
Vote vote vote
Hans menggeser pintu lalu menundukkan badan memberi hormat, di sana ia dapat melihat Jeon Jonas mengisyaratkannya untuk diam sebab Melissa ternyata tengah tidur pulas di pelukan pria itu, hidung dan pipinya memerah karena menangis dalam waktu yang lama, sementara bibirnya membengkak karena harus berbagi suplemen.
Hans memberi hormat lagi lantas memutuskan menunggu di luar.
“Kenapa langsung keluar?” tanya Ben saat menemukan Hans kembali duduk di hadapannya.
Hans memantik rokok lalu mengembuskan asapnya ke udara.
“Hans..”
Hans hanya melirik, sedikit malas menanggapi ucapan Ben kali ini.
“Maaf, ini rumah sakit. Tolong jangan merokok.” Seorang perawat menegur Hans dengan sopan tapi dibalas Hans dengan tatapan sengit.
“Aku butuh rokok!” serunya.
“Anda bisa merokok di luar.”
Dengan kesal Hans membuang rokoknya ke lantai lalu menginjaknya di depan mata perawat itu.
“Kenapa mendadak kesal?” ujar Ben bingung.
Hans tidak menyahut, ia memilih berdiri lalu beranjak untuk pergi keluar agar bisa merokok.
Di dalam ruangan khusus, seorang dokter dan perawat tengah membantu Jeon Jonas untuk melepaskan jarum infus dari pergelangan tangan pria itu. Jeon Jonas bersikeras untuk pulang, luka tembakan di tubuhnya bukanlah masalah besar, ia pernah terluka lebih parah sebelumnya. Apalagi saat ini ia memiliki Melissa, gadis itu menyimpan banyak kekhawatiran yang tidak di sukai Jeon Jonas, jadi pulang ke kediamannya adalah keputusan yang paling tepat.
“Tapi Paman belum sembuh,” ucap Melissa.
“Kau sudah memberiku suplemen terbaik, jadi tubuhku sudah bugar kembali.”
Melissa melirik dokter dan perawat, mereka berdua terlihat tersenyum tipis sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.
“Paman bisa berjalan?”
“Tentu sayang. Tapi sedikit susah, mungkin membutuhkan suplemen, tolong di sini.” Jeon Jonas menunjuk bibirnya dengan jari telunjuk, sedikit membungkukkan badan. Segera dimengerti Melissa dengan memberi ciuman di bibir ranum itu.
Pria itu merenggangkan otot, lalu tersenyum cerah.
“Wahh, aku bisa berjalan dengan baik sekarang.” Terkekeh pelan lalu mengecup dahi gadis itu dengan lembut.
Keluar dari ruangan, para anak buah Jeon Jonas serentak membungkuk memberi hormat dan memberi jalan. Sementara Melissa sedikit risih ketika semua mata anak buah Jeon Jonas mengarah padanya. Mereka melirik-lirik seperti menilai penampilan gadis itu dan memindai apa kelebihannya hingga Jeon Jonas bisa ditaklukkan. Tapi tidak berlangsung lama, semua mata itu segera menatap ke bawah tatkala Jeon Jonas menangkap mata mereka dengan tatapan tajam.
Sampai di depan pintu keluar rumah sakit, semuanya berjejer dan berlari pada badan mobil. Hans yang tadinya masih menikmati rokok segera berlari dan dengan sigap membukakan pintu untuk Jeon Jonas.
“Paman Hans!” Melissa senang akhirnya melihat Hans setelah waktu yang cukup lama.
Hans mengedipkan sebelah mata lalu menaikkan dagunya menyuruh Melissa masuk juga.
“Paman Hans tidak ikut?”
Hans memberi hormat saat berhadapan dengan mata tajam Jeon Jonas, tapi mengulum senyum pada Melissa ketika Jeon Jonas tidak melihat.
“Paman Hans tidak ikut pulang?” ulang Melissa ketika mobil mereka telah melaju ke depan sementara Hans dan anak buah yang lain masih di depan rumah sakit.
“Pinky please..” Jeon Jonas menangkup wajah gadis itu dengan tangannya. “Me, only me, okay?” Melissa mengangguk dan dibalas Jeon Jonas dengan memberi kecupan di dahi.
