
Vote please!
Melissa memundurkan kepala dengan ekspresi tergagap dan begitu gugup, sementara pria itu masih setia mendekatkan wajah dan menarik sudut bibir. Suka ketika gadis itu merona karena dirinya. Dan badannya yang besar selalu bisa memerangkap gadis itu agar tidak ke mana-mana.
Pria itu berdiri, melegakan Melissa hanya untuk beberapa detik karena ternyata Jeon Jonas berniat duduk di tempat yang sama dengannya. Pria itu kembali memerangkap tubuhnya yang kini bersandar di tempat duduk karena jarak yang terlalu dekat. Pada detik selanjutnya Melissa terpekik saat Jeon Jonas menarik dirinya sebelum paha mereka saling berhimpitan.
Jeon Jonas menciumnya, menekan tengkuk gadis itu agar tidak bergerak banyak. Melissa sendiri merasa dirinya terbang, apalagi saat lidah mereka saling bertautan dan Jeon Jonas sangat mahir dalam mengeksplorasi setiap sudut dalam mulutnya. Mereka di ambang batas, melupakan kebutuhan atas oksigen dan berniat saling meraup untuk waktu yang lama. Tapi suara terkejut menginterupsi mereka, Enna berdiri dengan wajah panik sebelum akhirnya berlari karena takut Tuannya marah.
“Paman..” Melissa berujar lirih tatkala penyatuan bibir mereka terlepas.
Jeon Jonas mengerang tertahan, selalu tidak kuasa saat mendapati bibir gadis itu membengkak karena ulahnya.
“Aku sangat suka banana milk, apalagi jika itu kurasakan langsung dari mulutmu.”
Tak ayal membuat pipi Melissa memerah padam. Sedangkan Jeon Jonas kini tersenyum lebar.
Perhatian pria itu akhirnya berpindah pada jemari tangan gadisnya yang sedikit mengeriput karena air, jemari itu ia bawa ke bibirnya, menciumnya sesaat lalu mengulum senyum.
“Why you so adorable Pinky?”
“Paman juga.”
“Oh ya?” Jeon Jonas menaikkan alis.
Melissa tersenyum tipis lalu membawa tangannya menyentuh rahang kokoh pria itu, ia mengusapnya perlahan.
“Uncle is also very cute..”
Terdengar lucu untuk Jeon Jonas, bagian mananya yang terlihat cute? Melissa pasti sedang mengejeknya. Pria itu saja selalu memasang wajah sangar saat di luar, ia juga terlalu berotot untuk dikatakan imut.
Melissa tertawa kecil tatkala mendapati wajah bingung Jeon Jonas. Ia lantas memeluk pria itu erat lalu menggumamkan sesuatu yang tidak bisa didengarkan siapapun. Detik selanjutnya ia melepaskan pelukannya lalu menemukan pria itu sedang mengamati penampilan mereka yang sama-sama basah.
“Shit!”
Melissa terkejut. Pria itu bangkit dengan wajah memerah entah karena apa.
“Paman..”
“Kembali ke kamarmu Pinky. Aku harus berenang.”
Selesai mengatakan itu Jeon Jonas segera melompat ke kolam, merendam tubuhnya yang memanas. Sialan!
***
Jeon Jonas masuk ke dalam lift berniat untuk keluar setelah selesai memakai jaketnya. Ia disapa oleh Enna dari dapur, wanita paruh baya itu baru saja selesai mencuci piring yang ia gunakan dengan Melissa saat makan malam tadi. Jeon Jonas masih dengan wajahnya yang datar saat membuka mobil dan masuk ke dalam.
“Bos..”
Jeon Jonas menurunkan kaca mobil saat Hans memanggilnya.
“Bos akan pergi?”
“Ya, ada apa?” Jeon Jonas bertanya.
“Ke mana Bos akan pergi?”
“Bar.”
“Apa Bos akan memulai rencananya?”
