HOT GUY

HOT GUY
[62]



Sekitar pukul enam, waktu yang masih baik untuk berpelukan dengan pillow, atau yang lebih diinginkan Jeon-Jonas saat itu, wanita bernama Melissa yang lebih nyaman dari benda apa pun di dunia ini untuk didekap, terganggu karena dering ponsel yang diletakkan entah di mana.


Jeon-Jonas melenguh, meraba tubuhnya untuk menemukan ponsel yang mungkin ia taruh di dalam saku. Dan ketika ia tidak menemukan sehelai benang pun, matanya mengerjap pelan. Situasi ini, situasi seperti ini—mengingatkannya tentang kenikmatan semalam. Ketika ia mendominasi atas—sebentar! Oh, astaga.


Selimut besar yang selalu berhasil melelapkan, ia sibak dengan cepat. Menemukan ponselnya yang masih berdering di lantai, dengan tumpukan pakaian yang mengusut. Ia mengenakan celana, menerima panggilan masuk, lantas mengalihkan tatapan pada sisi ranjang yang kosong.


“Jelaskan!”


Suara melengking di seberang sana serta-merta membuatnya menjauhkan ponsel dari telinga. Id caller yang ia namai ‘Ibu’ belum cukup mengirimkan rasa takut. Ia perlu membuka pintu kamar mandi untuk melihat apakah Melissa ada di sana atau tidak.


“Kenapa Ibu menelepon?”


“Ibu perlu penjelasan!”


Jeon-Jonas berjalan ke dalam kamar mandi, hanya menemukan aroma sabun dan sampo milik Melissa yang kelewat harum. Sedang pemiliknya tidak berada di sana.


“Penjelasan apa?”


Krista terdengar mendengkus kasar.


“Melissa menangis saat Ibu menelepon. Kau kasar kepada istrimu!”


Jeon-Jonas meraup wajah, mengusapnya sedikit kasar. “Aku akan mengurus masalah itu sendirian.”


“Apa yang kau lakukan padanya?”


“Aku akan mengurusnya, Ibu.”


“Apa yang kau lakukan?!”


“I fu*k her!”


“Jeon Jonas!!”


“Aku sudah bilang aku akan mengurusnya sendirian!”


“Tidak! Ini sudah kelewatan, Melissa bahkan tidak tau kesalahan apa yang dia lakukan, dan kau menghukumnya tanpa sebab!”


“Aku punya alasan.”


“Apa? Jelaskan!”


Jeon-Jonas mengusap wajah hingga belakang kepala. Rasanya, ingin membenturkan kepala sendiri ke sudut meja, atau apa pun yang lebih terasa menyakitkan daripada itu, untuk menghilangkan segala masalah yang membeludak di sana.


“Kenapa? Tidak bisa dijelaskan?”


“Melissa tidur dengan Ben.”


Untuk sepersekian detik yang terasa begitu lama, belum ada yang membuka suara. Krista yang sebelumnya murka secara menggebu-gebu, bahkan belum mengembuskan napas.


“Tidak, itu tidak mungkin.” Krista menggumam. “Melissa tidak mungkin melakukannya.”


“Jangan mengada-ada Jeon Jonas! Melissa tidak akan pernah berpikir seburuk itu!” sambungnya.


Ia melihatnya dengan mata kepala sendiri. Tapi—tapi mengapa—seolah ia-lah yang bersalah? Seolah sebenarnya—ia berhalusinasi waktu itu, dan yang mampir di matanya saat itu adalah kesalahan teknis yang bisa muncul kapan saja.


“Aku melihatnya.”


Krista terisak. “Meski tidak tau kejadian sebenarnya, Ibu tau kalau Melissa tidak tidur dengan Ben. Ibu bisa merasakan kesedihannya saat menelepon. Tolong percaya kepada Melissa, wanita itu wanita baik, Jeon. Percaya pada Ibu. Ya? Ya, Jeon?”