“Good.”
***
Di ruangannya, Jeon Jonas terlihat berdiri di depan dinding kaca memandangi pemandangan taman belakang kediamannya yang begitu indah dengan cahaya lampu hias yang hanya dihidupkan pada malam hari.
“Kelompok Mattow pasti sudah membuat rencana untuk penyerangan. Dari kejadian penembakan itu kita bisa menyimpulkan kalau mereka sedang mengintai kita sekarang,” ucap Hans yang berdiri di belakang pria itu.
Jeon Jonas menyesap minuman dalam gelasnya lalu memandang kembali pemandangan di luar.
“Kita bahas ini lain kali, aku ingin keluar,” ucapnya tanpa membalikkan badan.
“Jika benar mereka melakukan pengintaian maka Bos harus membiarkan Melissa sendirian. Kelompok Mattow bisa saja memanfaatkan Melissa sebagai umpan.”
“Kita bahas ini lain kali Hans!”
Hans terdiam sesaat tapi akhirnya menundukkan badan seperti biasa meski Jeon Jonas tidak melihat, ia melangkah mundur lalu membuka pintu untuk pergi dari sana.
Seperginya Hans, Jeon Jonas keluar juga untuk berkunjung ke kamar gadisnya yang saat ini tertutup rapat.
“Pinky..” Jeon Jonas memanggil sembari mengetuk pintu.
Tidak ada sahutan dari dalam. Ia akhirnya membuka pintu dan menemukan kamar dengan keadaan kosong.
“Pinky?”
Sampai akhirnya tawa gadis itu terdengar di lantai bawah, Jeon Jonas memantau dari atas, ternyata Melissa tengah belajar memasak puding dengan Enna.
“Jadi posisiku sedang membelakanginya, aku sendiri saat itu, tidak ada orang di rumah. Aku memasak seperti biasa lalu menari-nari, tiba-tiba dia datang dan mengejutkanku dari belakang, aku menarik sendok lalu memukuli kepalanya kuat-kuat. ‘Aww ya Tuhan Enna, kau berencana melubangi kepalaku’ aku tau itu dia, aku tetap memukuli kepalanya sambil tertawa,” cerita Enna sembari terkekeh panjang.
“Jadi akhirnya dia melamarmu saat itu?” tanya Melissa tenggelam dalam cerita masa lalu Enna.
“Ya, dia melamarku. Aku pura-pura kesal tapi akhirnya menerimanya. Ah itu sudah sangat lama.”
“Cerita yang menyenangkan huh?” intrupsi Jeon Jonas yang rupanya sudah mendengarkan sejak tadi.
“T-Tuan.” Enna tergagap, pasalnya ia bicara dengan informal pada Melissa.
Jeon Jonas bersandar di dinding dengan tangan di saku celana.
“Pinky, tertarik makan malam di luar?”
“Tapi Enna sudah memasak,” sahut Melissa seraya menatap Enna.
“Tidak apa Nona,” ujar Enna mengedipkan sebelah matanya.
“Aku tunggu lima menit untuk mengganti pakaian.” Jeon Jonas duduk di kursi makan sembari mengetuk-ngetuk jam tangan. Memberitahu Melissa bahwa ia tidak sedang ingin menerima penolakan.
Mengetahui waktu cepat berlalu, Melissa segera bergegas menaiki tangga lalu masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya dengan yang lebih anggun.
Lebih dari lima menit karena Melissa kesusahan untuk memilih baju yang harus ia kenakan, sampai akhirnya suara Jeon Jonas sudah terdengar di ujung pintu kamarnya, beruntung saat itu Melissa sudah selesai berpakaian, hanya perlu mengoleskan sedikit pelembab bibir dan selesai.
“Gorgeous..”
Melissa tersenyum tipis lalu memasukkan tangannya ke lengkungan tangan kanan Jeon Jonas yang berada di pinggang.
