
Jeon Jonas baru saja selesai bermain poker saat tiba-tiba pikirannya mengingatkan untuk mengunjungi Melissa ke sekolah. Namun beberapa wanita yang mengaguminya seolah tidak ingin pria itu pergi.
“Tuan, ayo main lagi.” Seorang wanita kemudian membagikan kartu.
Jeon Jonas mengusap dagu, menarik kartu lalu membaliknya, digenggamannya selalu ada kartu yang luar biasa bagus.
“Ini membosankan.” Jeon Jonas lantas berdiri untuk beranjak pergi dari kasino miliknya, para wanita itu seketika mengeluh lalu berpaling menggoda pemuda kaya yang lain.
***
Jeon Jonas meraba pergelangan tangannya untuk melihat jam kala sekolah Melissa belum juga membunyikan bel pulang.
“Jam berapa mereka selesai?” Jeon Jonas kembali menyandarkan punggungnya di kursi mobil.
“Sebentar lagi Tuan, biasanya ini waktunya mereka pulang sekolah,” sahut Jack.
Dan yang dikatakan Jack memang benar, para murid berhamburan keluar setelah bel pulang berbunyi.
Jeon Jonas merapikan jas lalu akan membuka pintu untuk keluar sampai akhirnya matanya mendapati Melissa tengah berbicara dengan pemuda lain, bukan ketiga teman yang pernah diberitahukan gadis itu.
Melissa terlihat tersenyum canggung ketika pemuda itu memujinya dengan terus terang, dan Jeon Jonas tahu jika dirinya sedang akan memiliki saingan, ia begitu paham bagaimana pemuda itu menatap gadisnya dengan tatapan suka.
“Aku menemukan ceritamu di blog, dan aku menyukainya.” Pemuda itu berujar dengan senyuman khas miliknya.
“Terimakasih.”
“Aku Jeongin.”
“Namamu terdengar asing, maksudku-”
“Aku dari Korea.” Joengin menyela lalu terkekeh.
“Oh ya, bisa aku panggil Kyle, supaya kita terlihat dekat.”
“Namanya Melissa.” Jeon Jonas mendekat lantas merangkul pinggang Melissa dengan posesif. “Melissa Kyle,” tekan pria itu sekali lagi, menjelaskan bahwa hanya ia yang dapat memanggil gadis itu dengan sebutan lain.
Jeongin mendongak untuk menatap tubuh Jeon Jonas yang lebih tinggi darinya.
“Selamat siang Paman,” sapa Jeongin ramah.
“Kau bukan keponakanku.” Gurat wajah Jeon Jonas masih sedatar sebelumnya, parahnya kali ini matanya juga seolah mengirimkan aura permusuhan.
Senyuman Jeongin kian memudar, hanya ada kerutan di dahi yang menjelaskan bahwa hawa sekitarnya menjadi lebih canggung. Sampai akhirnya suara Melissa terdengar mengalun lembut.
“Jeongin, ini Paman Jeon.”
“Aku melarang Melissa untuk dekat dengan pemuda asing sepertimu,” lanjut Jeon Jonas semakin menampakkan ketidaksukaannya.
“Saya hanya ingin berteman-”
“Lebih baik tidak pernah memulai daripada melibatkan rasa sakit pada akhirnya.” Jeon Jonas mengakhiri dengan kata-kata yang lumayan singkat namun dapat membuat Jeongin harus mundur pelan-pelan.
Melissa kemudian dibawa ke dalam mobil, gadis itu menoleh menatap pamannya yang nampak tegang, tidak seperti biasanya. Ada aura yang lain di wajah pria itu. Melissa bahkan khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak pernah ia duga jika saja ia membela Jeongin saat itu.
