HOT GUY

HOT GUY
[3]



Jeon Jonas memantik rokok untuk dirinya sendiri. Menghembuskan asap rokok, ia lalu menoleh menatap Melissa yang tengah bicara berdua dengan Bibi Hazel. Dua puluh menit yang lalu, mereka sudah akan berangkat menuju kediaman Jeon Jonas, namun Melissa bertemu dengan Bibi Hazel untuk berpamitan. Bibi Hazel mengatakan agar Melissa jangan terlalu naif untuk menerima orang baru, apalagi mempercayai kata-kata yang sepenuhnya belum diketahui kebenarannya.


“Tapi paman itu mengetahui riwayat hidup orang tuaku,” ucap Melissa. Bibi Hazel menghela nafas, beberapa kali ia pernah bertemu dengan Jeon Jonas saat di bar. Bibi Hazel punya usaha kecil berupa restoran ayam goreng, dan jika dihitung sudah lebih dari sepuluh kali anak buah Jeon Jonas membeli ayam goreng dari restorannya dan meminta Bibi Hazel mengantar langsung ke bar.


“Bibi punya firasat kalau pria itu bukan orang baik Melissa..” Bibi Hazel melirik dari balik pintu, Jeon Jonas begitu tenang membolak-balik buku pelajaran Melissa yang akan dimasukkan ke dalam tas seraya menghisap rokok di tangan kanannya.


“Bagaimana kalau terjadi sesuatu? Bagaimana kalau ternyata mereka akan menjual organ tubuhmu? Tetaplah di sini sayang, Bibi akan menjagamu,” sambung Bibi Hazel dengan meremas pelan tangan gadis belia di hadapannya.


Jeon Jonas menginjak rokoknya, mulai jenuh dengan hasutan wanita tua yang membuatnya jengkel. Jeon Jonas berdiri, beranjak mendekati Melissa dan menatap datar Bibi Hazel.


“Pinky, sudah selesai?” tanyanya.


“Dia akan tetap di sini, Melissa tidak akan ke mana-mana.” Jeon Jonas tersenyum singkat mendengar penuturan Bibi Hazel.


“Dia akan kubawa, orang tuanya memberiku tanggung jawab. Melissa dititipkan padaku.” Bibi Hazel menggeleng tidak percaya. Ia akan berbicara namun dengan cepat Jeon Jonas menyela.


“Kau menahannya tinggal di rumah ini tanpa tahu kalau gadis ini hampir diperkosa. Kau tidak pernah menjaganya wanita tua! Dia sendiri!” tekan Jeon Jonas menatap tajam Bibi Hazel. Melissa mendongak, sadar bahwa ternyata pria yang mengaku pamannya itu tahu kejadian semalam.


“Melissa, apakah itu benar?” Bibi Hazel bertanya dengan ekspresi terkejut sekaligus panik. Melihat Melissa mengangguk, Bibi Hazel membuang nafas frustrasi.


“Oh ya Tuhan,” gumamnya.


Jeon Jonas mengusap kepala Melissa dengan lembut lalu mengulum senyum.


“Kita pergi?” Melissa menoleh pada Bibi Hazel.


“Aku belum yakin kalau Melissa benar-benar dititip orang tuanya padamu, tapi mendapat pengakuan bahwa gadis ini hampir celaka membuatku sadar bahwa aku memang lalai menjaganya. Dia membutuhkan tempat yang aman. Kuharap kau bisa menjaganya dengan baik.” Melissa mengusap wajahnya, air matanya luruh mendengar kekhawatiran Bibi Hazel.


“Bibi..” Bibi Hazel mengangguk.


“Pergilah sayang..”


“Ayo Pinky..” Melissa menarik nafas, lalu menghambur ke pelukan Bibi Hazel.


“Aku menyayangi Bibi..” Bibi Hazel tersenyum lebar lantas mengecup puncak kepala Melissa dengan sayang.