***
Jeon Jonas mengajak Melissa ke sebuah restoran mahal yang belum pernah di injak gadis itu sebelumnya, Melissa sedikit terperangah karena kagum dengan desain gedung, tidak memiliki banyak warna tapi begitu elegan dan menawan. Begitu berada di dalam seorang pelayan tersenyum dan membawa mereka ke sebuah tempat duduk khusus yang sudah dipesan Jeon Jonas sebelumnya. Mereka duduk saling berhadapan, begitu romantis dengan tambahan musik jazz yang dimainkan di depan.
Melissa melihat isi buku menu, banyak jenis makanan yang menggunakan bahasa italia dan tentunya belum pernah dicicipi gadis itu sebelumnya.
“Sudah menentukan pilihanmu?”
“Semuanya terlihat enak,” sahut gadis itu lalu meletakkan buku menu.
“Well then. Bawakan semua makanan terbaik di restoran ini,” ucap Jeon Jonas pada pelayan.
“Baik Tuan.”
Di bawah lampu hias restoran, Melissa terlihat bercahaya meski bernampilan seadanya. Gaun merah muda v neck sebatas lutut itu ternyata begitu cocok untuknya, Jeon Jonas memang tidak pernah salah dalam memilih pakaian.
Ketika semua pesanan dihidangkan, mata gadis itu berbinar terang, tapi saat Jeon Jonas mendorong semua makanan padanya, gadis itu mengernyit.
“Paman tidak mau?”
“Semuanya untukmu Pinky.”
“Hah?”
Jeon Jonas terkekeh geli, ia mengangkat gelasnya yang diisi dengan wine.
“Aku cukup dengan ini.”
“Aku tidak yakin bisa menghabiskan ini,” keluh Melissa masih menatap Jeon Jonas.
“Nikmati saja.”
Sampai akhirnya Melissa mengingat bahwa pria itu hanya akan memakan masakan yang ia buat sendiri, gadis itu menghela napas. Seharusnya tidak perlu makan malam di restoran jika pria itu tidak ikut makan.
Melissa mengangkat garpu dan pisau untuk memotong steak, mengunyahnya perlahan lalu mendongak untuk kemudian menemukan Jeon Jonas sedang memperhatikannya lurus-lurus. Pria itu tersenyum tipis, senyum yang tidak ingin diartikan gadis itu dengan makna lain. Mengenyahkan pikirannya, Melissa mengunyah makanan lain lalu menelannya pelan. Sedikit susah dan salah tingkah ketika pria itu selalu menatapnya, rasanya Melissa ingin menarik kursinya agar berpindah ke belakang.
“*Don’t shy..”
“I’m not*.”
“Itu bagus.”
Jeon Jonas menarik sendok yang harusnya ia pakai lalu menusuk iga bakar menu favorit setiap pelanggan, ia berikan pada Melissa. Gadis itu membuka mulut lalu menerimanya dengan sedikit kerutan di dahi.
“Lada hitamnya sangat terasa.”
Jeon Jonas mengangguk, lalu membawa sendoknya untuk menusuk makanan lain. Diberikan lagi pada Melissa.
“Eww, jahe..” Melissa dengan cepat menenguk air putih lalu mengerutkan dahi dengan cara menggemaskan.
“That’s cute,” kekeh Jeon Jonas lalu pindah duduk di samping Melissa, hanya untuk merasakan bibir gadis itu.
“Ya, ini jahe,” gumamnya.
Melissa bergeming dengan wajah merona. Bisa-bisanya Jeon Jonas melakukan itu padanya!
“*You shy..”
“No, I’m not*!”
Jeon Jonas terkekeh geli.
***
Pagi ini Melissa berangkat sekolah tidak bersama Jeon Jonas. Dua puluh menit yang lalu gadis itu berkunjung ke kamarnya dan tidak biasanya pria itu masih tidur pulas dengan gulungan selimut seperti kedinginan. Jadi Melissa memutuskan pergi dan mengajak Jack untuk berangkat bersama.
Hal yang tidak ketahui Melissa jika sebenarnya pria itu sudah bangun bahkan sebelum jam enam pagi. Perkataan Hans malam itu terngiang di kepalanya. Hans benar mengenai Melissa yang bisa saja dijadikan sebagai umpan sebab gadis itu terlalu gampang dipengaruhi dan begitu naïf untuk mempercayai orang lain.