Jeon Jonas duduk di samping setelah menutup pintu, ia menatap Jeongin dari dalam, pemuda itu terlihat bergeming di tempatnya berdiri. Untuk pertama kalinya Jeon Jonas menyesali perbuatannya menyekolahkan Melissa di Faith Lutheran, bersosialisasi dengan banyak pria, berteman bahkan dengan pikiran gilanya ia meyakini bahwa pasti ada yang terobesi dengan gadis rupawan itu sama seperti dirinya.
Demi Tuhan, terkutuklah Jeongin karena pria itu adalah alasan pertama kalinya, mengapa Jeon Jonas merasa takut melepas gadisnya di lingkungan luas seperti ini.
“Paman..”
Melissa memanggil dengan suara pelan.
“Paman tidak menyukai Jeongin?”
“Kau harus membatasi pertemananmu Pinky, tidak semua orang bisa dijadikan teman. Terutama pemuda bermata sipit itu.”
“Dia terlihat baik.”
“Orang yang terlihat baik di luar belum tentu baik di dalam, kau tidak pernah tahu apa yang mereka pikirkan, you get it little one?”
“Aku mengerti.”
“Now, I need a hug.” Melissa gelagapan ketika pria itu mengikis jarak dan membawanya ke dalam sebuah pelukan.
“Kau merasakannya Pinky? My heart beats very fast, it's because of you, always because of you.”
***
“Paman sudah tahu mengenai kebakaran di tempat kerjaku?” Jeon Jonas menggeser duduknya lantas menggeleng.
“Kebakaran?” Melissa mengangguk.
“Jadi kau tidak akan bekerja lagi? Bukankah itu bagus? Kau akan lebih berkonsentrasi dengan pelajaranmu.” Melissa menghela nafas.
“Aku masih merasa semuanya seperti sebuah misteri.”
“Well baby. Semuanya sudah terjadi.” Jeon Jonas menaruh jemarinya mengusap dagu Melissa, lantas menyapukan kelima jari itu di setiap sisi wajah gadis itu.
“Aku ingin melihat tempat kerja Paman.” Sapuan jemari Jeon Jonas berhenti.
“Kenapa kau penasaran?”
“Aku ingin tahu apa yang Paman lakukan selama bekerja, apa itu sedikit merepotkan?”
Masih dengan pemikiran yang bingung dan gelagapan saat gadis itu meminta ala puppy eyes, Jeon Jonas kemudian mengangguk.
“Kita akan ke sana,” jawabnya. Melissa menyunggingkan senyum senang lalu reflex memberikan pelukan terimakasih.
Mobil itu berbelok ke jalan lain saat Jeon Jonas mengintruksikan agar Jack membawa mereka ke gedung miliknya. Sesampainya di sana, sekitar enam orang berpakaian serba hitam segera memberi hormat dan mempersilahkan Jeon Jonas masuk ke dalam.
Melissa mengedarkan penglihatannya mengamati segala yang ada di sana, baik furnitur, cat dinding berwarna pekat, belasan pemuda lain lalu berakhir melihat Jeon Jonas yang tersenyum manis padanya.
Pria itu membawanya ke markas kedua yang biasa dipakai untuk rapat atau semacam diskusi dengan anak buahnya. Jeon Jonas kadang menghabiskan waktu di sana untuk mengerjakan beberapa hal yang berhubungan dengan kebutuhan kasino dan bar miliknya. Markas ini sangat berbeda dengan markas utama, markas utama begitu detail mempertunjukkan puluhan alat tajam dan berbagai senjata yang dibeli dari luar negeri, markas utama juga sebagai perkumpulan semua anggota untuk berlatih dan menghabiskan waktu. Sedangkan markas kedua hanya untuk bagian formal yang diperuntukkan untuk pengiriman atau penerimaan barang dari luar negeri.
Pilihan yang tepat supaya gadis belia itu tidak curiga dan banyak bertanya.
“Aku pikir tempat kerja Paman akan seperti drama yang aku tonton, Paman bekerja sebagai apa?” Dan gadis itu telah memulai untuk bertanya.