Jeon Jonas membuka pintu, merangkul pinggang Melissa berjalan keluar bersamanya. Anak buah yang tadinya berada di dalam mobil segera keluar untuk memberi hormat. Membuka pintu, Jeon Jonas menyuruh Melissa masuk ke dalam mobil lalu ikut duduk di sampingnya.


“Bawa barang-barangnya,” perintah Jeon Jonas.


“Baik Bos!” Melissa menatap Jeon Jonas lalu para anak buahnya yang masuk ke dalam rumah.


“Ada apa Pinky?” Jeon Jonas mengerti gadis itu masih menyimpan rasa bingung di dalam dirinya.


“Mereka semua bekerja untuk Paman?” Jeon Jonas mengangguk. Sebelum Melissa bertanya lebih jauh mengenai pekerjaannya, Jeon Jonas segera menyuruh supir untuk melajukan mobil. Melissa memandang wajah Jeon Jonas dengan lekat. Tidak bisa ia pungkiri kalau pria itu punya paras yang sangat rupawan. Satu hal yang ia syukuri, bahwa ternyata ia mempunyai paman setampan Jeon Jonas.


Jeon Jonas mendesah pelan merasakan jantungnya tidak bekerja dengan baik akhir-akhir ini. Apalagi saat mengetahui Melissa ternyata sangat suka memandangi wajahnya.


‘Sialan, aku ingin menelannya.’


Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya memasuki wilayah Jeon Jonas. Gerbang pertama untuk melalui taman hijau, kemudian gerbang kedua untuk menyambungkan jalan menuju rumah utama. Melissa terpaku ketika melihat bangunan tinggi di depannya. Begitu besar dan luas, ini seperti bangunan yang ia tulis di karyanya, bedanya ini nyata, bukan fantasinya saja.


Keterpakuannya berhenti saat pintu mobil dibuka, seorang pria tua mengenakan baju khas pelayan mengulurkan tangan untuk membawanya turun. Melissa tersenyum kaku, lalu menurunkan kakinya menyentuh tanah. Ia kemudian mendekati Jeon Jonas yang juga mengulurkan tangan untuk membawanya masuk ke dalam rumah.


Melissa terperangah ketika puluhan maid berdiri memberi mereka hormat dan ucapan selamat datang. Melissa menatap mereka satu persatu, berjalan di antara barisan para maid itu membuatnya gugup, namun kegugupannya secepatnya hilang ketika merasakan sebuah tangan membelai punggungnya dengan hangat.


“Pinky, kau sangat menggemaskan,” tutur Jeon Jonas dengan senyum lebarnya. Tanpa aba-aba Jeon Jonas memberi kecupan di pipi Melissa, membuat gadis itu terkesiap sekaligus malu sebab mereka masih berada di depan pelayan-pelayan Jeon Jonas.


“Paman..” Melissa merasa wajahnya akan terbakar. Menurut Melissa, antara keponakan dan paman tidak seharusnya melakukan itu.


“Ya sayang, kemari..kita akan ke kamarmu,” sahut Jeon Jonas menarik Melissa masuk ke dalam lift yang tersedia di sana.


Sampai di tempat yang mereka tuju, Jeon Jonas segera membuka pintu putih yang dijadikan sebagai kamar gadisnya.


“Ini kamarmu..” Belum cukup dengan keterperangahannya tadi, Melissa terperangah lagi saat melihat kamar yang menjadi miliknya. Semuanya berwarna merah muda. Mulai dari dinding, tempat tidur, seprai, bantal dan semua perabotan yang ada di sana. Melissa menutup mulut, merasa senang melihat keindahan di depannya.


“Kau suka, Pinky?” Melissa menoleh lalu mengangguk dengan cara yang sangat menggemaskan bagi Jeon Jonas.


“Paman, aku sangat menyukainya,” tutur Melissa dengan mata yang sepenuhnya berbinar senang.


