
Setelah tiba-tiba mendapati banyak orang menerobos masuk ke dalam kamarnya, dengan Daniela yang terisak dan sesunggukan, Melissa tinggal sendirian. Jeon-Jonas dan anak buahnya kembali pergi, menyeret Daniela yang meraung agar tidak lagi disakiti.
Jeon-Jonas menyanggupi, namun tidak dengan anak buahnya yang sepertinya masih geram dengan tingkah Daniela yang sudah melewati batas. Mereka masih menarik rambut Daniela, masih melemparnya seperti sebelumnya agar turun dari dalam mobil.
“Ayahku, di mana kalian menyembunyikan ayahku?” isak Daniela di depan pintu rumahnya.
“Bawa dia.” Jeon-Jonas mendorong pintu rumah tersebut, sementara dua anak buahnya memegangi lengan Daniela, agar ikut masuk ke dalam.
Mereka melangkah menuju lantai atas, lantai di mana kamar Harold berada. Di sana, Harold diikat di tiang tempat tidur, mulutnya dibungkam dengan lilitan lakban. Ketika matanya bertemu dengan tatapan tajam Jeon-Jonas, ia berteriak, memberontak agar ikatan di sekitar tubuhnya dilepaskan.
“Daddy..” Daniela hendak membantu Harold, hendak membebaskan pria itu. Namun sekali lagi, anak buah Jeon-Jonas menahannya dengan keras.
“Aku pria yang memiliki sopan santun, Harold.” Jeon-Jonas berjongkok di depan pria itu, menatap matanya lurus-lurus. “Tapi melihatmu berencana mempengaruhi Melissa, aku mendadak muak.”
Ia mencengkeram dagu Harold, menekannya dan menancapkanku kuku. Harold mendesis pelan, masih berusaha melawan.
Jeon-Jonas melirik Daniela. “Jika saja aku bisa, aku akan menjual Daniela demi kepentinganku. Tapi Melissa akan membenciku jika melakukannya. Dan aku akan membenci diriku sendiri.”
Lakban di mulut Harold di lepas, ia kemudian berdiri meski mendengar pria paruh baya itu mendengkus pelan.
“Jadi Harold, hanya kali ini aku akan berbaik hati. Kedepannya jika hal seperti ini terjadi lagi, aku akan membawa Daniela untuk dilelang, dan kepalamu akan menjadi hiasan pintu rumahku.”
Jeon-Jonas menaikkan dagu ke arah anak buahnya. Secepat itu, Daniela dilepas dan didorong ke depan.
“See? Aku pria baik, Harold.”
🌷🌷
Melissa mendesah pelan saat mendengar suara Ava yang seolah memelas. Maggie sendiri sudah jengah saat ingin menghentikan suara berisik Ava.
“Kita harus tetap berteman!” seru Ava. “Jeon-Jonas jahat, dia memisahkan kita.”
“Berhenti menjadi dramatis, Ava,” celetuk Maggie.
“Kapan lagi aku bisa dramatis seperti ini? Kita tidak tahu kapan Jeon-Jonas akan kembali ke hotel. Kalau dia tau kita menelepon Melissa, dia mungkin akan membawa anak buahnya kemari, lalu membuang kita ke lautan Miami.”
“Jeon tidak akan melakukannya, Ava. Waktu itu, dia hanya marah karena aku keluar tanpa izin,” sahut Melissa.
“Apa dia mengasarimu?”
“Tidak, kamu berdamai dengan cepat.”
“Baguslah. Kita tetap bisa bertemu kan, Mel?”
“Ya, tentu saja.”
“Itu mobil Jeon-Jonas! Akhiri sambungan teleponnya!”
“Sebentar, kami masih bicara, Magg.”
“Ava, cepat!”
Ava memutar bola mata seraya mendesah berat. “Baiklah, Mel. Maggie sudah histeris di depan jendela, jadi—sampai jumpa.”
“Ya, sampai jumpa.”
Melissa meletakkan ponsel di atas nakas, lalu memeluk boneka hiu pemberian Ben. Beberapa saat kemudian, pintu kamar terbuka, Jeon-Jonas muncul dengan setelan sebelumnya. Aroma pria itu yang wangi, segera mengerubuninya. Melissa mengulas senyum lalu memejamkan mata saat pria itu mengecup pipinya.
“Hei..” sapa pria itu, lirih dan lembut. “Maaf aku pergi.”
Melissa mengangguk.
“Kata Ben, mereka melukaimu.” Jeon-Jonas menyentuh lengan Melissa, memeriksa luka yang mungkin ada di sana.
“Aku baik-baik saja.”
“Tidak, kau tidak.” Jeon-Jonas masih melihat-lihat, masih memeriksa, membuat Melissa tertawa kecil dan mendorong pria itu pelan.
“I’m fine.”
Jeon-Jonas menegakkan punggung. “Okay. Apa kita perlu menemui Fay? Mungkin dia harus—”
“Tidak,” sela Melissa.
Jeon-Jonas tersenyum samar. “Kau masih cemburu padanya?”
“Tidak, dia tidak menyukai laki-laki, kan? Aku hanya takut kalau terlalu sering menemuinya, dia akan menyukaiku.”
“Oh. Kenapa aku tidak pernah memikirkan ini sebelumnya?”
🌷🌷
Jeon-Jonas melirik Melissa yang sedang menyantap makan malamnya, ketika mendengar suara Ayah dari telepon.
“Aku tidak percaya kau melukai Harold,” ucap Ayah.
Jeon-Jonas memilih keluar dari dalam kamar tidur. “Aku punya alasan.”