“Aku bekerja di bagian yang paling tinggi, aku menyuruh orang untuk mengerjakan semuanya untukku.”
Lift terbuka, mereka berdua kemudian masuk, dan anak buah yang tadinya berjejer mengikuti dari belakang berpamitan dengan membungkukkan badan.
“Jadi itu kenapa mereka selalu mengikuti kita? Paman menyuruhnya untuk melakukan itu?”
“Semacam itu sayang.”
Lift terbuka, Melissa pikir ia akan bertemu dengan beberapa wanita atau setidaknya seorang wanita sebagai sekretaris atau karyawan di sana, namun tidak ada satupun. Bahkan ruangan yang mereka injak sekarang kosong dan hening seolah tidak pernah ditempati sebelumnya.
Pintu berlabelkan nama Jeon Jonas kemudian terlihat. Jeon Jonas menekan sebuah tombol lalu memindai wajahnya sebagai kata sandi.
“Ayo masuk.”
Melissa mengangguk lantas mengikut saja saat tangan Jeon Jonas melingkari pinggangnya dan membawanya masuk ke dalam.
Ruangan itu sama gelapnya seperti kamar tidur pria itu, Melissa bahkan curiga jika pamannya itu hanya mengenali warna hitam semasa hidupnya. Dipijakan pertama Jeon Jonas menepuk tangan dan lampu di sana kemudian menyala.
“Bagaimana?” Jeon Jonas duduk di kursi miliknya sedangkan Melissa duduk di sofa mewah berwarna raisin black di sebelah pria itu.
“Ini sangat berbeda dari yang aku bayangkan.” Jeon Jonas menyeringai.
“Aku tidak ingin sama seperti orang lain. Aku tidak mempekerjakan perempuan di sini, aku butuh pemuda yang bisa bekerja lebih cepat.”
“I mean the color.”
“Sama sepertimu yang sangat menyukai warna pink, aku menyukai warna hitam.”
“Kenapa hitam?”
“Hitam mencerminkan ketenangan dan dominasi,dan aku lebih nyaman jika memakai warna hitam, apa itu aneh?”
“Tidak, sama sekali tidak.”
“Oh terimakasih.”
***
Jeon Jonas meringis ketika melihat Melissa terlelap di sofa dengan posisi tidak nyaman, beberapa menit yang lalu tiba-tiba saja ada kabar dari Ben mengenai pendapatan kasino bulan ini, dan Jeon Jonas perlu meninjaunya dengan baik. Sialnya ia telah melupakan jika ada Melissa di sana.
Jeon Jonas memundurkan kursi lantas beranjak untuk memindahkan Melissa ke dalam kamar yang disediakan di sana.
“Mmm..” Gadis itu bergumam kala Jeon Jonas menggendongnya dengan posisi menumpukan bagian bawah di tangan pria itu.
“Ssstt..” Pria itu memberikan kecupan singkat di ujung telinga Melissa lalu merapatkan tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.
Sampai di depan tempat tidur, Jeon Jonas kemudian naik dan membaringkan gadis itu agar tidur dengan posisi yang nyaman.
Namun Melissa menganggapnya sebuah guling, gadis itu justru tak ingin memisahkan diri dan lebih merapatkan dirinya pada pria itu.
“Okay, okay.” Jeon Jonas membiarkan saja dirinya diperlakukan seperti bantal.
Dan..
“Oh tidak.” Pria itu mendesah ketika Melissa menaikkan kaki, menggulung tubuhnya dan memposisikan diri dengan cara yang salah, lutut gadis itu justru telah menyentuh bagian Jeon Jonas yang kini telah merasa sesak dan butuh ditenangkan.
Dengan pelan, ia mencoba mendorong kaki Melissa agar tidak berada di sana.
“Mmm..” Seolah tidak suka posisinya diganggu, Melissa menggumam dan mengerucutkan bibir.
“Well, honey.”