Jeon Jonas terkekeh, lantas memeluk tubuh Melissa dengan hangat. Jeon Jonas mengerang saat mencium aroma stroberi dari tubuh Melissa. Mengikuti godaan tubuhnya, Jeon Jonas mendekatkan hidungnya mengendus leher jenjang Melissa lalu menempelkan bibirnya di sana.


“Paman..” panggil Melissa merasakan sesuatu yang aneh di lehernya. Jeon Jonas ditampar oleh kesadarannya. Ia menjauhkan kepala, lalu mengusap rambut Melissa. Berlama-lama berada di satu ruangan dengan gadis itu akan membuatnya tidak bisa menahan nafsu lelakinya.


“Aku membeli banyak baju untukmu, sudah disusun di dalam lemari, jadi mandilah..kita akan makan malam bersama.”


“Bagaimana dengan barang-barangku?”


“Barang-barangmu sudah ditaruh di kamar lain. Barang yang benar-benar penting akan segera dibawa ke sini.” Melissa mengangguk paham. Selanjutnya Jeon Jonas keluar, lalu masuk ke dalam kamarnya.


Di dalam kamar, Jeon Jonas mengusap wajahnya. Ini gila. Hanya karena seorang gadis, ia rela berbohong agar gadis itu tinggal bersamanya. Hanya karena seorang gadis, ia juga rela menghabiskan waktu dan uang untuk membuat gadis itu merasa senang karenanya.


🌷🌷


Melissa membuka lemari tinggi berpintu merah muda di depannya. Isi dalam lemari itu sebagian besar adalah gaun yang dipastikan mahal harganya, lalu ada juga pakaian santai yang akan ia kenakan jika di dalam rumah. Melissa menarik sepasang baju dengan warna kesukaannya, lalu memakainya dengan cepat.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, waktu yang tepat untuk makan malam. Ia segera beranjak keluar mengingat Jeon Jonas pasti sudah menunggunya di ruang makan.


“Selamat malam, Nona..” Melissa berhenti saat seorang wanita paruh baya masuk ke dalam kamarnya.


“Tuan Jeon, menyuruh kami untuk mengantar makan malam ini,” lanjutnya. Kemudian empat pelayan lainnya masuk dengan beberapa makanan di tangan mereka.


“Paman bagaimana? Tadi Paman menyuruhku turun untuk makan bersama,” balas Melissa.


“Tuan sudah pergi Nona. Kami diperintahkan untuk memastikan Nona sudah makan malam,” sahut wanita paruh baya itu sembari tersenyum.


“Baiklah, terimakasih..” Wanita yang dipastikan kepala pelayan itu segera menyuruh pelayan lainnya untuk meletakkan makanan itu di atas meja.


“Silahkan dinikmati Nona..” Melissa mengangguk. Para pelayan itu akan pergi, namun berhenti ketika Melissa memanggil kembali.


“Bagaimana dengan yang lainnya?”


“Maksud Nona?”


“Maksudku anggota keluarga lainnya..”


“Tidak ada Nona, sebelumnya kami hanya melayani Tuan Jeon, tidak ada anggota keluarga yang lain..”


“Apa dia yatim piatu juga?”


“Tuan Jeon punya keluarga, tapi tidak tinggal di sini. Mereka ada di Florida..”


“Nona bisa memanggil saya Enna..”


“Terimakasih..” Enna mengulum senyum lalu bergerak mundur untuk keluar dari kamar Melissa.


🌷🌷


Di dalam kasino miliknya, Jeon Jonas menyeringai mengetahui kemenangan berpihak padanya. Dua gadis berbadan seksi yang duduk bermanja-manja di sampingnya bersorak melihat kemenangan pada permainan blackjack yang mereka mainkan.


“Tuan sangat hebat,” puji gadis-gadis itu.


“Bos,” panggil Hans. Jeon Jonas mendongak, menginstruksikan Hans agar melanjutkan ucapannya.


