
Setelah mendapat jawaban memuaskan dari wanita itu, Jeon-Jonas membiarkan Melissa menyantap hidangan yang sudah disediakan di atas meja, ia tahu wanita itu kelaparan dan memang sengaja menyuruh semua orang untuk tidak menaruh jenis makanan apa pun di dalam rumahnya agar Melissa mau datang ke restoran tersebut. Pengecualian untuk biskuit, Enna yang menaruhnya karena kasihan. Melissa terlihat lahap saat mengunyah chicken wings yang berbalut keju mozarella, Jeon-Jonas hanya melihat, tangannya ia lipat di depan dada. Namun, secepat itu lipatan tangannya terlepas ketika saus dari potongan ayam lain menempel di atas bibir wanita itu. Ia menyambar banyak lembar tisu, mengusap bibir Melissa hingga wanita itu mengerjap-erjap.
“Paman tidak mau?”
“Tidak, semuanya untukmu, Sayang.”
Melissa melihat ke sekeliling, semua anak buah pria itu hanya berdiri tegap, mata mereka menatap lurus ke depan.
“Mereka tidak makan?”
Jeon-Jonas menggeleng. Jelas-jelas semuanya disediakan untuk Melissa. Lalu, ia mengeluarkan dua kotak merah muda, ada pita besar di atasnya. Melissa tertarik, ia menghentikan aktivitas makannya.
“Happy birthday 19 years old, Pinky.” Pria itu mendorong satu kotak. “And happy birthday 20 years old.” Kotak kedua ia dorong kembali.
“Maaf tidak di sisimu ketika kau tumbuh semakin besar, maaf aku pergi. Maaf aku tidak menemani, maaf untuk segala sesuatu yang kau hadapi sendirian, tanpaku yang kau harapkan ada di sana. Maafkan aku.”
Melissa tercenung, hatinya menghangat begitu cepat.
“Tapi setelah semua itu, aku berjanji akan selalu ada saat kau butuh. Aku akan merayakan ulang tahun bersamamu, ulang tahun ke-21, 22, 23, sampai seterusnya. Aku akan menjadi orang pertama yang mengucap selamat. Aku juga akan menjadi orang pertama yang akan selalu mendekap ketika hujan berusaha menyakitimu. Di setiap situasi, di setiap suasana, setiap waktu, akan kita lalui bersama.”
Melissa mengangguk, yakin bahwa ia juga akan melakukannya bersama pria itu.
Jeon-Jonas tersenyum, ia mencondongkan tubuh, mengecup wanita itu tepat di bibir sebelum akhirnya menariknya untuk berdiri di tengah ruangan. Tangan Melissa ia bawa untuk memeluk lehernya, kemudian tangannya ia taruh di pinggul wanita itu. Berdansa dengan iringan piano.
“I love you, Pinky.” Jeon-Jonas berbisik dengan kepala ia tumpukan di pundak wanita itu.
Udara malam saat itu menjadi lebih hangat, keduanya seolah memiliki dunia mereka sendiri. Tidak ada yang berani menginterupsi, seolah jelas bahwa pasangan itu memang menjadi raja dan ratu tepat di tempat mereka berpijak.
Ben di sana, menatap dengan senyuman tipis. Melissa semakin jauh—memang itu yang ia harapkan, agar setidaknya ia bisa menyadarkan dirinya—agar setidaknya ia bisa membatasi—dan agar setidaknya, ia masih bisa melihat wanita itu meski tidak bisa memiliki.
🌷🌷
Jeon-Jonas sudah tidak menunggu lagi untuk membawa Melissa ke Florida, tempat keluarganya berada. Dengan mobil yang dibawa oleh Ben, mereka akhirnya sampai di mansion tersebut tepat pukul sepuluh siang. Melissa meremas jemarinya karena gugup, ia turun dari dalam mobil lalu menyambut tangan pria itu untuk saling menggenggam.
