pria itu mendekat, segera memasang liontin itu di leher Melissa meski belum mendapat izin.


“Sudah ku duga, sangat cocok di lehermu,” lanjutnya, mengusap rambut gadis itu dengan lembut.


“Kenapa Paman memberikannya padaku?”


“Karena…kau akan pergi besok.”


“Berapa lama?”


“Hanya satu minggu.”


“Aku akan sangat merindukanmu.”


Melissa tersenyum simpul ketika Hans cemberut. “Aku akan kembali lagi.”


“Can I get a hug?”


“Sure.” Hans tersenyum lebar tatkala mendapat pelukan dari Melissa, gadis yang selalu ia cintai dalam diam.


“Aku menyayangimu,” bisiknya. Melissa mengangguk. “I know.”


Melissa tidak tahu, sangat tidak tahu kalau sebenarnya Hans membutuhkan jawaban yang berbeda. Hanya sesederhana me too.


***


“Tidak perlu, Magg. Paman Hans akan mengantarku,” ucap Melissa pada Maggie yang tersambung dengannya lewat ponsel.


“Okay. Aku dan Jeongin akan menunggu di bandara. Jangan lupakan apapun.”


“Aku mengerti.”


Melissa segera memeluk Sani ketika sampai di bawah, wanita paruh baya itu mendengkus ketika pelukan mereka mengurai.


“Jangan terlalu lama di sana, aku perlu teman dan Hans adalah pilihan yang buruk.” Melissa terkekeh.


“Paman Hans banyak bicara, San.”


“Ya, denganmu. Karena dia menyukaimu. Coba denganku, dia hanya akan bicara ketika dia membutuhkan sesuatu.” Kali ini Melissa tertawa.


“Jangan bilang, kau menyukai Paman Hans,” godanya.


“Come on, dia seperti putraku.”


Sani menengadah ketika Hans muncul dengan pakaian santainya, siap menemani Melissa ke bandara.


“Kenapa kalian sangat terburu-buru?” Sani merengut kesal.


“Dia hanya pergi seminggu,” celetuk Hans.


“Dia selalu bersamaku Hans, aku tidak tahan jika harus berpisah dengannya selama itu.”


“Aku akan membawa hadiah,” ucap Melissa mengusap punggung Sani.


“Jangan menyogokku!” Melissa tertawa panjang.


“Jangan lupa makan, jaga dirimu di sana.” Sani memeluknya lagi. Melissa mengangguk.


“Kami pergi.” Sani tersenyum simpul, membiarkan Hans membawa Melissa pergi dengan koper di tangan kanan.


Hans mengedarkan pandangan saat mereka telah berada di luar, mengamati setiap sudut, beberapa kali kelompok Jeon Jonas akan lewat dari sana, mencari Melissa untuk dibawa pulang, dan Hans harus sigap untuk melindungi gadis itu agar tidak tahu-menahu tentang semuanya. Semua hal yang dilakukan kelompok Jeon Jonas untuk mencari, selalu Hans gagalkan dengan segala cara, demi Melissa-nya.


Tanpa menunggu, Hans mengantar gadis itu menuju bandara. Dan benar, Maggie dan Jeongin sudah menunggu di sana ketika mereka sampai.


“Hei, akhirnya.” Maggie mendesah lega ketika mendapati Melissa dan Hans mendekat.


“Paman, sampai di sini saja. Paman bekerja kan?” Hans mengangguk, memberi sentuhan ringan di pipi gadis itu.


“Aku akan menjemputmu kalau kau terlalu lama di sana.” Melissa terkekeh, melihat punggung Hans yang akhirnya pergi dengan membawa mobilnya.


“Cepat resmikan hubungan kalian Mel, dia terlalu lama menunggu,” goda Maggie menyenggol bahu Melissa.


“Dia pamanku, Magg.”


“Ya, yang sebelumnya juga pamanmu, dan kalian berpacaran.”


Melissa mendesah pelan, tidak ingin pikirannya diisi banyak oleh hal yang berkaitan dengan Jeon Jonas.


“Oke girls, sudah siap terbang ke Korea?”


Jeongin mendekat dengan dua koper di sepasang tangannya.


“Tentu saja.” Maggie mengambil alih koper miliknya lantas menyuruh Melissa berjalan di sampingnya.


