
Melissa bangun setelah tidur dengan sangat nyenyak, ia merentangkan tangan lantas mengerjapkan mata mengamati kamar yang ia gunakan saat ini. Kamar bernuansa pink dan memiliki aroma madu khas dirinya. Ia bahkan tidak ingat kapan mereka kembali ke sini, ia kemudian menyibak selimut dan seketika panik ketika menerima panggilan dari Ava.
“Kau tidak masuk?”
Ini senin?
“Ya Tuhan, aku baru bangun,” sahut Melissa menggerakkan kakinya cepat-cepat namun tetap berada di tempat karena masih terhubung dengan Ava.
“Siap-siap bodoh. Ini hampir bel.”
Ava segera mengakhiri telepon, melegakan Melissa karena akhirnya ia langsung menyambar handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Melissa segera menyalakan pancuran dan membasahi tubuhnya dengan air, masih di bawah shower ia kemudian menarik pasta gigi untuk dioleskan ke rambut. Merasa aneh dengan tekstur di kulit jemarinya, Melissa segera menarik tangan dan merutuki dirinya sendiri karena mengangap pasta gigi sebagai shampoo. Terburu-buru memang semakin memperburuk suasana.
Setelah membasuh rambut dan mengoleskan shampoo, ia kemudian mematikan pancuran untuk menggosok gigi di depan cermin.
“Nona, anda di dalam?” Suara Enna terdengar dari luar.
“Aku sedang mandi.”
“Segera turun ke bawah untuk sarapan.”
“Baik Enna.”
Selesai mandi dan mengenakan seragam, Melissa bergegas turun ke lantai bawah untuk sarapan, tidak lupa segera menarik tas dan ponselnya.
“Good morning Pinky.” Melissa sedikit terkejut ketika menemukan Jeon Jonas tengah memotong daging di atas piringnya. Pria itu mengenakan setelan jas yang rapi, bukan penampilan yang biasa lihat karena pagi ini pria itu terlihat begitu tegap dan berkharisma.
Melissa duduk dengan tenang lalu berterima kasih saat Enna menaruh makanan lainnya di meja makan.
“Tidak ada ucapan selamat pagi juga untukku?”
Melissa yang tadinya akan mengoleskan selai ke roti bakarnya, segera berhenti dan menatap pria itu sejenak.
“Good morning Uncle.”
Jeon Jonas tersenyum kecil lalu mengunyah daging di mulutnya seraya memperhatikan aktivitas Melissa menumpuk satu roti ke roti lainnya.
Gadis itu nampak terburu-buru mengunyah sarapannya, bahkan saat ini ia telah tersedak karena menelan tidak dengan perlahan.
Melissa segera menerima air dari tangan Jeon Jonas dan terbatuk lagi karena pria itu tiba-tiba sudah berada di sampingnya.
“Pelan-pelan Pinky, apa yang membuatmu tergesa-gesa?”
“Paman aku sudah terlambat,” keluh Melissa sudah akan berdiri untuk mengajak Jack berangkat bersamanya.
Namun Jeon Jonas segera menariknya agar duduk kembali, bukan di tempat sebelumnya, melainkan di atas pangkuan pria itu.
“Paman..” Melissa mengerucutkan bibir karena kesal.
“Netralkan nafasmu, kau tidak perlu tergesa-gesa seperti itu.”
“Tapi ini sudah hampir masuk.”
“Apanya?”
“Aku terlambat.” Melissa semakin kesal dan menggerutu karena pria itu justru memegangi kedua tangannya.
“Paman..” Melissa merengek agar dilepaskan.
“Okay, berikan ciuman perpisahan.”
Melissa menggeleng, masih dengan ekspresi kesalnya.
“Oh begitu?” Jeon Jonas tidak ingin mengalah, pria itu bahkan semakin merapatkan tangannya untuk membungkus pinggul Melissa.
Karena tidak ada pilihan lain dan waktunya memang sudah mepet, Melissa akhirnya memberi ciuman di kedua pipi pria itu dengan cemberut.
“Good girl.” Jeon Jonas tersenyum lalu mengecup bibir gadis itu sebanyak dua kali.
Enna yang bekerja di dapur tersenyum geli karena Jeon Jonas ternyata bisa bertingkah kekanak-kanakan jika berada di dekat Melissa.
***
Sekolah terdengar gaduh karena sudah memasuki jam istirahat, Lisa dan keempat temannya duduk di bangku kantin lalu melakukan aktivitas biasanya ketika bersama. Bergosip ria dan menceloteh panjang, apalagi jika Lucas dan Ava sudah bergabung dalam satu meja. Sensasinya pecah.
“Jadi kau naik helikopter untuk pertama kalinya dan berenang dengan ubur-ubur?” tanya Maggie.
Melissa mengangguk sembari menjilati sisa yogurt di gelasnya. Perhatian Lucas dan Bobby sekilas telah melingkupi aktivitas lidah gadis itu.
“MATA!” sergah Ava segera mengintrupsi keduanya hingga menjadi gugup dan melihat serempak padanya.
“Paman tuamu itu punya banyak uang?” lanjut Ava.
“Yang pernah bicara denganku waktu itu bukan?” tanya Lucas.
“Yang mana? aku belum pernah melihatnya?” sambung Ava.
“Ya, itu Paman Jeon,” sahut Melissa menanggapi komentar Lucas.
“Dia kaya raya?” tanya Ava lagi.