“It’s okay, they’re not bite.”
Melissa mendongak ketika Jeon-Jonas mengusap kepalanya dengan lembut. Pria itu tidak terlihat gugup sedikit pun. Ya, mungkin karena itu orangtuanya sendiri, mungkin karena pria itu memang selalu memasang wajah seperti itu, jadi tidak seorang pun tahu jika ia gugup atau takut.
Entah bagaimana, Melissa malah terpesona. Bagaimana bisa, bulu-bulu halus di sepanjang rahang kokoh itu, bisa membuat seseorang semakin berkharisma?
Ketika seseorang menyapa dengan hormat, Melissa sadar bahwa mereka sudah berada di dalam mansion. Ada lebih banyak pelayan di sana, berseragam abu-abu dan memakai penjepit rambut yang sama. Mereka cepat-cepat berlari dengan mata membelalak saat melihat Jeon-Jonas di sana.
“Selamat datang, Tuan Jeon!”
Jeon-Jonas menjawab dengan menggumam. Ia merangkul pinggang Melissa, membawa wanita itu berjalan lebih ke dalam. Melissa menoleh ketika ada seorang wanita muda sepertinya tengah membuat balon dari permen karet, kakinya ditaruh di atas meja, matanya menatap Melissa dengan lekat.
“Ada apa?” Melissa menatap Jeon-Jonas yang kini menaruh anak rambutnya ke belakang telinga.
Melissa menggeleng. Saat menoleh, tahu-tahu wanita itu sudah tidak ada di sana. Ia akhirnya memutuskan untuk tidak melihat-lihat, hanya melangkah lurus ke depan, dan berhenti setelah menemukan seorang wanita paruh baya tengah membaca sebuah majalah fashion.
“Ibu.” Wanita itu menurunkan majalah, membelalak saat melihat Jeon-Jonas berdiri di sana.
“Astaga-astaga! Jeon?” Wanita itu melompat, segera memeluk Jeon-Jonas dengan erat.
Melissa terkesiap saat wanita yang sempat ia lihat di ruang depan sudah berdiri di sampingnya, melihatnya dengan tatapan menilai secara terang-terangan. Melissa mengerjap-erjap lalu menempelkan tubuhnya pada Jeon-Jonas.
“Akhirnya kau pulang setelah bertahun-tahun!”
“Jangan, Livy,” ucap Jeon-Jonas saat wanita bernama Livy menyentuh rambut Melissa, yang mana membuat Melissa semakin merapat padanya.
“Siapa wanita ini, Jeon?”
Jeon-Jonas mendesah ketika Livy masih berusaha menyentuh Melissa, seolah penasaran dengan wanita itu. Ia kemudian membawa Melissa duduk lalu menyuruh Livy menjaga jarak.
“Melissa Kyle, dia calon istriku.”
Wanita paruh baya itu membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, terkejut. Sementara Livy sudah tidak lagi menjaga jarak, ia menusuk pipi Melissa dengan jari telunjuk.
“Livy!”
Livy menjauh, membuang permen karet di mulutnya sembarangan lalu membuka bungkusan lain.
“Jeon—kalian bahkan terlihat seperti ayah dan anak. Jangan bercanda.”
“Aku tidak bercanda, Ibu. Dia sudah 20 tahun!”
“Dia terlihat seperti Livy yang masih berusia 17 tahun.”
Jeon-Jonas sudah tidak bisa berkata-kata, Melissa saja yang selalu terlihat seperti remaja.
“Aku rasa, aku perlu bicara berdua dengannya.”
“Untuk apa? Bicarakan di sini, aku perlu mendengarnya.”
“Tidak, tidak. Hanya aku dan Melissa.”
Wanita paruh baya itu segera menarik Melissa untuk dibawa ke ruangan lain, ia menutup pintu lalu menatap Melissa dengan kedua tangan memegang pundak wanita itu.