***


Hans menepikan mobilnya di depan sebuah gedung, ia melihat Ben dan anak buah Jeon Jonas yang lain tengah masuk ke dalam beberapa mobil yang tadi terparkir di sana. Semua orang mengira Hans telah mati, sebab Bernard pernah mengirim mayat dengan tubuh gosong dan mengatakan bahwa itu jasad Hans, tidak ada yang tahu bahwa itu semua penipuan, bukan Bernard yang melakukannya tetapi Hans sendiri. Jadi, tidak akan ada yang mencarinya, tidak akan ada yang mencurigainya tentang kehilangan Melissa dan ia akan selamanya bersama gadis itu, tidak satu orangpun bisa memisahkan mereka.


Hans menyipitkan mata, ia tidak jahat. Melissa sendiri sangat nyaman bersamanya, menjelaskan pada Hans bahwa gadis itu sebenarnya tidak pantas untuk Jeon Jonas. Bersama Jeon Jonas hanya akan membuat gadis itu di zona berbahaya, merasa resah dan akan kelimpungan ketika para musuh menyerang. Hanya dengan Hans, hanya dengan Hans gadis itu akan bahagia. Pada akhirnya senyuman miring itu muncul, Hans merasa menang, Jeon Jonas dan para anak buahnya yang ***** tidak akan pernah mendapatkan apapun. Semua akan gagal karena Hans akan melakukan apapun untuk menghentikannya.


Ketika ponselnya berdering, raut wajah itu segera berubah. Hans menolak panggilan, ia tahu ia sedang terlambat untuk bekerja.


***


Korea Selatan. Akhirnya kemarin Melissa telah sampai di Negara yang dijuluki negeri ginseng tersebut. Setelah berjam-jam dihabiskan untuk istirahat di sebuah hotel, Melissa harus pergi sore ini karena ajakan Maggie. Gadis itu terlalu cerewet di telepon. Katanya, Melissa tidak boleh melewatkan banyak tempat untuk dipotret, apalagi Jeongin punya beberapa tempat rekomendasi untuk dikunjungi. Jadi, mau tidak mau Melissa memang harus menunda kegiatan bermalas-malasannya. Setelah sampai di luar, ia menemukan Maggie tengah melambai dari dalam satu mobil berwarna merah, Jeongin sebagai pengemudi.


“Kalian menyewa mobil? Kenapa aku tidak tau?” tanyanya bingung.


“Bukan, ini mobil sepupu Jeongin, kami ke rumahnya tadi,” sahut Maggie tersenyum lebar.


“Kalian tidak mengajakku.” Pasangan sejoli itu terkekeh dan mengucapkan maaf.


“Kita akan ke sana kalau kau mau,” celetuk Jeongin.


“Oke nanti. Kita harus ke tempat yang kau katakan tadi,” sahut Maggie.


“Ya, sayang.” Melissa mendengkus melihat Maggie memeluk Jeongin dengan manja. Secepatnya, ia juga harus memiliki pacar.


Beberapa menit di perjalanan, Jeongin menunjuk sebuah museum yang dikenal dengan nama Weldying Mark. Jeongin mengatakan kalau museum itu sering dikunjungi wisatawan asing, ia juga pernah ke sana dengan keluarganya semasa seolah menengah atas, di sana bagus dan dua wanita itu harus masuk ke sana untuk melihatnya.


“Baiklah, terdengar menyenangkan.” Maggie keluar lebih dahulu, disusul Melissa dari jok belakang. Ketiganya masuk ke dalam, Melissa hanya bisa membuang napas pelan saat melihat Maggie dan Jeongin saling berangkulan. Mendadak tidak tertarik untuk berkeliling, ia keluar dari museum dan menarik napas setelah berada di luar. Banyak cafe yang berjejer di depan museum, ketika mendapati satu cafe yang menjual ice cream, mata Melissa berbinar. Cafe bourspring namanya, tempat itu membuat Melissa tertarik begitu saja. Cafe itu cukup elegan, seperti lampu gantung kristal berwarna-warni, tempat duduk berwarna cokelat, pintu masuk dan keluar yang berbeda dan tentu saja dengan cat dinding berwarna orange dipadukan dengan warna putih. Tipe Melissa sekali.


Masalahnya, di sana ternyata cukup ramai, bahkan hampir semua tempat duduk telah terisi. Hanya ada satu yang tersisa dan berada di depan sebuah meja yang kini dipakai oleh seorang wanita. Melissa tetap bergerak maju dan mendekati wanita itu untuk meminta izin duduk.


