HOT GUY

HOT GUY
[8]



Vote for next part


Jeon Jonas menggertakkan gigi-giginya, matanya menghunus tajam ke depan. Ia melihat Hans yang nampak kaku dan menegang di tempatnya, bagaimana bisa Melissa justru lebih memilih memeluk pria lain dibanding dirinya, Jeon Jonas murka.


Jeon Jonas merasa nafasnya telah memburu, ia menatap gadis belia itu masih saja mengetatkan lingkaran tangannya di tubuh Hans. Tak sanggup melihat adegan itu Jeon Jonas seketika mendekat dan mendorong tubuh Hans agar menjauh namun Melissa tak mau berpisah, gadis itu mengikuti ke mana Hans pergi.


Jeon Jonas mencoba menahan emosi, ia kemudian menarik Melissa, menyuruh gadis itu agar dekat dan mendekapnya lebih erat dari dekapannya pada Hans. Namun Melissa menggeleng, ia tidak mau.


“Kenapa Hans bisa memelukmu sedangkan aku tidak?” tanyanya dengan wajah cukup frustrasi.


“Aku menyayangi Paman Hans.” Melissa menjawab dengan nada yang polos.


“Lalu aku?”


“Tidak.”


Jeon Jonas membelalak. Jawaban tidak dari Melissa mengubah segalanya. Ia menatap Hans datar kemudian mengangkat Melissa ke gendongannya.


“Paman!” Melissa berteriak, memukuli pundak Jeon Jonas agar menurunkannya. Jeon Jonas sangat emosi sehingga segera memasukkan tubuh Melissa ke dalam mobil. Ia memasang seatbelt dengan cepat agar gadis itu tidak melarikan diri, menutup pintu lalu masuk dari pintu lainnya.


“Paman, aku akan berangkat sekolah dengan Jack.”


“Berani bergerak, kau akan menerima hukumanmu Pinky ,” ucap Jeon Jonas tatkala melihat Melissa hendak membuka seatbeltnya. Melissa segera mengurungkan niat untuk keluar dari dalam mobil, ia melipat tangan di depan dada lalu memasang wajah kesal.


“Yang jadi pamanmu itu aku, bukan Hans. Dan yang punya hak untuk menyentuhmu seharusnya aku. Kau jahat jika memeluk pria lain di depanku.”


Jeon Jonas bahkan tidak sadar jika kata-kata itu justru terdengar seperti seorang kekasih yang marah kepada wanitanya yang kedapatan berselingkuh.


Melissa tidak menyahut, ia seolah menulikan pendengarannya atas semua yang dikatakan Jeon Jonas. Jeon Jonas mendesah kasar lalu melajukan mobilnya untuk mengantar Melissa ke sekolah. Ia membawa mobil dengan cepat, untung saja jalanan cukup lenggang hari ini, sebab Jeon Jonas tidak akan segan menabrakkan mobilnya jika ada yang berani menghalangi jalan.


“Paman ini terlalu kencang.” Melissa berujar dengan gemetar.


Jeon Jonas menoleh sekilas lalu menginjak rem secara tiba-tiba.


“Mau memelukku atau tidak?” Melissa menoleh mendengar kalimat itu, kemudian menengok dari jendela, teman sekolahnya terlihat bergegas memasuki gerbang.


“Aku tidak akan menunggu Pinky, aku akan membawamu berkeliling jika kau tidak menjawab.”


“Aku akan terlambat.”


“Jadi kau lebih memilih berkeliling?”


“Tidak, aku ingin sekolah.”


“Well..” Jeon Jonas tersenyum miring, menunggu gadis itu mengalah dan jatuh ke pelukannya. Sesaat kemudian Melissa mendekatkan badan, meski dalam keadaan terpaksa, ia kemudian membawa tubuhnya untuk mendekap Jeon Jonas.


“Good Pinky. Good. Inilah yang seharusnya kau lakukan padaku.” Jeon Jonas memuji sembari memberi kecupan singkat di rambut Melissa.


“Aku bisa turun sekarang?” tanya Melissa seraya mendongakkan kepala.


“Ya. Tentu Pinky.” Jeon Jonas mengusap wajah Melissa sejenak lalu membantu gadis itu membukakan seatbelt.


“Selamat belajar.” Dan seperti anak kecil yang telah diberi kemauannya, Jeon Jonas terkekeh senang meski Melissa telah turun dan memasuki sekolah.


