HOT GUY

HOT GUY
[57]



Cukup nggak nyambung sama part sebelumnya. Sebenarnya ada part setelah part 56 yang aku publikasikan di 'WP' dan sengaja nggak di up di sini karena konten dewasa. Jadi, kalau pengen baca part yang tidak aku publish di sini, kalian bisa buka 'WP' alias dunia orange. Judulnya 'My Pinky'. Atau bisa search traramadhany.


“Di mana Melissa?” Jeon-Jonas bertanya pada anak buahnya yang berjaga di depan pintu.


“Pergi, Bos.”


“Pergi? Kalian membiarkannya pergi sendirian?”


Ke empat pria itu mengernyit. “Tapi, kata Nyonya Melissa, Bos sudah mengizinkannya pergi.”


Jeon-Jonas mengerang pelan. “Ke mana dia pergi?”


“Itu—” Salah satu dari mereka melihat yang lain, seolah meminta bantuan agar tidak diam saja. Namun, tidak ada yang berani menjawab. “Saya tidak tahu, Bos.”


Jeon-Jonas menaikkan alis. “Tidak tau?! Jadi apa guna kalian berjaga di sini?!”


Ke empat pria itu menundukkan kepala. “Maaf, Bos.”


Jeon-Jonas mendorong pintu dengan keras, berjalan menuju kamar tidur untuk mengambil ponsel. Pukul delapan ketika ia bangun setelah semalam merasa senang telah disenangkan oleh Melissa, ia mendapati tempat tidur sebelahnya telah kosong. Berkeliling mencari di semua tempat di dalam grand penthouse juga tidak menemukan apa-apa. Melissa pergi.


Tepat di saat ponselnya terhubung dengan nomor yang dituju, ia menemukan ponsel Melissa di dalam kamar, di dalam tas, dan sepertinya sengaja ditinggalkan.


Ia menelepon Ben, dan diangkat pria itu di detik pertama. “Ya, Bos?”


“Kau melihat Melissa pergi?”


“Dia bersamaku.”


Jeon-Jonas mengerutkan dahi. “Kenapa kalian bisa bersama?”


Tidak ada jawaban setelah ia sempat mendengar suara Melissa memanggil Ben dengan sebutan paman. Dan—sambungan berakhir.


“Sial.” Ia mengusap wajah, menghubungi Ben lagi dan tidak dijawab. Ponsel tersebut ia jejalkan ke dalam saku celana, memutuskan meninggalkan kamar dan—


Ponselnya berbunyi, ada sebuah pesan dari Ben.


‘Kami ada di taman, saya akan mengantarkan Melissa secepatnya.’


Seandainya pikirannya tidak segera menyadari apa alasan Melissa pergi, ia mungkin sudah pergi ke taman. Tapi Melissa, wanita polos itu menghindarinya … karena malu.


🌷🌷


“Paman berbohong!” Melissa mendengkus ketika melihat Ben mengantongi ponselnya. Ia turun dari mobil, yang segera dicegah oleh Ben dengan menarik tangannya secara pelan.


“Jangan ke mana-mana, kita pulang.”


Melissa mendorong pintu mobil lagi, dan hal yang sama dilakukan oleh Ben agar wanita itu tidak pergi.


“Kau juga berbohong. Kau bilang Jeon-Jonas tahu kau pergi denganku.”


Melissa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, membuat Ben mengernyit bingung. Begitu Melissa menjauhkan telapak tangannya dari wajah, wajahnya terlihat memerah. Ben yang minim ekspresi, menaikkan alis.


“Ada apa?”


Melissa menggeleng, tidak berniat menyahuti ucapan pria itu.


Ben turun dari mobil, mengitari kendaraan tersebut dan mengulurkan tangannya pada Melissa.


“Ayo.”


Melissa bergeming tapi kemudian menyambutnya. Mereka berjalan bersisian menuju sebuah toko aksesoris. Sampai di sana, Melissa masih bingung mengapa Ben yang masih menggenggam tangannya, harus mengajaknya masuk. Namun, setelah Ben menarik satu bando marmut, dan memakaikannya pada rambut Melissa yang terurai panjang. Ia segera paham.


Ben melepas genggamannya, melihat-lihat kumpulan jepit rambut, gelang dan anting-anting.


“Paman Ben…”


“Hm.”


“Apa Jeon terdengar marah?”


“No.”


