HOT GUY

HOT GUY
[54]



Seseorang kemudian mendekati badan mobil. Jeon-Jonas memeluk Melissa lebih erat. Dan ketika matanya menemukan Daniela di sana, ia menggeram.


“Jeon?” Wanita itu mengetuk kaca mobil. Jeon-Jonas bergeming, memilih mengusap rambut panjang Melissa yang sepertinya tertidur.


“Jeon…” Jeon-Jonas mendengarnya, namun tetap memilih mengecupi lengan Melissa dengan lembut.


“Jeon. Aku tau kau di dalam.”


Jeon-Jonas menurunkan kaca mobil, menatap Daniela dengan datar.


“Ka—kalian, apa yang kalian lakukan?!”


Melihat Jeon-Jonas merapikan pakaian Melissa dan menarik sebuah jas dari tempat duduk untuk menutupi tubuh berbalut bikini itu, Daniela membelalak.


Maka, di saat pria itu berniat membuka pintu, Daniela segera menarik kasar lengan Melissa. Mengakibatkan wanita yang sempat tertidur itu meringis.


"Daniela!!" Jeon-Jonas menyergah. Sementara Daniela masih menarik Melissa. Wanita itu terjatuh, beruntung yang pertama kali mendarat di tanah adalah kedua telapak tangannya, kemudian disusul lutut dan kaki kanannya yang akhirnya tergores dan berdarah.


"Aww.."


Melihat luka wanita itu, Daniela menyeringai, sedangkan Jeon-Jonas sudah menarik pistol, hendak menembakkan satu peluru. Namun Ben dan anak buah yang lain datang, segera mencegah pria itu agar tidak melakukannya. Salah satu dari anak buah Jeon-Jonas menarik rambut panjang Daniela, mengakibatkan rasa yang cukup perih dirasakan wanita itu.


"AKH! LEPAS, SIALAN!"


"Bos, kami akan mengurusnya," ucap Ben, menahan pistol Jeon-Jonas.


Tidak ada yang berani menolong Melissa, bahkan untuk sekadar menyentuhnya. Meski sebenarnya Ben sudah berniat melakukannya sejak pertama kali wanita itu ditarik oleh Daniela.


Jeon-Jonas kemudian menyelipkan pistol ke saku belakang celana, lantas membantu Melissa berdiri. Ia menggeram begitu melihat luka wanita itu, juga isak tangisnya yang kembali terdengar.


"BAWA DIA KE KAMAR KALIAN!!"


"Baik, Bos!"


Jeon-Jonas menggendong Melissa, menyembunyikan kepala wanita itu di depan dadanya. Daniela sendiri meraung kesakitan. Jambakan di rambutnya semakin kencang, semakin tidak berperikemanusiaan.


Baru saja akan menginjakkan kaki ke lobi, Krista muncul bersama Livy. Menghentikan langkah mereka yang akhirnya sama-sama menoleh ke arah wanita paruh baya itu.


"Jeon.." Krista menaikkan alis. "Apa yang terjadi?"


Kemudian, saat pandangannya menemukan Daniela, ia mengernyit secara berlebihan. "Daniela?"


"Bibi..." Air mata Daniela luruh.


"Apa yang kalian lakukan pada Daniela?!"


Ben membungkukkan kepala sejenak.


"Ini urusan kami, Nyonya."


"Ini akan menjadi urusanku juga!"


"Dia melukai istriku!!" seru Jeon-Jonas berang. Perhatian Krista akhirnya tertuju pada Melissa yang masih terisak, masih menyembunyikan wajahnya di dada Jeon-Jonas.


Krista menatap lurus Daniela. "Kau melukai Melissa? Kau-"


"Itu tidak sengaja, Bibi. Aku tidak pernah berniat jahat hiks..."


Akan tetapi, Krista tahu bahwa Jeon-Jonas tidak akan seberang ini jika itu benar-benar ketidaksengajaan. Juga luka di kaki Melissa yang tiba-tiba saja membuatnya mengiba.


"Aku tidak percaya kau sekasar itu, Daniela," ucapnya.


"Bibi, Melissa menghinaku lewat tatapan matanya."


Krista menggeleng. "Melissa bukan wanita seperti itu. Sebaiknya kau pergi dari sini, Daniela."


"Tidak, Bibi. Melissa benar-benar menghinaku!"


"Atau kau memang lebih memilih mati di tangan anak buah putraku?" ancam Krista.


Tarikan di rambutnya terlepas, ia didorong ke depan, agar pergi. Daniela mendesis pelan.


"Kau akan membayar semua ini, Melissa!" Sayangnya, ia hanya berani mengungkapkannya di dalam hati. Daniela menghentakkan kaki, lantas pergi dari sana dengan amarah tertahan.