“Belum, aku mulai besok.”
Hans mengangguk, lalu Jeon Jonas menaikkan kaca mobil kembali, menyalakakan mesin mobil lalu keluar dari gerbang.
Seperginya Jeon Jonas, Hans memasuki rumah lalu naik ke lantai atas tanpa sepengetahuan siapapun. Ia mengetuk pintu kamar Melissa, lalu membukanya meski tidak mendapat sahutan dari dalam. Gadis itu ternyata sudah tidur sembari menggulung tubuhnya di bawah selimut berwarna merah muda.
Hans membuang nafas tatkala kaki-kakinya kini berjalan mendekat setelah menutup pintu. Ia duduk di sisi ranjang lantas membawa tangan kanannya mengusap pipi Melissa yang berada di bawah alam sadar.
“Kau seharusnya menatapku juga.."
Hans tergoda untuk menyatukan bibirnya dengan bibir gadis itu, meski merasa bersalah karena melakukannya tanpa izin. Tapi lagi-lagi seolah tau gadisnya hendak dimangsa predator lain, Jeon Jonas menelepon.
Hans memaki dalam hati, apalagi ponselnya berdering cukup keras. Ia menutup telinga Melissa lalu meninggalkan gadis itu setelah membenarkan letak selimutnya.
“Ya. Bos,” jawabnya.
“Aku akan memulai rencananya malam ini.”
“Mereka di sana?”
“Ya, aku merasakan keberadaan mereka. Akan kubuat mereka memakan umpanku.”
“Bos perlu aku datang ke sana?”
“Jangan, aku akan melakukannya sendiri. Berjaga di sana.”
“Baik Bos.”
***
Jeon Jonas meneguk vodka untuk kesekian kalinya. Ia tidak pernah berharap Stephanie menemukannya di sini, tapi itulah yang terjadi. Wanita itu berwajah sumringah yang begitu kentara tatkala mendapati Jeon Jonas duduk sendiri di kursi bar.
“Sayang, harusnya kau mengabariku kalau kau akan datang ke sini.” Stephanie duduk di sampingnya, mengisi gelas dengan minuman yang sama lalu menyentuhkan jemarinya ke tengkuk Jeon Jonas.
“Kau jarang berkunjung ke sini. Aku rindu.”
Jeon Jonas bungkan tapi gerakan matanya cukup awas. Kelompok Mattow duduk dan berbaur dengan pengunjung lain, seolah-olah mereka hanya orang biasa.
“Turunkan tanganmu Stephanie.” Stephanie tersenyum miring lalu menurunkan tangannya mengusap dada Jeon Jonas.
“Maksudmu di sini?” kekeh Stephanie menurunkan tangannya ke paha pria itu. Membuat rahang Jeon Jonas mengeras dan akan melayangkan tangan jika saja ia tidak ingat mengapa ia melakukan ini.
“Jangan sekarang, jauhkan tanganmu dariku.”
“Oh baiklah.” Stephanie tersenyum lebar, memaknai lain arti dari ucapan Jeon Jonas. Ia berpikir pria itu akan membawanya ke tempat yang lebih nyaman untuk bersenang-senang.
“Di mana gadis spesialmu?”
“Jangan menyebutnya di sini, sialan!”
“Kenapa? Kalian sudah berpisah?”
“Pelankan suaramu.”
Stephanie mengisi gelasnya lagi, kali ini ia menopang dagu dengan tangan kiri lalu menatapi wajah Jeon Jonas yang selalu terlihat tampan.
“Kalian pasti sudah berpisah kan? Itu mengapa kau datang kemari. Kau membutuhkanku, dan akan kembali seperti dulu. Benar begitu?”
“Ya, Stephanie. Kau benar. Jadi berhentilah membahas itu. Bahas mengenai sesuatu yang bagus untuk kita rayakan malam ini.”