“Maaf, bisa duduk di sini?” Wanita yang sedang menyantap ice cream itu mendongak.


“Tentu saja.” Melissa tersenyum tipis lalu memandang wanita anggun itu sedikit canggung.


“Maaf, aku akan cepat selesai,” ucapnya.


“Tidak perlu buru-buru.” Melissa mengangguk, melirik wanita itu diam-diam. . Ia merasa wanita itu begitu mirip dengannya, dari potongan rambutnya, bentuk wajahnya. Bedanya wanita itu terlihat lebih chubby, sangat anggun dan begitu terawat. Wanita itu pasti sering melakukan perawatan, atau kalau tidak, pasti lebih sering di rumah.


“Apa kau masih pelajar?” Melissa gelagapan saat tiba-tiba wanita di depannya mendongak dan bertanya.


Melissa menggeleng, tersenyum kikuk. “Aku sudah tamat.”


“Boleh tau siapa namamu?”


“Melissa.” Wanita dewasa itu terlihat terkejut.


“Aku Lisa Wilkinson.” Kali ini Melissa yang terkejut, bahkan nama mereka nyaris sama.


“Kupikir benar kata orang kalau setiap manusia itu punya kembaran sebanyak tujuh.” Melissa tersenyum lebar, matanya tertuju pada ice cream bertopping menarik milik wanita bernama Lisa Wilkinson. Melissa pernah mencoba sama seperti itu sebelumnya, saat itu ia rela bolos bersama Jeon Jonas dan kekenyangan karena melahap banyak. Apakah setelah itu Jeon Jonas mengajak wanita lain untuk makan ice cream bersama? Stephanie kah?


“Apa yang membuatmu sedih?”


Melissa menggeleng. “Tidak ada apa-apa.”


“Lisa?” Kedua wanita itu menoleh serempak.


“Eunwoo Oppa..” Melissa merasa tidak nyaman tatkala menemukan seorang pria dewasa menghampiri meja mereka, memperhatikan wanita di depannya dengan senyum mengembang dan Melissa sadar bahwa ia tidak punya pilihan selain pergi.


“Aku permisi,” ujarnya bangkit, memperhatikan tempat lain yang mungkin kosong dan ia akan duduk di sana untuk menyantap ice cream sendirian, tetapi tidak ada satupun yang kosong, semua meja diisi orang-orang. Wanita yang sempat berkenalan dengannya masih terdengar memanggil, tapi Melissa tidak menyahut sebab Maggie ada di depan cafe, raut wajahnya cemas dan khawatir. Saat Melissa muncul, gadis berambut blonde itu mendengkus kesal.


“Ini bukan Las Vegas kalau kau lupa,” desisnya marah.


“Maaf.” Maggie menghela napas lantas merangkul Melissa dengan lembut.


“Maaf melupakanmu tadi, aku nyaris gila saat melihatmu menghilang. Aku tidak mau pamanmu meledak karena kau tersesat di sini.” Melissa terkekeh.


“Ayo ke tempat lain, besok aku akan sibuk.”


“Oke.” Maggie mengajaknya masuk ke dalam mobil, gadis itu bercerita bahwa di dalam museum tadi banyak pedang berbentuk aneh yang konon katanya milik prajurit kerajaan. Ada juga lukisan orang-orang yang berbaris di depan istana, hukuman gantung bagi orang jahat dan banyak lagi. Maggie tidak berhenti berceloteh. Tidak, bahkan ketika mereka sampai di depan sebuah gedung yang katanya tempat oppa-oppa Korea menghabiskan waktu sehabis latihan dan semacamnya. Maggie berteriak senang saat sampai di sana, sementara Melissa hanya melihat-lihat dan memotret.


***


Hari ini, Melissa akhirnya mengunjungi salah satu stasiun TV dengan Jeongin dan Maggie yang hanya sebatas mengantarnya ke sana. Ini adalah tujuan yang sebenarnya Melissa ke Korea, karena undangan dari SDS TV untuk mewawancarainya. Hasil jepretan Melissa memang terkenal dan dibagikan di beberapa media. Dan pihak SDS TV mengatakan bahwa Melissa mungkin bisa semakin mengembangkan sayapnya setelah memperkenalkan karyanya pada dunia.