Jeon-Jonas cepat-cepat menaiki lift menuju kamar mereka, Ben dan anak buahnya yang ingin mengikuti, dicegah oleh Krista.


"Apa yang terjadi sebelumnya?" tanyanya.


Ben tersenyum simpul. "Tidak terjadi apa-apa, Nyonya."


Krista mendecih. "Jangan menutupi apa pun dariku, Ben."


Ben mengembuskan napas. "Melissa kabur dari hotel dan pergi ke pantai Miami tanpa sepengetahuan siapapun."


"Tapi kalian berjaga di sini!"


"Sepertinya, teman-temannya sudah mengatur semuanya, Nyonya."


"Perketat keamanan. Teman Melissa saja bisa mengelabui kalian semua, bagaimana kalau ada yang berniat menjahati Melissa, menculiknya? Daniela bisa saja merencanakan sesuatu."


Ben dan anak buah yang lain menundukkan kepala. "Baik, Nyonya!"


🌷🌷


Jeon-Jonas menundukkan kepala saat membersihkan luka di kaki Melissa, ia membalut luka tersebut dengan plester luka kemudian memeriksa telapak tangan wanita itu yang sedikit berpasir.


"Aku ingin membunuh Daniela sekarang, kau mengizinkanku?"


Melissa menggeleng. "Aku sedang hamil."


"Ya?"


"Akan terjadi sesuatu pada bayiku kalau di antara kita melakukan kejahatan, itu yang aku dengar."


"Oh." Pria itu memperhatikan cara duduk Melissa lalu menatap mata sembab wanita itu. "Well, kita harus mengganti pakaianmu."


Karena mungkin ... ia akan kembali tergoda untuk melanjutkan kegiatan yang mereka lakukan di dalam mobil.


"Iya," angguk Melissa.


"Tidak perlu bergerak," ucap Jeon-Jonas. Ia membuka lemari pakaian mereka, menarik sepasang baju Melissa, juga pakaian dalam. "Aku bantu."


"Tidak. Tidak perlu, aku akan melakukannya sendiri."


"Aku lihat?"


"Tidak boleh."


Jeon-Jonas mengangguk, membalikkan tubuhnya memunggungi Melissa. Setelah wanita itu memanggil, tanda bahwa ia telah selesai berpakaian, Jeon-Jonas berbalik.


"Beautiful Pinky."


"Jeon, keluar!" Krista muncul bersama Livy.


"Ibu?"


"Cepat keluar!"


"Apa maksud Ibu?"


"Kau pergi bersama Daniela, meninggalkan Melissa-ku sendirian di sini, tidak mengangkat panggilannya, lalu berlama-lama bersama Daniela di rumahnya, apa yang kau lakukan?"


"Ibu tahu dari mana?"


"Melissa meneleponku, menanyakan keberadaanmu, itu mengapa kami ada di sini sekarang!"


Jeon-Jonas mendesah. "Ibu, Daniela-"


"Cepat keluar! Kau pikir hanya kau saja yang bisa menghukum Melissa? Kau juga bersalah di sini!"


Krista mendekati tempat tidur, merengkuh Melissa. Sementara Livy, sudah memasang ekspresi seram, seperti kucing lapar yang bisa mencakar kapan saja. Jeon-Jonas mengernyit dan mundur.


"Kami perlu ke rumah sakit untuk periksa, aku khawatir bayi kami tidak baik-baik saja."


"Tetap di luar selama satu jam, itu hukuman karena meninggalkan Melissa sendirian!"


"Ibu!"


"Berani membantah Ibu sekarang?"


Jeon-Jonas mengerang kesal, tapi akhirnya menuruti Krista untuk keluar dari dalam kamar. Seperginya pria itu, Livy merangkak ke tempat tidur, mendekati Melissa seperti yang dilakukan Krista.


"Merasakan sesuatu yang aneh di perutmu?" tanya Krista.


"I'm good."


"Kalian memang harus periksa, tapi tunggu satu jam dulu, ya. Jeon-Jonas harus diberi hukuman. Selama ini tidak ada yang berani menghukumnya kecuali Ibu."


"Tapi aku juga bersalah."


"Jangan membelanya. Kau pergi ke pantai Miami karena kesal padanya, kan? Semua itu terjadi karena kesalahan Jeon-Jonas. Tapi dia memang tidak pernah ingin mengoreksi dirinya sendiri."


Melissa mengangguk pada akhirnya. Livy yang sejak tadi memperhatikannya kemudian membongkar tas kecil Krista, ia menitip lollipop sebelumnya.


"Untuk teman," ucapnya memberikan lollipop mangga.