Pria itu memerah, memanfaatkan gadis yang masih terlelap ia kemudian mencumbu Melissa dengan hati-hati, dan dengan pikiran keparatnya ia kini telah memajukan kaki gadis itu agar semakin menempel di sana.
“Oh baiklah, ini menyenangkan.”
***
Saat petang, Melissa terbagun dengan wajah gelagapan. Hal yang ia dapati pertama adalah mata terang Jeon Jonas yang tengah memperhatikannya sejak tadi. Gadis itu mundur dengan panik lalu mengigit bibir karena gugup.
“Mimpi indah, Pinky?”
“Apa aku ketiduran?” Jeon Jonas mengangguk.
“Itu karena kau bosan, sekarang kita akan pulang. Kau juga belum mengisi perutmu.”
“Ini di mana?” Melissa mengamati ruangan berbeda yang tidak ia lihat saat pertama kali berkunjung.
“Ini kamar yang aku pakai jika aku perlu beristirahat.”
“Paman seharusnya membangunkanku.”
“Jangan berpikir kau merepotkanku Pinky, kau tidak pernah melakukannya.”
“Tapi itu benar.”
“Tidak, aku bahkan akan menggendongmu ke bawah jika kau tidak keberatan.”
Melissa justru terkekeh dan akhirnya menggeleng.
“Mereka akan menyebutku koala.”
***
Semua orang menyukai akhir pekan, begitu juga dengan Melissa yang kini berlari menuruni undakan untuk menyapa Enna yang tengah berlatih memasak menu baru.
“Selamat akhir pekan Enna,” sapanya.
“Nona terlihat sangat bersemangat pagi ini,” komentar Enna seraya menuangkan tepung ke dalam wadah baru.
“This is weekend.”
Enna terkekeh singkat.
“Tolong dicoba, ini pasti sedikit lebih manis.” Enna menyendokkan panekuk coklat buatannya lalu segera dicicipi Melissa yang kini tengah mengerutkan dahinya.
“Ya, benar. Ini sangat manis, kupikir ini karena coklatnya.”
“Ya, saya juga berpikiran sama.”
“Paman ada di mana?”
“Sepertinya sedang berenang dan Ben, atau Hans.” Enna berpikir sejenak. “Hans jika tidak salah,atau dua-duanya,” lanjutnya.
“Aku ingin berenang juga.”
“Nona hafal tempat baju renangnya?” Melissa mengangguk.
“Aku akan ke sana sendiri.” Enna tersenyum hangat lalu membiarkan Melissa beranjak menuju kolam renang.
Sesampainya di kolam renang, Melissa segera masuk ke ruang ganti lalu memilih pakaian renang yang akan ia pakai pagi ini.
Baju renang bertali mini di sekitaran dada menjadi pilihannya, Melissa melihat dirinya di pantulan kaca, baju renang kali ini entah mengapa seperti mencetak bagian dadanya, atau dadanya saja yang telah membesar.
Gadis itu kemudian keluar dan mendapati ketiga pria itu tengah berlomba sampai lebih awal ke ujung. Sampai akhirnya tatapan Ben jatuh pada Melissa, pria itu menatap datar dengan waktu yang lama lalu berkedip dan memberitahu Jeon Jonas jika ada Melissa di sana.
Melissa tidak tahu apa yang terjadi ketiga tatapan ketiga pria itu jatuh padanya lalu Hans dan Ben segera naik dan berniat mengganti pakaian.
“Paman Hans tidak berenang lagi?” Melissa bertanya dengan menghampiri Jeon Jonas yang berada di air sembari merentangkan tangan agar Melissa melompat padanya.
“Mereka sudah selesai Pinky, sekarang waktunya kita berdua.”
Melissa kemudian menurunkan tangan dan pada detik berikutnya ia telah berada di air bersama Jeon Jonas.
“Let’s swim..”
Jeon Jonas masuk lebih dulu ke dalam air lalu diikuti Melissa yang berenang di belakang.
