HOT GUY

HOT GUY
[36]



Ben tahu ia harus melakukan sesuatu, jika Jeon Jonas tahu kebenaran tentang Hans maka dipastikan kebohongan yang dilakukan Hans akan menjadi kenyataan. Hans adalah anak buah yang loyal, pria itu selalu melakukan tugas dengan baik. Kecuali karena wanita bernama Melissa, pria itu nyaris dikatakan sempurna untuk melakukan semua jenis pekerjaan. Ben mengusap dagunya sementara tangan yang lain disandarkan pada dinding mobil, tayangan film aksi romantis di layar lebar sana sama sekali tidak membuatnya tertarik, ia lebih memilih meluruskan tatapannya pada mobil hitam yang diisi oleh Melissa dan Jeon Jonas.


Pasangan itu saling berpegangan tangan meski pandangan mereka saling terkunci pada tayangan mendebarkan yang dapat ditelan oleh tatapan. Menonton bioskop ala drive in adalah usul Maggie, ia dan Jeongin melakukannya kemarin, wanita itu bersemangat menceritakan keromantisan mereka selama menonton di dalam mobil, suasananya berbeda dan mereka tidak perlu takut-takut untuk berciuman atau saling menyentuh. Jadi tadi sore, Melissa mengatakannya pada Jeon Jonas dan pria itu tidak perlu banyak berpikir untuk langsung menyanggupi.


Melissa menoleh saat tangannya terangkat, Jeon Jonas menggenggamnya sebelum akhirnya memberi kecupan lembut di punggung tangan.


“Masih belum berubah pikiran?” tanya Jeon Jonas.


“Aku tidak bisa, Paman. Aku berangkat dengan Maggie jadi aku juga akan pulang dengannya.”


Mereka sempat berargumen mengenai kepulangan ke Las Vegas. Jeon Jonas menginginkan wanita itu pulang bersamanya dengan helikopter, sedangkan Melissa justru bersikeras akan pulang dengan Maggie karena sudah terikat janji. Jeon Jonas nyaris mengusulkan Maggie dan Jeongin agar menaiki helikopter miliknya juga, namun mengingat helikopter itu hanya berkapisitas empat penumpang, Jeon Jonas mengurungkan niat.


“Kau harusnya memberitahu letak rumahmu juga agar aku ke sana.”


“Aku akan menemui Paman.”


“Apa kau tinggal dengan laki-laki sekarang?” Suara pria itu menegang samar dan Melissa harus mengingatkan dirinya untuk tidak menyebut Hans sesuai permintaan Ben.


“Tidak, aku tinggal sendiri.” Jeon Jonas menghela napas, tatapannya akhirnya kembali pada layar.


“Itu artinya kau sedang menolakku.” Melissa tersenyum geli, ia memainkan jari-jari panjang Jeon Jonas lalu menggigitnya pelan. Jeon Jonas cepat-cepat menoleh.


“Aku mungkin akan menggigitmu kalau kau mengulanginya.” Melissa terkekeh, menaruh kepalanya di leher Jeon Jonas yang hangat.


“Aku sayang Paman.” Jeon Jonas tersenyum miring, mengangkat wanita itu sehingga menghalangi pandangannya dari layar besar. Menatap wajah Melissa mendadak jauh lebih menyenangkan. Ketika napas hangat wanita itu menggoda lehernya, Jeon Jonas menarik pelan rambut Melissa untuk melakukan hal yang sama. Wanita itu menjauh karena geli, padahal bulu-bulu di rahang pria itu sudah habis dicukur.


“I love uncle so much.” Ucapan itu terlontar bersamaan dengan belaian jemari Melissa di rahang halus itu. Jeon Jonas menyukainya, itu sebabnya kini ia menekankan wajahnya ke telapak tangan wanita itu. Rasanya menjadi jauh lebih baik. Melissa selalu membuatnya tenang dan nyaman.