“Apa ya? Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada melakukan sesuatu yang panas denganmu.”
Jeon Jonas menghabiskan sisa vodkanya lalu tersenyum menanggapi Stephanie.
“Ayo ke rumahmu.”
“Dengan senang hati Jeon..”
Selama perjalanan menuju rumah Stephanie, Jeon Jonas selalu melirik kaca. Ada dua satu mobil berwarna silver yang selalu mengikuti mereka. Jeon Jonas terkekeh dingin lalu menghisap rokoknya.
“Jeon, aku sedang menginginkan gaun. Aku melihatnya tadi siang, itu dipajang di manekin, boleh aku membelinya dengan kartumu?”
“Lakukan apapun yang kau mau Stephanie.”
Stephanie bersorak senang lantas mengecup pipi Jeon Jonas.
Sesampainya di rumah bertingkat tiga milik Stephanie, mereka keluar dan mobil berwarna silver itu cukup pandai untuk tidak mengikuti sampai sini. Jeon Jonas berjalan dengan Stephanie yang menempelinya. Mereka masuk ke dalam rumah lalu naik ke lantai dua.
“Aku punya lingerie yang bagus, kau pasti menyukainya.”
Stephanie segera masuk ke walk ini closet, tidak sabar menunjukkan lingerie barunya yang sempat ia beli dengan uang pemberian Jeon Jonas yang belum habis ia pakai. Sementara Jeon Jonas mengintip dari gorden jendela, ia dapat melihat mobil silver itu memutar balik dan pergi.
Ia tersenyum dingin, memantik rokok yang baru lalu melangkahkan kakinya untuk pulang.
“Jeon, kau mau ke mana?”
Jeon Jonas menoleh, menatap Stephanie yang sudah tampil seksi dengan lingerie kebanggaannya.
“Pulang.”
“Huh? Kita belum bersenang-senang.”
“Tidak sekarang Stephanie, aku akan menghubungimu lagi.”
“Tapi aku ingin sekarang.” Stephanie merengek.
“Lakukan tanpaku.”
Jeon Jonas beranjak keluar dari rumah dan Stephanie mengumpat kesal. Beraninya pria itu meninggalkannya tanpa melakukan apapun.
***
Melissa tersenyum riang tatkala melihat Jeon Jonas sudah ada di dapur, membaca koran pagi lalu menyesap teh hangat dalam gelasnya.
“Paman..”
“Sayang..”
Jeon Jonas menurunkan korannya, lebih memilih melihat wajah cantik gadisnya yang terlihat bersinar pagi ini. Melissa duduk di hadapannya, masih dengan senyumannya yang mengembang. Semalam ia bermimpi Jeon Jonas datang lalu menciumi pipinya saat tidur, pria itu juga bersenandung. Kenyataannya pria itu memang datang semalam.
“Aku membuatkan panekuk untuk kita berdua,” ujar Jeon Jonas mendorong piring kecil bulat berwarna putih.
“Aku selalu suka masakan Paman, semuanya enak. Lain kali aku yang akan memasak.”
“Jangan gantikan tugasku Pinky, aku lebih suka memberi daripada menerima.”
“Atau sebenarnya Paman memang tidak bisa menerima?”
“Maksudmu?”
“Aku tau Paman tidak menerima makanan dari orang lain, apa aku termasuk juga?”
Jeon Jonas menaikkan alisnya.
“Dari mana kau mengetahui fakta itu? aku tidak pernah ingat memberitahu itu sebelumnya. Enna?”
Melissa menggeleng. “Aku menebaknya sejak lama. Karena Paman tidak pernah makan masakan Enna atau dari restoran yang pernah kita kunjungi.”
“Aku akan mencoba merasakan masakanmu.” Melissa yang mendengar itu tersenyum senang.
“Benarkah? Paman tidak takut padaku?”
Pria itu tertawa.
“Kau terlalu menggemaskan untuk aku takuti.”