“Baiklah, namaku Krista. Ibu Jeon-Jonas. Jadi … apa dia memaksamu?”
“Ya?”
“Maksudku, kau sudah tau kalau dia seorang gangster, kan? Apa dia mengancammu agar menikah dengannya? Well, dia memang sudah setua itu, mungkin tidak ada yang mau menikah dengannya hingga harus mengancammu.”
Melissa menggeleng. “Tidak, aku sayang Paman Jeon.”
“Paman? Kau memanggilnya Paman?”
Melissa mengangguk, Krista tertawa lebar.
“Ya Tuhan. Kau terlalu lucu untuk pria setua Jeon-Jonas.”
Krista kemudian membawa Melissa duduk di sebuah sofa panjang yang ada di sana.
“Jadi, kenapa kau bisa suka dengan putraku? Dia itu menyeramkan, lihat saja matanya, dia seperti jin.”
Melissa tertawa ringan. “Paman Jeon baik, Paman Jeon juga tidak menyeramkan.”
Kemudian pintu diketuk dari luar, Krista mendesah panjang.
“Livy, jangan mengganggu!”
Melissa melirik ke bawah pintu, masih ada bayangan kaki di sana.
“Livy itu adik Paman Jeon?"
“Yahh … bisa dikatakan seperti itu. Sebenarnya, dia bukan anak kami. Dia ditemukan suamiku di hutan saat berburu. Dan pada akhirnya dia akan tinggal di sini selamanya. Dia memang seperti itu—selalu penasaran dengan banyak hal. Jadi, jangan takut, Livy itu tidak jahat. Dia hanya ingin berteman.”
Melissa mengangguk-angguk.
“Paman Jeon mengajakku tinggal di rumahnya.”
Krista melongo. “Oh, dia bertindak secepat itu. Itu artinya, dia memang sudah mengincarmu sejak lama.”
“Kalau begitu, kalian memang harus menikah. Aku yakin Jeon-Jonas sudah menyentuhmu, dia tidak mungkin tahan berpacaran biasa.”
Rona merah menyebar cepat di wajah Melissa.
“Tapi kalian perlu bertemu suamiku, dia sedikit—sulit diajak bicara.”
Krista terkekeh saat Melissa hanya mengerja-erjap.
“Tapi, kau punya Jeon-Jonas. Dia akan menyelesaikan semuanya.”
Pintu diketuk lagi, kali ini Krista bangkit untuk membuka pintu. Livy masih melihat Melissa seperti melihat sesuatu yang ajaib. Krista akhirnya menyuruh Melissa mendekat, memintanya untuk berkenalan dengan Livy.
“Melissa.” Melissa mengulurkan tangan memperkenalkan dirinya.
Mata Livy berbinar cerah. “Teman.”
“Livy, dia lebih tua darimu, panggil Kakak.”
“Teman.”
“Baiklah, terserah.” Krista memutar bola matanya jenuh, sementara Melissa tertawa geli melihat kedua wanita itu.
“Sudah selesai?” Jeon-Jonas datang dengan kedua tangan dijejalkan di dalam celana.
“Ya. Silakan Melissa.” Krista tersenyum hangat. Melissa kemudian menghampiri pria itu, merangkul lengan berototnya sembari memperhatikan Livy.
“Di mana Ayah?”
“Ibu tidak tau. Mungkin ada di belakang.”
“Ayo, Pinky.” Melissa mengangguk, mengikuti langkah Jeon-Jonas dengan berjalan bersampingan.
“Apa yang dikatakan Ibu padamu?”
“Kami membahas tentang Livy, juga tentang Paman. Kata ibu Paman, Paman terlihat seperti jin,” sahut Melissa sembari tertawa geli.
Jeon-Jonas menoleh. “Jin?”
“Ya, karena Paman terlihat menyeramkan.”
“Jadi, kau takut?”
Melissa menggeleng. “Paman Ben lebih menyeramkan.”
