HOT GUY

HOT GUY
[52]



“Selamat pagi, Jeon,” sapa Harold dengan senyum mengembang.


Melissa mengerjap, menoleh menatap Jeon-Jonas yang hanya bergeming lalu beralih pada Harold dan—Daniela yang menatapnya lurus.


“Selamat pagi, Tuan Harold,” sahut Jeon-Jonas pada akhirnya.


“Aku dan Daniela berjalan-jalan di sekitar sini. Dan tidak pernah aku duga kalau kita akan bertemu di sini. Kau sempat mengatakan akan pulang kemarin, bukan?”


“Ya. Seharusnya begitu. Tapi istriku meminta tinggal untuk beberapa hari lagi.”


Harold kemudian menatap Melissa.


“Dia kah yang kau maksud?”


“Benar.”


Harold tertawa ringan. “Maaf sebelumnya, aku pikir dia bukan—I mean, she’s too young. Kalian terlihat—tidak cocok.”


Jeon-Jonas terdiam. Memilih tidak menanggapi. Tapi Melissa telah menjawab ucapan Harold.


“I’m twenty.”


Harold menaikkan alis. “Oh. Senang berkenalan denganmu—”


“Melissa.”


“Well, Melissa.”


Daniela yang sejak tadi diam, mengulurkan tangannya pada Jeon-Jonas.


“Hai. Kalau kau lupa, aku Daniela.”


Jeon-Jonas mengangguk, memilih tidak menjabat tangan itu. Daniela menurunkan tangannya sendiri.


“Jadi—apa kau keberatan jika kami mengajak kalian bicara di tempat yang lebih nyaman?” celetuk Harold.


Jeon-Jonas melirik Melissa yang tangannya masih ia genggam. Wanita itu terlihat mengangguk, tidak keberatan jika itu hanya sebentar.


“Baiklah.”


“Aku dan Daniela akan senang jika bisa melihat kamar yang kalian


tempati.”


“No. Not there,” tolak Jeon-Jonas.


“Kami harus ke pantai Miami, jadi aku harap pembicaraannya tidak memakan banyak waktu.”


Harold tersenyum dingin. “Tentu.”


🌷🌷


Setelah perbincangan singkat di lobi, Daniela menyarankan mereka agar berkunjung ke Pineangel cafe, dan Jeon-Jonas telah disadarkan dengan cepat bahwa Daniela sedang membuka lembaran masa lalu mereka. Bahwa mereka pernah ke sana, beberapa kali, dan hanya berdua.


“Aku pikir ini sudah ditutup, ternyata masih dibuka,” ucap Daniela seraya mengedarkan tatapannya pada seluruh sudut tempat.


Jeon-Jonas bergeming, memilih mengusap rambut panjang Melissa yang sedang melihat-lihat buku menu.


“Crispy chicken taco and one real strawberry lemonade,” ucap Melissa pada seorang pelayan kafe. “Jeon?”


“Tidak, Pinky. Pesan untukmu saja.”


Daniela dan Harold ikut memesan lalu kembali duduk dengan tenang.


“Ini Pineangel, Dad. Aku sering ke sini saat SMA,” ucap Daniela.


“Ah. Jeon juga, bukan? Kau pernah bercerita kalau kau akan ke Pineangel bersama Jeon untuk belajar bersama.”


“Ya, benar. Kau ingat Jeon?” tanya Daniela.


“Hm.”


Pelayan datang dengan pesanan mereka. Melissa tidak menunggu untuk melahap taco miliknya.


“Waktu itu, karena hujan. Kita menunggu sampai jam lima sore. Dan pada akhirnya, kita dijemput Bibi Krista dengan mobil.”


It's annoying. Jeon-Jonas ingin mengatakan hal tersebut secara gamblang lalu mengajak Melissa segera pergi ke pantai Miami. Namun, istrinya itu terlihat bersemangat melahap makanannya. Jeon-Jonas memutuskan tetap duduk di sana, menunggu Melissa selesai makan.


“Kita sering melakukan banyak hal bersama. Di sini, di kafe lain, di rumahmu,” lanjut Daniela, melirik Melissa yang sudah mengunyah habis taco-nya.


“Dan banyak momen lagi. Aku rasa … aku tidak akan pernah melupakannya.”


Jeon-Jonas menatap lurus Daniela. Binar suka di mata wanita itu belum memudar, bahkan setelah bertahun-tahun, wanita itu masih mengaguminya.