Bernard dan kelompoknya sudah memata-matai sejak lama dan bisa dipastikan kecerobohan Jeon Jonas adalah bagian yang paling ia nantikan selama pengintaian.
“Selamat pagi Bos!” Ben masuk ke kamar dengan jas hitamnya.
Jeon Jonas menyibak selimutnya lalu menurunkan kaki untuk membuka laci yang berisi beberapa jenis rokok.
Ia memantiknya lalu menghembuskan asap seraya menatap Ben yang berdiri dengan kepala tertunduk tepat di hadapannya.
“Apa yang kau temukan?” tanyanya.
“Bernard dan anak buahnya berada di pelabuhan, mereka menerima banyak senjata dari Dubai. Orang Vietnam mengajak kelompok Mattow untuk berdagang dan menginginkan mereka sebagai distributor narkoba ke Tiongkok.”
“Tiongkok?”
“Ya Bos. Polisi sedang memeriksa dengan ketat di Vietnam jadi mereka membutuhkan narkobanya untuk dikirim ke Tingkok. Mr. Leuw ketua besar dari pihak Vietnam akan menerimanya di sana.”
“Mereka masih di pelabuhan Bos.”
Jeon Jonas menekan puntung rokokya lalu memperhatikan dirinya di cermin.
“Aku dan Hans akan mengunjungi Bernard, jadi kau kutugaskan untuk melindungi Melissa selama aku tidak ada. Mereka akan berkumpul ketika aku datang ke sana.”
“Baik Bos.”
***
Sepulang sekolah Melissa menunggu jemputan seperti biasa, sudah lama menunggu, beruntung ada Ava dan Lucas setia menemaninya sampai jemputannya tiba.
“Kenapa kau marah saat aku menanyakan paman Melissa?” gerutu Ava menatap tajam mata Lucas.
“Aku tidak marah, aku hanya mengingatkanmu kalau kau tidak pantas untuknya,” desis Lucas.
“Dia pantas untukku, aku cantik, aku juga berprestasi. Paman Melissa akan menyukaiku, bukan begitu Melissa?”
Melissa tersenyum tipis.
“Idiot! Tidak ada pria yang menyukaimu Ava, tidak satupun!”
Tanpa diduga Ava merengut kesal, ia menghentakkan kaki lalu mengusap matanya yang entah kenapa mengeluarkan air.
“A-aku bercanda,” gagap Lucas.
Melissa tahu Lucas menyimpan rasa istimewa pada Ava, itu sebabnya pria itu marah jika Ava terus-menerus membahas Jeon Jonas, beruntung ia mengetahuinya sejak awal jadi ia tidak perlu khawatir jika saja Ava terlalu bersikeras mengagumi Jeon Jonas. Lucas akan terus mengingatkan Ava jika tidak satupun pria di dunia ini yang menyukai gadis itu, maksud Lucas harusnya hanya Lucas yang bisa menyukainya.
Tin Tin.
Melissa menoleh ketika sebuah mobil berhenti di depan pagar sekolah. Ia membalikkan badan menatap kedua sahabatnya masih bertengkar kecil, ia pamit meski Lucas dan Ava tidak mendengarkan, lalu segera pergi untuk kemudian melihat wajah tegas Ben di dalam mobil.
“P-Paman Ben?”
“Masuk.”
Melissa menelan ludah lalu duduk di samping Ben.
“Kenapa Paman yang menjemputku?”
Ben menginjak pedal gas lalu diam sembari fokus menyetir. Pria itu masih sedingin pertama mereka bertemu, jika saja ini Hans maka suasana mobil akan sangat menyenangkan.
Melissa menekan tombol untuk membuka kaca, berniat mendinginkan kepalanya agar tidak terlalu gugup saat bersama pria itu.
“Tutup kacanya.”
Melissa menoleh, dan saat menemukan mata tajam Ben, ia segera menekan tombol untuk menutup kaca.
“Paman Ben, aku ingin membeli yogurt.”
Mobil dengan cepat berhenti tepat di depan mini market, Melissa sedikit kaget tapi saat melihat mini market ia langsung keluar.