“Hati-hati, jangan berkeliaran.” Maggie memperingatkan. “Katanya, di sini pernah ada kejadian penculikan, jadi berhati-hati saat bertemu dengan orang asing. Telepon aku setelah acaranya selesai. Tunggu di sini, di koridor ataupun duduk di sofa sana, asalkan jangan sampai ke tempat yang berbahaya.”


Malissa memutar bola matanya jengah, Maggie memang jadi lebih over protective padanya. Seolah-olah Melissa masih kecil dan butuh pengawasan yang ketat agar tidak hilang. Maggie ia dorong pelan agar pergi, sebab kehadiran Maggie mungkin akan membuatnya sakit kepala, gadis itu rewel.


“Masuk dulu sana.”


“Iya, Magg. Pulanglah.” Maggie mendesah pelan lantas mengangguk.


Pukul sembilan pagi, jadwal untuk hari ini lumayan padat. Selain wawancara di tiga acara SDS TV, ia juga akan menemui salah satu photographer yang pernah ia ajak berkenalan di Las Vegas. Namanya Ronny, pria itu menetap di Korea, salah satu photographer handal yang bekerja di sebuah perusahaan besar yakni Xever Magazine.


“Melissa Kyle?” Seorang kru TV datang dengan satu kertas sususan acara di tangannya.


“Anda bisa masuk dulu ke ruang make up,” ucapnya.


“Tidak, tidak perlu. Aku sudah merias wajah dari hotel.”


“Oh ya? Itu bagus.” Pria itu memperlihatkan kertas yang ia pegang, menjelaskan beberapa hal pada Melissa untuk dipahami, juga meminta maaf jikalau Melissa merasa direpotkan. Beberapa menit kemudian ia diminta untuk menunggu di balik layar, dipanggil lagi setelah 30 detik dan wawancaranya dimulai.


Pertanyaan demi pertanyaan mengalir begitu saja, dijawab Melissa dengan baik. Begitu juga dengan wawancara dari acara lain yang sebisa mungkin Melissa ikuti dengan profesional. Pada pukul lima sore, kegiatan di SDS TV akhirnya selesai. Melissa menggerakkan lehernya yang kaku dengan gerakan berputar, presenter yang sempat mewawancarai Melissa, memuji penampilannya saat ini. Baju rajut putih dari merek Celige juga rok sebatas lutut hitam bermerek sama. Melissa hanya tersenyum menanggapi pujian itu, sebab setelah itu presenter itu pamit untuk pulang terlebih dahulu.


Melissa memeriksa ponselnya yang berdering, pesan balasan dari Maggie yang mengatakan bahwa ada masalah dengan mobil yang dibawa Jeongin, bannya mendadak bocor. Maggie menyuruhnya menunggu sebentar dan mengingatkan lagi supanya Melissa tidak berkeliaran sembarangan. Melissa menghela napas, memilih berjalan maju mundur di lorong studio sembari mengotak-atik ponsel.


Ketika sebuah langkah mendekat dan menariknya secara tiba-tiba, Melissa membelalak dan memekik. Seorang pria memeluknya dengan begitu erat, nyaris membuatnya sulit bernapas. Melissa cepat-cepat menurunkan tangan kanannya, menarik pisau kecil dari sabuk garter atas stoking yang selalu ia bawa dan disembunyikan di balik rok. Ia menggeram, apalagi setelah pria itu dengan lancang menaruh bibir di lehernya.


Dengan kemampuan yang diasah setiap kesempatan, Melissa mengayunkan sikunya mengguncang sudut perut pria itu, maju lebih dekat lantas menancapkan pisaunya di lengan kokoh itu dengan tatapan berkilat.


Ia tersenyum saat usahanya berhasil, pria itu meringis. Banyak darah keluar dan Melissa yakin itu sangat menyakitkan.


Tapi, saat tatapan mereka saling menumbuk, Melissa tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bergetar. Di sana pria itu, menatapnya dengan tatapan yang dikuasai rindu, kebutuhan untuk memangsa dan berbagai hal yang tidak ingin Melissa simpulkan seorang diri.


“Kau sudah belajar banyak, Pinky.”


Dari jutaan hal yang Melissa benci, hanya panggilan itu yang berhasil meruntuhkannya, mengoyaki semua tali-tali yang ia rajut sebagai pembatas diri dan ia selalu gagal untuk bertahan. Pria itu, panggilan itu. Sialan! Mengingatkannya bahwa ia pernah menjadi gadis bodoh dan Jeon Jonas menganggapnya sebagai peliharaan.