“Pastinya, mobil yang sering mengantar jemput Melissa saja sangat mahal, astaga kalian tidak pernah perhatikan?” lanjut Maggie.
“Kenapa kita harus membahas Paman Melissa?” tanya Bobby.
“Kau punya gossip baru?” sambung Ava.
“Ya sudah, kita cerita mengenai Paman Melissa saja, Pamannya punya helikopter bodoh, bayangkan saja!” seru Ava.
“Jadi kalian hanya berdua? Istrinya bagaimana?” ujar Maggie.
“Paman belum menikah.”
“Umurnya berapa? Kalau belum menikah sampai sekarang berarti pamanmu tidak laku, suruh saja menikah sebelum jadi bujang lapuk,” celoteh Ava.
“Tidak, Paman Jeon tidak boleh menikah,” komentar Melissa.
“Kenapa? Dia kelainan?” tanya Lucas.
“Tidak, Paman tidak boleh menikah dulu,” jawab Melissa.
“Dia jelek?” tambah Ava.
“Paman Jeon tampan,” sanggah Melissa cepat.
“Rasanya aku ingin punya Paman seperti Paman Melissa juga, itu pasti sangat menyenangkan,” sambung Maggie.
***
Setelah bercerita panjang di kantin sekolah dan mereka akan masuk ke dalam kelas, kelima remaja itu dikejutkan dengan banyaknya gadis dari kelas lain di depan kelas mereka. Dan yang menarik perhatian Melissa adalah kemunculan Jeon Jonas yang berdiri tegap dan sedikit risih dengan teriakan gadis-gadis remaja itu.
“Pinky.” Pria itu seketika menarik senyum ketika melihat gadisnya berada di sana.
“Dia melihatku astaga,” ucap Ava mengguncang lengan Maggie.
“Bukan kau bodoh, dia melihat Melissa,” sahut Lucas.
Jeon Jonas melangkahkan kaki lantas segera mengecup dahi Melissa di depan semua orang, membuat heboh seluruh siswa di sana.
“Paman, ini sekolah,” ucap Melissa saat mengetahui semua tatapan mata berfokus padanya.
Alih-alih akan menurut dan memperhatikan keadaan sekitar, Jeon Jonas malah membawa bibirnya mengecup pipi kanan Melissa, dan seisi sekolah sudah menjerit dan berbisik-bisik.
“Paman!”
Jeon Jonas menahan tawa saat melihat wajah Melissa memerah sempurna.
“Aku ke sini untuk memastikan kau tidak dihukum karena terlambat.”
“Aku harus membersihkan lab sebelum pulang sekolah.”
“Tidak sayang, aku sudah menyuruh gurumu agar tidak menghukummu, sebagai gantinya aku sudah menyuruh anak buahku untuk membersihkan lab itu nanti.”
“Tapi yang dihukum itu aku.”
“Dan aku tidak ingin kau dihukum hanya karena masalah itu, satu-satunya yang berhak memberimu hukuman hanya aku.”
Seolah dunia hanya ditempati mereka berdua, dan tidak sadar bahwa semua mata masih menatapi, keduanya tetap bicara satu sama lain. Melissa dengan rona merahnya dan Jeon Jonas dengan senyum-senyumnya.
“Mr. Jeon, ini sudah jam masuk jam pelajaran.” Seorang guru perempuan datang dan mengintrupsi semua murid yang hanya memandang dua objek itu.
“Ah, Miss Dara. Saya hanya ingin menemui gadis ini.” Jeon Jonas menjawab sembari mengusap rambut Melissa dengan gemas.
“Tolong semuanya masuk ke dalam kelas masing-masing,” instruksi Miss Dara dengan tegas. Semua murid akhirnya masuk meski dengan gerutuan.
“Paman aku harus belajar,” ucap Melissa.
“Baiklah, aku akan menjemputmu nanti.”
Melissa mengangguk pelan lantas masuk ke dalam kelas.
“Mr. Jeon, ada yang bisa saya bantu, mungkin sebelum mengajar anak-anak saya akan membantu anda dulu,”ujar Miss Dara.
“Tidak perlu.”
Jeon Jonas menaruh kedua tangannya ke dalam saku lantas mengangkat kakinya dari depan kelas.
***
Sepulang sekolah, Melissa berjalan ke luar pagar setelah keempat temannya pamit untuk pulang terlebih dahulu sebab tahu Melissa akan dijemput oleh Jeon Jonas. Melissa sedikit kesal dengan pria itu, enteng saja pria itu menciumnya di depan umum, akibatnya banyak temannya yang bertanya hubungan apa ia dengan Jeon Jonas yang pada dasarnya jauh lebih dewasa darinya.
“Kau terlihat murung? Ada yang mengganggumu?” tanya Jeon Jonas setelah Melissa masuk ke dalam mobil dan duduk di sampingnya.
“Aku tidak ingin bicara dengan Paman dulu.”
“Kenapa?”
Melissa mendengkus kesal.
“Paman tidak boleh menciumku di depan kelas.”
“Kenapa?”
“Semua orang melihatnya.”
“Jadi kalau bukan di depan kelas boleh?”
“Tiidaakk..”
Jeon Jonas mati-matian menahan tawanya hanya karena gemas dengan kekesalan gadis belia itu. Tapi ia berusaha menutupi ekspresinya, gadis itu sedang marah jadi ia tidak boleh sampai tertawa.