HOT GUY

HOT GUY
[10]



Karena kesal, Jeon Jonas kemudian beranjak menuju kamarnya sedangkan Melissa bergeming dengan tatapan nanar. Jeon Jonas menciumnya tepat di bibir? Bukankah itu tidak pantas? Melissa mengusap bibirnya segera lalu berpikir lagi dengan ling-lung. Tapi Jeon Jonas bukan paman kandungnya, tidak ada ikatan darah antara mereka, namun tetap saja Jeon Jonas terlalu lancang mencuri ciuman pertamanya.


Dan anehnya penyakit Jeon Jonas telah menular padanya. Detak jantung Melissa berdegup tak karuan, padahal sebelumnya tidak seperti ini. Tak sanggup berpikir lagi, Melissa kemudian menelepon Peter untuk menceritakan semuanya.


“Peter..” ucapnya saat panggilannya telah tersambung.


“Ya, ada apa? Kau baik-baik saja, suaramu berbeda.."


“Ada yang ingin aku tanyakan padamu..”


“Ya, silahkan.”


“Apa detak jantungmu pernah berdetak tidak normal sebelumnya?”


“What do you mean?”


“Maksudku, detak jantungku berdetak sangat cepat, padahal sebelumnya Paman yang mengalaminya.”


“Aku pernah mengalaminya, saat aku takut sesuatu dan saat aku bertemu dengan orang yang aku suka. Hanya ada dua pilihan.”


Melissa menggelengkan kepala, ia sedang tidak takut pada sesuatu dan ia juga tidak sedang bertemu dengan orang yang ia suka, lalu apa jawabannya?


“Kau menyukai seseorang?”


“Tidak,” sahut Melissa cepat.


“Sebelum meneleponku, kau melakukan apa?”


“Aku mengobati luka Paman, tadi Paman yang mengalami ini, jantungnya berdegup sekencang ini lalu saat Paman menciumku, penyakitnya menular padaku.”


“What?” Terdengar dengan jelas jika Peter mengeraskan suaranya di sana.


“Kau berciuman dengan Pamanmu? You must be kidding me?”


Oh tidak. Melissa merasakan wajahnya memanas lagi, seharunya juga ia tidak memberitahukan ini pada Peter.


“Aku tau jawabannya sekarang, itu bukan penyakit Melissa *****! Itu terjadi karena Paman sialanmu itu telah menciummu, oh ya Tuhan kau terlalu polos untuk gadis seukuranmu,” gerutu Peter.


“Kau mengataiku *****?” Melissa kesal dan merasa tidak terima.


“Kau sudah 18 tahun astaga, harusnya kau sudah mengetahui ini Melissa, kau harus bisa membedakan dengan jelas antara penyakit dan jatuh cinta, kau jatuh cinta pada Pamanmu, dan kupikir Pamanmu juga begitu, cukup mudah bukan?”


“Kau gila Peter, aku tidak mungkin mencintai Pamanku sendiri.”


“Jika tidak percaya kau bisa tanyakan pada Pamanmu itu, dia akan menjelaskan semuanya, bagaimana bisa dia menciummu semudah itu? kalau bukan cinta apa lagi namanya? Ketidak sengajaan?!”


“Kau tidak perlu membentakku!” Melissa memutus panggilannya lalu menaruh ponsel di nakas dengan kesal. Enak saja Peter mengatainya bodoh.


***


Malam ini Enna segera naik ke lantai atas untuk memanggil Melissa sesuai perintah Jeon Jonas. Saat membuka pintu, Enna bisa melihat Melissa tengah mengeringkan rambutnya dengan hair dryer.


“Nona, Tuan Jeon menyuruh anda untuk turun ke bawah.”


“Ya?” Melissa terkesiap lalu segera meletakkan pengering rambutnya.


“Makan malam sudah siap, Tuan Jeon Jonas sudah menunggu di ruang makan.”


“Ehm, aku sepertinya akan makan di sini saja, aku harus mengerjakan PR,” sahut Melissa dengan alasan menghindari Jeon Jonas, belum saatnya bertatap muka dengan pamannya itu.