“Kenapa aku harus percaya?”


“Demi Ibu. Tolong pikirkan dengan baik, Melissa sedang hamil, Sayang. Jangan menyakitinya. Ya, Jeon?”


Isakan Krista di seberang sana membuat Jeon-Jonas mendesah berat.


“Aku akan mencoba bicara dengan mereka.”


“Selesaikan dengan baik, jangan menggunakan kekasaran.”


“Hm.”


“Demi Ibu, Jeon. Demi bayi kalian berdua.”


“Ya.”


“Ibu sayang padamu.”


Jeon-Jonas meletakkan ponsel di atas ranjang, memilih segera membersihkan diri. Dan setelah semua itu selesai, ia berpakaian dan bergegas mencari Melissa di ruang makan. Wanita itu tidak di sana, bahkan Enna. Ia melangkah ke dalam ruang keluarga. Berhenti tepat di samping sebuah vas saat sudut matanya menemukan Ben berdiri di depan rumah.


“Selamat pagi, Bos.”


Ia sudah berjanji untuk menyelesaikannya secara baik-baik, namun gemertak giginya yang bergesekan tidak dapat dikendalikan. Bahkan sepasang tangannya telah mengepal, berancang-ancang untuk menghajar.


“Saya ingin menyelesaikan kesalahpahaman Bos terhadap saya dan Melissa.”


Jeon-Jonas memejamkan mata, menenangkan dirinya sendiri. Ia tidak boleh menggunakan kekasaran, sesuai janjinya kepada Krista.


“Saat itu hujan. Saya melihat Jorge berada di lantai atas. Jadi saya bertanya mengapa dia berada di sana. Jorge mengatakan kalau dia curiga kenapa Melissa berisik sendirian sedangkan Bos tidak ada di rumah, dia ke sana untuk memastikan. Saya menyuruhnya untuk pergi, hanya untuk memeriksa kejadian yang sebenarnya. Lalu saya—masuk ke dalam kamar, melihat Melissa sedang mengigau karena takut petir. Jadi—jadi saya mencoba menenangkannya.”


“Lalu kau mengambil kesempatan untuk menyentuhnya?”


Ben menggeleng. “Saya akui saya sayang Melissa. Tapi untuk merusak hubungannya dengan Bos, tidak pernah ada di pikiran saya sedikit pun. Saya memang naik ke tempat tidur, karena saat itu Melissa semakin menangis karena petir belum berakhir. Saya hanya mencoba menenangkannya, hanya itu. Saya bersumpah tidak pernah berusaha mencuri kesempatan saat Melissa tidak sadar. Semuanya salah saya. Maka apa pun keputusan Bos terhadap saya, saya akan menerimanya.”


“Bagaimana kalau aku menyuruhmu meninggalkan kelompok?”


“Saya akan meninggalkannya.”


“Bagaimana kalau aku menyuruhmu tidak berbicara kepada Melissa selamanya?”


“Saya akan melakukannya.”


“Lakukan kalau begitu.”


Ben membungkukkan badan. “Saya akan pergi.” Ia kembali berdiri tegak. “Terima kasih sudah mendengarkan saya, dan maaf sudah mengecewakan Bos.”


Jeon-Jonas melipat tangan di depan dada, sementara Ben telah kembali memberi hormat dan melangkah keluar dari dalam rumah. Bersiap meninggalkan kelompok yang selama ini ia jaga dan dilindungi, dan—


“Kau tetap tinggal Ben!”


Ben membalikkan badan. “Maaf, Bos?”


Ben mengerjap, dan tidak bisa tidak menampilkan senyum karena akhirnya ia masih diharapkan untuk tetap tinggal, bersama kelompoknya, bersama teman-temannya, bersama bosnya.


“Bos, saya—”


“Berjaga seperti biasa, aku harus mencari Melissa.”


Ben membungkuk lebih rendah daripada sebelum-sebelumnya. “Baik, Bos!”