“Pulang bersamaku, Pinky.” Melissa menarik senyum saat Jeon Jonas mengecupi telapak tangannya.


“Aku akan memenjarakanmu di mobil ini kalau kau menolak.” Kesan geli diucapan pria itu membuat Melissa tertawa ringan.


“Then hold me down uncle.”


Sial. Melissa sepertinya tidak tahu kalau kalimat yang ia lontarkan bersifat berbahaya. Jeon Jonas menarik gaunnya, menekan tangan besarnya di paha Melissa lalu menjatuhkan wajahnya di pundak wanita itu.


“Don’t tease me dear one,” bisik pria itu lalu mengecup atas lengannya.


Mereka bertahan di posisi itu, melupakan niat untuk menonton dan lebih memilih saling berpakuan dan merengkuh. Melihat pria itu nyaman di pundaknya, Melissa tersenyum tipis lalu mengusap lembut rambut Jeon Jonas yang tumbuh lebat.


Tepat tayangan film berakhir dan suara beberapa mobil terdengar, Jeon Jonas mengangkat kepalanya, ia terkejut saat mendapati Melissa terlelap. Ia menahan diri untuk tidak gemas, hanya menyalakan mobil lalu membawanya tanpa menurunkan wanita itu dari pangkuannya. Tapi wanita itu tidak nyaman, ia terperanjat saat mobil bergerak cepat, ia melepaskan diri dari pelukan Jeon Jonas lalu berpindah ke samping.


“Filmnya sudah selesai?”


“Ya, tidur saja, Pinky. Aku akan membangunkanmu ketika sampai di hotel.”


Melissa tidak menjawab. Hanya menatapi Jeon Jonas yang fokus menyetir, dan ketika kantuk terus mendesak, ia menarik satu tangan Jeon Jonas, menyandarkan kepalanya di sana dan tertidur.


Dua puluh menit kemudian, mereka sampai di dalam mobil. Jeon Jonas keluar untuk membuka pintu samping, menggendong Melissa yang masih bergabung dengan alam mimpi. Ben membungkukkan badan memberi hormat dan ucapan selamat malam. Jeon Jonas hanya menanggapi dengan gumaman, lalu meninggalkan Ben untuk mengurus mobil.


Ben menyalakan rokok, memperhatikan wajah damai Melissa yang bertumpu pada pundak Jeon Jonas yang tegap. Lalu pemikiran itu kembali, ia cepat-cepat mengurus mobil dan melanjutkan rencananya mengenai Hans.


***


Rupanya Melissa sangat konsisten, ia akan mengatakan ya jika memang ya dan mengatakan tidak jika memang tidak. Jadi bagaimanapun tawaran Jeon Jonas untuk mengubah keputusannya, Melissa tidak akan terpengaruh. Jeon Jonas tak ingin bersifat memaksa, ia membiarkan Melissa melakukan yang ia mau lalu setelah wanita itu benar-benar akan berangkat dengan Maggie, ia menunjukkan satu kotak kecil, ia buka di depan wanita itu hanya untuk membuat Melissa terkesan. Ada sepasang anting putih yang manis, Melissa bergeming tatkala Jeon Jonas memasang keduanya di telinganya.


“You look so beautiful, Pinky.” Melissa bergidik saat telinga kanannya mendapat terpaan napas dan kecupan hangat.


Harus segila apa lagi pukulan di jantungnya bertalu-talu!


Melissa membuang rasa gugup dengan gerakan mundur tidak kentara, ia tersenyum kikuk lalu berkata. “Terima kasih, Paman.”


Mereka turun untuk menemui Maggie yang sudah menunggu di bawah, Melissa melepas tangannya untuk masuk ke dalam mobil lalu melambaikan tangan. Dalam hati berharap agar Jeon Jonas tidak mengikutinya sampai Las Vegas.