“Jadi, Melissa. Jangan salah paham kalau kami bisa sedekat itu. Dulu rumah kami bersebelahan, hingga akhirnya mereka memutuskan pindah karena masalah serius,” kekeh Daniela.


Ketika Melissa tersenyum tipis menanggapi ucapan wanita itu, Jeon-Jonas menariknya berdiri.


“Aku rasa sudah cukup. Dia ingin ke pantai Miami.”


“Secepat itu? Melissa mungkin penasaran mengenai masa lalu kalian,” sahut Harold.


Namun, Jeon-Jonas sudah tidak ingin menunggu. Ia merangkul pinggang Melissa, sebelum akhirnya pamit dengan sopan dan membayar makanan mereka dengan kartunya.


“Hujan.” Ia terkesiap, ketika membuka pintu kafe barisan gerimis menyapa.


“Tidak bisa ke pantai,” sahut Melissa.


“Sebentar.” Jeon-Jonas berlari ke mobil, memeriksa apakah ia memiliki payung. Dan ketika tidak menemukannya, ia berlari ke jok depan, menarik jas hitam yang tersampir di sana.


Ia kembali pada Melissa dengan Jas yang diangkat tinggi di dua tangan.


“Kemari.” Ia meraih tubuh wanita itu, memastikan bahwa hanya tubuhnya saja yang basah.


Kemudian, begitu mereka berdua masuk ke dalam mobil. Jeon-Jonas melepas atasannya, membuat Melissa melotot.


Ya, Tuhan. Pack itu!


Ia melihat pria itu mengambil kumpulan tisu, menempel-nempelkannya ke tubuh. Melissa rasanya—ingin menyentuhnya. Ia ingat ketika tangannya pernah hinggap di sana, ketika pria itu membayang di atasnya dan ia menyentuhnya dengan sengaja.


“Pinky..”


“A-a-ya?”


“Berniat membantu?”


“Huh?”


Jeon-Jonas memberinya kotak tisu, dan ia semakin gelagapan saat pria itu mencondongkan tubuh, berniat memudahkannya agar tidak perlu memanjangkan tangan.


Melissa manarik banyak tisu, menempel-nempelnya pada perut yang mengeras, berbentuk kotak-kotak. Dengan sengaja, ia menusukkan jari telunjuknya ke sana, terkesiap ketika pria itu menggumam rendah.


Karena tahu Melissa menginginkannya, Jeon-Jonas meraih telapak tangan wanita itu, menaruhnya pada banyak pack di perutnya.


“You like it?”


Melissa mengangguk.


Namun pria itu menarik telapak tangannya dari sana, membawanya ke bibir untuk dikecup lembut. “Cukup. Aku mungkin akan menerkammu di sini.”


🌷🌷


Jeon-Jonas sudah menduga hal ini. Hujan semakin deras dan Melissa telah kembali dengan ketakutannya saat suara petir menggelegar. Ia mematikan pendingin ruangan, bergabung dengan Melissa yang menutupi seluruh tubuhnya di bawah selimut.


“Pinky..”


Ia menarik selimut itu, menggenggam tangan-tangan Melissa yang bergetar. Wanita itu segera memeluknya, menenggelamkan kepalanya ke dada Jeon-Jonas.


“Jeon…”


“Aku di sini.”


“Jeon…"


“I’m here Pinky, I’m here.”


Dan untuk pertama kali setelah hujan yang sudah-sudah, Melissa merasa tenang. Tanpa mengigau seperti biasanya meski telah tertidur. Pria itu di sisinya, tidak membiarkannya ketakutan.


🌷🌷


Melissa demam pada hari berikutnya. Jeon-Jonas tidak tahu mengapa hal itu bisa terjadi, ia tentu ingat bahwa hanya ia yang diguyur hujan saat berniat pulang dari Pineangel. Dirinya bahkan tidak menemukan tanda-tanda akan sakit. Sialnya, Melissa yang merasakannya.


“Aku akan membelikan obat penurun demam,” ucapnya.


Melissa mengangguk, memutuskan tetap berbaring di atas tempat tidur bersama boneka hiu.


“Jeon…”


“Hm.”


“Belikan taco.”


“Taco? Crispy chicken again?”


Melissa mengangguk. “Dua.”


“Okay, Princess.”


Jeon-Jonas keluar dari kamar, memerintah Ben untuk berjaga di depan. Sampai di lobi dengan menggunakan lift, langkahnya terhenti menemukan Daniela di sana, dengan one shoulder dress miliknya.


