HOT GUY

HOT GUY
[25]



VOTE SEBANYAK-BANYAKNYA


“Paman..” Melissa memanggil dengan menolehkan kepalanya pada Jeon Jonas yang sejak tadi diam.


“Ya Melissa..”


“Kenapa Paman hanya diam?”


“Maaf.”


“Ada sesuatu yang mengganggu Paman?”


“No honey..”


“Apa karena Sissy? Paman kenal Sissy?”


“Tidak sama sekali.”


Jeon Jonas menaruh tangannya di kepala Melissa, mengacak rambutnya dengan gemas lalu menarik gadis itu agar lebih dekat duduk dengannya.


“Karena hari ini aku tidak sekolah, apa kita akan pergi jalan-jalan?”


“Aku perlu memastikan sesuatu sayang. Maaf membuatmu bolos, kau ingin ke sekolah? Akan kusuruh Jack mengantar.”


“Aku sudah melewatkan banyak mata pelajaran, mereka akan menertawaiku jika datang di jam ini.”


Jeon Jonas terkekeh.


“Kau ingin dibelikan sesuatu?”


“Untuk saat ini tidak.”


Jeon Jonas tersenyum, meletakkan kepalanya di leher Melissa yang terbuka. Untuk sesaat ia memberi gigitan di sana.


“Uncle!” Jeon Jonas tertawa.


“Aku sulit mengendalikan diriku dengan gaya rambutmu yang seperti itu.”


Sesampainya di rumah, Melissa tidak langsung ke kamar untuk mengganti pakaiannya, ia tertarik pada Enna yang tengah memasang sesuatu di ruang tamu.


“Enna..”


“Kau sudah pulang? Secepat ini?”


“Aku bolos.”


Enna membulatkan mata.


“Tuan Jeon tau tentang ini?”


“Paman yang menyuruhku untuk itu.”


“Oh ya Tuhan.” Enna menggelengkan kepala sembari berdecak.


“Jadi apa alasannya menyuruhmu membolos?”


“Kami pergi makan ice cream.”


“Hanya untuk makan ice cream? Serius?”


“Ya, Paman tiba-tiba harus memastikan sesuatu, itu sebabnya kami langsung pulang.”


“Anyway, apa yang sedang kau lakukan?” sambung Melissa kini duduk di sofa.


“Hanya merangkai bunga ini? Kupikir aku harus mencampur salah satunya.”


“Jadi di mana dia sekarang?” tanya Enna.


“Sedang menjawab telepon.” Enna mengangguk-angguk.


Di ruangan lain, Jeon Jonas tengah tersambung dengan Hans, menyuruh pria itu menyelidiki tentang Sissy.


“Dia sudah keluar beberapa bulan yang lalu,” sahut Hans.


“Kenapa tidak ada yang memberitahuku?”


“Kami pikir Bos tidak peduli.” Jeon Jonas mendesah sembari meremas rambutnya.


“Sialan!” Ponsel dimatikan, Jeon Jonas keluar menuju dapur. Di sana dapat ia lihat Melissa tengah tertawa dengan Enna yang membuka kulkas. Tawa gadis itu sangat berharga, seberharga kehadirannya di dunia Jeon Jonas. Dan ketika gadis itu tersenyum cerah padanya, Jeon Jonas merasakan puluhan kupu-kupu beterbangan di dalam perutnya.


“Paman, aku akan memasakkan sesuatu untuk Paman,” ucap gadis itu menarik tangan Jeon Jonas agar duduk di sebuah kursi.


“Paman pernah bilang akan makan masakan yang aku buat.”


“Sure.”


“Aku dan Enna akan membuat sup iga, Paman suka sup iga?”


Enna tersenyum dalam diam, ikut suka mendengar bagaimana pria itu berlaku manis pada gadis belia seperti Melissa.


Melissa kemudian menyiapkan bahan-bahan dibantu oleh Enna, seperti rempah-rempah, bumbu penyedap rasa dan lain-lain.


Sementara Jeon Jonas hanya memperhatikan gadis itu dari belakang.


“Pinky, aku ke depan sebentar.”


“Ya Paman.”


Di teras depan, Jeon Jonas mendapat telepon dari Hans, segera ia angkat sebab tahu itu pasti mengenai informasi penting.


“Dia ada di sini,” ujar Hans.


“Siapa maksudmu?”


“Sissy. Dia hamil. Itu yang membuat Bos merasa frustrasi?” Jeon Jonas mendecak kasar.


“Apa bayi itu-”


“Tutup mulutmu Hans,” tukas Jeon Jonas segera memutuskan sambungan telepon. Ia menemui Jack, meminta kunci mobil lantas keluar dari kediamannya.