Melissa memainkan jari-jarinya, lalu Ben datang dengan satu ikat rambut pink, mengumpulkan rambut wanita itu untuk diikat.


“Oh!” Ia melepaskan kembali ikat rambut itu, terkejut mendapati kissmark di sisi leher Melissa. Raut wajahnya tiba-tiba memucat, ikat rambut yang sebelumnya berencana dibeli, ia letakkan di tempat semula.


“Paman?”


Ben berbicara pada pramuniaga toko, membayar bando marmut yang sudah dipakai Melissa. Setelah membayar, ia meminta Melissa untuk mengikutinya, tidak lagi menggenggam tangan wanita itu seperti sebelumnya.


“Paman…”


“Ya?”


“Aku suka ikat rambutnya.”


Ben mendesah, meninggalkan Melissa untuk kembali ke toko dan membeli ikat rambut tersebut.


“Paman marah?”


Ben menggelengkan kepala, mengalihkan pandangan. Di saat ia hendak masuk ke dalam mobil dan mengantar wanita itu pulang. Melissa menyentuh tangannya, menatapnya lekat, dengan kepala mendongak karena perbedaan tinggi mereka yang cukup jauh.


“Paman marah karena bandonya?”


“Tidak, Melissa.”


“Tapi Paman terlihat kesal, padahal tadi biasa-biasa saja.”


Ben mengembuskan napas. “Ayo pulang.”


Melissa menggeleng, justru menarik tangan Ben agar mengikutinya. Ben melotot, tapi tetap mengikuti langkah Melissa yang cukup cepat. Setibanya mereka di sebuah minimarket dekat dengan toko aksesoris, Melissa membawa Ben ke rak makanan ringan, mengambil sebuah cokelat dan memberikannya pada pria itu.


“Paman tidak akan kesal lagi kalau sudah makan ini.”


Ben masih belum bersuara, justru menatap cokelat yang kini ditaruh Melissa di telapak tangannya. Di saat wanita itu hendak membayar dengan merogoh saku pakaiannya, Ben mengerjap cepat, menyerahkan kartunya pada penjaga toko.


“Terima kasih,” ucap penjaga toko.


Melissa tersenyum. Melihat itu, Ben memutar kepalanya menoleh ke arah lain. Ia berjalan lebih dulu, membukakan pintu mobil untuk Melissa. Setelah wanita itu masuk, ia menyusul dengan duduk di bangku kemudi.


Hening selama perjalanan. Sampai akhirnya mobil tersebut tiba di depan hotel, Melissa membuka pintu dan hendak keluar. Sebelum akhirnya melepas bandonya dan dipakaikan pada Ben.


Pria itu memundurkan kepala, jantungnya berdebar cepat. Tapi bando itu akhirnya sudah menempel di kepalanya.


“Paman sebenarnya menginginkan bando itu, kan?”


“Terima kasih untuk ikat rambutnya.”


🌷🌷


Melissa terkekeh pelan saat keempat anak buah Jeon-Jonas yang berjaga di depan pintu, menatapnya datar, seolah menyalahkan Melissa atas pembentakan yang mereka terima. Melissa membuka pintu, masuk ke dalam dan berjalan menuju kamar tidur.


“Pinky…”


Ia menggigit bibir, menoleh menatap Jeon-Jonas yang datang dari arah ruangan bioskop mini. Tanpa ia inginkan, wajahnya merona di detik itu juga, terbayang pada apa yang dilakukan tangan dan mulutnya pada tubuh pria itu.


“Ben mengajakmu ke suatu tempat?” tanya Jeon-Jonas lembut, pura-pura tidak tahu alasan sebenarnya.


“Itu—Paman Ben memerlukan sesuatu.”


“Apa?” Jeon-Jonas mengusap rambut Melissa, mengulas senyum samar saat wajah wanita itu semakin memerah.


“Bando.”


“Ben memerlukan bando?”


Melissa mengangguk, dan alih-alih bertanya kembali tentang keanehan itu, Jeon-Jonas tertawa kecil.


“Kau tidak perlu malu, sayang…”


Napas Melissa tercekat, tahu maksud pria itu. Ia menggeleng keras, dan rambutnya menjadi berantakan.


“Kita sudah melakukannya beberapa kali. Dan tidak ada yang berbeda meski kau mencoba hal baru. You did the right thing, honey.”