“Jeon.”


“Apa yang kau lakukan di sini, Daniela?”


Daniela menaruh anak rambutnya ke belakang telinga. “Itu—sebenarnya ada yang ingin aku lihat di sini.”


“Apa?”


“Ehm—temanku di hotel ini.”


Jeon-Jonas mendesah, hendak keluar untuk membeli obat dan taco, yang akhirnya dicegah oleh Daniela.


“Jeon.”


“Apa lagi, Daniela?”


“Apa kita bisa bicara sebentar?”


‘Tidak. Melissa demam. Aku perlu membeli obat.”


“Sebentar saja.”


Jeon-Jonas mendecak. “Katakan.”


Daniela menariknya duduk berdua di sofa, sebelum ditepis Jeon-Jonas untuk tidak perlu menyentuhnya.


🌷🌷


Melissa baru saja akan bermain game di ponsel, sebelum akhirnya dihentikan panggilan Ava yang tiba-tiba. Ia menggerutu pada awalnya. Tapi kemudian menerima panggilan, karena tahu Ava akan meneror lebih sering.


“Halo, Mel.”


“Ya…”


“Serius kita akan memberitahukannya Magg?—beritahukan saja, bodoh!” Ava dan Maggie terdengar sedang mendebat sesuatu.


“Ava?”


“Jadi—tadi kami ingin keluar. Sampai di lobi, kami melihat suamimu sedang duduk dengan wanita lain, mereka terlihat membicarakan sesuatu.”


“Huh?”


“Kami tidak sedang berencana menjelek-jekekkan Jeon-Jonas. Tapi itulah yang kami lihat. Apalagi wanita itu cantik dan—sepertinya tertarik pada suamimu.”


“Ada foto yang baru saja aku kirimkan,” ucap Maggie. Melissa memeriksa ponsel, matanya menyipit begitu tahu bahwa Daniela-lah wanita yang Ava ceritakan. Mood-nya berantakan begitu saja.


“Mel—kau baik-baik saja kan?” tanya Maggie.


“Ya.”


“Aku pikir, kita memang harus melanjutkan rencana kita, Mel. Apalagi kita sudah melihat salah satu buktinya," ucap Ava.


“Aku ingin tidur,” sahut Melissa.


“Sudah aku bilang jangan memberitahunya!—dia harus tahu semuanya—tapi dia mungkin akan stress, dia hamil!—kenapa jadi menyalahkanku!” Ava dan Maggie berdebat. Melissa mengakhiri sambungan telepon.


Beberapa menit berusaha menenangkan pikiran, Jeon-Jonas muncul dengan dua taco dan satu kantong plastik berisi obat. Pria itu mendekat, membuka bungkusan taco yang ia beli.


“Aku sudah tidak ingin taco.”


“Ya?”


“Aku tidak mau taco!”


“Ingin langsung minum obat?”


Melissa mendengkus, manarik paksa kantong plastik berisi obat lalu meminumnya dengan cepat.


Merasa aneh dengan perubahan sikap wanita itu, Jeon-Jonas menempelkan punggung tangan ke kening Melissa, yang kemudian ditepis wanita itu dengan wajah merengut.


“Kenapa?”


Alih-alih menyahut, Melissa kembali membaringkan tubuhnya di ranjang, menarik selimut hingga batas leher.


Baru saja hendak bertanya kesalahannya, Jeon-Jonas menerima telepon dari Ben. Ia tetap duduk di tepi ranjang, mengelus rambut Melissa dengan perlahan.


“Ya, tunda dulu pengirimannya. Katakan pada mereka untuk menawarnya sebelum membeli.”


“Apa kita harus menerima semuanya atau hanya yang berinisial?”


“Hanya yang berinisial.”


Merasa ada gigitan di telapak tangannya, Jeon-Jonas melirik Melissa, wanita itu masih memasang wajah kesal.


“My baby’s angry.”


“Ya, Bos?”


“Tidak. Lakukan seperti yang aku katakan.”


“Baik, Bos.”


Jeon-Jonas menjejalkan kembali ponselnya ke dalam saku lalu mengusap wajah Melissa yang memerah karena demam.


“Kenapa marah?”


Melissa bergeming, semakin memasang wajah cemberut.


Tangan pria itu lalu hinggap di atas keningnya, mendesah karena obat yang diminum Melissa tidak bekerja dengan cepat.


“Your temperature’s still high. Aku akan memasakkan sesuatu. Stay in bed.”