***


Di dunia ini, selama 31 tahun Jeon Jonas hidup, dan selama ia bermain dengan perempuan, tidak seorang pun datang dengan perut membuncit, tidak seorang pun berani mengandung bayinya, dan tidak seorangpun dari mereka melakukannya tanpa pengamanan seperti yang telah ia lakukan dengan Sissy. Sissy adalah wanita yang benar-benar berusaha memanfaatkan dirinya, berpikir Jeon Jonas akan menjadikan dirinya sebagai ratu karena sudah mengandung anaknya. Dan kini Jeon Jonas merasa gusar karena itu, bukan karena keberadaan bayi yang jelas statusnya adalah darah dagingnya, bukan pula dengan Sissy yang akan segera melahirkan. Tapi dengan dirinya yang berengsek. Dirinya yang suka mempermainkan perempuan dan dirinya yang berusaha mencintai seorang gadis bernama Melissa.


Jeon Jonas tidak merasa keberatan dengan para wanita yang menggodanya kala ia meneguk minuman di gelasnya. Ia bergeming dengan pikirannya yang mengambang, semakin ke atas dan melayang sempurna di langit-langit.


Melissa merupakan gadis sempurna. Seperti malaikat bersayap telah mengubah hidup abu-abu Jeon Jonas dan ia dengan sangat beruntung telah mendapatkannya. Mendapatkan kasih sayang gadis itu, perhatiannya, cintanya dan segala hal yang belum pernah Melissa berikan pada siapapun.


Bayangan tentang dirinya yang nyaris menyentuh lebih jauh gadis itu menampar keras Jeon Jonas. Bagaimana jika Melissa rusak? Bagaimana jika Melissa justru merasa terluka dengan itu? bagaimana jika Melissa berakhir seperti Sissy? Apa yang akan Jeon Jonas lakukan? Melissa mungkin akan membencinya selamanya.


Para wanita itu terpekik ketika sebuah gelas pecah karena diantukkan ke meja. Jeon Jonas meremas tangannya yang berdarah, dan untuk keberadaan Stephanie yang tiba-tiba, Jeon Jonas justru merasa lega.


“Jeon, what’s going on?” Wanita glamour itu memegang pergelangan tangan Jeon Jonas dengan hati-hati.


“Antar aku pulang.”


“Okay.” Stephanie yang saat itu menenteng tas, segera menaruhnya di bahu kemudian memapah Jeon Jonas menuju mobilnya.


“Mau aku yang bawa?” Jeon Jonas tidak menjawab, yang segera dipahami Stephanie untuk duduk di bangku pengemudi.


Sampai di rumah, Stephanie membantu Jeon Jonas yang setengah mabuk untuk turun. Pria itu menatap datar jalanan, dan saat mata hitamnya melihat Melissa tengah menunggu di ruang makan, ia meringis. Melupakan fakta bahwa gadis itu memasak untuknya.


“Paman..” Stephanie mengangkat sebelah tangannya, memberhentikan Melissa yang saat itu khawatir dengan banyak darah yang menetes dari tangan Jeon Jonas.


“Hei, bantu aku,” ucap Stephanie pada pelayan di sana.


Dua pelayan memapah Jeon Jonas ke kamarnya dan Stephanie mengekori dari belakang. Saat melihat Melissa menaiki tangga, wanita itu berbalik.


“Sedang apa kau?”


“Aku harus melihat keadaannya.”


“Jangan ikut campur, ini masalah serius. Kembali saja ke kamarmu.”


Melissa menyipitkan mata, merasa tidak suka dengan raut dan cara bicara Stephanie.


“Cepat pergi sana!”


“Siapa kau mengaturku?” Stephanie terkekeh sinis mendengar bantahan Melissa.


“Aku wanita Jeon Jonas, dia selalu datang padaku setiap malam, kau pasti tidak tau.”


Melissa menatap Stephanie geram, kemudian mendorong wanita itu agar tidak menghalanginya masuk ke dalam kamar Jeon Jonas.


“Hei!”


Melissa berhasil masuk, ia dapat melihat Jeon Jonas tengah dibantu pelayan itu membalut tangannya yang terluka. Untuk beberapa detik tatapan mereka saling beradu.


“Kembali ke kamarmu Pinky.” Pria itu bicara.


“Tidak, aku ingin menemani Paman di sini.”


“Sudah kubilang bukan? Jeon Jonas bahkan ingin kau pergi,” celetuk Stephanie.


Melissa memandang Jeon Jonas yang hanya terdiam, bahkan tidak memintanya untuk tetap di sana atau menyuruh Stephanie diam.


“Paman..”


“Kembali.”


Melissa mengepalkan tangannya, ia berjalan cepat keluar dari kamar setelah sebelumnya menyenggol bahu Stephanie kuat. Ia masuk ke dalam kamarnya, melemparkan tubuhnya ke tempat tidur lalu meremas seprai dengan rasa marah.


Air mata mengancam untuk jatuh, segera saja ia menaikkan kepala, menahan genangan itu agar setidaknya selalu berada di sana. Tapi semua hal memang tidak mau berpihak padanya. Air matanya luruh dan ia meringkuk dengan menatap dinding dengan perasaan kalut.