Dengan langkah lebar Melissa masuk ke mini market untuk membeli beberapa yogurt kesukaannya, persediaan yang ia sediakan di kulkas sudah habis sejak tadi malam. Ia kemudian membayar lalu keluar dari sana dengan plastik putih besar.
“Hei, seragam kita sama.” Seorang pria yang diyakini Melissa sebagai salah satu murid Faith Lutheran berdiri lalu tersenyum padanya.
“Ayolah Fer, dia pasti masih kelas satu.” Dua orang yang duduk di belakang pria itu menyeringai saat bertatapan dengan Melissa.
“Yogurt ya? Lihat, dia membeli banyak yogurt.” Pria itu menarik plastik Melissa lalu menunjukkannya pada teman-temannya yang saat ini tertawa.
“Berikan!” Ben datang dengan topi hitam yang cukup menutupi bagian wajahnya, ia juga membawa topi hitam yang sama untuk kemudian ia pakaikan di kepala Melissa.
“Berikan itu!” ulangnya kini sedikit mendongak untuk menunjukkan mata elangnya.
Pria sebaya Melissa itu kemudian takut-takut menyerahkan plastik itu lalu kembali duduk dengan teman-temannya.
Ben menarik Melissa ke dalam mobil lalu duduk di bangku kemudi untuk melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
Melissa menoleh menatap Ben yang terlihat fokus menyetir, pria itu melepas topinya lalu melirik Melissa sekilas.
“Paman Ben.” Suara Melissa terdengar seperti cicitan karena takut, tapi dengan tekat kuat ia akhirnya melanjutkan. “Mau Yogurt?”
“Aku punya yogurt sendiri.”
***
Hari semakin sore, Jeon Jonas benar-benar mengunjungi Bernard, lebih tepatnya bertemu dengan pria itu di sebuah bar yang dimiliki Bernard. Kedatangannya ke sana mengundang banyak mata anak buah Bernard untuk menatap dengan sengit, apalagi Jeon Jonas hanya berdua dengan Hans, tanpa anak buah yang lain.
Saat ini Jeon Jonas dan Bernard sedang duduk berhadapan di sebuah ruangan khusus. Sementara Hans dan Brian saling berdiri di belakang Bos masing-masing.
Bernard meneguk bir lalu memandang Jeon Jonas dengan kekehen geli yang dipaksakan.
“Sudah lama aku tidak merasakan bir, ternyata rasanya tetap sama,” decak Bernard.
“Kenapa kau menembakku?” Tanpa ingin berbasa-basi Jeon Jonas segera menanyakan maksudnya.
“Kau ditembak? Serius?”
“Jangan berbasa-basi Bernard!”
Bernard kembali terkekeh lalu mengisi gelas kecilnya.
“Aku sedih kau menuduhku sembarangan,” ucapnya memasang wajah muram seolah sedang difitnah.
“Ah mana tadi, aku mendapat gambar bagus tadi siang, kau pasti menyukainya." Bernard merogoh saku lalu menunjukkan foto Ben dengan seorang gadis bertopi yang tidak ia kenal.
“Baji*gan!!” Tanpa diguga Jeon Jonas menggebrak meja dengan kepalan tangannya.
“Hei, aku hanya menunjukkan foto. Kenapa marah? Apa kau mengenali gadis ini? Kenal ya?”
Jeon Jonas mendesis tajam.
“Sayang sekali wajahnya tidak kelihatan, dia sepertinya masih gadis kecil, kalian dekat? Kau cemburu karena dia bersama Ben? Itu kenapa kau marah?” Bernard bertanya dengan nada bicara mengejek.
Jeon Jonas menarik botol bir lalu menyiramkannya ke wajah Bernard dengan kasar, Brian sudah berancang-ancang memberi pukulan tapi Bernard menaikkan tangan menyuruh berhenti, pria itu terkekeh lalu mengusap wajah basahnya.
“Cuci muka dengan bir tenyata menyegarkan,” kekehnya.
“Aku akan membunuhmu jika berani menyentuh milikku!!” Jeon Jonas memecahkan botol bir lalu beranjak untuk keluar dari ruangan.
Bernard tertawa lebar. “Aku baru saja tahu kelemahanmu friend.”