"Jadi, kau menitip lollipop bukan untuk kau makan sendiri? Tapi untuk Melissa?" tanya Krista.


Livy mengangguk. "Untuk Livy, untuk teman."


"Livy.." Krista membingkai pipi gadis itu dengan kedua tangannya. "Melissa itu sudah dua puluh tahun. Kalian seharusnya bukan teman untuk berbagi permen, kan?"


Masih dengan pipi dijepit oleh Krista, Livy menggeleng. "Teman Livy harus makan permen."


"Tidak apa-apa, Ibu. Aku suka permen."


Krista mendesah dengan wajah sedih. "Kalian memang terlihat seperti sebaya."


"Ibu.." Jeon-Jonas mengetuk pintu dari luar.


"Jadi, sebenarnya aku sangat penasaran mengenai hubungan kalian berdua. Baiklah, aku mungkin terdengar ikut campur, tapi melihat sikapmu yang seperti ini dan sikap Jeon-Jonas yang seperti itu, aku merasa harus mengetahuinya. Apa dia memperlakukanmu dengan baik?"


"Ya. Jeon baik. Jeon tidak marah saat aku bangun terlambat. Jeon tidak marah saat aku tidak bisa memasang dasinya. Jeon juga membuatkan sarapan dan membelikan obat."


"Itu memang tugas seorang suami."


"Harusnya aku yang melakukannya."


"Aku paham mengapa dia yang melakukannya."


"Karena aku tidak berguna, ya?"


"Hei, kenapa bicara seperti itu?" tanya Krista sedikit melotot. "Jeon sudah terbiasa memasak sendiri bahkan sebelum mengenalmu, Dan kepribadiannya yang dewasa juga mendukung semua hal itu. Dia suka melakukan banyak hal sendirian."


"Apa aku terlalu kekanakan?"


"Tidak, tidak. Itu wajar. Lagi pula dia memang suka kepribadianmu yang seperti ini," kekeh Krista. "Kalian terlihat menggemaskan kalau berjalan berdua, apalagi kalau dia sudah menggendongmu seperti tadi."


Livy yang menantikan Melissa mencoba permennya, menarik kembali lollipop yang sempat ia berikan, ia buka untuk wanita itu. Melissa memundurkan kepala saat Livy menempelkan lollipop tersebut ke bibirnya.


"Akan aku coba," ucap Melissa seraya tertawa kecil.


"Ibu, kami harus ke rumah sakit!"


Krista mendesah. "Masuk!"


Jeon-Jonas muncul dengan wajah kesal. Ia mencondongkan tubuh, hingga wajahnya menjadi begitu dekat dengan Melissa.


"Merasa baik? Kita ke rumah sakit, ya?"


Melissa mengangguk. Jeon-Jonas mengecup pipinya lalu mengulurkan tangan untuk digenggam.


"Ibu dan Livy akan tetap di sini. Kami bosan di rumah," ucap Krista.


"Kenapa tidak pergi ke tempat lain saja? Aku dan Melissa akan lama."


"Tidak masalah. Aku punya access card. Kami akan pergi kalau sudah bosan."


"Oh." Jeon-Jonas membantu Melissa turun dari ranjang.


"Ibu, kami pergi dulu," ucap Melissa.


"Ya, Sayang."


🌷🌷


"Untuk apa permen itu?" tanya Jeon-Jonas saat melihat lollipop di tangan Melissa. Mereka sudah berada di dalam mobil, sudah jauh dari hotel.


"Ini dari Livy." Melissa mengulum permen tersebut, mengeluarkannya lagi."Livy baik, kan?"


Jeon-Jonas mengusap lehernya. "Hm."


"Aku tidak terlalu suka lollipop mangga, tapi menolak pemberian Livy mungkin akan membuatnya sedih."


"Jadi, lolipop apa yang kau suka?"


"Blueberry, strawberry, orange."


"Berniat mencoba lollipop lain? Rasanya akan lebih lezat."


"Oh, ya?"


Jeon-Jonas mengangguk. "Aku perlihatkan nanti."


Beberapa menit di perjalanan, mereka akhirnya sampai di sebuah rumah sakit yang cukup dekat dengan hotel Krista. Jeon-Jonas segera memberitahukan kepentingannya. Seorang perawat kemudian membawa mereka ke sebuah ruangan untuk periksa.


Masuk ke dalam ruangan tersebut, seorang dokter wanita akhirnya masuk.


Karena terbiasa bertindak cepat dan profesional, ia segera menangani Melissa dengan senyum yang biasa ia perlihatkan.


"Kondisi ibu dan janinnya baik. Tapi saya sarankan, Anda mengonsumsi lebih banyak yang mengandung karbohidrat, juga vitamin."