Jeon Jonas hampir akan menyalakan mobil dan melihat wanita itu berangkat, namun janjinya pada wanita itu untuk tidak melakukannya membuat Jeon Jonas mendesah jengkel. Ia terdiam saat melihat Ben mendekat, Ben mengatakan kalau helikopter juga sudah siap, mereka bisa langsung terbang. Jeon Jonas hanya mengangguk.


Di Incheon airport, Maggie sesekali melihat ke belakang lalu menatap Lalisa yang hanya berjalan lurus ke depan.


“Dia benar-benar tidak datang?” tanyanya.


“Tidak, kenapa?”


“Kau menerimanya lagi?”


“Ya, aku sadar kalau aku masih mencintainya.”


“Lalu Hans?”


“Paman Hans akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik.”


“Poor Hans, by the way Ava sempat meneleponku, katanya dia juga menghubungimu tapi mungkin kau terlalu sibuk dengan paman tercintamu jadi kau tidak menyadarinya.”


“Oh ya? Ava bilang apa?”


“Hanya menitipkan oleh-oleh, Lucas juga.”


“Begitu, aku sudah membeli banyak oleh-oleh, untuk mereka berdua, Paman Hans, Sani, Enna—”


“Enna? Pelayan di rumah Jeon Jonas? Kau berniat kembali ke rumah itu? meninggalkan Hans?”


“Aku belum tau pasti, tapi aku rindu Enna.” Maggie mengangguk.


“Jangan sampai menyakiti Hans, kau harus ingat kalau dia sangat baik padamu, kalau memang tidak bisa menerima perasaannya, ungkapkan dengan baik-baik.”


“Aku mengerti.”


***


Sani melompat-lompat saat melihat Melissa di depan pintu, ia menjerit senang lalu menarik wanita itu duduk di sofa berlengan. Melissa dengan semangat menunjukkan oleh-oleh yang ia bawa lalu memberikannya pada Sani.


“Ini sogokan, kau sengaja membeli barang yang aku suka supaya aku tidak kesal, kan?” Melissa terkekeh.


“Mungkin.”


Sani mendengkus lalu menyentuh hidung Melissa dengan jari telunjuknya. “Dasar curang.”


Kemudian Hans muncul dengan pakaian rapi dan kaca mata, ia merentangkan tangan meminta Melissa memeluknya. Melissa terkekeh lalu mendekap Hans dengan erat.


“I miss you, sweety.”


“I miss Uncle too.” Hans mencium lama pipinya lalu mengacak rambut Melissa dengan gemas.


“Dia baru mandi tadi pagi karena tau kau pulang, kemarin-kemarin dia bahkan tidak keluar dari kamar,” celetuk Sani.


Hans mengerucutkan bibir. “Sani..”


“Aku punya hadiah untuk Paman.”


“Oh ya? Padahal melihatmu saja sudah hadiah.”


Melissa memberikan dua paper bag, Hans melihat benda sebentar lalu memeluknya karena tidak cukup tertarik.


“Paman tidak suka?”


“Suka, tapi lebih menyukaimu.”


Sani mendecak. “Seperti anak-anak saja.”


Hans mendengkus kesal, ia menggoyang-goyang tangannya, terlalu gemas dengan Melissa yang bergeming saja di pelukannya.


“Hans, aku juga ingin memeluk Melissa, nanti saja giliranmu,” decak Sani.


“No, I want to hold her longer, there's no time for you, Sani.”


Melissa tertawa kecil lalu melepas pelukan Hans hanya untuk memeluk mereka berdua sekaligus.


“Aku ingin mengajakmu berjalan-jalan besok, kuharap kau beristirahat yang cukup, aku akan meyenangkanmu seharian,” ucap Hans.


“Ke mana?”


“Tempat yang menyenangkan, tanpa Sani tentunya.”


Sani mendengkus kesal lalu mencibir.


“Baiklah, kalau begitu aku akan ke kamarku untuk mandi dan beristirahat.”