Ia tersenyum geli, sebelum menambahkan, “Dan aku akui, kau memang cukup handal. Aku suka.”


Melissa merengut, tidak suka mendengarnya. Tapi akhirnya, Jeon-Jonas kembali tertawa ringan, memeluk wanita itu sejenak lalu membelai wajahnya.


“Look, you burn your own face.”


🌷🌷


Krista tengah serius menonton ulang film M.I.B bersama Livy saat ponselnya berbunyi. Masih dengan mata yang tetap fokus pada layar televisi, ia meraba-raba meja, menempelkan ponsel tersebut ke telinga ketika ia telah mendapatkannya.


“Ya?”


“Ibu, aku dan Melissa akan kembali ke Las Vegas hari ini.”


“Hah?!”


Livy mengerjap-erjap, menempelkan teliganya pada ponsel milik Krista.


“Ada banyak bahaya di sini. Aku harus menjaga Melissa dengan baik.”


“Bahaya yang seperti apa? Bukankah Daniela sudah dibereskan?”


“Bukan Daniela, ada orang lain. Mereka berkelompok.”


Krista mencebik. “Tapi aku masih ingin melihat Melissa…”


“Ibu bisa datang ke sini sekarang, Melissa masih menyiapkan barang-barangnya.”


Krista mengakhiri sambungan telepon, mengajak Livy untuk bersiap-siap sebelum ke hotelnya. Dan saat Livy hendak membawa serta kumpulan lolipopnya, Krista menghela napas.


“Tidak perlu membawanya, Melissa bisa membeli lebih banyak lollipop di sana. Lagi pula dia pasti tidak suka.”


Livy berdiri gamang, kecewa.


“Oh ya Tuhan. Ya sudah bawa saja!”


Krista menarik Livy agar berjalan lebih cepat, ia mengeluarkan mobil, membuka pintu dan menyuruh Livy masuk, lalu melajukan kendaraan tersebut menuju hotel miliknya.


Sesampainya di sana, Jeon-Jonas dan Melissa sudah berada di luar.


“Jeon!” Pria itu menoleh, tidak tersenyum meski tahu itu ibunya.


Krista memarkirkan mobilnya dengan asal, kemudian turun bersama Livy.


“Ibu.” Melissa yang mengenakan masker dan topi, memeluk Krista.


“Kenapa menyuruhnya memakai masker? Di sini aman,” keluh Krista.


“Mereka sudah mengetahui tempat ini. Ibu dan Livy juga harus berhati-hati. Jangan banyak berkeliaran.”


Krista mendengkus, menarik pelan masker yang dikenakan Melissa ke bawah, untuk kemudian menepuk-nepuk wajah wanita itu dengan gemas.


“Kalau Jeon-Jonas jahat, beritahu aku ya. Pria tua memang sedikit menyebalkan,” bisiknya.


“Ibu.” Jeon-Jonas mendecak kasar.


Krista mendecih, kembali membisikkan sesuatu di telinga Melissa. “Dia itu takut ditinggalkan. Tidak akan ada yang mau padanya kalau kau pergi. Jadi, kalau dia macam-macam, ancam saja seperti itu.”


Melissa mengangguk. “Aku akan melakukannya.”


“Apa yang ingin kau lakukan? Ibu menyuruhnya apa?” tanya Jeon-Jonas frustrasi.


“Tidak ada. Tidak perlu berteriak seperti itu!”


Jeon-Jonas mendecak, meminta Melissa untuk masuk ke dalam mobil. Wanita itu kemudian berbicara dengan Livy, saling terkekeh karena tumpukan lollipop.


“Jangan berkeliaran, dan jangan terima pria bernama Darrick. Dia berbahaya,” peringat Jeon-Jonas pada ibunya.


“Ya. Kalian juga hati-hati. Yang lain bagaimana? Mereka pulang dengan mobil?”


“Ya. Teman-teman Melissa sudah pulang lebih dulu dengan pesawat. Kami akan pulang menggunakan helikopter.”


“Ah, begitu. Jaga Melissa, jangan sampai menyakitinya. Dia bisa saja berpaling pada pria lain.”


“Ibu!”


“Iya, iya.”


Akan ada badai kecil-kecilan guys.. Sampai jumpa di part selanjutnya😊


Dan terimakasih sudah membaca Hot Guy sampai sejauh ini.


Aku sayang kalian