Mulut Ben sebenarnya ingin mengatakan kalau ia sempat melihat Melissa pagi tadi, ingin menjelaskan juga bahwa ia mengikuti wanita itu sampai halte. Namun akhirnya diurungkan karena mungkin informasi penting itu akan menjadi bumerang bagi hubungan mereka. Maka ia memilih diam, ia yakin Jeon-Jonas akan segera menemukan istrinya.


🌷🌷


Jeon-Jonas mendecak saat anak-anak hujan mulai membasahi kaca mobil, membuat pandangannya terhadap jalanan memburam, lalu cepat-cepat menyalakan windscreen wiper untuk menyeka air yang mengganggu laju kendaraan tersebut.


Ia mengedarkan tatapan, mengumpat saat lampu lalu lintas di depan berubah menjadi merah. Ini bukan saatnya memaki, tidak ada gunanya juga. Karena yang harus ia lakukan adalah menunggu dengan sabar. Melissa akan ditemukan, wanita itu tidak akan hilang.


Lalu—bagaimana kalau wanita itu sebenarnya sedang mencoba melarikan diri?


Atau mungkin sedang mengunjungi rumah temannya yang bernama Ava dan Maggie dan berunding untuk mencari ayah baru untuk calon bayi mereka?


Lampu berubah menjadi hijau. Jeon-Jonas cepat-cepat memacu kendaraan tersebut agar mendahului pengendara lain. Matanya tetap mencari, tidak meninggalkan satu tempat pun untuk diabaikan. Toko-toko kecil di samping kanan, yang menjual perabotan rumah, mungkin saja menjadi tempat Melissa untuk berteduh. Kafe-kafe di samping kiri, yang cukup penuh karena selain dimanfaatkan untuk makan, juga digunakan untuk mampir sampai hujan reda, bisa saja menjadi tempat Melissa berdiri merenung. Lalu di ujung yang—


Ia sedikit menyipit tatkala melihat Melissa sedang berbagi payung kecilnya dengan seorang pria. Mereka bertatapan, lekat. Dan bisa Jeon-Jonas lihat bahwa pria itu sedang berusaha menarik perhatian istrinya.


For God’s sake! Mengapa banyak sekali pria yang menyukai istrinya itu?!


Menepikan mobil begitu saja, Jeon-Jonas menerobos barisan hujan sembari memanggil nama Melissa.


Wanita itu menoleh, sementara pria di sampingnya kembali berdiri tegak seolah tidak melakukan kesalahan apa-apa.


“Ayo pulang.” Ia meraih tangan Melissa,bersiap membawanya masuk ke dalam mobil. Namun wanita itu menolak, bahkan telah memasang wajah marah yang sialnya hanya berakhir menggemaskan.


Melissa masih menolak saat ia mencoba memegang bahunya, malah bergerak mundur seolah benci saat disentuh. Tapi demi Tuhan. Jeon-Jonas harus mengakui kebodohannya saat ini, kebodohannya yang berlangsung berhari-hari.


“Pinky, hei, listen...” Ia membingkai wajah wanita itu, membungkukkan badan. “I’m sorry.”


Melissa mendengkus kesal, memukul keras lengannya. Tapi Jeon-Jonas akan menjadi manusia paling idiot di dunia jika membiarkan wanita itu pergi tanpa mendapat maaf.


“Sayang. Aku sudah salah paham selama ini. Maafkan aku.”


Jeon-Jonas melirik pria yang masih berlindung di bawah payung Melissa, menggeram samar karena seharusnya ia yang berada di sana. Dirinya telah kuyup, dan istrinya itu bahkan lebih peduli pada orang asing.


“Sayang. Ayo masuk ke dalam mobil. Aku akan menjelaskan semuanya.”


“Aku akan menginap di rumah Ava.”


“Tidak, jangan.”