Sani dan Hans mengangguk bersamaan. Melissa membawa tasnya ke dalam kamar lalu menutup pintu.


“Ya ampun dia sangat cantik, kapan kau akan menikahinya?” tanya Sani.


“Secepatnya, kami akan membuat banyak anak jadi kau akan punya teman bermain dan tidak punya waktu untuk mengganggu kami.”


“Dia terlalu sempurna untukmu.”


Hans mendecih. “Tapi hanya dia yang cocok untukku.”


Sani memutar bola matanya. “Ya, Tuan tampan!”


***


Ketika sepi melanda, Hans diam-diam masuk ke kamar Melissa untuk memastikan wanita itu sudah tidur. Ia duduk di pinggiran ranjang, mengusap rambutnya yang panjang dan berhenti di wajah untuk dibelai. Ia merasa dirinya beruntung karena berhasil mendapatkan Melissa, dan meski belum tahu isi hati wanita itu, Hans yakin kalau Melissa juga sayang padanya.


Ia bangkit keluar dari kamar, baru saja akan mengistirahatkan dirinya di kamar miliknya, ponselnya berdering. Hans merasa jantungnya berdetak cukup keras, nomor ini tidak diketahui siapapun kecuali Sani dan Melissa. Alih-alih mengabaikan, Hans menerimanya.


“Hans.” Matanya melotot, ia tahu suara ini. Ini Ben.


“Aku tau kau mendengarku.”


“Anda salah sambung,” sahut Hans mengubah suaranya menjadi lebih berat.


“Aku mengambil nomormu dari ponsel Melissa, jangan berpura-pura."


“Kau bertemu dengan Melissa?!"


“Bos juga.”


“Sial!!”


“Kembalikan Melissa pada Bos.”


Hans tertawa sinis. “Dalam mimpimu, Ben. Aku akan menikahi Melissa.”


“Kau akan hancur kalau Bos mengetahuinya.”


“Melissa milikku, aku menjaganya selama ini.”


“Kau menculiknya, Hans.”


“Tidak, dia bersedia ikut bersamaku. Jeon Jonas meninggalkannya sendirian!”


“Kau tau apa yang terjadi sebenarnya, Hans. Kembalikan Melissa atau kau akan menerima akibatnya.”


“Kau juga menyukainya Ben! Kenapa kau seperti ini?”


“Melissa tidak mencintaimu Hans, dia mencintai Bos, jangan memaksakan kehendakmu.”


“Melissa akan mencintaiku, jangan ikut campur Ben, kau pengecut tapi aku tidak.”


“Kau mau aku memberitahu semuanya pada Bos? Kalau kau masih hidup? Kalau kau mengirim mayat palsu? Kalau kau mengancam Enna dan memanipulasi rekaman CCTV, kalau kau—”


“SHUT FU*KING UP A*SH*LE!!”


“Kembalikan Melissa maka semuanya akan baik-baik saja.”


Hans mengakhiri panggilan dengan geraman amarah. Ia memblokir nomor Ben lalu melempar ponselnya asal. Ben pikir ia siapa menyuruh Hans untuk melepaskan Melissa yang sudah ia jaga bertahun-tahun? Melissa mungkin belum mencintainya, tapi Hans yakin waktu akan membuat mereka saling menerima.


Jeon Jonas bisa mencari wanita lain yang bisa dijadikan kekasih, tapi jangan sampai Melissa. Melissa miliknya.


***


Melissa keluar dari kamar dengan baju lengan pendek dan celana denim, tas kecil tergantung di atas pundaknya, kali ini ia tidak perlu memasang garter atau menyimpan pisau, ada Hans yang bisa melindunginya.


“Hans sedang menerima telepon,” ucap Sani dengan senyuman.


“Aku sempat melihatnya membawa satu kotak kecil,” bisik Sani.


“Kotak kecil?” Sani mengangguk lalu tersenyum-senyum.