Sekitar lima belas menit, berenang mereka kemudian berakhir. Melissa memunculkan kepala di permukaan begitu juga Jeon Jonas yang tengah menarik rambutnya ke belakang.
Why's he so hot?
Melissa tidak bisa memalingkan mata ketika melihat tubuh atas Jeon Jonas yang terlihat sangat keras dan berotot. Pasti sangat menyenangkan bisa menyentuhnya.
Melissa, Hei! Pikiranmu!
“Pinky..” Jeon Jonas menyeringai ketika melihat gadis itu gelagapan karena ketahuan menatapi tubuhnya.
“Apa yang kau pikirkan?” tanyanya mendekatkan diri pada Melissa.
Melissa menggeleng cepat dengan wajah seperti tomat rebus. Dan pria itu hanya bisa menahan tawa, tapi kemudian membawa tangan besarnya membelai wajah gadis itu.
“Jika ada waktu, aku ingin menyelam di laut.”
“Hah?”
“Aku ingin melihat ubur-ubur.” Melissa tersenyum lebar saat memikirkannya.
“Keinginanmu terwujud little one, kita akan ke sana setelah ini.”
“Paman serius?”
“Tentu saja.”
“Tapi kita perlu terbang beberapa jam agar kau bisa bertemu ribuan ubur-ubur,” sambung pria itu.
“Tidak masalah asalkan aku akan benar-benar bertemu dengan mereka.”
***
Dan Jeon Jonas memang benar-benar membawa sebuah helikopter untuk mengantar mereka berdua ke pulau yang membebaskan wisatawan menyelam bersama ubur-ubur. Melissa tercengang saat sampai di atas gedung dan menemukan helikopter berkapasitas empat penumpang itu menunggu mereka.
“Ready?”
Melissa menoleh dengan gurat wajah masih terkejut.
“Kita akan terbang.” Mendengar itu Melissa mengangguk sembari tersenyum. Selalu ada yang tidak ia duga dari pria satu itu.
Keduanya naik dan duduk di bangku belakang, seorang pria paruh baya yang bertugas sebagai pilot kemudian menyalakan helikopter dan bersiap membawa pasangan itu ke surga jellyfish.
“Sabuk pengamanmu Pinky.” Jeon Jonas telaten memasangkan sabuk pengaman Melissa lalu memakaikan headphone di telinga gadis itu.
“Ini untuk komunikasi dengan pilot,” jelas pria itu saat Melissa menatapnya tengah memakaikan headphone.
“Thank you.”
“Miss and Sir, sekali lagi, perhatikan keamanan terlebih dahulu, kita akan lepas landas.” Sang pilot berujar dari depan.
Detik berikutnya saat helikopter telah berhasil lepas landas, Melissa terlihat senang menikmati pemandangan darat dari atas. Matanya berbinar dan bergumam beberapa kali.
“Kau menyukainya?” Melissa menoleh dan mengangguk.
“Ini pertama kali dan ini sangat menyenangkan,” sahut gadis itu tersenyum lebar.
Senyum itu menular, bahkan Jeon Jonas telah tertawa dan menarik pipi gadis itu karena gemas.
Perlu menghabiskan banyak waktu di dalam helikopter, Melissa terlelap dan menumpukan kepalanya di bahu Jeon Jonas yang masih terjaga sejak awal penerbangan. Tak tega melihat gadisnya tidak nyaman, Jeon Jonas kemudian dengan mudah mengangkat Melissa dan membaringkan tubuh gadis itu di pangkuannya.
“Apa masih lama untuk sampai ke pulau itu Sir?”
“Dua jam lagi, Sir,” sahut sang pilot.
“Aku harap bisa sampai lebih cepat.”
“Saya usahakan, Sir.”
***
Mereka mendarat saat hari telah gelap, Jeon Jonas kemudian menggendong Melissa untuk turun dari helikopter. Pulau yang mereka kunjungi merupakan pulau yang tidak terlalu luas namun dikenali karena memiliki spesies ubur-ubur di danau bernama Eil Malk.