“Bernard dan anak buahnya membuat keributan di bar kita.” Jeon Jonas menghela nafas, ia sudah cukup sabar menghadapi Bernard. Jeon Jonas berdiri, lalu merapikan pakaiannya.


“Bawa aku ke sana,” perintahnya.


“Baik Bos.”


Sesampainya di dalam bar yang baru ia buka di Henderson, Jeon Jonas dikejutkan dengan teriakan pengunjung yang melihat kekerasan di sana. Anak buah Bernard melakukan pemukulan terhadap anak buah Jeon Jonas, berani sekali.


Bernard yang tadinya duduk santai sembari meneguk wiski di tangan kanannya segera berdiri setelah melihat Jeon Jonas dan beberapa anak buahnya berjalan mendekat.


“Jeon Jonas..” ucapnya lalu berdiri tepat di depan Jeon Jonas.


“Apa yang kau lakukan di tempatku?” tanya Jeon Jonas dengan mimik datar di wajahnya.


Bernard terkekeh, lalu menyuruh anak buahnya memberi rokok yang sudah dinyalakan. Dengan berani Bernard meniup wajah Jeon Jonas dengan asap dari mulutnya.


“Beraninya kau!” sergah Hans melempar bungkus kacang ke wajah Bernard. Brian yang sama statusnya seperti Hans-tangan kanan Bernard, segera menonjok wajah Hans dengan brutal.


“Brian cukup,” ucap Bernard dengan tenang.


Brian yang masih geram dengan Hans tetap melanjutkan aksinya. Bernard menatap Jeon Jonas yang tetap bergeming, namun menyeringai melihat aksi pemukulan pada anak buahnya.


“KUBILANG CUKUP ********!!” hardik Bernard meninju rahang Brian dengan keras.


“Kau tidak menyekolahkan anak buahmu Bernard..” Pernyataan itu membuat Bernard tersenyum hambar. Ia bergeming dan tetap diam saat Jeon Jonas mulai menyentuh rahang Brian, lebih tepatnya menekan rahang Brian hingga berbunyi seperti retakan tulang.


Bernard meludah lalu terkekeh.


“Aku bertanya padamu, apa yang kau lakukan di sini ********! Kau sudah menggangguku sejak lama Bernard, dan aku tetap diam. Apa yang kau inginkan? Apa kau menjadi miskin hingga membutuhkan perhatian dariku?” Bernard membuang rokoknya lalu menatap Jeon Jonas dengan tajam.


“Anak buahmu berhutang padaku.” Jeon Jonas melirik Jose-anak buahnya yang pucat karena habis dipukuli. Jeon Jonas menebak, bukan dengan tangan. Tapi memakai benda. Kepala Jose mengeluarkan darah segar.


“Saya tidak meminjam apapun pada mereka Bos,” ucap Jose dengan tersengal-sengal.


“Ah ya? Berarti aku yang salah, bukan kau ternyata,” sahut Bernard dengan mimik bersalah yang dibuat-buat.


Jeon Jonas menggeram. Kesakitan anak buahnya tak bisa ia lihat, anak buah merupakan keluarga untuknya. Dengan emosi yang membara, Jeon Jonas kemudian menonjok kepala Bernard hingga pria itu bergeser ke samping. Bernard tidak merasa sakit, malah tertawa lalu menjilat bibirnya.


“Aku punya kesabaran Bernard, kau ingat itu!”


“Bos,” panggil Brian. Bernard menyeringai lalu berjalan melalui Jeon Jonas.


“Kita pergi, ini belum saatnya, lain kali aku akan memotong kepalamu Jeon Jonas,” kata Bernard. Jeon Jonas mengetatkan rahang. Ia cukup dewasa untuk tidak bertindak kekanak-kanakan seperti Bernard.


🌷🌷


Melissa menutup telinganya kuat-kuat, suara hujan disertai petir selalu membuatnya takut. Melissa menutup mata, di sini tidak ada Bibi Hazel yang akan berlari padanya saat hujan turun. Bibi Hazel tahu Melissa punya ketakutan dengan petir dan hujan deras. Dan hanya wanita tua itu yang akan menjaganya saat ketakutan itu kembali.