“Bisa tolong antarkan makanannya ke sini?” Enna tersenyum ramah lalu mengangguk.


“Tentu Nona.”


Melissa menghembuskan nafas lega saat Enna pergi dari kamarnya. Alasan mengerjakan PR adalah cara yang tepat, Jeon Jonas akan mengerti jika gadis itu tidak punya waktu untuk berbicara dengannya saat makan malam.


Namun ekspektasinya lenyap ketika panggilan ‘Pinky’ itu disebutkan dari arah pintu kamar. Jeon Jonas datang dengan membawa nampan berisi makan malam. Sialan! Melissa tidak dapat bernafas bebas.


Sialan. Sialan.


“Ini makan malammu,” ucap Jeon Jonas lalu duduk di pinggiran ranjang.


“Terimakasih Paman. Aku akan makan sekarang dan langsung mengerjakan PR.”


“Ya, aku bisa membantu.”


“Tidak perlu Paman, aku bisa mengerjakannya sendiri, aku juga akan lebih fokus ketika aku sendiri.”


“Kau mengusirku?”


“Tidak, bukan begitu maksudku Paman-" Melissa menjawab dengan wajah panik sedangkan Jeon Jonas sudah tersenyum manis di hadapannya.


“Makanlah..” Jeon Jonas menyeret meja lalu meletakkan nampan itu tepat di depan Melissa. Melissa makan dengan cepat, mengunyah dengan terburu-buru lalu menelannya secara paksa.


“Perihal ciuman tadi..” Melissa berhenti mengunyah. “Aku tidak sengaja melakukannya.”


“Aku mengerti Paman.” Melissa meletakkan piring dan sendoknya.


“Aku akan mengerjakan PR-ku.” Melissa beranjak mengambil tas dan perlengkapan alat tulisnya.


“Aku minta maaf jika aku menyakitimu,” tutur Jeon Jonas dengan lembut. Melissa masih menyibukkan diri dengan membuka halaman dalam buku lalu menulis beberapa nomor.


“Kau tidak kasihan padaku?” tanya Jeon Jonas memasng wajah sedihnya.


“Aku tidak punya teman, Hans dan Ben sudah tidak pernah menemuiku lagi, dan sekarang kau juga mencoba menghindariku.”


“Tapi kemarin Paman Hans bertemu dengan Paman.”


“Ya, setelah itu dia menghilang. aku sendiri sejak itu.”


Melissa menghembuskan nafas gusar, ia bahkan tidak menyangka jika Jeon Jonas akan serapuh ini dalam kehidupannya. Dipukuli orang asing, ditinggalkan teman-temannya, harusnya Melissa lebih peduli padanya. Melissa merasa bersalah karena mencoba mengusir pria itu dari dalam kamarnya.


“Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya Melissa bingung.


“Kau bisa mengerjakan PR-mu tapi aku akan tetap di sini.”


“Baiklah.”


Melissa membalik halaman demi halaman, ia tidak memiliki PR, sungguh! Tapi demi melanjutkan sandiwaranya, ia mengerjakan beberapa contoh soal dalam buku. Melissa mengoret kertas dengan pena lalu berpindah ke kertas lainnya. Contoh soal yang ia kerjakan ada sepuluh soal dan semuanya cukup sulit untuk ia kerjakan, ia memang sangat lemah dalam matematika.


Ia mendongak lalu menatap Jeon Jonas yang menopang dagu dengan kedua tangannya. Jeon Jonas memperhatikannya sejak tadi, hanya memperhatikan wajah dan bagian tubuh lainnya. Jeon Jonas selalu merasa kagum pada gadis itu, bahkan setelah berkali-kali bertemu.


“Ini akan sedikit lama, kalau bosan, Paman bisa kembali.”


“Aku ingin tetap di sini.”


“Kalau begitu Paman mainkan kubus rubikku saja, Paman tidak akan merasa bosan.”


“Kau punya?” Melissa mengangguk antusias lalu mengambilkan kubus rubiknya yang berada di dalam laci. Melissa memberikannya pada Jeon Jonas dan berharap pria itu bisa menyelesaikannya, sebab selama ia memiliki rubik itu, Melissa tidak pernah menyamakan sisinya. Tidak pernah sekalipun.