“Ya, aku tau kau sangat menyayangi Melissa. Tapi Harold sahabatku, Jeon. Kau seharusnya tidak melakukan itu, apalagi sampai mengancamnya.”
“Dia harus tau kalau aku bukan pria penyabar. Mereka menyakiti Melissa, dan aku membalasnya dengan menyakiti mereka juga.”
“Tapi tidak perlu me—” Suara Ayah terputus begitu saja, Jeon-Jonas mengakhiri panggilan secara sepihak. Sebab ia tahu, Ayah akan selalu membela Harold, sahabat baiknya.
“Selamat malam, Jeon-Jonas. Ini Darrick.”
“Dari mana kau mengetahui nomor ini?”
Darrick tertawa. “Tidak sulit untuk mendapatkan data seorang Jeon-Jonas. Kalau kau lupa, aku adalah pemimpin Black Shooter.”
“Mengapa seorang pemimpin Black Shooter harus meneleponku di malam seperti ini?”
“Well, sebenarnya aku juga sedang di hotel yang sama denganmu. Dan jika kau tidak keberatan, aku ingin mengajakmu bertemu. Mungkin—kau bisa mengajak teman tidur yang kesekianmu juga. Aku akan senang jika bisa melihatnya.”
“Ah, wanita itu sudah tidak bersamaku.”
Darrick terdengar mendesah. “Sayang sekali.”
“Tapi aku punya cukup waktu untuk menceritakan hubungan kami padamu.”
“Oh, itu kabar baik. Kami sudah menunggu, segeralah kemari.”
🌷🌷
Jeon-Jonas memotong steak seraya melirik Darrick yang tengah mengunyah udang di dalam mulutnya. Beberapa menit lalu, Darrick mengatakan bahwa pelayanan hotel ini sangat baik, pria itu juga tahu bahwa yang memiliki hotel ini adalah Krista, ibunya.
Darrick tahu terlalu banyak, Jeon-Jonas merasa perlu menyembunyikan hal-hal yang memang perlu ia sembunyikan, terutama Melissa.
Darrick mengusap mulut setelah meneguk air putih. “Jadi, apa kau dan wanita itu sudah lama berkencan?”
Jeon-Jonas tersenyum tipis, meneguk air minumnya juga. “Ya, dia wanita yang baik, dan tentu saja—pandai dalam semua hal.”
Darrick tertawa kecil. “Aku tahu apa yang kau maksud.”
“Selama ini, aku tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan perempuan, tapi dengan Daniela, aku merasa harus punya ikatan yang serius dengannya.”
“Daniela?”
Jeon-Jonas tersenyum lagi. “Ya. Sebenarnya, dia bukan hanya teman tidur, aku menyukainya.”
“Wow. Dan akhirnya, kau akan mencoba memilikinya?”
“Tentu. Untuk Daniela, aku akan melakukan apa pun.”
Sudut-sudut bibir Darrick tertarik ke atas, ia mengangguk. “Ya, itu wajar. Seorang gangster juga perlu menikah, bukan?”
Jeon-Jonas tertawa. “Ya, tentu saja.”
Setelah bercerita cukup panjang tentang Daniela, hubungan mereka yang sudah sejak lama terbina, juga rencana pura-puranya untuk menikahi wanita itu, Jeon-Jonas pulang.
Ia mengangguk saat anak buahnya yang berjaga di depan pintu menyapa, lalu masuk ke dalam setelah menempel cardlock pintu.
Tatapannya mengedar ke seluruh tempat, kemudian ketika hendak mendorong pintu kamar, ia tertegun saat melihat Melissa tengah melepas pakaian. Tangannya yang sudah berada di kenop pintu, kembali ia jatuhkan.
Wanita itu memeriksa lemari, lalu berjalan ke depan cermin dengan sebuah piama putih untuk dikenakan.
Jeon-Jonas mengusap wajahnya, ia terlihat seperti pria mesum yang suka mengintip.
Menentang persepsi tersebut, ia masuk ke dalam kamar, membuat Melissa terkesiap tajam ketika ia memeluknya dari belakang.
“J-Jeon?”
“Pinky…”
Bibirnya sudah di atas bahu terbuka wanita itu, memberi kecupan hangat yang menimbulkan sengatan panas. Ia memang pria mesum, tidak perlu lagi menentang persepsi tersebut, karena memang benar bahwa ia sulit mengendalikan dirinya.
"Sudah bertemu dengan mereka?"
"Hm. Dan aku menyesal lebih memilih menemui mereka daripada berdua bersamamu di sini."
Melissa memiringkan kepala ketika Jeon-Jonas berlabuh di lehernya, mengembuskan napas hangat.
"Kenapa dengan pakaianmu? Tidak nyaman?"
"Aku hanya merasa kedinginan."
"Ah, ya..." Jeon-Jonas melepas pelukannya, membalikkan tubuh Melissa lalu mengecup bibir wanita itu sekilas.
"Kita akan pulang besok, ada banyak bahaya di sini. Aku takut terjadi sesuatu padamu."
"Bahaya? Tapi ada banyak pengawal di sini."
"Justru karena itu, kita terlalu menonjol."
Melissa akhirnya mengangguk. "Baiklah, kita pulang besok."
Jeon-Jonas tersenyum. "Good girl."
Ia kemudian membawa Melissa ke tempat tidur, sama-sama berbaring di sana.
"Still cold?"
Melissa mengangguk. Jeon-Jonas tersenyum lebar, memeluk wanita itu dengan gemas.
"Aku akan memelukmu sepanjang malam."