Melissa menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Tubuhnya mengigil dan berkeringat. Gumamam berupa panggilan untuk ibu dan ayahnya selalu ia serukan, namun tidak ada yang berubah. Tidak ada satupun yang datang saat ia membutuhkan perlindungan.


Melissa semakin mengeratkan selimutnya saat petir kembali datang. Ruangan yang temaram dan sepi membuat pelayan-pelayan yang sebenarnya masih berjaga tidak mengetahui jika Melissa membutuhkan mereka.


Sampai pada akhirnya, suara deru mobil yang memasuki pekarangan rumah, membuat pelayan-pelayan itu bergerak cepat menyambut kedatangan Tuannya.


“Enna, siapkan air hangat,” instruksinya.


“Baik Tuan.”


Jeon Jonas sudah akan memasuki kamarnya, namun ketika mengingat ternyata ada orang baru di rumah, ia menghentikan niatnya. Ia kemudian beranjak lantas mendorong pintu putih di depannya.


Dia sudah tidur.


Namun gerakan gelisah di bawah selimut membuatnya sadar jika gadis itu ternyata belum tidur.


Jeon Jonas mendekat, menarik selimut pelan dan seketika terperanjat saat mendengar isakan pilu gadisnya.


“Pinky..”


Jeon Jonas panik. Menyalakan lampu tidur, ia akhirnya melihat wajah pucat Melissa dengan keringat dingin di seluruh tubuhnya.


“Pinky.. sayang.. hei..” Jeon Jonas membawa tangannya menyentuh kening Melissa, lalu bergegas ke dapur untuk membawa air dan kain kompres.


Pelayan-pelayan yang berada di sana, hanya bisa bertanya-tanya sekaligus bingung harus melakukan apa, takut-takut mereka akan disalahkan karena tidak dapat membantu.


Jeon Jonas menyalakan lampu kamar, lalu menyibak selimut itu hingga batas pinggang Melissa. Ia lantas meletakkan kain yang sudah dicelupkan ke air dingin menuju kening gadisnya. Ia berlari ke kamarnya, mencari kotak obat persediaannya, lalu menyuapkannya langsung pada Melissa.


Tidak lama kemudian, Jeon Jonas tidak lagi mendengar gumaman gadisnya. Nafas gadis itu perlahan tenang dan telah nyaman dalam tidurnya.


“Kenapa kau sangat sering sakit sayang?”


Jeon Jonas mengusap wajah Melissa dengan lembut lalu memberi kecupan singkat.


“Maaf, meninggalkanmu..” Jeon Jonas mengecup lagi lalu membawa tangannya membelai rambut Melissa dengan sayang.


Tatapan matanya tiba-tiba terfokus ke satu titik. Melissa sangat berkeringat, piama tidur satin berwarna putih yang ia kenakan benar-benar basah. Jeon Jonas perlu menggantinya.


Namun bukan itu yang menjadi fokus dari matanya. Jeon Jonas merasa tenggorokannya kering, ia menelan ludah berkali-kali. Gadis yang tengah terlelap itu ternyata tidak memakai bra hingga dengan jelas menampilkan puncak dada ranum miliknya.


Jeon Jonas merangkak semakin naik ke atas ranjang, jarinya ia bawa menelusuri garis dada milik gadis itu, lalu menekan puncaknya dengan pelan.


Oh ya Tuhan! Apa yang ia lakukan!


Jeon Jonas pria matang berusia 31 tahun itu menggila saat menatap tubuh mungil gadis belia berusia 18 tahun yang baru saja tinggal di kediamannya.


Terkutuklah Jeon Jonas jika menuruti nafsu binatangnya.


Terkutuklah Jeon Jonas jika melecehkan gadis lemah itu malam ini.