***
Melissa tidak melihat Jeon Jonas sejak pulang sekolah, pria itu tidak ada di manapun, bahkan nomornya tidak dapat dihubungi. Malam ini ia juga makan sendiri dan segera masuk ke kamar untuk membuka blog yang ia tekuni selama bertahun-tahun ini, memeriksa berapa orang yang berkunjung untuk membaca ceritanya.
Pembacanya bertambah, ia tersenyum lebar saat menemukan beberapa komentar yang memberikan semangat.
Tok Tok
Enna membuka pintu, menemukan Melissa duduk di ranjang dengan hoodie pink dan celana pendek.
“Tuan menyuruhmu datang ke taman belakang.”
“Taman belakang?”
“Aku akan menemanimu ke sana.”
“Baik.”
Melissa beringsut turun dari ranjang lalu berjalan beriringan dengan Enna ke taman belakang.
“Itu.” Enna menaikkan dagunya, menunjukkan dua anak buah Jeon Jonas yang berdiri di dinding, seperti menunggunya.
“Aku akan kembali ke dalam,” pamit Enna.
“Ya, terimakasih.”
Melissa berjalan pelan, ia tahu dinding itu, di balik dinding itu ada ruangan yang pernah ia masuki dan dikenalkan Jeon Jonas sebagai pusat kebugaran.
“Silahkan masuk.” Anak buah Jeon Jonas itu membuka pintu lalu menyuruh Melissa masuk sendirian.
Di sana, ia dapat melihat Jeon Jonas tengah berlatih pedang sendirian. Tubuh atas pria itu terlihat mengkilap dan basah, pria itu hanya mengenakan celana panjang berwarna hitam. Ia menoleh cepat ketika merasakan kehadiran seseorang selain dirinya.
“Pinky..”
“Paman..”
“Kemari.”
Jeon Jonas memerintah lalu memberikan gadis itu pisau lipat yang pernah ia pakai. Pisau yang bertuliskan JJ di gagangnya.
“Berlatih. Kau harus bisa melindungi dirimu sendiri.”
Melissa memegang pisau dengan kernyitan di dahinya.
Jeon Jonas menjatuhkan pedangnya lalu maju lebih dekat pada Melissa.
“Serang aku.”
“Hah?”
“Pikirkan sesuatu yang kau benci, serang aku.”
“T-tapi-”
“Lakukan.”
Melissa masih diam, bingung harus memulai bagaimana.
“Lakukan Melissa!”
Melissa menutup mata, mengembuskan napas lalu menatap mata Jeon Jonas. Detik kemudian ia mengarahkan pisaunya ke perut pria itu. Gemetaran, Jeon Jonas bisa melihat tangan gadis itu gemetaran.
“Lebih cepat.”
Melissa mengayunkan tangan, menyerang Jeon Jonas dengan kecepatan yang ia punya, begitupun Jeon Jonas dengan gesit menarik kakinya untuk menggeser tubuh.
“Lebih cepat!”
Gadis itu bernapas cepat lalu menghentakkan tangannya yang masih saja gemetar meski dengan kuat ia tahan untuk kembali memulai penyerangan. Jika dilihat dari posisi lain, gerakan Jeon Jonas untuk mengelak begitu pelan, ia hanya mundur dan membawa kakinya ke posisi lain. Rahang pria itu mengeras, ia kemudian menarik tangan Melissa lalu tanpa sengaja menyayat kulit gadis itu dengan pisau.
“Akhh!”
Melissa menjatuhkan pisau, darah mulai keluar membanjiri garis tangannya.
“Paman..”
Gadis itu mendongak dengan mata berkaca-kaca, memberi tahu Jeon Jonas bahwa ia lemah dalam menggunakan senjata tajam. Ia tidak bisa melakukannya.
Secepat itu pula Jeon Jonas sadar bahwa Melissa bukan sebanding dengan anak buah yang selalu berlatih dengannya, ia menarik tangan Melissa lalu dengan panik mencari sebuah kain untuk membalut tangan gadis itu.
“Hiks..”
Jeon Jonas kalang kabut, ia menciumi pipi gadis itu lalu memeluknya dengan erat.