“Paman..”
“Hei, Pinky..”
“Kita akan menyelam sekarang?” Suara Melissa masih sangat parau, dan terlihat nyaman digendongan ala koala di tubuh Jeon Jonas.
“Tidak, kita akan melihat ubur-uburnya besok.”
“Sudah malam?” Jeon Jonas menjawab dengan gumaman dan memberi kecupan di pipi kanan gadis itu.
“Tidurlah, kita akan ke penginapan.”
Sesampainya di hotel bintang lima yang menjadi andalan utama para wisatawan, Jeon Jonas membaringkan tubuh Melissa ke atas tempat tidur, lalu menarik selimut berwarna biru untuk menutupi tubuh gadis itu.
“Sleep well, Pinky.”
***
Menggunakan speedboat yang dikemudikan oleh Jeon Jonas, keduanya terlihat panas di bawah cahaya matahari, Melissa dengan baju renang merah mudanya dan Jeon Jonas dengan pakaian renang pas tubuhnya. Ao cool.
“I like it,” teriak Melissa bersama terpaan angin yang bermain dengan kunciran rambutnya.
“I know baby.” Jeon Jonas tersenyum miring lalu menaikkan kaca mata hitamnya ke atas kepala ketika sampai di danau yang ingin mereka salami.
Di sana mereka segera disambut oleh orang yang berjaga di sana, Jeon Jonas menjelaskan bahwa mereka ingin menyelam dan melihat ubur-ubur. Pria asing itu kemudian menyarankan agar memakai peralatan berupa masker selam dan snorkel.
“Berpengalaman menyelam di laut atau danau sebelumnya?”
“Kami hanya akan selam permukaan,” sahut Jeon Jonas mengetahui jika Melissa belum pernah menyelam selain di kolam renang, jadi mereka hanya akan snorkeling.
Beberapa penjelasan diberikan oleh sang pria, ia menjelaskan bahwa ubur-ubur merupakan spesies yang harus dijaga, mereka juga harus hati-hati saat mengayunkan kaki atau menggerakkan tangan, karena sedikit gerakan bisa membahayakan beberapa jenis ubur-ubur yang sejatinya sangat lembut seperti jelly. Dan saat pria itu menawarkan untuk memandu di dalam air, Jeon Jonas menolak, ia butuh privasi dengan gadisnya.
Beberapa detik setelah penjelasan untuk menyelam di danau, keduanya kemudian masuk dan langsung mendapati ribuan ubur-ubur di dalam sana. Melissa menggumam senang di balik alat selamnya, dan dengan hati-hati memegang satu ubur-ubur kemudian diabadikan oleh Jeon Jonas dengan kamera.
Meski dihalangi oleh banyak ubur-ubur, Jeon Jonas dapat mengetahui jika mata gadis itu terlihat sangat berbinar ketika hewan air itu menempel di tubuhnya.
Jeon Jonas memotret dan memotret lagi. Hanya itu yang ia lakukan di dalam sana.
Baginya, kesenangan Melissa adalah yang utama.
Bagaimana gadis itu menyentuhkan pipi ke ubur-ubur lalu mundur ketika beberapa ubur-ubur yang lain ingin pindah ke posisi lain, Jeon Jonas merekam semuanya dengan tenang. Entah sejak kapan hanya dengan melihat adegan sederhana itu, ia justru merasa bahagia bukan main.
Lalu Melissa kemudian berhati-hati mengayunkan tangan agar Jeon Jonas lebih dekat padanya untuk menujukkan ubur-ubur paling besar di antara yang lain.
Jeon Jonas mengangguk lalu memotret ubur-ubur itu.
Hari itu, merupakan hari paling menyenangkan bagi keduanya. Mereka bahkan menghabiskan banyak waktu hanya untuk mengagumi spesies itu, atau Jeon Jonas yang sebenarnya lebih mengagumi keindahan Melissa saat asyik bermain dengan ubur-ubur.