Jeon-Jonas tersenyum miring lantas mengusap rambut Melissa dengan sayang. Sampai di belakang, mereka mendapati dua pria tengah berbincang sambil menyesap teh. Melihat Jeon-Jonas datang, pria yang lebih muda berdiri sambil membungkukkan badan, persis seperti anak buah Jeon-Jonas yang sering dilihat Melissa. Pria yang lebih tua kemudian menyilangkan kakinya lalu berdeham pelan.
“Ada yang ingin kau bicarakan?” tanyanya, membuka koran untuk dilihat-lihat.
“Aku akan menikah,” jawab Jeon-Jonas. Perhatian pria paruh baya itu kemudian beralih pada Melissa.
“Pada gadis muda itu?”
“Benar.”
“Dia sudah tau apa pekerjaanmu? Dan apa pekerjaanku?”
“Dia tau pekerjaanku.”
Pria paruh baya itu membalik korannya, membaca di bagian belakang.
“Dia harus tau kalau menikah denganmu akan menghadapi banyak bahaya.”
Melissa menggigit bibir, gugup. Terutama ketika mata pria paruh baya itu menatapnya dengan tajam.
“Aku tidak perlu memberitahu pekerjaanku padamu. Tapi kau akan dikejutkan dengan banyak hal buruk jika menikah dengannya, apalagi kau hanya gadis—”
“Kami hanya perlu restu,” sela Jeon-Jonas.
Mata pria paruh baya itu menatap Jeon-Jonas sejenak, lalu kembali pada Melissa.
“Aku pengedar narkoba, sudah pernah masuk penjara saat Jeon-Jonas masih remaja, dan dia adalah gangster, pekerjaannya tidak jauh lebih baik dariku.”
“Cukup. Kami hanya perlu restu,” tekan Jeon-Jonas sekali lagi.
“Just get married then.”
“Ayo, Pinky.”
“Tapi, Paman..” Mereka rasanya tidak bicara secara sopan. Melissa merasa dirinya perlu meminta maaf, tapi Jeon-Jonas sudah membawanya pergi. Melissa bahkan dilarang untuk berbalik atau sekadar menoleh.
Jeon-Jonas membawanya pada sebuah kamar. Kamar itu diisi dengan beberapa barang yang benar-benar penting. Tempat tidur, lemari, meja, cermin, dan foto-foto pria itu saat masih sekolah. Masih terlihat polos dan berseri.
“Apa kau takut?”
Tatapan Melissa akhirnya jatuh pada pria itu.
“Aku merasa tidak sopan. Apa kita tidak perlu meminta maaf?”
“Dia memang seperti itu, kita tidak perlu minta maaf. Setidaknya kita akan menikah, cukup dengan itu.”
“Beristirahatlah, Pinky. Aku tau kau lelah,” lanjut Jeon-Jonas seraya menepuk tempat tidur berseprai putih di sana.
“Paman bagaimana?”
“Kau ingin aku ikut tidur denganmu?”
Melissa mengangguk. “Paman juga pasti lelah.”
Jeon-Jonas tersenyum simpul, ia meraih Melissa untuk sama-sama berbaring di tempat tidur, lalu meraup wanita itu ke dalam sebuah pelukan. Ada kecupan-kecupan ringan yang Melissa terima di puncak kepalanya. Dan perasaan nyaman itu segera menyergapnya dengan cepat.
“Jadi—apa kita benar-benar akan memiliki bayi?”
“Hah?”
“Kau pernah bertanya apa yang akan aku lakukan jika aku hamil. Jadi, apa kau benar-benar hamil?”
“Aku belum memeriksanya.”
“Well, aku akan sangat senang jika bisa mengurus dua bayi sekaligus.”
Maaf updatenya lama. Aku sering stuck akhir-akhir ini :(
But finally you meet Pinky, semoga rindunya terbayar. Dan aku update lagi kok besok :)