Ia-lah ayah bayi di dalam perut wanita itu, dan mereka tidak seharusnya membahas pria lain yang sanggup menjadi ayah pengganti. Ava dan Maggie tidak boleh merusak pikiran Melissa.


“Aku tidak butuh izin.”


“Sayang...” Ia meraih wajah Melissa, lagi. Hendak memberi kecupan, yang langsung ditolak Melissa dengan memberi pukulan ke kepalanya.


Okay. Sabar Jeon-Jonas.


“Aku sudah bilang aku akan menginap di rumah Ava!”


“Kita punya rumah, Sayang. Lebih besar, lebih nyaman.”


“Aku lebih nyaman di rumah Ava!”


“Sayang...” Ia terburu-buru mencuri kecupan di bibir wanita itu, dan Melissa memukuli kepalanya sebanyak empat kali. Jeon-Jonas hampir-hampir mengumpat saat melihat pria di samping Melissa menarik sudut bibir, seolah sedang mengejeknya.


“Aku akan ke rumah Ava!”


“Baiklah, aku juga akan ikut ke sana. Kita menginap di rumah Ava.”


“Hanya aku!”


“Aku juga.”


“Hanya aku!”


Jeon-Jonas mengecup lagi bibir Melissa. Dan saat wanita itu kembali berniat memukuli kepalanya, Jeon-Jonas bergegas menggendongnya ke dalam mobil, mengakibatkan sebagian tubuh Melissa terkena hujan.


Saat ia telah berhasil memasang seatbelt untuk wanita itu, Jeon-Jonas buru-buru masuk dari pintu lain, mengunci semua akses keluar agar Melissa tidak bisa kabur.


“Kau ingin tau kenapa aku menghukummu, bukan?”


Melissa yang masih bernapas memburu, menatap Jeon-Jonas dengan tajam.


“Okay listen. Aku salah paham saat melihat Ben tidur bersamamu di dalam kamar.”


Melissa mengerutkan dahi, sama-sekali tidak tahu fakta itu.


“Aku pikir—aku pikir kalian mengkhianatiku, padahal aku sadar saat itu situasinya tidak memungkinkan. Kau takut petir, dan Ben yang berniat memeriksa, masuk ke dalam kamar. Ben menjelaskan kalau dia sengaja naik ke tempat tidur untuk menenangkanmu karena kau mengingau seperti biasa. Aku pikir kalian sengaja tidur bersama karena aku—karena aku tidak di rumah.”


“Aku tidak mungkin melakukan itu!”


“Ya, Sayang. Aku percaya. Maafkan aku. Soal semalam, aku sudah bertanya pada Fay. Fay bilang tidak apa-apa kalau aku tidak kasar.”


Melissa mengalihkan pandangan ke jendela. Jeon-Jonas melanjutkan, “Aku benar-benar sadar saat melakukannya, bukan karena pengaruh alkohol atau minuman apa pun. Aku benar-benar menginginkanmu.”


Jeon-Jonas mengusap wajah. Semuanya karena peristiwa di kolam renang. Bisa-bisanya Melissa harus terlihat begitu seksi seperti itu, sementara ia mati-matian mengendalikan diri.


“I’m really sorry, Pinky.”


“Aku berpikir berhari-hari mengenai kesalahanku, bahkan kesulitan tidur karena itu! Kenapa tidak bilang secara langsung? Kita bisa menyelesaikannya tanpa cara seperti itu!”


Jeon-Jonas meraih kedua tangan Melissa, mencium punggung tangannya.


“Kau benar. Ini salahku.”


Ia mencondongkan tubuh, perlahan mengecup bibir Melissa.


Ia tidak mendapat kekerasan seperti sebelumnya. Wanita itu hanya diam. Maka selanjutnya, Jeon-Jonas memberanikan diri mengikis jarak di antara mereka, mengusap tangkuk wanita itu lalu memperdalam ciuman mereka.


Find me on instagram : traramadhany