***


Di saat Melissa akan sampai dan masuk ke dalam kelasnya, sebuah suara yang ia yakini adalah Rosie terdengar dari belakang. Gadis itu berpakaian serupa dirinya, bedanya Rosie memiliki rok yang lebih pendek dan berambut blonde.


“Kenapa kau bisa ada di sini?” tanya Melissa.


“Aku bebas ke mana saja,” sahut Rosie enteng.


“Kau menyamar jadi murid Faith Lutheran sekarang?”


“Bisa dibilang begitu, tapi aku akan mengawasimu dari jarak jauh, seragam ini hanya sebagai pengalih agar orang-orang tidak curiga padaku. Bagaimana? Apa aku masih cocok mengenakan seragam?” celoteh Rosie.


Melissa memperhatikan Rosie dari atas ke bawah, apapun pakaiannya penampilan gadis itu memang sangat menarik. Akan lebih cocok jika profesinya sebagai seorang model.


Melissa mengangguk lalu Rosie tersenyum senang.


“Itu artinya aku masih terlihat muda,” ucapnya bangga.


“Kau tau? Umurku bahkan hampir 30 tahun, tapi seperti yang kau bilang aku memang awet muda.” Melissa memutar bola matanya jengah, lalu memilih masuk ke dalam kelas.


“Hei, aku belum selesai bicara..” Rosie akan mengikuti Melissa masuk ke dalam namun bel telah berbunyi, pertanda Rosie tidak punya peluang untuk mengajak gadis itu bicara.


“Morning, Melissa.” Ava menyapa dengan ramah.


“Oh hi, good morning.” Melissa menyapa kembali.


“Melissa, aku lupa menanyakan nomor ponselmu. Untuk kerja kelompok nanti, atau kau punya akun instagram or something else?” tanya Bobby.


“Aku akan memberikan nomor ponselku saja,” ucap Melissa segera menarik ponsel untuk memberikan nomornya pada Bobby.


“Oke, terimakasih.” Melissa menjawab dengan anggukan.


“Di mana kita mengerjakan tugas kelompoknya?” tanya Maggie yang baru saja kembali dari toilet.


“Aku tidak masalah jika itu di rumahku,” sahut Ava.


“Adikmu terlalu berisik Ava, kau tau itu akan mengganggu konsentrasi kita,” celetuk Lucas.


“Dan kau akan bilang jika rumahmu nyaman? Mulut kakakmu bahkan lebih berisik daripada mulut beo,” ucap Ava.


“Well, dan akhirnya terjadi lagi. Mereka memang selalu seperti ini,” bisik Maggie. Melissa tersenyum geli.


“Baiklah, rumahku memang tidak cukup luas, tapi aku yakin kita bisa mengerjakannya dengan baik di sana, bagaimana menurut kalian?” tanya Bobby.


“Aku setuju,” sahut Maggie. Melissa ikut mengangguk. Giliran Lucas dan Ava untuk kemudian berdehem pelan.


“Jadi kalian sudah selesai?” Mereka berlima cukup terkejut ketika mendengar suara Mrs. Jazy di depan. Murid lainnya terkekeh pelan sembari melirik mereka.


“Oh, shit.” Bobby mengumpat pelan.


“Berdiri di luar kelas, angkat kedua tangan ke atas, kalian mengerti? Tidak boleh membahas pelajaran lain di kelasku!”


Mereka berlima tidak punya keberanian untuk menyahut, kemarahan Mrs. Jazy memang paling menyeramkan. Mereka berdiri di luar, mengangkat kedua tangan lalu mendesah pelan.


“Yang berani menurunkan tangan, akan dihukum membersihkan toilet,” ancam Mrs. Jazy.


“Terserahmu saja, wanita tua,” desis Ava.


Melissa ikut mendesah, ia menyipitkan mata saat melihat Rosie di ujung lorong. Rosie terlihat menggelengkan kepala, tak menyangka jika Melissa akan mendapat hukuman.


***


“Hans, Bos menyuruhmu segera datang ke markas,” ucap salah satu anak buah Jeon Jonas. Hans meneguk salivanya sendiri, sejak tadi sebenarnya ia memilih tetap berdiam di rumah milik Jeon Jonas, namun nyatanya Jeon Jonas berada di markas. Hans yakin dirinya akan mendapat pelajaran yang cukup keras, apalagi jika tempatnya adalah markas, banyak alat yang bisa Jeon Jonas pakai untuk meremukkan tubuhnya.


Hans bergegas masuk ke dalam mobil, menyetir dengan kecepatan maksimal, lalu sampai setelah lima belas menit di perjalanan.