“Very easy.” Jeon Jonas menyelesaikannya kurang dari sepuluh detik dan itu membuat Melissa tercengang luar biasa.


“Aku ingin mencobanya.” Melissa mencoba setelah kubus rubik itu telah diubah. Dan Melissa tetap tidak bisa.


“Ini susah Paman,” keluhnya.


“Sebenarnya ada rumusnya, agak susah menjelaskannya padamu, ada rumus R atau right, ada R aksen, gerakan memutar sisi kanan berlawanan arah jarum jam. Ada L atau left. L aksen, gerakan memutar sisi rubik sebelah kiri berlawanan arah jarum jam. Ada juga U atau up. U aksen, gerakan memutar sisi rubik bagian atas berlawanan arah jarum jam. D atau down. D aksen, gerakan memutar sisi bawah berlawanan arah jarum jam. Sejauh ini kau mengerti?” tanya Jeon Jonas.


“Aku hanya menjadi pusing,” jawab Melissa memegangi kepalanya. Jeon Jonas terkekeh pelan.


“Kupikir kita bisa mempelajarinya lain kali.” Melissa mengangguk setuju.


“Kalau begitu aku akan melanjutkan mengerjakan PR-ku,” ucap Melissa. Jeon Jonas mengangguk, sekitar dua puluh menit Melissa berusaha menyelesaikan soal hingga akhirnya ia mengantuk dan tertidur dengan wajah ia tumpukan di atas meja. Jeon Jonas mendecak lalu segera memindahkan gadis itu ke atas tempat tidur.


“Sleep tight, honey.” Jeon Jonas menarik selimut untuk menutupi tubuh Melissa lalu menyempatkan diri mengecup kening gadis itu sebelum akhirnya keluar dari dalam kamar.


***


“Hai,” sapa Maggie.


“Selamat pagi,” sapa Melissa sembari tersenyum.


“Maaf kemarin aku langsung pulang,” sambung Melissa.


“It’s okay.”


“Hari ini tidak ada PR kan?” Melissa menggeleng.


“Tidak ada.”


“Oh ya, katanya hari ini kita akan pulang sekolah lebih cepat, ada rapat mendadak, begitu yang kudengar,” ucap Maggie.


“Oh ya?” Maggie menganggukkan kepala.


“Bukankah itu bagus? Aku bisa menghabiskan waktuku di luar sebelum pulang ke rumah dan menemani ibuku belanja,” celetuk Ava.


Maggie memutar matanya jengah.


“Aku suka menemani ibuku belanja,” ucap Maggie.


“Ya, Karena ibumu tidak rewel seperti ibuku, aku juga akan suka jika ibuku seperti ibumu.”


“Tidak baik membanding-bandingkan ibu sendiri Ava,” kata Lucas yang baru saja sampai di kelas.


Ava berdecak sinis lalu kembali ke tempat duduknya, ia malas jika harus berdebat dengan Lucas.


***


Sama seperti yang diberitahukan Maggie pagi tadi, sekolah dibubarkan lebih cepat dari sebelumnya, jam masih menunjukkan pukul 11 siang, dan semua murid telah kembali ke tempat tinggal masing-masing.


“Ini sesuai dengan rencanaku Melissa, dengan begini kita bisa lebih lama di luar tanpa sepengetahuan Jeon Jonas,” ujar Rosie.


“Ke mana kita akan pergi?” tanya Melissa.


“Rahasia, kau akan suka. Tapi nanti, kita cari makan dulu, aku lapar.” Melissa mengangguk setuju. Melissa naik ke atas motor Rosie lalu pergi ke restoran yang biasa didatangi Rosie untuk mengisi perut.


“Hei Rosie, kau datang lagi hari ini,” kata Jenny selaku pelayan yang bekerja di tempat itu.


“Hai, aku membawa teman baruku, perkenalkan namamu sweetie,” sahut Rosie lalu menyuruh Melissa untuk memperkenalkan diri.


“Aku Melissa,” ujar Melissa sembari tersenyum.


“So cute, kau terlihat seperti bayi.” Jenny memuji dengan senyuman manis di wajahnya.