“Ya ampun, aku ingin kembali muda.” Wanita paruh baya itu terkikik lalu berjalan menuju ruangannya. Bertepatan dengan itu Hans muncul, pria itu memakai kaca mata, memakai kemeja warna cerah dan celana denim yang keren.


“Hi, sweet.” Hans menyimpan ponsel yang sepertinya berbeda dari sebelumnya lalu menyunggingkan senyum manis pada Melissa.


“Rambut Paman sudah sangat panjang,” sahut Melissa. Hans menaikkan bahu.


“But you like it, right?” Melissa mengangguk.


“Paman cocok dengan rambut panjang.”


“Oh, thank you.”


“Jadi, ke mana kita akan pergi?”


“Ayo, kau akan segera melihatnya.”


Mereka masuk ke dalam mobil, sesekali Hans akan tersenyum dan meremas lembut tangan Melissa seperti yang dilakukan Jeon Jonas pada malam itu. Oh sial, Jeon Jonas memenuhi otaknya!


Pada menit berikutnya, mobil Hans berbelok pada taman yang begitu sepi. Ketika mereka turun, Hans tidak bisa menahan senyum saat Melissa melihat dekorasi yang ia buat. Jauh-jauh hari Hans sudah menyewa taman, membayar orang untuk mempercantiknya lalu mendekorasinya menjadi seperti lukisan. Ada ribuan helaian bunga yang ditabur di jalanan yang mereka injak, Melissa bahkan harus memilih sedikit tanah kosong yang tidak ditaburi bunga cantik itu. Hans terkekeh lalu mengacak rambutnya.


“Kau bisa menginjaknya,” ucapnya tersenyum geli.


Ada tirai-tirai yang akan terbang jika angin berhembus sedikit kencang, lalu tempat duduk khusus berwarna merah muda, meja senada dan bunga tinggi di setiap sisi. Melissa terkejut saat melihat kotak berbentuk hati di atas meja, ia menatap Hans sementara pria itu hanya mengedipkan sebelah mata menggodanya.


“Paman, ini—”


Hans meraih tangannya, mengecup jemarinya yang putih lalu menatapnya intens, Melissa tidak tahu harus bagaimana, Hans yang suka bergurau lebih mudah ia hadapi daripada Hans yang sekarang terkekeh karena mendapati rona merah di wajahnya.


“You're sweeter than sugar, sweeter than honey. And i like you more than all the sweet things in the world..”


“I love you Melissa, will you marry me?”


Melissa mengerjap lambat. “A—aku—”


Hans membelai tangannya lembut seolah itu bisa membuat Melissa tenang dan bisa melontarkan kalimat yang cukup lama menggantung di tenggorokan. Namun teriakan tiba-tia terdengar, Hans segera menarik Melissa untuk didekap erat.


“Lepaskan melissa!!”


Hans mengeratkan pelukannya, menatap Jeon Jonas yang berjalan nyaris menyerupai lari ke hadapannya, pria itu memegang pistol, menggeram marah dan banyak anak buah di belakangnya.


Pengecut! Hans bergumam rendah.


“Lepaskan melissa, ba*ingan!!”


Melissa mengangkat wajah saat tahu itu Jeon Jonas. Ia mendadak kebingungan, banyak pertanyaan yang melumuri pikirannya. Apa yang terjadi pada Hans dan Jeon Jonas yang selama ini saling mengayomi?


Namun sesaat matanya membelalak, terutama saat Jeon Jonas mengarahkan pistol tepat pada jantung Hans. Ketika pria itu akan menarik pelatuk. Melissa melindungi Hans dengan berdiri tepat di hadapan pria itu. Jeon Jonas mengetatkan rahang, matanya memerah gelap, terutama saat Melissa malah memeluk Hans dengan erat. Jeon Jonas berteriak keras, menarik pelatuk dan membebaskan satu peluru menancap cepat.


Sambil nunggu HOT GUY. Baca karyaku yang lain ya😊 update setiap hari😊