Setelah turun dari mobil, ia segera disambut oleh kedua pria berwajah sangar yang berjaga di depan pintu. Kedua pria itu tersenyum miring seolah menambah kesan menyeramkan untuk Hans dapatkan.


Hans mendorong pintu, melalui lorong lalu mendorong pintu lainnya. Ia melihat Jeon Jonas tengah memukuli samsak yang berada di depannya. Jeon Jonas tidak sendiri, ia ditemani dua anak buah lainnya yang ikut naik ke ring. Namun bedanya Jeon Jonas bertelanjang dada sedangkan kedua pria itu mengenakan jas hitam lengkap.


“Bos, Hans sudah datang,” bisik pria itu pada Jeon Jonas.


Jeon Jonas turun dari ring lalu duduk di kursi. Ia mengulurkan tangan, mengisyaratkan anak buahnya itu memberikan air.


“Bos, ada yang bisa saya bantu?” tanya Hans berdiri tegap di hadapan Jeon Jonas.


Jeon Jonas meneguk habis air mineral di dalam botol, lalu membiarkan anak buahnya itu membersihkan keringat yang membasahi leher dan sebagian wajahnya.


“Kau terlihat baik,” ujar Jeon Jonas sembari tersenyum tipis. Dan anehnya itu adalah pertanda buruk untuk Hans.


Semua orang yang dekat dengan Jeon Jonas tahu jika pria itu bukanlah orang sembarangan, pria itu berbeda dari orang lain, ia punya kendali, kekuatan dan kemenangan. Jeon Jonas punya segalanya untuk bertahan hidup, bahkan ia mempunyai banyak harta untuk membayar nyawa seseorang.


Hans yakin nyawanya begitu mudah melayang jika Jeon Jonas sudah memutuskan, namun yang ia lihat sekarang adalah, Jeon Jonas kembali mengikat tangannya sendiri dengan kain, lalu memutar kepalanya untuk peregangan.


“Naik ke atas,” perintah Jeon Jonas. Hans menghembuskan nafas guna menguatkan diri sendiri lalu masuk ke dalam ring bersama Jeon Jonas.


“Kita akan berlatih, kau bebas memukulku..”


“Tapi Bos, saya..” Satu tendangan keras melayang ke dada Hans.


“Kesalahan pertama. Kau lengah,” ucap Jeon Jonas. Hans memegangi dadanya lalu mempersiapkan posisi yang tepat untuk mengimbangi serangan dari Jeon Jonas.


Jeon Jonas mulai menyerang lebih dulu, ia memberi pukulan di rahang Hans namun Hans menangkis dengan cepat.


“Well..” Jeon Jonas tersenyum miring. Jeon Jonas tahu Hans adalah orang yang cukup kuat, pria itu ahli bela diri dan karena kekuatannya tersebut, Jeon Jonas membawanya ke dalam kelompok.


“Apa yang kau lakukan bersama Melissa saat aku tidak ada?”


Kini Hans paham, Jeon Jonas tidak bermaksud untuk berlatih. Jeon Jonas benar-benar memberinya pelajaran karena telah menyentuh Melissa. Bedanya, Hans diijinkan untuk membalas atau menolak, tidak secara langsung dijadikan sebagai samsak.


“Tidak ada Bos.” Tangan Jeon Jonas melayang, dan detik berikutnya Hans terhuyung ke belakang karena tinjuan keras di perut.


“Kesalahan kedua, kau tidak fokus.” Jeon Jonas meneguk air mineral lalu membuangnya sembarang.


Hans bergerak lalu berdiri dengan posisi tangan dikepalkan di depan. Ia mulai menyerang duluan dan serangannya tepat memukul kepala Jeon Jonas.


Jeon Jonas tertawa besar. Ia kemudian menaikkan kaki hingga kaki kanannya menendang rahang kokoh Hans. Hans terbatuk dan mengeluarkan darah dari gigitan tak sengaja antara gigi dan kulit mulut.


Mereka kembali saling menyerang, bahkan kedua anak buah Jeon Jonas yang lain kebingungan karena latihan itu cukup menyerupai sungguhan. Pukulan demi pukulan melayang, seahli apapun Hans dalam bela diri, pukulan Jeon Jonas tak dapat ia imbangi, pria itu gesit dan tangkas.


Jeon Jonas tak berhenti memberi pukulan di rahang dan kepala Hans, sehingga Hans terhuyung dan jatuh ke lantai.


“Kesalahan ketiga, kau menyentuh milikku.”