Melissa mengangguk. "Terima kasih."


"Untuk suami ... Jeon-Jonas?" Wanita itu melotot. Jeon-Jonas mengenyit.


"Jeon-Jonas, ini aku Fay!"


"Fay!" Jeon-Jonas menyatukan kepalan tinjunya dengan kepalan tinju Fay.


"Man! Kau sudah menikah?"


Jeon-Jonas tertawa kecil. "Ya. Melissa Kyle adalah istriku."


"Aku pikir kau dengan Daniela. Well, semua murid di kelas sering menyebutnya parasit."


Jeon-Jonas menggeleng. "Aku tinggal di Las Vegas selama bertahun-tahun."


"Oh, ya?"


🌷🌷


Percakapan berlarut-larut ia ternyata membuat sikap Melissa menjadi-asing. Jeon-Jonas menoleh saat wanita itu mendengkus.


"What's wrong, Pinky?"


"Aku ingin turun."


"Kenapa harus turun?"


"Aku ingin membeli yogurt."


Jeon-Jonas melirik jalanan yang cukup lengang, kemudian menepikan mobilnya pada area parkir. "Aku saja. Hanya yogurt, kan?"


Melissa memundurkan kepala saat Jeon-Jonas hendak mengusap rambutnya seperti biasa.


"Susu."


"Susu seperti yang kemarin?"


"Hm."


Jeon-Jonas keluar dari mobil setelah melepas seatbelt. Ia berjalan cepat menuju sebuah minimarket lalu membeli semua yang diinginkan Melissa. Begitu selesai, ia masuk ke dalam mobil. Kantong plastik berisi susu dan yogurt segera ia berikan pada wanita di sampingnya.


"For my pinky," ucapnya seraya menunjukkan sebuah cokelat.


"I don't want it, I said only yogurt and milk."


"This's special."


"I don't like it."


"Okay."Jeon-Jonas meletakkan cokelat tersebut di atas dashboard lalu menatapi Melissa yang sudah menyeruput yogurtnya dengan wajah kesal. Ia tetap bergeming, memutuskan tidak menyalakan mobil sampai wanita itu menyelesaikan minumnya.


Setelah Melissa mengosongkan semua kemasan yogurt dan susu, yang awalnya ia pikir tidak akan sanggup ia habiskan sendiri, Jeon-Jonas menarik kantong plastik tersebut, memasukkan sampah-sampah. Ia meletakkannya di bawah lalu mengulurkan tangannya hendak membelai pipi Melissa.


Wanita itu menolaknya.


Jeon-Jonas merangsek, mengecup pipi Melissa meski wanita itu tidak mengizinkan. Akibatnya, ia menerima pukulan di kepala dan pundaknya.


Ia menjauhkan tubuh. "Kenapa marah lagi?"


Melissa mendengkus, melepas seatbelt lalu keluar dari dalam mobil.


"Melissa."


Jeon-Jonas menoleh saat Melissa masuk ke dalam minimarket yang sebelumnya ia masuki, wanita itu berjalan menuju rak makanan ringan, mengambil beberapa untuk diletakkan di keranjang. Saat wanita itu membayar di kasir, dan mendapat rayuan yang membuat Jeon-Jonas muak, ia keluar dari dalam mobil.


"Give your number..."


"Don't touch her!"


Jeon-Jonas mengeluarkan banyak lembaran dolar lalu menarik Melissa ke dalam mobil.


"Katakan padaku kenapa mendadak marah."


"I'm not mad."


"Ya, kau marah. Kali ini karena apa?"


"Aku hanya ingin kembali ke Las Vegas lebih cepat.


"I know that's not the truth."


Melissa menatap jalanan dari jendela kaca mobil seraya menggigit bibir.


"Who's Fay?"


"Jadi karena Fay?" Jeon-Jonas menaikkan alis. "Fay temanku waktu sekolah, dia salah satu pemain bisbol yang keren. Tidak ada yang perlu kau cemburui, dia tidak menyukai laki-laki."


"Tidak menyukai laki-laki?"


"She's gay."


Melissa mengerjap. "Gay?"


"Dia berpacaran dengan Seina sejak SMA, dan masih bertahan hingga sekarang."


Melissa mengalihkan pandangan. "Sorry, i'm childish."


Jeon-Jonas menggenggam jemarinya dengan lembut. "Jadi, apa kita sudah berdamai sekarang?"


Melissa mengangguk. Jeon-Jonas tersenyum lebar, lalu memeluk Melissa dengan erat.


"You're so adorable when get jealous."


Gay : Bisa untuk perempuan dan Laki-Laki.