“Jenny, aku ingin makanan yang biasa ku pesan. Kau pesan apa sweetie?”


“Samakan saja.”


“Dua porsi Jenny..”


“Oke.” Jenny menaikkan jari jempolnya.


“Di sini makanannya enak, aku selalu makan di sini, dan wanita yang bernama Jenny itu dulunya anggota gangster, tapi setelah tertangkap polisi dan geng itu dibubarkan, Jenny menjadi seorang pelayan.”


“Dia tidak terlihat seperti anggota gangster,” sahut Melissa setengah berbisik.


“Ya, tidak ada yang percaya, dia terlalu imut untuk itu,” ujar Rosie seraya tertawa singkat.


***


Selesai mengisi perut, Rosie dan Melissa tidak langsung pindah tempat karena Rosie akyik mengobrol dengan Jenny, bahkan mereka tidak memikirkan waktu yang habis karena obrolan itu.


“Kau tidak akan dipecat bukan?” tanya Rosie.


“Dia tidak mungkin melakukannya, dia bahkan tidak pernah marah padaku,” sahut Jenny membicarakan bosnya.


“Kurasa dia tertarik padamu.”


“Ya, aku tau itu.”


“Rosie ini sudah jam dua,” ucap Melissa.


“You must be kidding me?” Rosie terkesiap. Ia melirik jamnya dan benar jam sudah menunjukkan pukul dua siang.


“Aku akan menelepon Paman.”


“Tidak, jangan. Kita belum pergi ke tempat yang aku maksud.”


“Bagaimana kalau Paman mencariku?”


“Begini saja, bilang saja kau masih harus kerja kelompok dnegan temanmu. Jeon Jonas tidak akan marah, percaya padaku.Telepon saja sekarang, setelah itu kita akan pergi.”


Melissa mengangguk lantas menelepon Jeon Jonas.


“Halo Paman.”


“Ya Pinky.”


“Paman di mana?”


“A-aku sedang di kantor, pekerjaanku cukup banyak. Aku minta maaf Pinky, bisa pulang dengan Jack?”


“Iya tidak apa-apa Paman, aku juga tidak langsung pulang, aku harus kerja kelompok dengan teman-temanku.”


“Baiklah sayang, aku tutup.”


Melissa menjejalkan poselnya ke dalam tas lalu tersenyum kepada Rosie.


“Bagaimana?” tanya Rosie.


“Paman juga sedang sibuk dengan pekerjaannya.”


“Jadi dia mengijinkan?” Melissa mengangguk.


“Oke, ayo pergi. Jenny, aku transfer uangnya nanti. See you.”


“See you,” sahut Jenny lalu mengedipkan sebelah matanya pada Melissa.


***


Melissa dan Rosie menghabiskan waktu kurang lebih delapan menit di perjalanan kemudian mereka akhirnya masuk ke dalam sebuah bar mewah yang berada di kota Las Vegas.


“Bar ini sangat menakjubkan,” puji Rosie.


“Beer please,” ucap Rosie setelah duduk di bangku bar.


“Ini tempat apa?” tanya Melissa bingung.


“Ini bar Melissa, apa ini pertama kalinya kau ke tempat seperti ini?”


Melissa mengangguk. Ia duduk di bangku bar lalu mengedarkan matanya melihat ke sekeliling.


Sebentar!


Bukankah itu?


“Ini bir untukmu,” ucap Rosie. Rosie mengernyitkan dahi saat Melissa melihat lekat pada sebuah objek di depan sana.


“Damn,” umpatnya saat melihat ada Jeon Jonas di dalam bar itu.


Masalahnya Jeon Jonas tengah dikelilingi banyak wanita yang mencoba merayu dan mencuri perhatiannya. Seolah tahu dirinya sedang diperhatikan, Jeon Jonas Menoleh dan terkejut ketika melihat Melissa ada di sana.


“Fu*k!” Jeon Jonas memaki keras sedangkan Melissa telah memasang wajah kecewa. Pria itu mengatakan sedang sibuk bekerja hingga tidak sempat menjemput Melissa, ini sibuk yang ia maksud?