***
Puas bermain dengan ubur-ubur, Jeon Jonas mengajak Melissa untuk berkeliling pulau dengan speedboat lalu menepi di pantai untuk bersantai. Baju yang mereka kenakan saat ini terkesan santai dan berbeda karena untuk kali ini Jeon Jonas memakai baju berwarna biru, biru tua. Pria itu suka yang gelap-gelap.
“Duduk di sini sebentar, aku akan membeli minuman dingin.”
Melissa mengangguk.
Ia menghembuskan nafas lega saat angin menerpa kulitnya.
Selanjutnya ia menoleh ketika mendengar suara beberapa gadis yang terlihat ingin menggoda pamannya.
Dan perasaan tidak suka kemudian menyerang bertubi-tubi. Meski Jeon Jonas tidak menanggapi dan malah pergi ke tempat lain agar tidak merasa terganggu, Melissa masih merasa panas di dadanya saat gadis-gadis itu masih berbisik satu sama lain untuk membicarakan ketampanan pamannya.
Sialan!
“Pinky, untukmu.” Jeon Jonas datang dengan membawa minuman kaleng.
“Aku tidak suka di sini.” Jeon Jonas yang tadinya meneguk minuman segera menoleh dengan kerutan dahi.
“Ingin berkunjung ke pantai lain?” Melissa menggeleng.
“Bisa kita pulang sekarang?”
Melissa menggigit bibir karena takut pria itu malah salah mengartikan ucapannya.
“Aku mengerti.”
***
Tidak ada yang tahu mengapa Jeon Jonas seolah ingin menerkam orang-orang di sana dengan tatapan marah. Setelah permintaan Melissa untuk kembali ke penginapan dan pria itu pergi untuk menerima telepon, gadis itu malah menghilang. Jika ini adalah Negara yang mereka tempati selama ini, maka cukup mudah untuk pria itu melacak keberadaan Melissa, apalagi banyak anak buah yang bisa ia andalkan untuk mencari gadis itu. Namun ini Negara lain, dan gadis itu tentu saja tidak mengerti apa-apa di sana.
Parahnya saat menelepon, gadis itu tidak menerima panggilannya.
Sementara di tempat lain, di taman yang cukup dekat dengan penginapan Melissa masih berpkir keras dengan yang ia rasakan saat ini. Perasaan yang semakin kuat dengan sendirinya saat ia dekat dengan Jeon Jonas.
Bukankah tidak wajar menyukai pria yang menganggap dirinya hanya sebatas keponakan?
Bukankah akan aneh jika gadis itu mengungkapkan perasaannya saat pria itu mungkin menyukai wanita lain yang tentunya dewasa dan lebih berpengalaman.
This is weird, isn't it?
Melissa, kau harusnya bersyukur pria itu mau menampung wanita buruk rupa sepertimu!
Seharunya kau tidak meminta lebih!
“Melissa!!”
Jeon Jonas muncul dengan wajah pucat karena takut.
Sedangkan gadis itu perlahan mundur dan mati-matian menahan air mata.
“Kau akan mendapat hukuman karena membuatku begini!”
Jeon Jonas segera meralat ucapannya saat melihat gadis itu berekspresi muram dan seperti akan menangis.
“Maksudku-”
“Aku menyukai Paman.” Air mata gadis itu luruh saat mengungkapkan perasaannya.
“W-what?”
“Aku jatuh cinta pada Paman.” Gadis itu semakin menekankan maksudnya.
“Aneh bukan? Aku tahu ini tidak wajar, tapi aku menyukai Paman.” Tangisan gadis itu menjadi kentara dan Jeon Jonas dengan hal yang paling tidak diduga kini telah mengangkat gadis itu, menggedongnya ala koala lalu memberikan ciuman panas untuk mengungkapkan bahwa ia juga mempunyai rasa yang sama.